Semangat, Emily!

2031 Words
“Jadi, mantan tunangannya Aksa balik lagi?” tanya Devano. Emily hanya mengangguk lesu. Melihat ekspresi terkejut kakaknya di video call sama sepertinya ketika mengetahui hal ini. Dia belum memberitahu Aksa, riwayat panggilan Diva di gawai Aksa sudah dihapus diam-diam. Namun, tetap tidak mengurangi kekhawatiran Emily. Diva Arnetta lebih berbahaya dibanding para perempuan yang menjadi selingkuhan Aksa. Kegelisahan hati Emily dibagikan kepada Devano Mannasero—kakak kandung Aksa. Emily pikir ini lebih baik, karena tidak mungkin dia cerita kepada Nayla atau Yasa, apalagi Raihand. Mereka bertiga punya pendapat sendiri, berbeda dengan Devano yang selalu bisa menengahi kelakuan Aksa. “Mukanya jangan ditekuk terus, dong. Kalah lipetan baju sama ekspresi kamu, Nong! Semangatlah! Ke mana Jenong yang biasanya kuat kayak Samson Wati? Jangan mau kalah sama orang asing!” “Tapi masalahnya ini Diva, Kak! Coba Kakak bayangin, nggak ada Diva aja Aksa nggak cinta sama aku. Dia datang lagi di kehidupan Aksa, gimana posisiku ke depannya? Kadang, aku ngerasa cuma jadi beban buat Aksa. Karena pernikahan kami, Aksa jadi begini. Kalau aja waktu itu—“ “Udah berapa kali kakak nasehatin kamu, Nong? Mama udah ngasih keputusan paling tepat buat kalian. Coba kalau Aksa nggak nikah sama kamu, dia mau jadi apa? Dari kecil hobinya ngabisin duit sama hal kurang berguna. Setelah ketemu Diva, berapa duit yang keluar dari kantong Aksa? Cewek itu pergi ke Amerika emang modalnya dari mana kalau bukan dari Aksa?” Devano menyela perkataan Emily. Mendengar penuturan itu. Emily kembali berpikir, Aksa memang tipe orang yang tidak pelit soal uang. Ketika Aksa mempunyai keinginan, itu menjadi sebuah kewajiban baginya. Sisi baiknya, Aksa bekerja keras demi mewujudkan itu. Demi menyenangkan Diva, Aksa rela merogoh uang ratusan juta untuk mewujudkan impian kekasihnya menjadi aktris. Aksa bersikukuh jika apa yang dilakukannya sesuai ajaran ayahnya. Di keluarga Pradipta, tidak ada hal yang tidak mungkin. Yasa Pradipta selalu mendidik anak-anaknya berpikir positif dan jangan melukai wanita. Sedangkan Aksa bisa dikatakan sedikit keluar jalur yang diarahkan ayahnya. Aksa lupa jika ada yang menangis karena hal itu. Nayla selalu menangis setiap kali Aksa bertemu Diva. Emily sering melihatnya ketika Nayla hanya bisa menatapi kepergian Aksa tanpa bisa dicegah. “Nilai seseorang nggak bisa disebutin sama diri sendiri, tapi oleh orang lain. Tinggal gimana nyari cara supaya nilai kita menonjol di mata orang lain. Coba kasih liat Aksa, tunjukin kamu punya sesuatu yang nggak dimiliki Diva. Kalau dia masih belom liat juga, nanti kakak yang turun gunung! Kebetulan abis semedi, mendadak tangan jadi gatel pengen ngejajal kemampuan nabok orang.” Emily tertawa renyah. “Kak Vano jangan gitu! Sekarang dia udah jadi suamiku tau,” kata Emily. Dia kesal sekaligus merasa lucu sendiri setiap kali mendengar cara bicara Aksa dan Devano hampir bersaing. Dia masih tertawa ketika melihat Aksa keluar dari kamar mandi dengan kernyitan di kening. Pemuda itu duduk di sebelah Emily dan menampakkan wajahnya ke arah Devano. “Eh, ada kutil kuda! Tumben bener nelpon. Kalau niatnya mau minjem duit, Aksa punya, nih! Mau berapa?” “Cubit onlen, Nong!” Mendengar perintah Devano, Emily langsung mencubit pinggang Aksa sampai pemuda itu meringis kecil dan menatap jengkel. “Sakit tau!” Aksa kesal. Dia pun menggosok rambut basahnya dengan handuk yang tergantung di pundak sebagai pengalih rasa malu. “Udah jatoh kismin aja masih bisa songong, Sa? Punya duit berapa emang? Eh, tapi sayang banget. Kakak lagi gak butuh duit recehan,” kata Devano menyelipkan sindiran kecil pada Aksa. Aksa berdecih. “Gimana rasanya dihukum dua bulan? Udah bikin kamu jadi manusia belom?” tanya Devano lagi. “Bagus! Hina aja terus sampe sukses! Tenang aja, kuping Aksa kebuat dari rengginang, kok.” Emily dan Devano tertawa kecil. Kekesalan Aksa menjadi hiburan tersendiri, karena sudah saling memahami. Perkataan semacam itu jelas hanya menumpang lewat di telinga. “Makanya, omongan papa, tuh, didengerin, Sa. Udah tau papa kalau marah kayak geledek, kamunya nggak pernah kapok! Kerjaan kamu juga jangan sampe terbengkalai, kasian papa. Gara-gara kamu dua sejoli jadi pisah, kamu nggak tau, sih, gimana galaunya mama di sini tanpa papa.” “Iya. Aksa dengerin—“ “Udah? Cuma didengerin, doang?” sela Devano. “Katanya tadi disuruh dengerin. Kenapa Aksa salah terus, sih, di mata kalian?” “Nggak ada yang nyalahin kamu. Papa sama kakak cuma ngingetin. Barangkali kamu lupa, yang kamu nikahi itu manusia, bukan boneka barbie. Minta maaf ke Emily apa susahnya? Cuma empat huruf, kok, Sa! Nggak sebanding sama kamu yang empat lembar sekali ngomong. Nggak papa gengsinya diturunin dikit, ketinggian nanti kamu jatoh. Kakak auto bantu bikinin nasi wuduk buat syukuran.” Emily melirik ke arah Aksa yang ternyata melihat ke arahnya juga. Emily tidak terlalu ingin Aksa meminta maaf sebenarnya. Cukup terima dia apa adanya, Emily sudah senang. “Males.” Pandangan Aksa berpindah pada Devano. “Kakak juga, kalau kasian ke papa kenapa nggak Kakak aja yang kerja di sini? Papa juga kayaknya belom terlalu percaya sama Aksa. Ada Aksa di kantor nggak ngaruh apa-apa, tuh.” “Emangnya kamu pikir keahlian bisa dipindahin gitu aja? Nggak, Sa. Papa nyerahin perusahaan ke kamu, berarti papa udah bisa liat potensi kamu ada di mana.” Aksa terdiam. Tidak pernah sedikit pun terbayang akan menanggung beban ini di pundaknya. Sewaktu kecil, dia memang menyukai mesin. Keahliannya di bidang teknik mesin sudah tidak diragukan lagi. Tampaknya keahlian ini diturunkan oleh kakeknya—Tuan Karl—yang telah berhasil mendirikan perusahaan di bidang teknik dan elektronika. Satu sisi, Aksa tidak ingin mengemban tugas ini di usia muda. Kemampuan berbisnisnya dirasa belum cukup menanggung ribuan karyawan di kedua tangannya. Ketika dia meminta Devano untuk menggantikan posisinya. Pria berusia 32 tahun itu menolak. Alasannya, karena Devano merasa tidak berhak atas apa pun tentang perusahaan yang ada di Jerman. Karena Devano tahu, dia bukan keturunan Ulrich Walther. Yasa menikahi Nayla saat usia Devano menginjak 7 tahun. Itulah mengapa sampai detik ini, Devano memilih menggeluti bisnis aksesoris dibanding perusahaan besar. “Ya, udah, jangan dibikin berat. Namanya usaha nggak akan pernah tau kalau belum dicoba. Asal jangan segala dicobain, nanti takutnya kamu over dosis, Sa,” kata Devano membuyarkan lamunan Aksa. “Kakak tutup dulu. Ada janji soalnya, awas jangan ribut lagi kalau nggak mau kena tabok onlen.” Devano menutup panggilan. Aksa pun melempar handuk miliknya ke arah Emily yang sejak tadi diam. Wanita itu berdesis pelan, bibir tipisnya mengerucut kesal. “Muka kamu udah kaya kuburan dikasih lampu. Seneng banget kayaknya denger saya diceramahin sana-sini.” Emily masih cemberut seraya memungut handuk Aksa. “Sebenernya, kamu nggak minta maaf juga bukan masalah, Sa. Soal kemarin ... aku yang salah.” Emily mengulum bibir, dia berusaha lupa dengan calon bayinya yang telah pergi. Namun, tetap saja bayangan itu terus mengikutinya tanpa henti. “Aku nggak bisa peka sama diri sendiri. Kalau aja aku tau dari awal, aku pasti bisa ngejaga anak kita,” kata Emily parau. Dia menengadah ingin menahan air mata yang datang tanpa diundang. “Semuanya salahku, seharusnya aku yang minta maaf ke kamu, Aksa. Maafin aku ....” Aksa terpaku di tempat. Setetes air mata Emily meluncur di pipi tirusnya. Aksa mengerti, semua wanita akan sama kuat di hadapan orang lain. Namun, lemah jika menyangkut anak. Apa Aksa juga begitu? Jika ada yang bertanya bagaimana hatinya pada saat Emily keguguran. Aksa termasuk orang paling terpukul. Sekeras apa pun dia menolak kehadiran Emily. Wanita itu tetaplah seseorang yang dia kenal sejak kecil. Baik buruknya pertengkaran mereka, tetap saja tidak mengurangi kepedulian Aksa. Aksa hanya terlalu gengsi menjilat ludah sendiri. Dia sangat peduli tapi terlanjur mengatakan benci. “Kalau gitu, aku pergi ke kamar. Kamu harus istirahat malam ini, Sa. Papa bilang kamu boleh ke kantor besok pagi,” ujar Emily setelah menyeka habis air matanya. Dia pun beringsut dari tempat tidur dan akan pindah ke kamar lain. Namun, Aksa keburu menarik lengannya hingga Emily kembali berada di atas tempat tidur. Pegangan Aksa sangat erat. Emily heran, tatapan suaminya juga terasa berbeda. Biasanya, dia dilarang menempati tempat tidur jika tidak diizinkan olehnya. “Kamu mau bikin saya kena hukuman lagi? Udah tau papa masih tinggal di sini.” “Emang boleh tidur di sini?” tanya Emily. “Saya terpaksa,” jawab Aksa. “Sebelum saya berubah pikiran, cepetan tidur.” Aksa menarik tangan Emily hingga wanita itu terbaring sepenuhnya di atas tempat tidur, tepat di sampingnya. Emily tampak bersemangat sekaligus menarik selimut tebalnya. “Asikkk! Akhirnya bisa tidur bareng juga,” gumam Emily sangat pelan. Namun, telinga tajam Aksa masih bisa mendengarnya. Sedangkan Aksa yang ikut merebahkan diri, malah tidak dapat memejamkan mata. Dia memiringkan posisi tidur dan melihat Emily keseluruhan. Aksa tersenyum. Namun, perih menyambangi hatinya menyaksikan raut bahagia Emily setiap hari. Dia sering bertanya pada diri sendiri. ‘Kenapa Emily selalu bersikap baik padaku? Kenapa Emily masih menerima ketika aku sering pulang bersama wanita lain? Kenapa Emily masih rela bersamaku padahal hanya dijadikan sebagai batu loncatan untuk kepercayaan mama?’ Kelakuan Aksa yang buruk selama pernikahan mereka. Karena dia ingin Emily terlepas dari penderitaan yang pasti datang. Dia masih belum mencintai Emily dan tidak ingin memberi harapan lebih. Emily harus menemukan pria yang mencintainya. Hanya saja, Aksa tidak ingin sebagai orang pertama yang mengatakan perpisahan. Bodohnya, dia sangat benci melihat Emily bersama pria lain, termasuk Raihand. *** Emily meminta sopirnya menghentikan mobil mendadak ketika pandangannya tertuju kepada seorang wanita muda dan sangat cantik. Wanita itu pun baru saja keluar mobil miliknya dengan wajah semringah. Tubuh Emily menegang, untuk pertama kali dalam satu tahun terakhir melihat kembali wajah itu di hadapannya secara langsung. Emily berjalan cepat menghampirinya tanpa berpikir panjang. Sebab tujuan wanita itu yang membuat langkahnya semakin pasti. Emily tahu, mereka memiliki tujuan yang sama ... Aksa. “Kak Diva, tunggu!” Wanita yang dipanggil Emily menoleh. Dia melempar senyum terpaksa seraya mempercepat langkah ke arahnya. “Eh ... hai. Kupikir tadi salah liat. Ternyata beneran kamu, Emily. Apa kabar? Lama nggak ketemu.” Diva menyapa lebih dulu. Wanita berusia 23 tahun itu mengulurkan tangan yang disambut oleh Emily. “Baik,” jawab Emily padat. “Kakak datang ke sini. Nyari Aksa?” Diva mengangguk. Wanita dengan rambut sebahu dan memiliki tubuh tinggi ideal itu tersenyum. “Ya. Tadi aku dateng ke rumah, katanya dia udah pergi ke kantor. Jadi, aku dateng ke sini buat ketemu sama dia,” jawab Diva. “Oh ....” Emily mengulum bibir sejenak. Dia ragu sebenarnya mengatakan ini. Namun, dia lebih takut kehilangan Aksa. “Tapi maaf, kayaknya papa nggak bakal kasih izin kakak buat ketemu Aksa.” “Aku tau, Emily. Tapi, ada sesuatu yang harus aku sampaikan ke Aksa. Jauh-jauh aku datang dari Amerika ke Jerman, ini semua buat Aksa.” Emily mengernyit. “Boleh aku tau?” tanyanya penasaran. Meski sebenarnya sudah menjadi rahasia umum jawaban yang keluar dari mulut Diva. “Maaf. Tapi ini bukan urusan kamu, Emily. Aku akan menyampaikan ini langsung ke Aksa.” Emily tersenyum nanar. Dia memegang erat kotak makanan berisi makan siang Aksa hari ini. Tidak mungkin juga dia merelakan Diva bertemu dengan suaminya tanpa tujuan jelas. “Kalau gitu. Cari waktu lain sampai Kakak mau ngasih tau tujuan Kakak apa. Karena hari ini udah ada aku, jangan membebani pikiran Aksa lagi.” “Hei ... kenapa kamu kasar, Emily? Kita baru aja ketemu. Tapi kamu udah ngusir aku?” tanya Diva. “Jadi istrinya Aksa, bukan berarti menguasai kehidupannya. Kebersamaan kalian cuma status. Tapi perasaan Aksa? Apa kamu yakin dia cinta sama kamu, humh?” Hati Emily terasa tercubit kecil dan menyisakan sakit. Kenyataan mungkin saja akan sulit diubah, atau bisa jadi akan membekas selamanya. Seperti perasaan Aksa. Emily tidak yakin bisa meraih perhatian Aksa. Namun, yang dilakukannya sekarang adalah mencoba menghindari masalah baru. Aksa pasti mendapat masalah jika Yasa dan Nayla tahu Diva kembali datang ke kehidupan mereka. “Ini bukan lagi soal perasaan, Kak. Cinta atau tidak, Aksa tetap suamiku. Suka atau tidak, aku harus menjaga nama baiknya. Jadi aku minta tolong ke Kakak, jangan temui Aksa lagi.” “Apa?” “Apa perkataanku kurang jelas?” tanya Emily lagi. “Aku berharap Kakak bisa mewujudkan mimpi menjadi seorang aktris tanpa ada gangguan dari siapa pun, dan Aksa akan menjalani hidup barunya bersamaku.” Wanita itu terdiam. Hanya kilat kemarahan terlihat nyata dari kedua matanya kepada Emily. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD