Blurb
"Gelap sekali, rumah siapa ini? Dan di mana aku?"
Pandangan mataku menyusuri setiap jengkal rumah itu. Gelap, kotor, mengerikan begitulah yang kurasa.
Tok ... Tok ... Tok.
Suara ketukan itu terdengar mengejutkan, kususuri arah suara yang berakhir ke seberkas cahaya di luar jendela.
Langkah kaki membawaku tepat di hadapannya, tepat di hadapan seorang laki-laki tak dikenal. Wajah tampan yang sangat asing, sosok itu memberikan kode dengan tangannya seraya menyuruhku membuka jendela yang penuh debu dan sarang laba-laba itu.
“Aku nggak bisa!” Teriakku karena itu memang jendela tanpa engsel yang tak mungkin dibuka kecuali.
Praaang!
Kaca berukuran setengah badan itu hancur berkeping-keping terkena pukulan kayu laki-laki tadi. Laki-laki asing tadi melompat masuk, aneh ... Dia sama sekali tak mengalami lecet, tergores ataupun berdarah.
"Apa ini? Aku pun mengalami hal yang serupa. Bagaimana bisa? Jelas-jelas banyak pecahan kaca yang mengenai tubuhku," ucapku seraya memegang wajah menggunakan kedua tangan.
Aku tersontak kaget saat tiba-tiba ia memegang tanganku, “ikutlah denganku!" Teriaknya, segera kutarik tanganku berusaha melepaskan genggaman tangannya di lenganku tersebut.
“Ikutlah denganku, di sini berbahaya!” Suaranya terdengar sekali lagi, kali ini lebih lantang menusuk ke telinga.
Kembali kutolak ajakan itu, tiba-tiba laki-laki tadi berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan, kuku tangannya yang terukir rapi berubah menjadi panjang dan semakin panjang hingga menembus kulitku. Kali ini, darah mengalir keluar dari tanganku.
"Aku takut Tuhan, aku takut."
_________________
Terhentak aku dari istirahat Malam, kuperhatikan sekitar dan benar ini kamarku. "Apa ini? Mimpi yang sama berulang kali?"
Kulihat jam di handphone, masih jam satu dinihari begitulah yang terlihat di sana. Kuambil earphone yang tak pernah jauh dari bantal, satu per satu lagu mengalir di telinga, aku takut tidur kembali.
Bagaimana jika mimpi itu datang kembali?
Atau bagaimana jika sosok itu muncul lagi?
Kubuka semua akun sosmed, berbagai pesan bertumpuk memenuhinya, pesan dari beberapa jam yang lalu atau bahkan beberapa hari yang lalu berisikan, hi, lagi apa? Dan lain sebagainya.
”Cih,” sambil kulempar handphone itu ke kasur, kupeluk bantal sembari mendengarkan lagu yang sengaja kuputar berulang-ulang.
"Aku hanya butuh ketenangan, tanpa mimpi buruk. Bisakah aku mendapatkannya, Tuhan?" Gumamku pelan seraya menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan. Mataku kosong menghadap dinding, banyak yang memberikan perhatian tapi tetap saja aku merasa kesepian.
Entahlah, aku merasakan kekosongan yang aku sendiri pun tak bisa menjelaskannya. Terasa ada sesuatu yang hilang di hidupku, sesuatu yang sangat penting.
________
Perkenalkan namaku Hana, bisakah kau menjaga rahasia? Aku mengidap philophobia, takut merasakan jatuh cinta. Saat banyak orang mendambakan cinta, aku malah berharap tak bertemu akan cinta itu.
Mendengar kata-katanya saja sudah membuat dadaku sesak. Bukan karena aku jelek hingga tak ada seorang pun yang suka, atau sikapku yang arogan yang membuat mereka ilfeel.
Aku bisa saja mendapatkan laki-laki dalam sekejap, tinggal pilih layaknya memilih roti apa yang mau dimakan di toko roti. Tuhan memberkatiku dengan fisik yang mungkin ingin dimiliki oleh segelintir wanita, dan sekali lagi kuberitahu aku tak bisa melakukannya.
Mempermainkan hati pria ataupun memberikan harapan untuk mereka menunggu? Aku terlalu takut menatap mata mereka, aku terlalu takut membukakan hati untuk mereka.