Syarat dan ketentuan berlaku!

1650 Words
Minggu pagi yang menyenangkan. Untuk kesekian kalinya Evnand merasa seperti tersihir oleh sisi lain dari gadis mungil yang sudah berapa bulan ini berhasil ia paksa menjadi pacarnya. Evnand selalu menikmati setiap momen yang ia jalani bersama gadisnya itu. Seperti hari ini, untuk pertama kalinya ia menyadari, betapa sang pacar begitu menyenangi tanaman. Dengan telaten Yurra mengurus berbagai jenis bunga yang tumbuh di taman belakang rumanya itu, meski bunga mawar adalah yang paling dominan dari sekian banyak tanaman disitu.            Dan satu hal yang paling tak bisa ia percaya, adalah, wajah teduh sang pacar yang (masih selalu) mengalihkan segala fokusnya. Apa Evnand dewasa sebelum waktunya? Kenapa ia merasa begitu mencintai gadis dihadapan nya ini? Bahkan ia tak segan mengutarakan keseriusannya pada ayah sang pacar, meski harus menunggu dua bulan lagi baru usianya genap 17 tahun.     Hari ini, hari terakhir masa libur sekolah. Besok mereka akan kembali di sibukkan dengan berbagai kegiatan belajar. Hal yang mulai membuat Evnand waspada, adalah, sang pacar yang kembali sibuk karna ikut menjadi anggota panitia penyelenggara kegiatan Masa Orientasi Siswa yang akan berlangsung selama satu minggu pertama saat mereka masuk sekolah.     "Ra, nanti kelas 2 kamu stop jadi anggota Osis ya," Evnand memberanikan diri untuk menyampaikan isi kepalanya pada sang pacar.   "Jangan mulai, Nand, aku lagi nggak minat berdebat, tanaman ku bisa layu nanti."    "Kamu cuman khawatirin tanaman mu?" Tanya Evnand dengan nada protesnya.   "Haah..Kenapa pacarku berbeda?" Ucap Yurra sembari memandang langit yang tampak cerah, seolah ia sedang menerawang jawaban dari sana. Ia sebetulnya senang dengan sikap Evnand yang menunjukkan, betapa lelaki itu enggan membaginya dengan yang lain. Hanya saja kadang sedikit berlebihan porsinya.  "Karna pacarku kamu. kalo pacarku perempuan lain, aku nggak menjamin sikapku berlebihan begini."    "Jadi, sekarang tetap aku yang salah?" Tanya Yurra dengan nada yang ia buat seperti kaget betulan, Karna ia tau kemana arah pembicaraan sang pacar.   "Ya memang begitu adanya." Evnand mengangkat bahunya. Karna memang ia pun bingung, bagaimana seandainya bukan Yurra yang jadi pacarnya? Masih kah ia bersikap over begini?   "Manis sekali Evnand-ku sekarang." Goda Yurra.   "Kita sudah pacaran enam bulan, dan kau baru memujiku sekarang? Kenapa pacarku berbeda?" Evnand sengaja mengulang kalimat yang Yurra ucapkan untuknya tadi. Kemudian mereka sama-sama tertawa.   "Aku tetap nggak dukung kamu masuk anggota osis lagi loh."   "Yasudah."  Jawab Yurra tenang. Meski tangannya tetap fokus pada bunga-bunga yang masih ia pindahkan dari pot hasil semaian nya berapa minggu yang lalu.   "Gitu dong. Tumben kamu nurut sama aku?"  Evnand merasa Yurra sedikit jinak hari ini.   "Aku nggak ngomong gitu."   "Tapi, tadi kamu bilang yasudah."   "Yasudah. Kamu boleh kok tunjukin semua keberatan kamu sama aku. Kamu juga boleh larang aku ini itu. Tapi kamu tau kan kalo urusan itu aku nggak bisa sepenuhnya nurut ke kamu."   "Yasudah."     "Boleh masuk anggota osis lagi ?" Tanya Yurra dengan nada tenang seperti sudah tau jawaban dari sang pacar.   "Syarat dan ketentuan berlaku." Jawab Evnand mutlak dengan senyum khas nya.             Evnand memang tak akan merasa aman. meski ia mengajukan banyak persyaratan sekalipun agar Yurra mengerti keterberatannya dengan putusan sang pacar, ia akan tetap waspada.      Hal yang sangat mengejutkan bagi Yurra Setelah Evnand sibuk mendoktrin nya dengan berbagai larangan yang ternyata tak membuat lelaki itu puas juga, Akhirnya ialah yang memilih untuk ikut bergabung menjadi anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah.    Sebenarnya hal itu bukan masalah bagi Yurra. Terlihat dari sikapnya yang tidak protes sama sekali pada Evnand. Ia hanya berfikir, jangan sampai pacar protektif nya itu tak bertanggung jawab pada peran yang dipercayakan untuknya dalam keanggotaan.    "Nand, kau serius masuk Osis?" Entah kenapa, justru Alffi yang terganggu dengan keputusan sahabatnya itu. Sudah berulang kali ia menanyakan hal yang serupa.   "Aku harus jawab berapa kali, Fi?" Dengus Evnand. Ia jengah. Setiap hari ia terus-terusan menjawab pertanyaan yang sama. Kenapa sahabatnya seolah tak percaya dengan keputusannya meski sudah berjalan 1 bulan lamanya? Padahal ini bukan hal besar bagi Evnand.    Satu hal lagi yang membuatnya bingung, kenapa ia bisa satu kelas lagi dengan Alffi? Kenapa bukan dengan Nicho atau Yurra saja? Karna jujur saja, ia mulai bosan mendengar ocehan Alffi yang cenderung tidak penting. Alffi bahkan tak segan mengatainya tengik jika ia tak sependapat dengan lelaki itu. Sahabat macam apa dia?     "Aku faham, kau hanya terlalu takut Yurra lepas dari penjagaanmu, Nand. Tapi ini sudah berlebihan menurutku."    "Ngomong apa sih? Aku masuk organisasi itu karna memang ingin masuk." Jawab Evnand dengan tenang.   "Bukan karna merasa tertantang, Karna Yurra justru terlihat lebih dominan darimu?"   "Bukan tertantang. Justru alasan Yurra masuk organisasi itu benar, Fi. Kalau seorang Yurra pun ingin lebih berkembang, kenapa aku nggak?"   "Yasudah lah. Yang pasti aku nggak dukung kalau alasanmu disana hanya karna Yurra. Karna selain itu, Ada tanggung jawab yang harus kau jalani dengan benar, Nand."    "Aku hanya merasa, selama hampir 8 bulan ini aku terlalu egois, Fi. Caraku mempertahankan Yurra mungkin nggak membuatnya nyaman. Meski sejauh ini ia tak pernah protes." Aku Evnand dengan nada lirih di ujung kalimatnya.      Alffi paham kemana arah pembicaraan Evnand. Ia bingung harus menimpali bagaimana. Karna ia sendiri pun tidak begitu mengerti urusan sejenis itu. Berbeda dengan Nicho yang bisa dengan mudah menasehati Evnand karna pengalaman pribadinya. Itu sebabnya Alffi memilih untuk tidak mendekati perempuan. Karna baginya, itu seperti menambah beban pikiran saja.      "Fi,-"     "Bicarakan dengannya langsung, Nand. Aku nggak akan bisa jawab semua kebingungan di kepala mu itu." Potong Alffi sebelum Evnand menyelesaikan kalimatnya. Karna memang benar adanya. Menurutnya, hal ini ya harus Evnand bicarakan langsung dengan tuan punya badan.    "Kalau seandainya aku bersikap sama seperti Yurra, apa menurutmu, aku salah?"   "Nggak salah. Hanya hubungan kalian akan semakin nggak baik, menurutku. Perbaiki komunikasi kalian, Nand."   "Menasehati orang yang sedang jatuh cinta memang sangat sia-sia." Sambung Alffi melihat keterdiaman sahabatnya.    Alffi tau, Evnand lebih dari mampu untuk sekedar mengemban tanggung jawab saat bergabung menjadi anggota Osis, tapi Ia tetap merasa risau. Karna ia tak mau Evnand benar-benar melakukan apa yang selama ini sedang ia tebak dari gerak gerik sahabatnya itu. Evnand memang lebih sering mendengar saran dari Nicho, tapi tak ada yang sebaik Alffi yang tau segala hal tentang Evnand. bahkan hanya dengan melihat dari segala keputusan yang Evnand buat.   "Daripada mengkhawatirkan Yurra, aku justru lebih khawatir padamu, Nand." Ucap Alffi pelan.   "Sudahlah. Kau tau aku nggak akan pernah lepasin dia, Fi, apapun alasannya."    Jawaban final Evnand justru semakin menandakan bahwa ia sedang bergulat dengan pikirannya. Itulah yang terlihat di mata Alffi. Dan itu semakin membuatnya tidak percaya dengan segala rumus cinta untuk remaja seusia mereka. Terlalu berat untuk otaknya yang hanya ingin ia penuhi dengan musik dan fotografi. Sudah cukup baginya.   Saat menoleh ke samping, Alffi seolah terpanggil untuk ikut masuk dalam pikiran Evnand yang entah sedang melanglang buana kemana hingga tanpa mereka sadari, Richard dan Dwinda sudah bergabung bersama mereka yang sedari tadi hanya menumpang duduk di kantin sekolah tanpa membeli apapun.     "Nand, dengar nggak?" Ulang Richard yang berusaha membuyarkan Evnand dari lamunannya.   "Hah? Apa?" Jawab Evnand ambigu.   "Izinin Yurra bawa motor sendiri. Biar nggak saling nunggu kalau masing-masing lagi ada kegiatan tambahan."    "Memang Yurra minta izin?" Entah kenapa Evnand semakin tidak suka pada Richard belakangan ini. Ia kembali pada mode sebelum Yurra resmi menjadi pacar Evnand. Selalu membuat keputusan sendiri seolah Yurra adalah miliknya.   "Belajar lah lebih peka, Nand." Ucap Richard setelah sebelumnya ia membuang napas yang lebih terdengar seperti dengusan.   "Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja yang belajar lebih menghargai. Sekarang aku pacar Yurra, aku yang lebih berhak."   "Tapi aku lebih paham bagaimana Yurra." Jawab Richard sedikit meninggikan suaranya.   Evnand bangkit dari duduknya. Ia mulai jengah dengan sikap Richard yang selalu merasa paling tau segala hal tentang Yurra.    "Belajarlah lebih peka, Chard! Kalimat itu memang lebih tepat untuk mu. Peka lah dengan perasaan pacarmu. Yurra urusanku." Ucap Evnand sambil berlalu dari hadapan Richard yang di ikuti Alffi dalam diam. Tanpa Richard tau, perkataannya benar-benar mengganggu pikiran Evnand hingga ia membatalkan latihannya bersama dua sahabatnya dan memilih pulang tepat waktu bersama Yurra.      Hari ini terasa begitu panjang bagi Evnand. Setelah keheningan menemani perjalanan pulang hingga mereka tiba didepan rumah Yurra, ia masih enggan membuka suara saat sang pacar turun dari motornya.    "Nand, masih betah diam?" Tanya Yurra akhirnya.    "Memangnya dari tadi aku diam-"    "-Ra, apa aku kurang peka?" Sambung Evnand setelah melihat tatapan intens pacar mungilnya.   "Kamu debat lagi sama Richard?"    "Aku boleh mohon satu permintaan?" Tanya Evnand lirih, alih-alih menjawab pertanyaan pacar mungilnya.   "Kenapa harus nanya dulu? Biasanya langsung ngomong aja kan bisa." Jawab Yurra yang semakin membuat Evnand merasa bahwa ucapan Richard tak sepenuhnya salah.   "Apa selama ini aku terlalu mengatur? Kenapa kamu nggak pernah protes meskipun permintaanku bikin kamu terkekang?"   "Karna aku nggak merasa seperti itu, Nand."   "Kamu boleh nunjukin keberatan kamu sama perintah-perintahku, kamu juga boleh larang aku ini itu, Ra."    "Yasudah." Jawab Yurra membuat Evnand mendongak ke arahnya. Karna sedari tadi, pacarnya itu betah sekali menundukkan kepala, seolah mengajaknya mengheningkan cipta.   "Aku tau pacarku cerdas. Setiap permintaannya pasti ada alasan, yang menurutku masih logis untuk dimaklumi." Sambung Yurra dibarengi senyum yang ia harap bisa menenangkan Evnand.   "Kenapa? Kenapa mandangnya begitu? Apa aku mulai kurang cantik ?" Goda Yurra mengharap reaksi sang pacar yang sedari tadi masih betah dalam diamnya.   "Aku nggak suka Richard." Jujur Evnand.   "Ya jangan suka lah. Kan kalian-"   "Raa," potong Evnand dengan sedikit melototkan matanya. karna saat ia sedang serius, sang pacar malah asik menggodanya. Dan Bukannya takut, Yurra malah nyengir menampilkan lesung di pipi kirinya.   "Aku maunya tetap antar jemput kamu." Sabung Evnand lagi.   "Aku juga mau." Jawab Yurra enteng.   "Aku tetap nggak suka Richard. Aku nggak mau saingan sama dia."   "Ngapain saingan? Besok kita minta maaf sama Dwinda, yaa?!"   "Iyaa,"  "Iyaa apa ?"  "Minta maaf sama Dwinda sama Richard." Jawab Evnand malas tapi mengundang senyum geli di wajah pacarnya.   "Kamu boleh kok nunjukin keberatan kamu sama perinta-perintahku-" ucap Yurra menirukan suara Evnand barusan "-Manis sekali sih Evnand Ananda Septama." Sambungnya lagi sembari tertawa geli.    Bukannya tersinggung, Evnand justru dibuat terpana dengan tingkah pacarnya itu. Pemandangan yang langka untuk seorang Yurra membuat lelucon seperti itu. Pemandangan yang tak kalah indah selain senyum manis sang pacar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD