* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Wildan Gusti Ramadhan.
Dari namanya aja udah agak bisa menjabarkan gimana orangnya, kan? Wildan ini manusia paling kalem dan gak neko-neko—at least dibanding sama anak Lima Hari yang lain, apa lagi Jefran dan Brian. Wildan juga jadi yang suaranya paling enak, senyum paling adem, dan punya fans paling banyak. Dengan sifatnya yang kebanyakan positif, gak kaget kalau Wildan jadi banyak dideketin cewek. Walaupun sebenarnya bakalan percuma itu cewek-cewek diluar sana yang tiap minggu kirim salam lewat radio dan ngasih bekal sarapan kalau ketemu di kampus, karena sorry to say, bukannya Wildan gak mau berada dalam komitmen kayak Jefran, tapi karena dia gak emang gak kepingin deket sama siapa-siapa. Gitu katanya. Di usianya yang sekarang ini, satu-satunya yang ingin dia lakukan adalah menjalani masa muda dengan mengolah bakat dan minatnya. Yaitu ngeband, yang mana dengan keyboard sebagai alat instrumen yang dia pegang di Lima Hari itu adalah salah satu sumber kebahagian Wildan. Sementara mengurusi kehidupan asmaranya atau mencari seorang perempuan belum pernah ia tulis di daftar.
Tapi meskipun begitu, dulu pas SMA dia pernah mendekati salah satu teman kelasnya dan berakhir menyedihkan karena Wildan ditinggal pacaran sama yang lain. Jadi dia juga gak bisa disebut terlalu polos juga, dong.
Dan kalaupun suatu hari nanti Wildan bisa menemukan perempuan tempatnya menaruh hati, itu juga pasti karena dia sudah memikirkan seribu satu kali apakah ia benar-benar siap untuk menanggung satu orang lagi untuk selalu ia jaga dan ia beri kasih sayang.
Sekali lagi, Wildan gak mau nyakitin seorang perempuan, jadi dia gak boleh asal pilih perempuan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Wildan Gusti Ramadan’s Point of View
Apakah gue pernah bilang kalau gue, tuh, kadang sebel sama diri sendiri yang susah buat bilang enggak? Kalau belum, nih gue bilangin. Salah satu sifat plus dari seorang gue selain terlalu sayang ke ibu dan adik gue—ke ayah juga, sih—adalah gue gak bisa nolak setiap kali orang meminta sesuatu dari gue.
Sejak kecil, ibu bilang ke gue kalau gue harus jadi manusia yang penolong dan pemaaf. Dua sifat itu udah ditekankan ibu ke gue, membuat gue mau gak mau juga menurut apa katanya. Tapi dulu, gue pikir itu gak bakalan mengganggu keseharian gue dan sialnya, ternyata salah. Menjadi penolong gak terlalu menyenangkan juga ternyata. Apa lagi saat dari dulu lo selalu gak pernah bisa bilang ‘enggak’ setiap kali orang lain meminta dan menyuruh, padahal lo gak mau ngelakuin itu.
Contoh kecilnya adalah dulu, tante gue selalu bilang gue harus minum s**u kambing seminggu empat gelas. Sedangkan daging kambing aja gue gak doyan, cium baunya aja gue udah mual, gimana bisa dia seenak jidat minta gue buat minum s**u kambing yang cuman direbus dan gak dikasih perasa apa-apa? Tapi apa tanggapan gue saat tante gue bilang gitu? Gue iyain. Sebagai keponakan yang baik, gue bilang iya. Kata ibu, toh itu juga buat kebaikan gue. Gak ada ruginya untuk minum s**u kambing.
Contoh kecil lainnya adalah, om gue—alias suami tante gue—pernah nitipin tiga ayam jagonya di rumah gue, yang berakhir gue disuruh buat ngerawat selama tiga mingguan dengan segenap permintaan kayak harus inget takaran porsi makan, kapan potong kuku ayamnya, kapan ini dan kapan itunya. Padahal gue gak terlalu suka hewan. Tapi apa yang gue lakuin? Gue bilang iya. Gue okein. Lagi, kata ibu, gak ada salahnya ngebantu orang lain. Apa lagi om harus ke Jepara sedangkan tante gue gak bisa disuruh ngerawat ayam jago. Well, sebenernya gue pengin sih jawab, “Lah Om kira Wildan bisa emangnya?” tapi ya udahlah, toh itu udah berlalu. Hm.
Contoh besarnya—yang mana ini permintaan dari ayah dan ibu langsung—dan kejadian ini adalah yang gak bakal gue lupain, yakni ketika gue dipaksa mereka buat masuk jurusan Teknik Sipil. Ini berawal dari ayah yang curhat kalau dia kepingin salah satu anaknya ada yang bekerja seperti dia, yaitu jadi konsultan konstruksi bangunan. Dia juga bilang gak mungkin bokap nyuruh Felicia masuk Teknik karena dia cewek. Jadilah itu artinya dia bakal nyuruh gue, kan? Sedangkan dari kecil, gue udah kepingin memfokuskan diri dan belajar mati-matian buat belajar kedokteran untuk SBMPTN nanti. Tapi lagi, gue memilih untuk gak mendebat bahkan ketika itu harus membuat cita-cita gue hilang harapan begitu aja. Gue cuman mogok ngomong sama ayah dan ibu selama dua hari penuh setelah ayah meminta gue menuliskan nama kampus dan jurusan yang dia mau—yang mana ini sekarang jadi kampus dan jurusan gue.
Sementara hari ini, di usia yang udah mau dua puluh satu tahun, gue baru sadar kalau dari dulu ternyata gue gak ada perubahan signifikan pada karakter gue. Gue masih gak bisa menerapkan kalimat Bang Jefran—iye biasanya gue manggil dia abang—tentang ‘harusnya kalau lo udah beranjak dewasa, lo bisa egois dikit dengan pilihan lo’.
Gue juga pengin kayak gitu. Tapi gue gak bisa dan gak enakan.
Jadi jangan kaget kenapa pagi ini, di hari Sabtu yang indah dan cerah ini, yang harusnya gue diizinkan untuk bangun lebih siang dari seharusnya karena gak ada kegiatan sama sekali, gue malah dibangunkan oleh alarm ponsel gue.
“Bangun! Ambil rapotnya Tiara!” adalah tulisan yang tertera di layar ponsel seiring dengan ringtone-nya yang terdengar memekakkan telinga.
Dengan mata memerah pertanda gue butuh tidur lebih lama karena baru tidur sekitar jam tiga pagi, gue mencoba mematikan ponsel itu. Tapi sayang sekali, gak ada lima menit kemudian, ringtone-nya berbunyi kembali.
“Wildan!”
tok tok tok.
“Itu hapenya bunyi diangkat dulu, dong. Biar gak berisik pagi-pagi.”
Suara ibu mampir ke gendang telinga diiringi dengan ketukan yang perlahan berhenti, disusul langkah kaki ibu yang menjauh dari pintu. Gue gak punya pilihan selain mendudukkan diri di atas ranjang, dengan selimut yang masih menggantung di bahu.
Sembari berusaha mengumpulkan nyawa, gue mengusap kasar wajah gue, juga menyisir rambut di sela-sela jari tangan. Lalu dua detik kemudian, ponsel gue kembali berdering. Kali ini bukan karena alarm yang berbunyi, tapi karena Tiara menelepon.
“Kak!”
Gue meringis sambil menjauhkan ponsel dari telinga, kaget setengah mampus karena baru dipencet ijo, Tiara udah berteriak di seberang sana.
“Udah bangun, belom?!”
“Udah, udah. Kalau belum kamu kira yang angkat ini siapa?” jawab gue setengah memutar bola mata jengah.
“Hehe,” jawabnya. “Jangan lupa, ya, ambilin rapot Tiara. Jam delapan tulisannya di undangan. Tapi biasanya ada basa-basi wali kelas, jadi kalau Kak Wildan agak telat gak papa, kok!”
“Agak telat? Jam sembilan boleh?”
“Ngawur! Jam delapan baru berangkat aja dari rumah.”
Gue mendengkus dengan mata mencari letak jam dinding di kamar. Pukul tujuh lebih lima belas sekarang.
“Ya udah iya.”
“Oke, makasih!”
“Kamu kelas apa? Jurusan? Nomer absen?”
“Astaga naga, kemarin kan udah aku kasih tahu!”
Ya Allah, ini anak kenapa, dah, suka banget teriak-teriak? Gue membatin dalam hati.
“Lupa.”
Tiara mendengkus. “10 IPA 6. Nomer absen 28. Abis ini aku chat, deh, itunya. Biar nanti gak tanya-tanya lagi.”
“Oke.”
“Makanya jangan lupaan, dong, jadi manusia! Belum tua, kok, pikunan.”
Gue cuman diam aja diledekin sama bocah kayak begitu. Karena gimanapun, gue emang gampang lupa. Jangankan nomor absen dan kelasnya Tiara, lagu You Were Beautiful milik Lima Hari yang udah sering kali gue bawain pas manggung aja masih suka lupa lirik.
Setelah itu, gue mendengar Tiara bilang makasih sekali lagi sebelum telepon ditutup. Gue menaruh benda persegi panjang tersebut di atas kasur, kemudian berdiri dari sana, melangkahkan kaki ke arah kamar mandi dan mulai bersiap.
Apa yang membuat gue bangun jam tujuh di Hari Sabtu—padahal biasanya bangun minimal jam sembilan—adalah dikarenakan ibunya Tiara, alias tante gue, alias adiknya ayah gue, meminta tolong biar gue mau ngambilin raport anaknya, Tiara, karena baik Om dan Tante gue sama-sama menghadiri rapat penting di kantor masing-masing. Sebagai saudara yang baik, gue iyain aja sekalipun gue tahu gue bakal menggerutu dalam hati. Yang tiba-tiba muncul di benak gue sekarang ini adalah gue bersyukur karena ayah dulu meminta ibu untuk berhenti bekerja dan fokus saja pada anak-anaknya. Dengan begitu, gak pernah ada ceritanya rapot gue diambilin orang lain kayak gini, atau Felicia yang diasuh oleh baby sitter, atau gue dan adik gue yang jarang ketemu nyokap karena sibuk. Enggak ada.
Gue bersyukur atas yang satu itu.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Wildan, ibu titip beliin es pisang ijo di deket sekolahnya Tiara, ya, nanti. Kalau kamu udah selesai ambil raport.”
Suara ibu membuat gue yang lagi menalikan sepatu convers di kaki jadi menoleh, melihat ibu mendekat.
“Boleh, ya? Satu bungkus aja.”
“Mm...” gue bergumam. Bukan niat hati mau menolak, sih. Cuman gue lagi inget-inget apa setelah jam mengambil raport Tiara, gue ada jadwal lain yang harus dihadiri atau enggak.
Tapi belum selesai gue mikir, ibu kembali berujar lagi. “Atau kamu gak langsung pulang? Mau latihan sama temen-temen kamu?”
“Enggak juga, sih. Kayaknya Wildan bakal langsung pulang. Lagian agak repot, Bu, mau kemana-mana kalau bawa raportnya Tiara. Mana Wildan bawa motor, bukan mobil.”
“Makanya, kamu tuh dibeliin mobil, ya, dipakai dong. Bukan buat menuhin garasi doang.”
Gue meringis. Yang satu itu emang fakta, sih.
Setelah tahun lalu gue dinyatakan lolos tes PTN dan masuk di kampus serta jurusan yang sesuai dengan keinginan Ayah, beliau memberikan gue hadiah berupa mobil. Katanya biar di kampus bisa nebeng-nebengin temen. Gue seneng, lah, jelas. Apa lagi itu artinya duit di tabungan gue yang selama ini niatnya mau gue beliin mobil, ternyata bisa kesimpen buat beli yang lain karena Ayah udah ngasih itu. Beli rumah mungkin, rencana gue. Tapi sayangnya, bahkan sejak tahun lalu itu, gue belum pernah satu kalipun menyetir mobil. Bukan karena gak bisa, dulu pas SMA kelas 11 gue udah sempet diajarin Ayah buat mengendarai mobil sampai lancar. Tapi hal ini karena gue gak tahu alasan yang tepat buat gue kuliah pakai mobil, tuh, biar apa? Gue mikirnya, sih, kalau kuliah bawa mobil yang ada macet-macetan di jalan dan gak bisa nyalip, belum lagi bensin mobil tuh mahal, belum lagi yang naik mobil juga cuman gue doang. Buat apa? Mending pakai motor, kan?
“Iya, Bu.” akhirnya gue cuman jawab gitu.
Ibu menghela nafas. “Makanya, kamu tuh cari pacar, dong. Biar punya alasan bisa keluar bawa mobil.
“Lah, kenapa harus pacar? Gak nyambung Ibu, mah.”
“Nyambung, lah. Kalau ada pacar nanti, pasti kamu kepikiran gak kepingin pacar kamu kepanasan i motor, atau kehujanan. Jadi ujung-ujungnya kemana-mana bawa mobil.”
Gue cuman terkekeh mendengar kalimat konyol dari Ibu. Gue aja sama sekali gak pernah kepikiran yang kayak begitu. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, gue berujar membalas seadanya. “Iya, deh. Doain Wildan cepet nemu perempuan yang tepat, ya, Bu.”
“Biar satu kali pacaran bisa sampai menikah?”
“Ya... penginnya, sih, begitu.”
“Iya, aamiin. Ibu doain abis ini kamu keluar dari pintu nemu perempuan yang tepat.”
Gue ngakak. “Astaga, Bu. Wildan, kan, mau ngambilin raport Tiara ke SMA-nya. Ya masa’ Wildan dapetnya anak SMA-an?”
“Loh, ya gak apa-apa, toh? Usia itu gak jadi masalah. Ibu sama Ayah kamu aja bedanya sembilan tahun. Kalau kamu sekarang mau macarin anak SD juga gak papa. Kan jaraknya jadi kayak antara Ayah sama Ibu.”
“Bu...”
Gue ngetawain ibu sampai sakit perut. Gak kebayang juga kalau gue macarin anak SD—yah, walaupun kalau diliat-liat ibu sama ayah juga cocok-cocok aja. Tapi jangankan anak SD, kepikiran buat macarin cewek yang nemunya di SMA aja agak ngeri. Takut dikira p*****l.
“Ya udah, aku berangkat sekarang, ya, Bu?” ujar gue sambil berdiri, menggapai tangan ibu untuk gue cium punggung tangannya, lalu melongokkan kepala ke kanan dan ke kiri. “Adek mana?”
“Di kamar, lagi main sendirian. Kamu jangan lupa sama titipan Ibu, loh.”
“Iya, iya. Gak bakal lupa. Lagian ibu, nih, ngidam apa gimana?”
Ibu melotot. Gue tertawa.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah memarkirkan motor di area parkir milik tamu, gue menaruh helm di spion, lalu menata rambut yang sedikit berantakan akibat memakai pelindung kepala tadi. Sebelum benar-benar turun dari motor, gue memutuskan membuka ponsel, mencari pesan masuk dari Tiara yang mana keponakan gue tadi udah janji mau ngirimin ruang kelas, nama, nomor absen, dan lain sebagainya agar gue gak kesusahan. Karena jujur aja, gue udah lupa sama yang dikasih tahu dia di telepon tadi.
“Mutiara Gadis Anada, ruang 10 IPA 6. Nomer absen 28.” gumam gue sambil mengantongi ponsel. Seiring kaki gue melangkah memasuki lobi sekolah, gue terus merapalkan kalimat itu agar tak sampai lupa.
For your information, SMA Delite ini adalah sekolah gue juga, dulu. Gue lulus dari sekolah ini dua tahun yang lalu—mengingat sekarang gue adalah seorang mahasiswa yang lagi duduk di bangku semester empat, beberapa bulan lagi., Dulu di sekolah gue bukan cowok hits, famous, atau apalah itu namanya kayak yang suka digembar-gemborkan Tiara setiap kali dia ke rumah dan cerita ke gue soal crush kakak kelasnya. Gue cuman murid biasa, yang lebih seneng gak menarik perhatian siapapun biar gue bisa sekolah dengan tenang. Dulu, gue juga jurusan IPA—kayak Tiara. Bedanya kalau Tiara anak IPA 6, gue anak IPA 2. Tapi tenang, angka di belakang nama jurusan itu hanya sekedar angka, bukan urutan kelas yang biasanya orang mikir IPA 1 itu kelasnya anak pinter banget sedangkan IPA 7 itu gak banget. Di SMA Delite gak begitu—at least sejak tahun gue masuk jadi ssiwa baru emang udah gak ada pengelompokan semacam itu. Rasis katanya.
Walaupun gue mantan alumni SMA Delite, bukan berarti gue tahu dimana letak kelas 10 IPA 6 ini. Masalahnya, seinget gue lorong kelasnya anak kelas 10 IPA dulu ada di paling belakang—tapi kata Tiara udah pindah. Jadi gue harus mencari mading dan melihat denah disana. Gue sedikit berdecak. Baru kali ini gue disuruh ngambilin raport orang dan ternyata sebegini ribetnya.
Melihat kerumunan para orang tua dan wali murid yang sama-sama mengerubungi mading, membuat gue akhirnya memilih mundur, gak jadi kesana. Gue mengedarkan pandangan, mencari salah satu siswa disini yang bisa ditanyai.
Lalu dari banyaknya siswa dan siswi yang memakai seragam batik khas SMA Delite itu, gue memilih melangkahkan kaki ke arah satu perempuan yang sepertinya seang tergesa menuju koperasi dengan tangan memegang lembaran putih. Bukan tanpa alasan juga gue ngedeketnya ke dia, tapi karena jarak antara gue ke cewek ini lebih dekat dari pada harus menjangkau yang lain.
“Eh, sorry mau nanya.”
Dia segera menghentikan langkah dan menoleh cepat kala merasakan lengan tangannya dipegang. Gue segera menjauhkan tangan gue dan sedikit mundur karena tahu kalau cewek ini kaget.
“Errr... iya, Kak?”
“Kelas 10 IPS—eh IPA 6, dimana, ya?”
“Ah,” dia tersenyum kemudian. “Kakak mau ambil rapot?”
Gue mengangguk.
“Ini lurus aja, sampai ujung...” ujar dia sambil memanjagkan tangan, menunjuk lorong di haapannya. “Terus nanti ada—“
“Kantin?” gue menebak—yah, kalau gak ada renovasi, sih, harusnya emang masih kantin disana.
Dia mengangguk. “Kakak udah hafal denah utama?”
“Gue alumni sini.”
“Ooh,” dia tersenyum lagi. “Syukurlah kalau gitu. 10 IPA 6 ada di belakangnya perpustakaan, Kak. Persis.”
“Perpustakaannya gak pindah, kan?” tanya gue. “Masih di samping kantin?”
“Yap.”
“Oh, oke, makasih ya. Sori ganggu.”
Dia mengangguk dan tersenyum, lalu gue melangkah menjauh dari cewek itu, sementara dia juga melangkah ke arah yang berlawanan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Masalahnya, ketika gue udah sampai di depan ruang kelas 10 IPA 6, yang gue temui adalah pintunya udah tertutup setengah, dan dari penglihatan gue yang sempet ngintip ke dalam tadi, ada satu guru duduk di meja guru, sedangkan guru-guru lain ada di kursi siswa. Gue mengernyit.
Ini kenapa malah guru-gurunya yang rapat? Apa geu salah kelas? Apa Tiara salah ngasih alamat ruangan? Jangan-jangan anak IPA 10 6 gak disini ambil raportnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu langsung muncul ke kepala. Setelah sadar kalau ini gak bakal ada jalan keluarnya jika gue hanya nunggu disini apa lagi seorang diri dan clueless banget mau ngapain, akhirnya gue memilih merogoh ponsel di saku celana. Baru juga mau mengetik nama Tiara di kontak telepon, ternyata ponakan gue itu udah nelpon duluan. Gue segera mengangkatnya lalu mendekatkan ponsel pada telinga.
“Halo, Kak?’
“Halo, Tir?”
Kami berujar bersamaan.
“Kamu dimana?” gue tanya duluan.
“Di labas. Kakak udah dateng?”
“Udah. Dari tadi. Tapi ini kelas kamu, kok, malah dipakai rapat guru? Kamu salah ngasih ruang ke kakak, ya?”
“Hah? Enggak, kok. Kakak rapatnya emang di ruang kelas 10 IPA 6. Coba liat talang kayu di atas pintunya. Kakak udah bener, belum?”
Gue memutar badan dan mengangkat kepala, mendapati talang kayu yang dimaksud Tiara memang sudah benar, 10 IPA 6.
“Bener, kok. Tapi kenapa di pakai rapat guru?”
“Ih, kok aku gak paham, sih, maksud kakak?! Tunggu disitu, deh, aku kesana.”
“Dari tadi, kek.”
“Bentar, ya. Assalamualaikum.”
“Iya, waalaikumsalam.”
Akhirnya gue memilih duduk di kursi panjang yang tersedia disana. Gue berasa bocah ilang banget disini. Gak ada temen, cuman bisa nengok kanan dan kiri nyari Tiara, juga dari tadi gue ngerasa banyak yang ngeliatin. Gak, yang terakhir itu bukan geer. Ini emang beneran. Baik wali murid dan siswa-siswi cewek banyak yang dari tadi kayak curi-curi liat. Gue juga gak tahu kenapa. Mau geer dengan bilang mungkin gue punya tampang ganteng, iya kalau iya? Kalau gak?
Masalahnya gue kesini pakai baju batik, agak berasa bapak-bapak jadinya. Salahin ibu yang tadi menyuruh gue ganti baju batik ini sedangkan tadi niatnya, kan, gue mau pakai kemeja santai aja. Lagian gak ada larangan harus pakai apa disini, yang penting sopan aja.
“Kak!”
Dari arah kanan gue duduk, Tiara berlari kecil ke arah gue. Tapi bukannya fokus ke keponakan kesayangannya gue itu, gue malah salah fokus ke temennya.
Lah, ini kan cewek yang tadi gue tanyain?
Tiara mengambil duduk di samping gue, sedangkan temennya ini duduk di samping Tiara. Jadi Tiara ada di antara gue sama dia.
“Ternyata kelasnya masih dipakai buat rapat wali kelas. Soalnya aula dipakai buat latihan anak karawitan. Jadi, tunggu setengah jam lagi, ya, Kak. Kata wali kelasku tadi, sih, gitu.”
Gue mendengkus. “Hari gini latihan karawitan? Gak ganggu yang lagi rapat emang?”
“Ya, kan, aulanya di pojokan. Gak bakal kedengeran, lah. Paling juga cuman samar-samar.”
Gue sebenernya udah mau diem. Tapi tiba-tiba gue ingin mendumel aja mengingat gara-gara ngambilin rapot Tiara, gue jadi bangun pagi-pagi. Yang mana ternyata disini aja gue harus nunggu setengah jam lagi.
“Tahu gitu kakak beneran berangkat jam sembilan aja, kan, harusya? Kamu, sih, Tir.”
Dia nyengir. “Ya maaf, sih, Kak. By the way, kenalin nih temen aku. Ah, sebenernya beda angkatan, sih.” ujar Tiara sambil memundurkan badan, membuat gue bisa melihat cewek itu yang dari tadi emang ketutupan badan Tiara. “Kak Kanya ini kakak kelas aku. Cuman kita satu ekskul, jadinya deket dan temenan, deh!
Gue cuman mengangguk dan tersenyum ke arah Kanya-Kanya ini.
“Kak Kanya, kenalin. Ini bukan kakak aku, tapi Om!”
“Heh!” gue melotot gak terima. “Am-om am-om!”
Tiara tertawa. “Ya kan harusnya aku emang manggil Kak Wil pakai Om. Cuman kita jaraknya gak jauh aja jadi manggil Kakak.”
Gue mendesis. Tiba-tiba kayak malu aja diakuin sebagai Om sama Tiara di depan temennya ini.
“Kenalan, dong! Kok malah cuman liat-liatan, sih, kalian!” Tiara berseru lagi.
Sebenernya gue sama Kanya juga bukan yang liat-liatan kayak di FTV SCTV juga, sih. Tapi Tiara, nih, emang suka hiperbola. Dari pada Tiara berisik lagi, akhirnya gue menyapa Kanya lebih dulu.
“Gue Wildan.”
“Ah...” dia tersenyum bikin gue sempet mikir, dia nih emang ramah senyum banget, ya? Perasaan dari suka banget dikit-dikit senyum. “Aku Kanya, Kak. Temennya Tiara.”
“Nah, karena udah kenal... Kak Kanya, aku minta tolong temenin Kak Wildan disini dulu, ya? Aku mau ke kantin beliin Om aku ini—“
“Tir!”
Tiara ngakak lagi. “Iya, iya. Maksud aku mau beliin kakak aku ini minuman dulu biar gak ngomel aja dari tadi.”
Gue diam-diam memutar bola mata. Mana ada gue ngomel? Yang ada dari tadi Tiara yang berisik gak berhenti ngomong sedangkan gue sama Kanya cuman jadi pendengar.
“Kakak udah sarapan, kan? Atau mau dibeliin nasi kuning di koperasi?”
Gue menggeleng. “Gak usah, udah sarapan tadi.”
“Oke.”
Gue melirik Kanya yang lagi memegangi lengan Tiara, seperti gak mau ditinggal berduaan sama gue. Gue jadi terkekeh geli melihat kelakuannya.
“Bentar doang, janji! Bentar, yaaaa. Kalian yang akur! Kak Wil, Kak Kanya jangan dicuekin, loh! Awas aja!”
“Iya astaga.”
Setelah Tiara putar badan dan mulai melangkah menjauh, gue cuman bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan keponakan gue. Tiara, tuh, emang karakternya nurun banget sama ibunya—alias tante gue. Cerewet tapi periang. Yang mana kalau lagi tidur di rumah gue, dia gak bakal berhenti ngerecokin gue, cerita ini dan itu, bisa-bisa dari isya sampai subuh dia bakalan bertahan hanya untuk menceritakan kalau dia lagi sebel sama temen satu kelasnya. Serius. Secerewet itu.
Gue melirik ke arah Kanya yang menunduk dengan kedua tangannya bertautan di atas paha. Gue paham, sih, rasanya disuruh duduk berdua sama orang asing kayak gimana. Mungkin cewek ini sedikit malu dan tidak enak. Apa lagi dia juga gak bisa menolak atas permintaan Tiara. Padahal Tiara, kan, adik kelasnya. Kenapa dia mau-mau aja coba disuruh-suruh?
“Lo kelas berapa?” tanya gue memancing obrolan, membuat Kanya jadi menoleh dan memberi gue senyum lagi.
Gue bilang juga apa. Dia ini hobi senyum.
“Kelas 11, Kak.”
“Katanya satu ekskul sama Tiara, ya?”
“Iya.”
“Ekskul apa?”
Berdasarkan pengamatan sekilas gue, kayaknya Kanya ini gak pinter beradaptasi sama orang baru. Terlihat dari caranya yang menunggu ditanya baru mau menjelaskan. Maksud gue bisa, kan, harusnya dia langsung bilang ekskul apa tanpa ditanya dulu. Kalau gini ceritanya, gue jadi menemukan orang buat bercermin, karena gue juga gak mudah beradaptasi sama lingkungan baru.
“Jurnal, Kak.”
Tapi ternyata tebakan gue salah ketika setelah itu, Kanya ternyata mau balik nanya.
“Kakak yang tadi tanya ruang kelas, kan?”
Gue mengangguk. “Iya. Lo... gimana temenan sama Tiara? Pasti dia ngerepotin dan berisik, ya?” tanya gue melanjutkan obrolan.
Masalahnya kalau gak ngobrol, gue malah bingung sendiri harus diem-dieman sama Kanya selama menunggu Tiara.
Dia tertawa mendengar pertanyaan gue, membuat gue yang lagi menunduk jadi mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya. Demi Tuhan, hampir dua puluh satu tahun gue hidup di dunia, gue gak pernah ngamatin cewek sebegininya, Tapi sama Kanya, gue akuin ini yang pertama kali.
Mendengar dia tertawa, gue kayak bisa pelan-pelan nyiptain lirik lagu di kepala buat next song-nya Lima Hari. Kanya ini cantik, cantik banget malah. Dengan kulit putih, hidungnya yang mancung, rambut lurusnya yang di bagian bawah sepertinya sengaja dicurly, senyumnya yang manis dan menawan, Kanya benar-benar cantik.
“Enggak, kok. Sama sekali gak ngerepotin. Dia emang suka ngobrol anaknya, tapi justru aku seneng karena dia happy virus banget.”
“Oh, ya?”
Dia mengangguk. Kali ini matanya sedikit berbinar kala menceritakan Tiara. “Karena belakangan lagi sibuk ngurusin ekskul buat lomba bulan depan, aku jadi lebih deket sama Tiara. Bahkan kayaknya lebih suka curhat-curhat ke Tiara dari pada ke temenku di kelas. Dia pendengar yang baik soalnya. Dan asik.”
Gue tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Paham akan yang satu itu karena Tiara emang seperti apa yang dikatakan Kanya. Happy virus.
“Kalau boleh tahu, Kakak kuliah semester berapa?”
Gue menoleh lagi untuk menatapnya. “Kok tahu kalau gue kuliah?”
“Karena gak mungkin udah kerja, kan?” tanyanya dengan pertanyaan balik. “Lagian tadi Tiara bilang umur kalian gak jauh-jauh banget, terus kakak tadi juga sempet bilang juga kalau alumni sini.”
“Ah, bener juga,” gue tersenyum menemukan satu fakta lain tentang Kanya : dia pendengar yang baik dan ingatannya bagus. “Gue semester tiga. Bulan depan semester empat.”
“Berarti jarak usianya sama Tiara ga sampai lima tahun?”
“Iya.” Kalau sama lo gak sampai empat tahun. Lanjut gue dalam hati.
“Kuliah dimana, Kak?”
Gue ketawa. Bukan ngetawain gadis cantik ini atau ngetawain—
“Kakak ngetawain apa?” tanyanya lagi. “Ah, aku lancang ya tanyatanya—“
“Hei, enggak, bukan. Gue ketawa karena berasa lagi diinterogasi aja. Gak papa, kok. Santai aja. Gue kuliah di UI, anyway. Teknik Sipil.”
“Apa?”
“Apanya?”
Kemudian matanya tiba-tiba berbinar. “Bentar, bentar. Astaga, astaga.”
“Hei, kenapa?”
Gue auto ikutan panik, lah. Soalnya Kanya, nih, tiba-tiba matanya melebar seperti kaget sedangkan gue gak tahu alasannya.
“Wait, wait. Aku kok baru sadar kalau suara kakak—astaga, Kak Wildan ini Wildan Lima Hari?!”
Astagaaaaa, gue kira apaan.
Gue terkekeh geli ketika mendapati matanya berbinar dengan mulut terbuka yang ditutupi tangan. Lalu kepala gue mengangguk.
“Oh, my, God. Aku suka dengerin semua lagu-lagunya Lima Hari, tahu, Kak!”
“Oh, ya?” gue masih memasang senyum geli. Entah kenapa ngeliatin Kanya ini bikin gue gak bisa berhenti senyum. Dia lucu. “Paling suka yang mana?”
“Lean on Me!”
“Nice taste.” gue memuji. Memuji dia yang seleranya bagus, juga memuji gue sendiri yang nyiptain lagu. Hahahaha.
“Bulan kemarin Lima Hari jadi guest star diesnataliesnya SMA 12, kan? Itu sebenernya aku mau nonton tapi kehabisan tiket!”
Nah, satu lagi fakta yang gue dapet dari percakapan kami soal Kanya. Dia ternyata sebelas dua belas sama Tiara, yang suka menggebu-gebu kalau cerita sama sesuatu yang dia suka. Seperti detik ini.
“...Padahal udah dari lama banget aku pengin nonton Lima Hari langsung soalnya selama ini aku cuman dengerin lewat lagu-lagunya aja. Gak pernah ketemu.”
“Terus kenapa gak apal sama muka gue?”
Bukan maksud meledek atau nyinyir, ya. Gue tanya begitu soalnya aneh aja. Dia bilang ngefans sama Lima Hari tapi gak tahu kalau gue adalah Wildannya Lima Hari.
Dia meringis, lalu raut wajahnya berubah jadi sedikit tak enak. “Jujur aku gak apal sama mukanya Lima Hari, Kak. Cuman apal sama drummernya aja. Kak Dafi.”
Gue tiba-tiba mendecak gak suka. Kenapa Dafi? Kenapa bukan gue aja yang diinget?
“Tiara gak pernah cerita emang?”
Dia menggeleng. “Sama sekali. Eh, tapi Tiara emang gak tahu aku suka Lima Hari, sih.”
“Ya udah, kalau gitu...” gue menatapnya. “Gimana kalau bulan depan lo ke gedung fakultas gue? Lagi ada acara dan Lima Hari jadi guest starnya.”
“Serius?! Gak papa emang yang bukan mahasiswa disana ikutan nonton?”
“Mm-hm. Nanti ajak aja Tiara biar ada temennya. Atau mau berangkat sama gue aja?”
Oke, semoga Kanya gak sadar kalau penawaran terakhir yang gue berikan itu adalah satu cara modus. Iya, gue akuin gue emang tertarik sama Kanya. Tapi siapa, sih, yang gak bakal tertarik sama perempuan cantik, lucu, dan menyenangkan kayak dia?
Wait, gue baru inget sama kata-kata ibu tadi sebelum gue berangkat kesini.
“Nanti coba aku ajak Tiara dulu, ya, Kak. Kalau misal dianya gak mau... eum... aku bareng kakak gak papa? Eh, atau aku cari temen yang lain yang mau juga gak papa—“
“Sama gue aja.”
Dia tersenyum, kemudian mengangguk antusias. Gue juga ikut tersenyum.
Bu, doa ibu emang manjur banget ternyata. Gumam gue dalam hati.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *