"Paquita..."
Pita mendongak. Mengangkat kepalanya dari meja makan. Ibunya, Betty Swan Aurora Jefferson pasti memiliki hal yang sangat serius untuk dibicarakan dengannya ketika wanita itu memanggil utuh namanya.
"Ya?"
Ibunya itu menghela napas. Mungkin karena melihat Pita tersenyum begitu manis seakan dia tidak pernah membuat ulah apapun. Lalu dengan patuh Pita terlihat meminum s**u nya. s**u, satu hal yang Pita tak begitu suka. Tapi dia akan dengan senang hati meminumnya saat dia ketahuan membuat ulah dan membuat Ayahnya sedikit...iya...sedikit marah.
"Jangan pura-pura tidak tahu..."
Pita meluruhkan bahunya.
"Mom.."
"Jangan melakukan sesuatu yang tidak penting dengan menggunakan bakatmu, Pita. Kita sudah sering membicarakan hal ini. Dan, kali ini Mom serius."
Pita menenggak habis s**u nya.
"Aku hanya seorang anak yang sama dengan anak-anak lain, Mom. Yang tidak menyukai sekretaris Ayahnya yang genit."
Betty meraih vas bunga berisi air dan memasukkan beberapa tangkai bunga tulip berwarna putih ke dalamnya. Dia melirik Pita yang kembali meletakkan dagu nya di sisi meja makan sambil mengamati sebuah bejana berisi ikan badut yang tadi dibawanya dari kamarnya di lantai atas. Sekali lagi Betty menghela napas sambil berpikir. Ikan badut itu terlihat sangat tenang. Ikan itu menghadap lurus ke arah Pita, alih-alih berenang mengitari bejana. Dia seperti mengerti bahwa Pita mengajak nya berinteraksi dengan caranya sendiri. Dan ketika jari Pita menyentuh bejana itu melingkar, tiba-tiba saja ikan badut itu berenang melingkar beberapa putaran sampai Pita berhenti bergerak. Dan ikan itu kembali pada posisinya. Menghadap ke arah Pita dan mengambang tenang.
Sekali lagi Betty menghela napas pelan.
"Apa kau sudah memberi makan Mason, Pita?"
"Sudah. Lihatlah Mom...bukankah dia bertambah gemuk?"
Betty ikut mengamati bejana setelah menggeser vas bunga ke tengah meja makan. Dia juga ikut meletakkan dagunya ke sisi meja.
"Kau masih mengidolakan Mason, tetangga kita? Mom dengar dia akan segera bertunangan."
Pita mengendikkan bahu. Bayangan Mason Danish Cesterson berkelebat. Tetangga sebelah rumahnya yang hanya berbatas halaman sepanjang lima meter. Bahkan balkon kamar Pita pas berhadapan dengan balkon kamar Mason.
"Keluarlah bergaul. Kau ini sudah dewasa. d**a tidak akan melarangmu keluar malam."
"Apa aku seburuk itu? Apa aku terlihat seperti gadis dewasa yang kurang pergaulan?"
"Bukan seperti itu. Lebih tepatnya, kau ini malas bergaul. Mom bahkan bisa menghitung berapa temanmu."
"Aku suka seperti ini, Mom."
"Ethan adikmu itu bahkan mempunyai jadwal berkumpul dengan temannya.""Bagaimana kabar si badung itu? Sebentar lagi dia akan membawa lari anak gadis orang."
"Paquita..."
"Aku bercanda, Mommy. Aku percaya Ethan sepenuhnya."
Pita selalu merasa, Ethan adiknya itu adalah jelmaan Daniel Jefferson yang berpembawaan tenang. Jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak mempercayai adik laki-laki satu-satunya itu.
Pita lalu beranjak sambil membopong bejana berisi Mason si ikan badut.
"Pita. Jangan lupa apa yang kita bicarakan. d**a bilang ini peringatan terakhir untukmu."
"Aku tahu. Aku ke atas dulu."
Sekali lagi Betty menghela napasnya. Menatap Pita yang menyusuri tangga sembari mengajak Mason berbicara. Betty menggeleng. Anak gadisnya yang sedikit sekali mewarisi ciri fisik dirinya. Pita jelas cetakan seutuhnya dari Dave Leandro--Jefferson. Betty selalu mengeluh, kenapa hanya bakat anehnya yang menurun pada gadis itu. Bahkan dengan tingkatan yang bisa membuatnya gila. Betty selalu merasa was-was akan apa yang akan dilakukan oleh Pita di luar sana.
Sementara itu di kamarnya...
Pita meletakkan perlahan bejana berisi Mason ke atas meja khusus di samping meja belajarnya. Perlahan dia berjalan ke arah balkon. Membiarkan pintu penghubung terbuka lebar dan udara menyeruak masuk. Pita berdiri di dekat dinding pembatas balkon dan menatap ke arah kamar Mason Cesterson. Pemuda yang menjadi tetangga keluarga Jefferson semenjak mereka memutuskan pindah dari kediaman Daniel Jefferson bertahun lalu. Pemuda yang baru saja menyelesaikan studinya itu sangat tampan. Semua kriteria yang diidamkan oleh para gadis ada dalam diri Mason. Mason yang bertubuh atletis. Mason dengan mata coklatnya yang teduh. Mason dengan rambut hitamnya yang mempesona. Dan Mason yang mempunyai lesung pipi walaupun hanya satu.
Suara seseorang dari halaman kediaman Paul dan Esperanza Cesterson membuat Pita melayangkan pandangannya ke bawah dengan sedikit memundurkan tubuhnya. Mobil Mason masuk ke halaman rumah mereka dan berhenti tepat di depan garasi. Pita tersenyum saat melihat Mason yang keluar dari mobil itu. Mason dengan celana pendek dan kaos hitam. Senyum Pita mengembang saat Mason berjalan ke arah teras rumah mereka.
Namun senyum Pita seketika menghilang saat seorang gadis terlihat keluar dari mobil Mason dan berjalan mengikuti Mason ke arah teras dan mereka menghilang dari pandangan Pita.
Pita mundur dan duduk di kursi kayu yang ada di balkonnya. Dari sela tembok pembatas balkon, Pita dapat dengan jelas melihat balkon Mason.
"The boy next door itu akhirnya mengencani seorang gadis cantik. Lagi dan lagi. Oh...aku patah hati."
Pita menepuk dadanya perlahan sambil tertawa sumbang. Matanya terus mengamati. Pintu kamar Mason terbuka lebar. Dan pemandangan selanjutnya dari arah kamar Mason membuat Pita tercekat.
Pita bahkan memundurkan kepalanya. Jengah dengan apa yang dilihatnya sekarang.
"Apa itu berciuman ala Perancis yang sering aku baca di novel-novel romantis? Oh...menggelikan sekali."
Pita menatap interaksi antara Mason dan gadisnya yang b******u di balkon kamar Mason.
"Haruskah wanita agresif itu? Bagaimana mungkin gadis itu...bukankah itu sangat..."
Pita memicing. Menatap heran pada gadis yang tentu saja kekasih Mason itu bahkan memepet Mason ke tembok pembatas balkon dan menguasai permainan berciuman itu?
Tanpa sadar tangan Pita terulur. Jari telunjuknya bergerak pelan mengarah pada pasangan yang tengah b******u mengisi senja di balkon keluarga Cesterson.
Gerakan terhuyung dua orang di balkon seberang. Lalu bunyi berdebum dan suara umpatan seorang wanita.
Pita berdiri dari duduknya dan menatap lurus ke arah Mason yang sudah berdiri tegak menghadap ke arahnya. Pemuda itu tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya pasrah. Senyum mengembang dari sudut bibir Pita saat gadis pirang dengan heels itu terlihat kesulitan berdiri.
"Paquita Jefferson..."
Geraman gemas dari mulut Mason mengiring Pita yang membanting pintu penghubung antara kamar dan balkonnya.
Dan...ini bukan kali pertama Pita melakukan hal iseng pada gadis yang berkunjung ke kamar Mason. Dan anehnya, tak sekalipun juga Mason pernah marah pada Pita. Mason si The Boy Next Door yang sangat cool.
----------------------------------