Keputusan Aksa

2351 Words
“Kenapa kau tidak fokus, Emily? Apa ada yang kau pikirkan?” tanya Raihand yang melihat Emily tidak bersemangat seperti biasanya. Emily menghela napas. Namun, tidak menjawab pertanyaan sahabatnya. Tangannya spontan menyentuh bunga lily dengan kelembutan. Dia teringat jika tanaman ini adalah jenis bunga terfavorit almarhumah ibunya. “Nggak ada. Aku cuma lagi kebawa perasaan aja, Rai. Bunga ini ngingetin aku ke mama, dulu mama selalu merawat bunga ini semasa hidupnya. Mama Nayla juga sama-sama suka bunga, tapi yang dia suka adalah mawar. Jadi, itu sebabnya aku menyukai dua tanaman ini.” Raihand tersenyum memandangi wajah polos Emily. Toko tempat mereka akan memulai bisnis sudah mulai diisi berbagai jenis tanaman hias. Dia hafal jika Emily memang menyukai dua bunga tersebut. “Tapi, apa kamu tidak pernah memikirkan kesukaanmu sendiri, umh ... maksudku, bunga yang benar-benar kau sukai.” “Aku?” Emily mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru tempat. Kemudian pandangannya berakhir pada dompet miliknya yang dia keluarkan dari dalam tas. “Aku suka bunga yang ini ... ahhhh, ini wangi banget kalau kamu bisa cium!” kata Emily bersemangat menunjukkan beberapa lembar uang pecahan 100 Euro yang terdapat di dompetnya. Raihand tertawa renyah. “Apalagi nanti kalau toko kita berhasil. Aku nggak sabar pengen ngitung keuntungannya—“ “Delapan puluh dua puluh,” sela Raihand. “What! Rai, are you kidding me? Kalau kamu yang dua puluh ... oke!” Emily menepuk bahu Raihand dan ikut tertawa. Sementara itu di balik kaca luar toko. Sepasang mata milik Aksa menyipit tajam, bibirnya seperti bom atom yang siap meledak menghancurkan kebahagiaan Emily dan Raihand. Dadanya terasa sesak, ngilu juga panas. Dia sungguh tidak suka Emily tertawa lepas bersama pria lain. “Lihatlah wajah tanpa dosa itu! Sebenernya dia lupa apa pura-pura lupa? Gak sekalian aja amnesia? Udah punya suami tapi masih aja ganjen!” Aksa mengumpat. Kedua tangannya bergerak dengan sendirinya ingin meraih wajah Raihand dan mendaratkan bogem mentah. Merontokkan gigi-gigi pria itu bila perlu. “Ayolah, Aksa! Ngapain juga kamu kaya gini? Bukannya ini sama aja ngejatohin harga diri? Dia pasti besar kepala liat aku ada di sana!” maki Aksa pada diri sendiri saat langkahnya spontan bergerak ingin masuk toko. Dia meremas rambut kasar dan mengutuk kebodohannya sendiri. Aksa tidak habis pikir, kenapa dia rela jauh-jauh datang ke toko bunga dan menerobos cuaca dingin demi Emily? Padahal setelah dipikir, pekerjaannya di kantor jauh lebih penting. Namun, saat Emily meminta izin akan menemui Raihand, hatinya gelisah. Dia hafal sifat tenang dan kedewasaan Raihand terhadap Emily. Aksa merasa itu menjadi ancaman besar baginya. Apakah pantas dia berpikiran begitu? Aksa tidak tahu jawabannya. “Aksa begooo!” Aksa menghela napas kasar. “Aksa—“ “Setttt ... Emily?!” Aksa kaget setengah mati. Emily dan Raihand berdiri di sampingnya tanpa disadari. Dia mati kutu, sungguh. Aksa benar-benar malu ketahuan berada di tempat ini. “Kamu ada di sini? Lagi ngapain?” tanya Emily. Aksa mengusap wajah yang terasa memanas. Padahal cuaca dingin sore ini masih sanggup menyelusup di setiap kulit tubuhnya. Dia lihat Raihand menampakkan raut biasa saja. Pria itu memang begitu, tetapi entah kenapa Aksa jadi salah tingkah. “Saya kebe—“ “Kebetulan lewat?” Emily menebak lebih dulu sebelum Aksa mengatakannya. Dia tersenyum. “Nah, itu tau. Kebetulan saya abis ada janji sama orang di deket sini. Gak sengaja lewat,” jawab Aksa seadanya. “Ini toko yang kamu maksud?” Emily mengangguk. “Kecil banget, ya. Malahan lebih gede kamar kita daripada toko ini.” “Karena tempat ini cukup strategis. Saya rasa bukan masalah besar kecilnya, tetapi tergantung kualitas, promosi dan keadaan. Kami pasti bisa bekerja keras dan mendapatkan pelanggan.” Raihand menjawab perkataan Aksa dengan tenang. ‘Buset, dah. Tiang listrik sekarang udah berani caper! Belom pernah ngerasain dilakban kali, ya?’ Aksa memaki dalam hati. “Oh, baguslah. Biar mandiri, jadi nggak bergantung hidup terus sama saya,” kata Aksa spontan. “Sebagai suami, seharusnya kau khawatir saat istri tidak lagi bergantung pada suaminya. Itu berarti, antara si suami terlalu pelit atau tidak mampu membahagiakan istrinya.” Seolah ada tegangan listrik tinggi saat pandangan Aksa dan Raihand bertemu. Aksa sadar, pria itu menyindirnya dengan perkataan super kasar. Dalam beberapa detik, suasana beratnya terasa nyata pada Emily. “Rai, kamu udah mau pulang, ‘kan? Sekarang udah ada Aksa, jadi aku pulang bareng dia aja,” ujar Emily yang segera berdiri di tengah-tengah Aksa dan Raihand sebelum perang dunia kedua dimulai. Fokus dua pria itu buyar. “Eumh, baiklah. Aku pergi duluan. Kalian hati-hati di jalan, oke? Bye ....” Raihand langsung berpamitan dan pergi menggunakan mobil miliknya. Sedangkan tatapan Aksa berpindah kepada Emily yang mengernyit heran. “Saya bilang juga apa? Dia pasti ngerendahin harga diri saya. Udah dibilangin saya masih mampu ngasih kamu modal bikin toko bunga yang gede! Tapi apa? Sekarang liat orang yang katanya sahabat kamu itu! Dia ngatain saya suami pelit!” omel Aksa. “Tapi dia nggak ngatain kamu, Sa.” Aksa tersenyum kecut mendengar pembelaan Emily untuk Raihand. Lagi-lagi Raihand, kenapa selalu Raihand? Aksa merasa tersingkir jika dibandingkan dengan si tiang listrik itu. “Bagus. Belain aja terus!” ujar Aksa kesal. “Saya masih ada janji di luar. Kamu masih pegang duit, ‘kan? Pulang sendiri.” “Loh, loh, Aksa! Nggak bisa gitu, dong! Aku nggak bisa ... Sa! Aksaaa!” Suara Emily lantang sekali saat Aksa menghidupkan mesin mobilnya dan pergi dari sana. Dalam mobil, Aksa hanya tersenyum puas, setidaknya dia bisa bernapas lega saat Raihand tidak bersama Emily lagi. Dalam perjalanan, gawai Aksa berdering. Sebuah panggilan masuk dan tidak dikenalnya. “Aksa?” “Siapa ini? Ada perlu apa? Kalau tidak terlalu penting, nanti hubungi lagi. Saya sedang di jalan,” kata Aksa setelah mengangkat panggilannya. “Ini aku, Sa. Apa kau masih ingat?” Aksa mengernyit. Dia pun menghentikan mobil saat lampu merah menyala di perempatan jalan. Suara yang terdengar olehnya sangat familier. Namun, Aksa tidak ingin menebaknya. “Apa kita bisa ketemu? Aku mau bicara. Aku tunggu di restoran Ivory Club sekarang.” Pertanyaan wanita itu tidak dijawab Aksa. Bahkan setelah panggilan berakhir, mobil Aksa masih di tengah jalan hingga banyak klakson yang berseru tidak sabar di belakang. ***  Aksa duduk berseberangan dengan seorang wanita muda yang masih tampak cantik di kedua matanya. Dia sengaja menjaga jarak, menaikkan harga diri di depan wanita tersebut. Sebenarnya, Aksa tidak menyangka akan melihat Diva secara langsung. Biasanya, dia hanya bisa menemukan wanita itu di acara tv, majalah, atau iklan. Namun, saat bertemu dengannya seperti ini. Dia baru merasakan canggung. Padahal, Aksa sangat mengenal Diva. Tujuh tahun bukanlah waktu singkat. “Jadi gimana kabarmu, Sa?” tanya Diva setelah beberapa menit diabaikan Aksa. “Kamu bisa liat sendiri. Nggak perlu aku jelasin.” Aksa hanya bisa meneguk red wine dalam gelasnya, nafsu makannya hilang. “Aksa, aku tau. Kesalahan yang kubuat dulu besar banget ke kamu. Mungkin seharusnya nggak aneh lagi saat kamu bersikap dingin kaya gini. Aku bener-bener minta maaf ....” Aksa diam. Diva menyibak anak rambutnya ke belakang telinga sebelum dia memutuskan duduk di samping Aksa. Sampai dia bisa lihat jelas wajah datar pemuda yang dulu ditinggalkannya di hari pernikahan. “Dulu, aku nggak punya pilihan lain, Sa. Sebelum kita memutuskan menikah, aku udah tandatangan kontrak. Aku nggak bisa batalin sepihak kontrak itu,” ujar Diva lagi. “Jangan dibahas lagi, udah lupa juga. Nggak penting ....” Aksa kembali meneguk red wine miliknya. “Tapi masalahnya kamu masih marah! Kedatanganku ke sini juga buat memperbaiki hubungan kita.” “Sorry ... hubungan yang mana?” Aksa menyela perkataan Diva. Dia menatap kedua mata gadis yang masih tampak seperti dulu, selalu berhasil memikat hati terdalamnya. “Bisa dikatakan, suatu hubungan terjadi ketika ada dua orang yang saling bersepakat buat bersama. Tapi, kamu mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuanku, bahkan menghilang tanpa kabar. Hubungan macam apa itu?” Sekali lagi Aksa tidak melepas pandangan pada dua mata indah milik Diva. Semakin dia melihatnya, hatinya perih. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu saat mereka hampir menjadi sepasang suami istri. *** Dekorasi pernikahan telah siap di dalam sebuah gedung yang sengaja disewa untuk hari spesial mereka. Desain dari tangan-tangan ahli sangat memuaskan dan memanjakan setiap mata yang melihat. Mawar-mawar putih segar berada di setiap penjuru, pakaian kebaya seragam untuk para kerabat dekat telah siap dan sangat bagus. Jakarta adalah kota yang dipilih kedua belah pihak. Aksa sungguh mempersiapkan hari ini sebagai hari tidak terlupakan seumur hidup. “Cieee, yang sebentar lagi melepas masa lajang. Seharusnya malem ini kita adain acara makan-makan, kamu yang traktir.” Aksa tersenyum tipis mendapat tinjuan pelan Devano di bahunya. “Lagi males.” “Dih, disaat kaya gini, tuh, seharusnya jangan dilewati gitu aja, dong. Nggak setiap hari juga, ‘kan? Males kenapa coba? Calon penganten baru masa loyo,” kata Devano lagi. Aksa tersenyum tipis, dia kembali melihat gawai di tangannya. Menunggu kabar dari Diva yang mendadak hilang setelah berkata dia akan pergi ke suatu tempat bersama ibunya. Aksa masih berpikir positif, dia percaya ketika Diva meminta izin pergi ke rumah pamannya yang kebetulan menjadi wali wanita itu. Namun, sudah dua jam menunggu. Tidak ada kabar secuil pun dari Diva. Nomornya tidak aktif, begitu pun nomor ibunya. “Gak tau kenapa, Aksa ngerasa gelisah, Kak. Dari tadi Diva nggak bisa dihubungi. Katanya mau dateng ke sini.” Sekali lagi mata Aksa menyapu ke sekeliling. Lampu-lampu hias bersinar, memancarkan keindahan bunga serta air mancur yang telah ditata apik. “Udah hubungi nomor rumahnya? Kakak juga udah pegel, nih. Mana laper lagi,” kata Devano yang mengusap perutnya. Aksa menggeleng pelan. Dia pun segera mengangkat panggilan, saat gawainya berdering tanpa melihatnya lebih dulu. Berharap yang menghubunginya adalah Diva. “Diva—“ “Aksa ... hiks! Mama, Sa. Mamaaa.” Aksa hafal betul suara yang tersedu di panggilan itu adalah milik Emily. “Mama? Mama kenapa?” “Tadi mama pingsan. Sekarang mama lagi dibawa ke rumah sakit. Cepetan kamu nyusul ke sini sama Kak Vano. Aku takut banget, Sa!” Napas Aksa terjeda, sesaat kemudian memaksa kesadarannya mengambil alih pikirannya kembali. Kabar semacam ini sungguh paling menakutkan bagi Aksa. “Mama kenapa?” tanya Devano tampak penasaran. “Mama masuk rumah sakit, Kak.” Aksa dan Devano segera meluncur ke rumah sakit yang disebutkan Emily sebelum menutup panggilan. Dalam setengah jam perjalanan, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Langkah lebar Aksa gemetaran melihat tidak jauh di depan sana, keluarganya berada tepat di depan pintu sebuah ruang inap dengan wajah tertunduk lemas. Aksa tidak ingin menebak-nebak, sebabnya akan sangat mengerikan baginya. Berpikir terlalu jauh adalah pilihan terbodoh, terus melangkah maju adalah keputusan terbaik. Dia masuk ruangan tanpa berkata apa pun kepada semua paman dan bibinya, sesampainya di dalam, barulah langkah Aksa melambat. “Kenapa ini bisa—“ Aksa menarik napas, kedua matanya memanas menahan tangis. Terlihat jelas ibunya yang terbaring di tempat tidur depan mereka. Mata Nayla masih terpejam tidak menyadari kehadiran dua anaknya di sana. Atau mungkin saja, Nayla belum siuman. Usapan lembut mendarat di punggung Aksa oleh Emily yang berada di sampingnya. Sedangkan Yasa dan Devano tampak terpukul sama seperti dirinya. “Mama kena serangan jantung, Sa. Tapi masih termasuk kategori ringan, kata dokter mama bakal baik-baik aja kalau cukup istirahat.” “Serangan ... tapi kenapa, Emily? Apa yang terjadi di rumah selagi saya sama Kak Vano pergi?” tanya Aksa lagi. “Itu karena tadi ada seseorang dateng ke rumah. Dia nganterin surat buat kamu, Sa, dari Diva. Tertulis di sana kalau Diva nggak bisa ngelanjutin pernikahan kalian, kondisi mama drop karena baca isi surat itu.”  “Apa?” Penjelasan padat Emily membuat setetes air mata Aksa jatuh. Sekilas pandangannya bertemu sang ayah, Aksa tidak berani berkata apa-apa. Dengan perkataan Emily saja sudah jelas. Di sini, dialah yang berada di posisi paling bersalah. “Ini suratnya, Sa.” Emily menyodorkan lipatan kertas putih dengan deretan kalimat cukup panjang yang tidak ingin dibaca Aksa. “Pergilah. Ambil surat itu dan renungkan apa yang kamu perbuat sekarang,” perintah Yasa bernada dingin. Aksa meremas kertasnya hingga tidak berbentuk lagi. Penjelasan dari Diva yang tercetak jelas di sana akan percuma. Semua rencana yang terbingkai indah telah hancur berantakkan dan sulit menyusunnya kembali. “Aksa nggak mau pergi.” “Kita ngobrol di luar dulu, Sa. Kasian mama lagi istirahat,” ajak Devano. “Tapi Aksa nggak mau, Kak! Aksa pengen di sini!” “Aksa!” Suara Yasa meningkat tajam. Tarikan keras di lengannya oleh Devano membuat Aksa benar-benar keluar ruangan ibunya. Aksa melepas pegangan Devano cukup kasar disertai napas tersengal-sengal. Kakaknya tidak tinggal diam, dia mencoba menenangkan Aksa yang sama terbawa emosi. “Jangan ginilah, Sa! Mama lagi sakit, papa lagi emosi. Kamu mau nambah masalah?” tanya Devano sekaligus menahan tindakan Aksa yang ingin kembali masuk. “Nambah masalah gimana maksudnya, Kak?” Aksa mendorong Devano cukup kasar. “Justru di saat begini Aksa cuma pengen di deket mama. Kakak bisa denger sendiri mama sakit gara-gara siapa? Ini semua karena Aksa!” Kali ini air mata Aksa tidak tertahan. Dia tidak mengutuk tindakan Diva yang lancang meninggalkannya. Namun, akibat dari tindakan itu yang menyebabkan luka mendalam bagi Aksa melihat ibunya sakit. Devano mencengkeram kedua bahu Aksa. Menghadapkan wajahnya untuk sebuah penekanan kecil. “Iya, kakak tau. Tapi waktunya bukan sekarang. Kamu sama papa lagi emosi! Jangan memperkeruh keadaan dengan mempertahankan emosi kamu. Tenang dulu, Sa!” Aksa menepis tangan Devano lalu meremas rambut kasar. Dinding di belakangnya menjadi sandaran paling keras dan dingin bagi tubuh rapuhnya. Sejak usia 14 tahun, Aksa tidak pernah menangis untuk hal apa pun. Dia tidak ingin dianggap lemah dan merusak image-nya di hadapan semua orang. Namun, sekarang dia menyingkirkan semua alasan itu dan menangis untuk Nayla, juga luka yang dibuat Diva. *** Mengingat kejadian itu, Aksa belum berencana membuka hati untuk siapa pun. Walau pada akhirnya Nayla memutuskan menjodohkannya dengan Emily, hati Aksa sedikit mati rasa. “Kaca yang udah pecah nggak bisa diperbaiki, kecuali kita mendaur ulang dan membuatnya menjadi barang berguna lagi,” kata Aksa. Diva tersenyum semringah dan memegang tangan Aksa. “Kalau gitu kita buat hubungan baru. Kita mulai lagi semuanya dari awal, Sa. Apa kamu mau?” Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD