Pemuda Bodoh!

1558 Words
Aksa termenung di kursi tunggu rumah sakit. Wajahnya tertekuk dan kusut, begitu pula suasana hatinya yang belum mampu dia kendalikan. Emily keguguran, semua orang melimpahkan kesalahan itu padanya. Mereka seakan lupa kalau Aksa tetaplah manusia normal. Dia masih rapuh ketika kehilangan calon bayinya di rahim Emily. “Aksa ....” Aksa menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Dia sedikit menampakkan senyum hingga Nayla duduk seraya memberi minuman dingin. “Kamu masih kepikiran omongannya papa atau sedih karena Emily keguguran?” Aksa menggeleng. “Nggak.” “Nggak apa?” “Nggak lagi mikirin omongan papa. Aksa udah biasa dijadiin anak tiri sama papa,” jawab Aksa sekaligus meneguk minuman miliknya. “Itu artinya, kamu sedih untuk Emily, humh?” Aksa melihat wajah ibunya sejenak, sejurus kemudian mengalihkan pandangan pada orang-orang yang lewat di depannya. “Nggak juga.” “Kamu itu anak mama, Sa. Mama tau semua tentang kamu,” ujar Nayla. “Omongan papa jangan diambil hati, kita semua udah tau sifatnya kaya apa. Papa suka gak bisa kontrol kalau lagi marah.” Aksa memilih diam. “Maafin mama, Sa. Mama udah jadi mama yang gagal buat kamu. Selama ini, mama terlalu egois mementingkan keinginan sendiri supaya jadi keinginan kamu juga—“ “Mama, tuh, ngomong apaan, sih?” Aksa menyela perkataan Nayla. “Mama nggak salah apa-apa. Aksa sekarang cuma lagi kesel sama papa, nggak ada hubungannya sama Mama. Lagian, Aksa juga sadar diri. Semua omongan papa bener, Aksa emang pantes buat disalahin.” “Terus apa alesannya sampai kamu benci Emily, Sa? Kamu masih bisa ngerasain kalau kasih sayang mama sama papa gak berat ke siapa pun.” Nayla memerhatikan wajah Aksa yang murung. Dia mengerti Aksa, anaknya bukan orang yang buta akan keadaan. Aksa terdiam. Hati kecilnya berkata bahwa dia peduli terhadap Emily, semua hal tentangnya terkadang mampu menggoyahkan hati yang sekeras batu. Mereka sudah bersama sejak kecil. Namun, tetap saja perasaan Aksa belum tersentuh oleh cinta. “Aksa belom bisa nerima Emily, Ma. Bukan dia orangnya. Mama mungkin tau semua soal Aksa, tapi mama belom tentu bisa ngerasain sakitnya Aksa. Mama tau sendiri, Aksa pacaran sama Diva nggak sebulan dua bulan ... tujuh taun!” tegas Aksa. Dia melihat ibunya sejenak. “Itu bukan waktu singkat. Aksa udah nyoba yang terbaik buat pertahanin hubungan sama Diva. Tapi Aksa juga sadar, kalau gak semua hubungan berakhir dengan baik. Aksa juga butuh proses buat hubungan baru.” Aksa mengusap wajah, berharap bisa meringankan beban yang dipikul saat ini. Mengingat Nama Diva Arnetta –gadis cantik yang pernah mengisi hidupnya selama tujuh tahun. Dia merasakan sakit. Sewaktu mendekati hari pernikahan. Diva berkata dia setuju dan ingin membangun hubungan lebih serius. Mereka telah menuliskan daftar tempat liburan dari seluruh negara. Alih-alih menanam impian akan mendapat kebahagiaan, itu semua telah melebur bersama kepergian Diva. Gadis itu memilih mewujudkan mimpi di Amerika tanpa pemberitahuan. Aksa sendiri sadar. Diva sangat terobsesi menjadi seorang artis Internasional. Itulah yang menyebabkan hubungan mereka merenggang. Karena Aksa merasa mampu, dia hanya ingin Diva berada di sisinya setiap saat. Namun, pendapat mereka terlampau jauh berbeda. Aksa menerima tawaran menikah dengan Emily, karena dia tidak ingin membuat ibunya bersedih. Nayla jatuh sakit setelah pembatalan pernikahan. Aksa terlalu takut kehilangan ibunya hingga dia berani menyetujui tawaran agar menikah dengan Emily. “Maafin Aksa.” Aksa merasakan hangat usapan Nayla di bahunya. Rasa bersalah terhadap Emily memang ada. Namun, Aksa tidak tahu bagaimana cara dia meminta maaf untuk wanita itu setelah perlakuan kasarnya selama bertahun-tahun. “Nggak papa. Mama ngerti, Sa. Belajarlah dari masa lalu itu. Suatu saat nanti, kamu pasti bisa mencintai Emily lebih dari kamu mencintai Diva.” *** Emily melirik gawai di atas meja samping tempat tidur. Panggilan masuk terus-menerus di sana, dan Emily tahu itu dari Aksa. Ingin sekali dia mengangkat panggilan itu dan bertanya. Namun, mata ayahnya seolah menjadi rantai pergerakan Emily. Yasa tidak mengizinkan Emily berhubungan lagi dengan Aksa sampai waktu yang tidak ditentukan. Yasa marah besar. Dia bahkan melarang Aksa pulang ke rumah dan memblokir seluruh sumber keuangan anaknya. Kecuali uang tunai lima ratus ribu rupiah yang tersisa di dompet milik Aksa. “Paaa ....” “Jangan ngerayu ke papa. Papa tau kamu mau ngomong apa,” kata Yasa sebelum Emily menyelesaikan perkataannya. “Tapi kasian Aksa. Dia nunggu di luar, Pa.” “Nggak ada kasian-kasian, Emily. Sesekali dia harus kena hukuman, supaya sadar kesalahannya apa,” ujar Yasa menekankan. “Jangan pernah bukain pintu buat Aksa. Kalau nggak mau dapet hukuman yang sama.” Emily tertunduk. Dia hanya bisa menyaksikan ayahnya beranjak dari kursi dan mematikan televisi. “Udah malem. Nggak ada yang perlu kamu sampein lagi, ‘kan? Mendingan kamu pergi ke kamar ... istirahat. Jaga kesehatan kamu.” “I-iya, Pa.” Emily mengangguk. Dia pun ikut menyusul pergi dari tempatnya. Namun, konsentrasi Emily buyar mendapat panggilan lagi dari Aksa. Ini sudah ke dua puluh kali pemuda itu menghubunginya. Maklum saja. Lima hari terlewat setelah pertengkaran Aksa dan ayahnya terjadi, uang yang dipegang Aksa pastinya sudah habis. Emily khawatir pemuda itu tidak makan teratur. Mata Emily menyisir ke arah jam dinding, waktu menunjukkan pukul 11:00 malam. Tetapi, Aksa masih berada di luar sana. “Emily ... Emily. Kenapa kamu begitu bodoh!” Emily mengutuk diri. Sekarang, langkah lebarnya mengendap-endap kembali ke lantai bawah. Dia mengambil satu piring nasi beserta lauk lengkap untuk Aksa. Dia pun mengambil kunci cadangan di lemari kaca, lalu membuka pintu depan dengan hati-hati. Emily tersenyum lega, melihat Aksa sedang duduk bersandar di dinding seperti bocah kecil yang hilang di keramaian. Wajahnya tersembunyi di atas lutut hingga dia tidak menyadari kehadiran Emily. “Aksa!” “Tuyul!” Aksa terkejut. Dia mengusap d**a seraya mengatur napas ketika melihat Emily yang tertawa kecil. “Bisa nggak, kalau dateng jangan pake ngagetin saya? Kamu mau jantung saya copot, hah?” tanya Aksa sekaligus mengambil napas. “Maaf.” Aksa berdecak. “Mereka udah tidur?” Emily mengangguk. Dia menatap wajah Aksa yang tampak kusut di depannya. “Udah makan?” “Kamu pikir apa?” Aksa balas melotot tajam. “Gini, nih, kalau punya istri tapi nggak pengertian. Apa-apa mesti dikasih kode. Bukannya kewajiban istri tuh, ngurus suami, ya? Istri macem apa yang tega ngebiarin suaminya tidur dan makan di luar?” Emily mencebik. “Apa susahnya, sih, tinggal jawab udah atau belum? Harus banget ngomong panjang kali lebar.” “Biar kamu peka sama keadaan saya. Jadi gak perlu repot lagi ngingetin kamu.” Emily terdiam. Percuma juga dia balas perdebatan dengan Aksa. Pemuda itu sangat lihai mengolah kata sampai dia mati kutu. “Tapi papa belom ngasih izin kamu masuk. Jadi, aku bawa aja ke sini makanannya. Tunggu sebentar ....” Emily mengambil piring yang dia letakkan sebelumnya di meja. Dia pun kembali dan mengajak Aksa duduk di teras. “Makan dulu. Ini sengaja aku pisahin buat kamu,” ujar Emily seraya memberikan piringnya kepada Aksa. “Sengaja misahin apa makanan sisa?” “Bawel! Tinggal makan doang, juga masih banyak komen. Kan, udah aku bilang tadi.” Emily menggerutu. Namun, tetap saja dia tidak meninggalkan Aksa dan memilih menemani suaminya makan. Dia memerhatikan Aksa di sebelahnya. Padatnya suapan yang masuk ke mulut Aksa membuat Emily tersenyum. Emily teringat ketika kecil, mereka selalu melakukan ini. Jika Aksa terkena hukuman ayahnya, Emily akan berlari dan membawakan Aksa makanan. Sudah sering sekali Aksa berbuat ulah, tetapi tampaknya hukuman itu tidak membuatnya jera. Aksa adalah Aksa, dia membawa sifatnya sendiri dan pantang diatur siapa pun. Kecuali oleh ibunya. “Kata mama, akhir-akhir ini kamu sedih karena aku?” tanya Emily. Aksa terkekeh pelan. “Berita hoax didengerin.” “Tapi mama gak pernah bohongin aku.” Aksa terdiam sejenak. Sejurus kemudian pandangannya berpindah kepada Emily. “Apa kau tau fungsi setiap inderamu buat apa?” “Emh ... maksudnya?” Emily mengernyit. Heran dengan perkataan Aksa yang kadang suka menjebak. “Mata berguna buat ngeliat, kuping buat denger. Jangan coba samain keduanya. Mama, tuh, cuma nebak-nebak, nggak ada orang yang bisa baca dan denger kata hati orang lain. Kecuali kalau mama reinkarnasi Edward Cullen.” Emily terpenganga. Dia seharusnya tidak asing lagi mendengar kalimat menyebalkan semacam itu dari mulut Aksa. Padahal, bisa saja Aksa langsung menjawab kebenaran itu. Namun, jawaban pedas terus terucap. “Udah.” Aksa memberikan piringnya ke tangan Emily. “Lain kali bawain makanan yang bener. Kaya baru kenal saya kemaren sore aja. Besok harus ganti menu, saya gak suka makanan ini.” Emily kembali dibuat geli. Aksa berkata begitu setelah piringnya kosong! “Gak suka tapi bersih banget piringnya, Sa.” “Kepaksa!” Aksa menjawab singkat. Dia meneguk air putih di gelas sampai habis, kemudian bersendawa seraya mengelus perut. “Jangan lagi percaya semua omongan orang lain. Itu gak sepenuhnya bener,” ujar Aksa kemudian. “Termasuk saat kamu masih mencintai Kak Diva sampe sekarang?” tanya Emily ingin memancing kejujuran Aksa. “Emangnya, kamu gak cinta lagi sama Diva?” Aksa terbungkam. Dia mengulum bibir seolah menahan kalimat yang ingin keluar. Wajah Emily seketika murung dan memegang erat piring bekas makan suaminya. “Gak papa. Aku tau kamu masih cinta sama Kak Diva, Sa,” kata Emily dengan senyum terpaksa. “Aku tau. Aku nggak akan pernah sebanding sama Diva. Dia gadis paling sempurna, dan mungkin menikah denganku adalah takdir terburuk buatmu. Tapi, jika satu hari nanti kamu merasa lelah mencintainya, aku ada di sini, Sa.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD