Dafi : The Crazy Valentine Girl

5000 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Dafi Renaldi. Apa ya yang orang langsung bayangin kalau nama itu terdengar? Yang pertama pasti, “Oh, Dafi si drummer Lima Hari yang ganteng itu?” atau, “Oh, Dafi yang mukanya gemesin banget itu?” Well, dua-duanya itu gak ada yang salah, sih. Dafi adalah drummernya Lima Hari, emang punya muka ganteng, emang mukanya gemesin juga. Apa lagi dia memang paling muda di antara anggota Lima Hari yang lain. Dia jadi yang paling disayang dan dimanjain. Apa-apa diprioritasin. Belum lagi anaknya emang gak neko-neko. Satu vibes sama Wildan dan gak bakal aman kalau mainnya sama Jefran dan Brian yang liar dan nakal. Padahal sebenernya, ada waktu dimana Dafi ngerasa sebel kalau diperlakukan kayak bocah sama anak Lima Hari. Seolah-olah dia ini masih ada baru keluar Play Group. Beda lagi kalau di rumah, Dafi gak bakal dimanjain kayak pas lagi sama anak Lima Hari. Karena Dafi adalah anak pertama dan punya satu adik yang mana artinya di rumah dia, semua orang lebih memprioritaskan adiknya, yang jadi ratu di rumah adalah Diffa, yang dimanjain Papa dan Mamanya juga Diffa, yang apa-apa diturutin juga maunya Diffa.  Selain punya Diffa, sang adik satu-satunya, yang selalu disayang sama Dafi, cowok ini juga sayang sama Debbi. Kucing betinanya yang sudah ia rawat sejak masuk SMP, hadiah dari neneknya karena dia berhasil tembus SMP 01 Jakarta yang mana kalau gak punya nilai bagus gak bakal masuk sana.  Setelah orang tuanya, kemudian Diffa di peringkat dua, dan Debbi di peringkat tiga, lalu ada Lima Hari, siapa lagi yang disayang Dafi? Pertanyaannya salah. Bukan siapa, tapi apa. Karena selanjutnya adalah drum. Dafi suka drum. Dafi mencintai drumnya. Dafi dan drum adalah dua kata yang gak bisa dipisahkan sekarang. Karena apa-apa, Dafi larinya pasti ke drum. Lagi seneng? Ngedrum. Lagi sedih? Ngedrum. Setelah nama Lima Hari mulai tinggi, banyak penggemar mereka yang tanya di kolom komentar i********: seperti ini, “Kenapa Lima Hari gak pernah ngasih Dafi bagian nyanyi?” atau kalau versi netizen yang julid, pertanyaannya begini, “Siapa, sih, yang bagian bagi lirik? Bisa-bisanya empat orang dikasih bagian semua, tapi Dafi enggak.” Well, dua pertanyaan itu jelas salah. Dari awal band ini terbentuk, Satria dan Brian jelas udah pernah ngetes apa semua anggota bisa menyanyi atau enggak. Masalahnya, Dafi gak punya kepercayaan diri untuk tarik suara. Dia cuman nyaman main drum dan gak mau kalau disuruh menyanyi. Jadilah anak-anak yang lain gak bisa juga maksa Dafi. Hanya saja, pada beberapa lagu milik Lima Hari, Brian biasanya emnyisipkan suara Dafi pada satu atau dua kalimat lirik lagunya. Yang mana kalau lagi perform, jelas penggemar langsung pada jejeritan—seusai tebakan Brian—karena mendengar suara Dafi. Hal terakhir yang perlu dibahas mengenai Dafi adalah... Kisah asmaranya. Dafi pernah beberapa kali mendekati perempuan juga sering didekati perempuan—apa lagi sejak namanya melangit karena jadi drummer Lima Hari. Dulu saat SD, Dafi pernah mendekati teman satu bangkunya. Tapi itu jelas gak bisa dihitung karena dia masih piyik banget. Itu hanya cinta monyet. Pertama kali dia mendekati perempuan lagi adalah ketika dia duduk di kelas 11 SMA dan mendekati salah satu perempuan dari kelas sebelah. Hanya saja berakhir gagal karena ketidakcocokan karakter antara mereka berdua. Namanya Abigail. Cewek itu terlalu posesif, banyak meminta Dafi agar meluangkan waktu untuknya—padahal jelas-jelas mereka belum pacaran waktu itu, sementara Dafi tidak bisa disuruh-suruh begitu. Dafi lebih suka menghabiskan waktunya untuk pergi ke les dan latihan drum dari pada harus ngebucin cewek. Jadilah mereka berpisah dengan tidak baik-baik usai Dafi mengutarakan kejanggalannya. Setelah itu, ketika awal kelas 12, dia sempat mendekati teman kelasnya. Namanya Jingga. Cantik dan baik sekali. Mereka sempat berpacaran satu bulan saja karena Jingga diminta ibunya untuk fokus belajar—mengingat sebentar lagi mereka memang sudah Ujian Nasional dan tes PTN waktu itu. Tapi, dari dua perempuan itu, tak ada anak Lima Hari yang tahu. Jefran, Brian, Satria, dan Wildan tahunya Dafi memang jomblo dari lahir—seperti Brian, seperti Wildan, seperti Satria.  Lagi pula dia pikir juga tidak penting mengungkir masa lalu. Toh yang penting nanti, kalaiu suatu hari dia menemukan perempuan yang tepat, dia tidak akan menutupi statusnya dari Lima Hari. Well, semoga saja dia bisa segera menemukan soulmatenya. Karena beberapa kali ngeliatin Jefran ber-uwu ria dengan Kinar, membuat Dafi sedikit iri dan ingin. Walaupun dia tahu irinya hanya bersifat sementara, tetap saja. As long as ceweknya cocok, ya gas aja dulu kali, ya? itu prinsip Dafi sekarang. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Dafi Renaldi’s Point of View. Gue gak ngerti sebenernya jad terkenal dan digandrungi banyak orang itu sebuah berkah atau malah bencana. Pasalnya, ada satu waktu dimana gue gak berhenti mengeluh. Yang pertama, karena gue sebel sama orang-orang yang sering penasaran sama kehidupan privasi gue. Contohnya, gue posting foto Diffa dari belakang, terus banyak komentar miring seperti mereka curiga kalau itu foto pacar gue yang selama ini gak pernah gue posting, bahkan sampai ada penggemar yang mengancam gue untuk cepat buka suara tentang siapa perempuan tersebut—kalau enggak, dia bakal ke rumah gue. Please, lah, ngapain coba sampai begitu? Yang kedua, gue sebenernya agak kurang nyaman ketik alagi hangout sama temen yang bukan Lima Hari, tiba-tiba ada segerombolan orang yang minta foto bareng. Gak papa, sih, kalau satu atau dua orang doang. Biasanya, nih, bener-bener segerombolan dan mintanya satu-satu. Gue gak enak dilihatin temen-temen gue, dikira gue sok superstar apa gimana. Yang ketiga, gue capek juga diteror para cewek yang ngejar gue secara terang-terangan. Gue gak bohong soal ini, bukan kepedean juga. Padahal selama ini, Bang Jefran dan yang lain juga sering dikejar perempuan duluan, tapi gak pernah senekat perempuan yang negjar-ngejar gue. Apa karena gue anggota paling muda di Lima Hari jadi mereka bisa begini? Pas awal-awal dulu, gue sama sekali gak ngerasa keberatan. Bahkan seneng aja baca satu-persatu surat cinta yang dikasih penggemar, nyimpen barang dari mereka, dan lain sebagainya. Tapi lama-kelamaan jadi risih pas beberapa kali manggung jadi second guest starnya bintang besar, tiba-tiba ada cewek yang nyium pipi gue dengan sengaja. Ini gak terjadi cuman sekali ataupun dua kali. Ini berkali-kali. Beda-beda pula ceweknya. Gue sering mengeluh ke anak Lima Hari, tapi yang ada malah diketawain dan disuruh sabar doang. Walaupun mereka gak ngambil ciuman pipi pertama gue—karena ini udah diambil duluan sama Abigail, tetep aja gue gak terima. Dikira gue cowok apaan mau-mau aja diciam-cium sama cewek beda-beda begitu? Pernah satu kali gue curhat ke Bang Jefran tentang betapa risihnya gue sama kelakuan para cewek yang ngedeketin gue secara blak-blakan begitu. Tapi yang ada, Bang Jefran malah jawab gini, “Lah? Enak, dong, dicium cewek? Lo homo apa gimana kok malah sebel?” Sangat membantu, bukan, jawabannya? Sedangkan pada suatu hari, gue coba cerita tentang masalah gue ini ke Bang Satria—yang mana pilihan paling tepat dan dianjurkan emang dari dia karena Bang Satria gak stres kayak Bang Jefran. Tapi ternyata saran dari dia juga sama sekali gak membantu. “Mending kalau kata gue lo coba cari pacar aja, deh, Daf. Kalau ada cewek, pasti penggemar gak seagresif itu sama lo.” Gue cuman bisa mencibir mendengar jawabannya. Kenapa dia nyuruh gue cari pacar sedangkan dia aja gak punya pacar? Yah walaupun jujur emang ada benernya juga. At least kalau mau berhentiin penggemar yang agresif dan posesif itu, gue harusnya punya cewek aja. Tapi... Siapa? Ah, udahlah. Gue pikirin kapan-kapan lagi aja kalau otak gue udah gak panas. Sekarang lebih baik gue ke studio dan latihan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Apa yang kalian pikirin kalau mendengar kata Hari Kasih Sayang? Iya, hari Valentine itu maksud gue. Mungkin banyak orang dari kalian menganggap hari ini adalah ajang menyampaikan rasa sayang melalui boneka, bunga, atau cokelat. Kebanyakan yang melakukan itu adalah cowok ke ceweknya. Atau  bisa juga dari kakak ke adik, dari anak ke ibu, atau sebaliknya. Sedangkan menurut sudut pandang gue sendiri, gak ada yang spesial dari hari Valentine selain karena cokelat pada diskon di minimarket. Biasanya, sih, beli dua gratis satu. Itu doang yang bikin gue suka hari Valentine. Selain karena gue seorang muslim sejati yang gak ikut-ikutan merayakan hari kasih sayang karena menurut agama kami kasih sayang bisa diberikan setiap hari pada orang yang kita cinta, gue juga gak pernah turut merayakannya karena gak tahu mau ngerayain sama siap. Its’ not a big deal, gue gak pernah masalah buat gak ngerayain hari Valentine. Lagi pula, kalau boleh sombong, tanpa harus punya gandengan pun, gue—Dafi Renaldi—juga akan mendapat banyak bunga, cokelat, dan surat cinta—bahkan sampai boneka—dari beberapa perempuan. Mau bukti? Contohnya adalah saat ini. Gue gak inget kalau sekarang udah tanggal empat belas Februari, atau lebih tepatnya gue gak inget kalau tanggal ini adalah tanggalnya Valentine. Semuanya berjalan normal—mulai dari gue bangun tidur sampai berangkat dari rumah buat ke kampus. Sampai kemudian ketika gue baru memasuki gedung, salah satu perempuan—ah, ralat, ada dua perempuan yang terang-terangan memberi gue kotak kecil dengan pita di atasnya. Gue mengangkat sebelah alis untuk menuntut penjelasan. “Apa, nih? Perasaan gue gak ulang tahun hari ini.” Dua cewek di depan gue kompak menjawab, “Happy valentine day, Dafi.” “Ah?” Gue langsung mengerjap sambil ber-oalah dalam hati. Usai bilang makasih, gue membiarkan dua cewek itu kabur sambil cekikikan. Gue cuman bisa menghela nafas, bisa gue tebak setelah ini gue juga bakal dapet hal-hal semacam ini lagi. Kalau ulang tahun gue kemarin aja bisa sampai dapet dua puluh kotak hadiah yang berisi macam-macam, mungkin Valentines pertama semenjak gue jadi drummernya Lima Hari juga bakal dapet dua puluh cokelas. Mungkin. Dan semuanya berjalan sesuai tebakan gue. Ck, gue gak menyangka, sih, sebenernya kalau ternyata banyak juga yang suka sama gue. I mean, ternyata gue punya daya pikat segede ini sampai-sampai banyak perempuan bahkan sampai kakak tingkat gak ada yang malu-malu buat nganterin hadiah, cokelat, atau pun kotak bekal langsung ke gue, Baru keluar kamar mandi, ada yang ngehalangin jalan. Eh, ternyata cewek ngasih hadiah. Baru mau masuk kelas ada yang manggil, tenyata cewek lagi ngasih hadiah. Sampai-sampai, percaya apa kagak, temen satu kelas mata kuliah gue—namanya Azka—nawarin kantung plastik merah gede buat naruh hadiah-hadiah yang udah gak cukup gue taruh di tas. “Pake ini aja, lah, Njir. Kenapa, sih?” jawabnya ketika gue menolak mentah-mentah tawarannya. “Gila lo? Gue malu, lah, kemana-mana bawa beginian. Mana gede banget plastiknya.” Azka mendengus. “Terus mau lo taruh mana, hah? Lo pegangin pakai tangan juga gak muat.” “Gue tinggal sini aja kali, ya?” “Sini mana?” “Ya ini. Di meja.” Azka melotot. “Gila lo?” jawabnya membalik kata gue tadi. “Lo gak kasihan sama mereka yang udah lari-lari ke gedung Sipil buat ngasih ke elo, tapi malah lo buang gitu aja?” Ya bener juga, sih. Gue juga gak sejahat itu sama mereka. Lagian barang yang dikasih kebanyakan adalah makanan. Masa gue mau buang-buang makanan? Gue menatap barang-barang di meja gue dengan kepala berisi benang kusut yang gak ada solusi. “By the way, ini buat gue, yak?” Gue menoleh lagi ke Azka yang sekarang mencomot satu cokelat putih berukuran besar, lalu membuka kemasannya. Gue mengangguk. “Ambil yang banyak, dah, sekalian. Lo kan punya adik cewek. Kasih ke dia sekalian.” “Beneran?” “Iya. Lagian kalau semuanya mesti gue makan sendirian, besok lo ketemu gue udah pakai gigi palsu.” Dia ngakak. “Yang lain kasih ke Lima Hari juga bisa kali, Daf.” “Oh, iya. Bener juga.” “Bagi-bagiin ke mereka, sama ke adik lo, ke nyokap lo, sisanya taruh kulkas. Bisa lo makan kapan-kapan. Setengah tahun ke depan juga kayaknya bakal masih aman lo makan.” Gue langsung mengangguk-angguk setuju. “Iya, iya. Bener, dah. Terus yang kotak-kotak ini gue apain?” “Bukain satu-satu. Isinya masukin tas lo. Kotaknya buang biar gak ngehabisin tempat.” Kali ini, gue berdecak gak setuju. “Masa gue buka hadiah disini, njir? Kalau abis ini ada orang masuk gue juga yang malu.” “Ya udah berarti masukin kantung plastik yang tadi gue kasih. Buka aja di rumah nanti hadiahnya. Atau di studio. Kata lo mau latihan?” Gue mengangguk membenarkan. “Gitu aja repot. Gak usah malu kayak t*i kucing kenapa, sih? Harusnya lo seneng dapet beginian banyak pas Valentine. Gue aja cuman dapet satu.” “Lah, lo dapet juga? Dari siapa?” “Dari elo, lah.” Gue langsung ngakak sejadi-jadinya. Gue kira dari siapa, anjir. Setelah tawa gue reda, gue langsung memunguti semua kotak dan memasukkannya ke kantung plastik merah yang dikasih Azka. Seiring tangan gue yang lagi sibuk, di otak gue udah merencakan buat nebeng Bang Satria ke studio. Kenapa gue nebeng padahal gue bawa motor sendiri? Ya kali aja, Njir, gue bawa kantung plastik segede gaban begini pakai motor gede. Tengsin, cuy. “Nih, nih, bawa juga ini.” ujar gue menyerahkan empat cokelat toblerone berukuran besar ke Azka, lalu boneka beruang berukuran mini juga. “Noh, yang ini kasih adik lo.” “Lah, serius ini gue lo kasih sebegini banyaknya?” “Iye.” Azka nyengir lalu memasukkan barang pemberian gue ke tasnya. “Gak nolak, deh, kalau gitu. Mayan juga ternyata punya temen famous.” “Famous pala lo.” “Lah kalau kagak famous apa namanya? Farmer?” Gue ketawa sambil menggeleng-gelengkan ketawa. “Sinting.” Kemudian gue dan Azka keluar dari kelas dengan langkah sedikit cepat karena sumpah, gue malu bawa beginian sebegini banyaknya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Buset, apaan tuh Daf?” Adalah pertanyaan pertama yang keluar dari bibir Bang Jefran diikuti dengan kepala Bang Wildan dan Bang Brian yang menoleh penasaran saat gue masuk ke studio. Jadi, setelah tadi gue kelar kelas sama Azka, gue beneran langsung nelpon Bang Satria buat nebeng, sambil berdoa dalam hati semoga abang gue yang satu ini gak sibuk harus rapat dulu, lah, atau semacamnya. Ternyata takdir beneran lagi berpihak pada gue. Bang Satria langsung jemput gue di depan gedung—padahal gue kira gue bakal disuruh jalan dulu ke Gedung Rektorat karena tadi doi emang lagi disana. Tapi gue lupa kalau gue nebengnya, kan, ke Bang Satria, bukan Bang Jefran. Kalau ke Bang Jefran, gue gak kaget disuruh jalan ke sana. Soalnya Bang Jefran emang setega dan seanjir itu ke gue. Gue mengangkat kantung plastik merah di tangan gue, tapi gak berniat menjawab. Gue langsung berjalan untuk masuk lebih dalam dan duduk di salah satu sofa single. Menaruh plastik itu ke karpet di bawah kaki gue. Bang Jefran dan Bang Brian langsung menatik kantung plastik itu, membukanya dengan cepat. “Dapet dari ciwi-ciwi dia, tuh,” Bang Satria menjawab. “Biasalah, Dafi kan emang kesayangan Hariku.” Nah, by the way, kalau ada yang gak tahu Hariku itu apa, itu adalah nama penggemarnya Lima Hari. Hariku. “Sebegini banyaknya?” Bang Brian menoleh ke arah gue dengan mata membulat, bibir ikut membulat, tapi tangannya sibuk melucuti bungkus snack yang di ambil dari plastik merah gue. “Ini, sih, bisa sampai semester depan, anjir, gak habis-habis.” “Emang lo gak dapet, Bang?” tanya gue dengan mata memicing. Karena gue yakin empat anggota Lima Hari yang lain pun gak mungkin gak dapet semacam ini. “Ya dapet. Tapi gak sebegini banyaknya.” “Sama.” ujar Wildan. “Ini kayak lo lagi mau jualan, dah, Daf.” “Makanya gue minta tolong ke Bang Satria buat jemput. Gila kali gue mau nyetir motor sambil bawa beginian.” “Ya bener, sih...” Bang Jefran yang lagi menggigit cokelat kemudian menghentikan aktivitas kunyahannya. Sambil Bang Jefran berdiri dari sofa dan menghampiri sudut ruangan tempat menaruh tas dan alat musik, dia berujar. “Eh, tadi gue juga dapet titipan buat lo, Daf. Hampir lupa gua.” “Ape?” tanya gue karena gak kedengeran. Bang Jefran ngomong sambil ngunyah sedangkan jarak kita juga gak deket. “Gak denger.” ujar gue melanjutkan. Satu kotak hitam dengan pita berwarna putih di atasnya meluncur tepat di meja hadapan gue. Bang Jefran menunjuk kotak itu. “Noh. Buat lo.” Gue mengernyit. “Dari lo, Jef?” Bang Jefran berdecak mendengar pertanyaan Bang Satria. “Ya kagak, lah, Pak. Ngapain juga gue ngasih Dafi beginian.” “Oh, kirain.” “Sama anjir. Gue kira juga dari Jefran,” Brian ngakak. “Mana dikasih pita kupu-kupu lagi.” “Gue tadi udah bilang titipan, ya, Njing.” Gue menghentikan adu mulut gak penting itu dengan menggeret pertanyaan lain yang lebih masuk akal. “Titipan dari siapa, Bang?” “Ada, lah. Dari temen kelas matkul gue.” “Cewek, kan? Apa cowok? Namanya saha?” “Iya, lah, cewek. Gue kasih tahu namanya juga lo gak bakal kenal, Daf.” Gue menukik alis. Bang Jefran menatap gue dengan raut malas. “Emang hadiah-hadiah yang lain tadi elo juga tahu nama-nama yang ngasih? Gak, kan?” “Ya enggak. Cuman gue kan mau tanya aja gitu, loh.” “Kenapa sama yangi ini kepo?” “Allahu Akbar,” gue sampai nyebut. “Gue cuman nanya. Bukan kepo. Gak lo kasih tahu juga gak apa-apa. Gak ngefek juga.” “Beh, gaya lo.” Gue dan yang lain cuman ketawa. Kemudian tangan gue tergerak buat membuka kotak hitam ini, sedikit heran dan bingung juga kenapa cewek ini memutuskan memberi kotak warna hitam sedangkan umumnya kebanyakan kotak hadiah di hari Valentine, kan, warna merah muda atau biru. Gak tahu juga kenapa, gue kepo sama isinya. Padahal gue gak kepo sama isi kotak dari yang lain. Tapi melihat kotak hitam ini terlihat berbeda—mana ringan banget lagi—gue jadi penasaran. “Metta Renjana namanya,” ujar Bang Jefran tiba-tiba membuat gue mengangkat kepala sesaat sebelum kembali fokus mengelupas solasi yang mengelilingi kotaknya.  “Temen gue di mata kuliah Fondasi Dangkal II.” “Namanya bagus ugha. Cakep gak, tuh, ceweknya?” Bang Brian menyahut sambil menggenjreng Haru—gitar kesayangan milik Bang Jefran. Sementara Bang Wildan lagi tiduran di sofa yang lain, dan Bang Satria sedang membuka laptop—gue tebak lagi ngebut ngerjain makalah yang kata dia gak sempet dikerjain malam kemarin. Bang Jefran melempar gumpalan tisu kotor ke Bang Brian. “Bangsaaat emang. Katanya lo lagi ngincer anak matkul SA? Masih mua ngembat yang ini juga?” “Kagak, elah. Bercanda. Tanya doang ini.” “Tapi emang anaknya cakep, sih. Gue aja pernah tergiur.” Bang Satria menggeleng-gelengkan kepala, “Bahasa lo apaan banget, Jef.” “Lah, serius ini.” Bang Jefran ngadep ke gue. “Metta cantik banget, Daf. Ya walaupun dia agak bar-bar, tapi cocoklah perkiraan gue kalau sama lo yang lemot begini. Saling melengkapi.” “Gue gak lemot.” “Tapi loading? Ngebug?” Gue cuman mendengkus. Perhatian gue kembali pada isi kotak yang berhasil gue copotin semua solasinya itu. Dan tebak apa yang gue temukan. Kalau yang lain pada ngasih cokelat, bunga, boneka, bekal, atau Lays dan Hello Panda—karena dua merk snack ini emang favorit gue—kotak dari Metta ini cuman berisi Aqua sama satu lembar surat yang ditulis di  kertas sobekan. Anjir. “Anjir,” ternyata gumaman gue itu sampai di telinga Bang Jefran yang langsung mendekat. Dia bahkan sampai mendorong gue biar bisa duduk di samping gue. Terus selanjutnya, Bang Jefran ngakak kenceng banget, membuat perhatian tiga manusia yang lain jadi pecah dan ikutan kepo. “Apaan isinya?” “Apaan, woi, kaget-kagetin aja lo.” Bang Jefran mengacungkan Aqua dan sobekan kertas itu tinggi-tinggi, masih dengan tawanya yang terpingkal-pingkal. “Lah?” Bang Brian nyengir doang. “Si Metta-Metta ini kayaknya cantik doang tapi otaknya gak beres.” Wildan yang sempat menoleh penasaran kini kembali tidur. Tapi dia kemudia membuka suara.“Coba bacain suratnya.” “Gak bisa disebut surat juga, sih, Bang. Ini, mah, kayaknya lebih mirip bikin contekan buat ujian.” Satu ruangan langsung ketawa. Terus Bang Jefran merebut kertas yang baru mau gue baca isinya itu. “Gue aja yang bacain.” Gue mengiyakan aja. Gak terlalu peduli juga. Otak gue malah sibuk memikirkan apa sebenarnya isi kepala Metta-Metta ini sampai-sampai ngasih hadiah Valentine seniat ini. “Dengerin, dengerin. Tes, tes.” Bang Jefran membuat botol Aqua yang dikasih Metta seolah itu mikrofon. Matanya yang kali ini gak dibingkai kaca mata itu mengamati setiap tulisan yang ada disana, lalu detik berikutnya menggerutu. “Buset sumpah, dah, si Metta. Bisa-bisanya tulisan kayak ceker ayam gini pede ngirim surat.” “Bacain, Jep.” “Sabar, elah.” Daf, gue cantik dan mandiri, punya gebetan banyak, bisa karate, punya otak pinter walaupun gak pinter-pinter amat, dan yang paling penting, gue suka sama lo. Jadi gimana? Mau gak nyoba deket sama gue dulu? P.s : Kemarin pas lo manggung di J&G lo keliatan gak fokus, pasti karena kurang minum air putih. Makanya sekarang gue bawain ini. Sori ya cuman yang 600 ml doang. Kalau kegedean takut berat. P.s.s : Semoga tahun depan lo udah bisa valentine-an bareng gue. -Metta Renjana, si cantik pake banget. Tanya Jefran aja kalau gak percaya gue cantik. Bang Jefran ngakak lagi setelah selesai membacakan surat tersebut. “Faaaak. Surat macem apaan, sih, ini?” “Sumpah, gokil. Gue akuin gokil banget ini si Metta.” “Ada, ya, cewek pede banget kayak dia? Mana jatohnya dia kayak nembak duluan pula.” “Yang mana, sih, orangnya, Jef? Gue pernah ketemu, gak?” Semua komentar dari anak Lima Hari terdengar kayak pujian buat Metta. Gue malah menggaruk pipi gue yang gak gatel. Bener-bener gak habis pikir sama si Metta-Metta ini. Kok bisa, ya? Kok ada, ya? Bang Jefran terlihat baru mau membuka suara untuk membahas lebih lanjut mengenai hadiah dari Metta, tapi niatnya itu diurungkan ketika Bang Satria menutup laptop dan langsung berdiri dari kursinya. “Bahas ceweknya Dafi lanjut nanti aja. Kita latihan dulu keburu sore.” Gue mendelik mendengar ‘ceweknya Dafi’ itu. Mana Bang Satria sambil senyum ngeledek pula. Gue mencibir, kemudian merebut aqua dan surat di tangan Bang Jefran. “Siniin.” Bukannya apa-apa. Walaupun terkesan gak jelas dan sinting, kad kayak begini malah yang unik. Beda dari yang lain. Jadi gue mutusin buat gue museumin aja di dalem lemari nanti. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Satu minggu berlalu dengan cepat. Saat ini, gue baru keluar dari salah satu mata kuliah dan hendak pindah ruang kelas mata kuliah yang lain. Gak enaknya hari Rabu, tuh, dari satu mata kuliah ke mata kuliah yang lain gak ada jeda istirahatnya. Mana ada tiga matkul pula. Positifnya cuman satu : di jam dua belas, gue udah bisa balik ke rumah karena semua kelas udah kelar. Berhubung gue gak ada temen yang gue kenal dari matkul tadi dan satu tujuan ke matkul yang baru akan gue masuki, jadilah gue jalan seorang diri. Langkah kaki gue melaju pelan, santai. Dengan kemeja flanel warna putih dan coklat kotak-kotak yang kancingnya gak gue tutup semua karena di dalamnya ada kaos hitam bertuliskan The Overtunes, gue membelokkan badan ke arah kiri mengikuti tangga. Tepat ketika tangga yang gue turunin sisa empat biji doang dari lantai dua ke lantai satu—iya gue gak pakai lift karena dari tadi penuh mulu—gue dikejutkan dengan Bang Jefran yang ketawa kenceng banget dari arah tangga berlawanan. “Lah, Bang?” “Oit, Daf. Mau kemane lo?” Gue melirik satu cewek di samping Bang Jefran. Lalu berusaha mengingat dengan cepat apa seorang Gea Abrillea yang pernah diceritain dia tempo hari adalah yang ini. Tapi, kan, kata Bang Jefran mereka belum sempet ketemu lagi. Masa iya ini si Gea Abrillea? “Ke kelas, lah.” “Kelas apa?” Gue mengacuhkan tatapan si cewek di samping Bang Jefran yang jelas-jelas dari tadi ngelihatin gue. Ini cewek siapa, sih? Kalau ngeliat serem banget sampaoi kayak mau ngekulitin orang. “Mekanika Fluida. Dah, ye, Bang. Gue duluan.” “Lah, heh, bentaran. Gak sopan banget lu diajak ngobrol sama yang lebih tua main cabut-cabut aja.” Gue memutar bola mata jengah. Beda umur dua tahun doang anjir padahal. “Nih, kenalin,” Bang Jefran nyengir ke arah gue. Kemudian jempolnya menunjuk cewek di sampingnya. “Ini yang gue bilang si Metta Renjana. Yang waktu itu nitipin kado Aqua Botol ke gue. Inget, kan?” Gue inget. Tapi gue gak mengangguk ataupun menjawab. Dibanding ingin menanggapi kalimat Bang Jefran, gue lebih tertarik buat mengamati si Metta-Metta ini. Bukan ‘tertarik’ yang gimana-gimana. Gue cuman kepo aja cewek gila mana yang ngasih hadiah Valentine kayak begitu? Dengan atasan Sabrina Top berwarna merah hati dan celana jeans putih yang membungkus kaki jenjangnya, sepatu boots hitam, kemudian rambut sepundak, make up natural hanya saja bagian matanya terlihat sedikit tajam, gue bisa paham kenapa waktu itu Bang Jefran nyebut ini cewek ‘bar-bar’. “Oh.” “Dih, oh doang? Kenalan, lah, Edan.” Bang Jefran mode mak comblang, nih, pasti. Metta mengulurkan tangannya. Bibirnya sengaja melengkung manis. Cantik, sih, emang. Tapi sori aja, nih, gue gak suka sama yang lebih tua. “Gue Metta Renjana and yep, i’m the one who sent you an aqua for your Valentine Day. Lo gak perlu sebutin nama. I know who you are.” Gue melirik ke Bang Jefran yang mendelik ke arah gue, seolah dia memaksa gue buat bersikap baik ke cewek di hadapan gue ini. Gue menghela nafas, lalu memasang senyum terpaksa—tapi kayaknya Metta gak bakal tahu kalau ini jenis senyum terpaksa karena gue pinter akting. “Hai, nice to meet you.” “Really?” Gue mengangkat alis. “Apanya?” “You feel nice to meet me?” Astaga, itu kan sapaan formalitas doang. Kenapa pakai di really-really segala, coba? “Ya begitulah.” jawab gue asal. Metta memamerkan gigi putih bersihnya. Senyum lebar kayak iklan pepsodent. “Glad to hear that, Dafi. Udah baca isi surat gue, kan?” Gue mengangguk sambil ngelirik Bang Jefran lagi. Sebenernya kepingin jawab, “Udah, kan Bang Jefran sendiri yang baca keras-keras pas di Studio.” “Nah, i wrote there that i like you and offer you to know me better. Gimana jawabannya?” Astaga, anjir. Ini cewek sumpah blak-blakan banget. Gak ada jaim-jaimnya. Gimana bisa ada cewek yang nanya beginian ke cowok langsung, di tempat umum, ada orang lain di sekitar mereka, pakai senyum polos kayak gitu? “Daf, ditanya itu. Cepet jawab, kek. Gue juga keburu kelas.” Gue mendelik ke Bang Jefran. Dia balas melotot juga. Menyuruh gue untuk mengiyakan saja—entah biar cepet selesai atau dia emang bener-bener ada niat mencomblangkan gue sama temennya ini. “Ah, that one...” gue menggaruk tengkuk. “Ya... boleh-boleh aja, sih. Tapi—“ “Good. So we should go on date soon, right? Mau kapan?” Anjing. Astaghfirullah. Gue mendapati Bang Jefran menyeringai sambil mengangkat satu alisnya. Kayak bilang, “See? Lo emang cocok sama cewek kayak begini.” Cocok apanya, anjir. Yang ada gue malah ngeri. “Eung... gimana, ya...” “Oke, oke, gak harus jawab sekarang, kok. Lo juga keburu kelas, kan?” Gue mengangguk. “Nah, gue juga. Jadi kita omongin lagi later, ya. Reply my DM, alright?” “Ngapain di DM, sik?” Bang Jefran nyaut. “Nanti gue kasih nomornya aja. Lo chat Dafi disanaa.” Metta terlihat berbinar, jemari rampingnya berjentik. “Good idea. Thanks, Bro. Oke jadi gitu aja, ya, Daf? Bye-bye! Yok, Jep. Keburu telat kita.” Gue hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Apa yang terjadi lima menit ke belakang ini tadi seperti gak nyata. Kenapa bisa dalam jangka aktu pendek mood gue dijungkir-balik begini? Sebelum gue benar-benar melangkah menjauhi dua orang gesrek tersebut, Bang Jefran mendekat dan berbisik ke gue. “Gue kawal lo berdua sampai jadian. Cocok banget asli.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD