PART 2

978 Words
Pita dengan kaos hitam melewati lututnya. Berdiri membelakangi balkon keluarga Cesterson. Angin membawa melayang sesaat rambutnya sebelum akhirnya luruh lagi. Lampu balkon yang remang-remang seakan mengalah pada sinar rembulan yang nyaris penuh. Pita melirik ke atas. Bulan sebentar lagi akan berada dalam satu garis lurus dengan matahari dan bumi. Dan Pita meyakini bakatnya akan menjadi semakin kuat saat menit-menit ketika ketika elemen angkasa itu berada dalam satu garis lurus...dan...  "Kau sudah membuat 8 gadis berpikir bahwa aku sengaja mendorong mereka hingga jatuh." Suara bariton Mason tak membuat Pita menoleh. Ini bukan kali pertama Pita mendengar Mason memberi teguran padanya. Jelas bukan kali pertama juga mereka berbicara dari balkon masing-masing. Pada tengah malam yang surut menyambangi dini hari. "Kenapa, Paquita?" Pita berpikir bahwa Mason mirip dengan Ibu dan Ayahnya. Menyebut namanya utuh saat suasana hati mereka kesal setelah keisengannya. "Gadis itu tidak baik. Dia...auranya terlalu merah. Tidak baik untukmu." "Lalu yang baik untukku seperti apa? Sepertimu? Aku bahkan melihatmu beraura hitam?" "Hanya karena aku menyukai warna hitam bukan berarti auraku hitam Mr Cesterson." "Lalu apa warna auramu? Apa yang harus aku simpulkan saat melihat penampilanmu, Pita? Kita bertetangga sangat lama dan... Pita berbalik dan itu membuat Mason menghentikan bicaranya. "Hmm...kau marah padaku?" "Tidak. Bukan seperti itu..." "Kau memang tidak akan pernah bisa marah padaku, Mason." "Tapi aku dan Madow akan bertunangan." Pita menopang dagu dengan telapak tangannya. Sikunya menumpu pada pagar pembatas. "Namanya seperti nama kucing..." "Paquita..." Mason menggeram dan Pita hanya tersenyum. "Baiklah. Maafkan aku. Apa aku perlu bicara pada kucing pirangmu itu? Aturlah waktu dan tempatnya. Aku akan datang." "Paquita!" Dan geraman Mason semakin keras menandakan dia begitu jengkel. Tapi Pita hanya tersenyum. Dia tahu Mason tak pernah benar-benar bisa marah padanya. Pita berdiri tegak. Menatap Mason yang juga berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Keduanya bertatapan. Mata coklat Mason yang teduh dengan naungan alis tebalnya. Dan mata jernih Paquita yang bermanik hitam legam. Mereka hanya saling menjelajah. Diam. "Madow mencintaiku dengan tulus." Suara bariton Mason yang terdengar sangat yakin tidak membuat Pita bergerak. Dia masih menatap Mason dalam. "Dia cantik. Aku selalu menyukai gadis pirang. Seperti para pria lain yang tak akan bisa menolak seorang gadis pirang yang seksi." Pita mengangguk mengerti. Sungguh pemikiran para pria yang begitu dangkal. Pemikiran yang hampir pasti adalah pemikiran sekian juta pria di jagad raya ini. "Dia gadis yang kelihatannya baik-baik." Mason meneruskan ulasannya tentang gadis bernama Madow itu. Dan lagi-lagi Pita hanya mengangguk. "Sudah malam. Tidurlah. Gadis kecil dilarang tidur terlalu larut. Kau masuklah." Pita berbalik hendak masuk menuruti kata-kata Mason. Namun langkahnya terhenti saat kakinya sampai langkah kedua. "Gadis baik-baik adalah gadis yang berada di rumah pada jam seperti ini, bukan di sebuah private room klub para eksekutif muda, Mason. Selamat malam. Kau juga tidurlah." Pita kembali melangkah. Masuk lalu dengan menunduk dia menutup pintu dobel di depannya. Dia tak lagi mendongak menatap Mason. Pita meraih tali tirai dan menutup semua tirai pintu dan jendelanya. Dan dalam sekejap kamar Pita menjadi gelap gulita. Pita menarik selimutnya hingga menutup seluruh tubuhnya. Dia selalu menyukai tidur dalam gelap. Tanpa cahaya sedikitpun. Dan bibir Pita menarik sebuah senyuman saat terdengar deru mobil dan kilatan cahaya lampu mobil Mason menerobos di sela tirai jendela kamarnya. Pita tahu kemana Mason akan pergi. Mason adalah pemuda yang punya rasa penasaran yang sangat tinggi. Dia tidak akan mau berdiam diri sementara hatinya berkecamuk tak tenang. "Maaf. Tapi kau terlalu baik kalau harus dibohongi oleh kucing itu, Mason." Pita terkikik. "Tidur Pita." Terdengar suara Ibunya lirih. Pita tak perlu menyingkap selimut yang menutupi kepalanya. Dia tahu Ibunya berjalan di sepanjang koridor lantai atas sambil membawa nyala lilin di tempat lilin berbentuk bunga tulip. Pita menutup mulutnya. Dia yakin Ibunya tahu apa yang sudah dia lakukan pada Mason. Dan dia akan bersiap kalau Ibunya itu meliriknya saat sarapan besok. Mata Pita terpejam. "Aku tidak yakin kau tahu. Tapi aku yakin melihatmu duduk di balkon bersamaku saat kita berusia senja Mason. Aku melihatnya dengan jelas."  Mata Pita terpejam menyambut lelap. Sementara itu di sebuah klub eksekutif muda di pusat kota... "Ada apa dengan Pita? Apa maksudnya memberi aku kiasan seperti...Madow berada di tempat ini, sementara Madow sama sekali tidak ada?" Mason baru saja menyelinap bersama seorang pelayan yang dia bayar cukup banyak untuk melihat ke dalam ruang khusus klub itu. Beberapa orang wanita seksi memang berada di sana tapi tidak ada Madow sekalipun itu hanya bayangannya. Mason berjalan pelan menuruni tangga. Dia menajamkan penglihatannya karena koridor lantai atas itu nyaris gelap. Langkah Mason yang sudah sampai di tengah anak tangga terhenti saat dia mendengar derap langka sepasang heels yang menghentak. Mason menunduk dan menatap ke atas. Mason menahan napas nya hingga kelebat perempuan yang bayangannya membentur tembok yang dibiaskan lampu remang berwarna merah itu menjauh. Perlahan Mason naik lagi hingga mencapai anak tangga kedua dari atas. Kelebat perempuan itu terlihat menyelinap masuk ke dalam ruangan khusus yang baru saja Mason kunjungi. Mason menghela napas pelan dan menyugar rambutnya perlahan. Lalu dia berbalik. Berjalan lagi menuruni tangga dan keluar dari klub. Mason duduk terpaku di mobilnya. Bayangan Madow yang memasuki ruang khusus itu benar-benar mengkhianatinya. Menciptakan sebuah rasa sakit yang tak kasat mata di hatinya. Meleburkan keyakinannya sekejap mata. Lalu bayangan Madow berganti dengan bayangan Paquita. Gadis penyuka gelap itu sekali lagi membuatnya mengerti. Mengerti makna sebuah kebohongan yang sangat rapi ditutupi oleh Madow. Mason menghidupkan mobilnya dan melakukan nya kencang. Membelah jalan lengang menuju pinggiran. Mason membuang segalanya. Meninggalkan semuanya tercampak di klub malam para elit muda itu. Klub yang sangat gamblang melabeli dirinya sebagai klub jual beli wanita penghibur. Kamar Paquita masih gelap. Mason berdiri dan mengamatinya sesaat setelah dia sampai dan masuk ke kamarnya. Hingga hari ini, setelah sekian lama mereka saling mengenal, Mason selalu mencoba mengingkari bakat yang dimiliki Pita. Bakat yang menurut Mason cukup mengerikan. Mason selalu merasa bahwa saat bersama Pita, pikirannya selalu terbaca dengan gamblang. "Bagaimanapun juga. Sekali lagi, terimakasih banyak." Mason berbalik. Lalu berhenti menatap bulan yang tersamarkan awan abu-abu. Sekali lagi Mason berpaling menatap kamar Pita. Akan selalu ada tanya di hatinya. Mengapa dia selalu merasa bahwa seorang Paquita Jefferson terkait dengan sinar rembulan? Apalagi di saat-saat seperti sekarang ini? Ketika bulan akan berada dalam satu garis lurus dengan bumi dan matahari?   -------------------------------------    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD