Diva Arnetta

1448 Words
Emily mulai terusik dari mimpi ketika mendengar alarm berbunyi di samping tempat tidur. Namun, belum sempat bergerak, dia merasakan tekanan kecil dari lengan yang melingkar di pinggangnya. Dia baru menyadari itu lengan Aksa. Bahkan, jantungnya berdebar lebih cepat melihat sepasang mata milik Aksa telah terbuka lebar. “Pagi ....” Kening Emily mengernyit. ‘Apa ini mimpi?’ Dia mendengar kata yang paling horor seumur hidupnya dari Aksa. Bahkan pemuda itu tersenyum begitu manis. “Aku pasti lagi mimpi. Sadar, Emily! Bangunlah!” Emily menepuk pelan pipinya, menyadarkan diri dari sesuatu yang tidak mungkin terjadi. “Jangan dipukul terus. Nanti pipi kamu sakit,” kata Aksa menahan tangan Emily. “Emh?” Emily mengerjap berkali-kali, berharap cepat sadar dari mimpi. Namun, pegangan tangan Aksa cukup hangat dan terasa nyata. “Pasti lagi ada maunya.” Emily menyingkirkan tangan Aksa. Pemuda itu duduk mengikuti gerakan Emily yang beranjak dari tempat tidur. “Loh. Emangnya salah kalau saya bersikap baik sama kamu?” Emily menggigit pelan bibir bawah. Tidak salah juga perkataan Aksa. “Nggak. Cuma aneh aja, sikap kamu dari semalem bikin aku takut,” katanya seraya mengikat rambut panjangnya. “Atau kamu abis minum obat apa? Resep dari mama nggak mungkin ngebuat pikiran kamu kebalik, ‘kan?” Aksa berdecak. “Udah dibikin kalem, dikatain aneh. Saya marah-marah, dikatain Aksayton. Sebenernya di sini siapa yang kejam?” tanya Aksa. “Kalau dihitung-hitung, hujatan kamu ke saya pasti lebih banyak.” Bibir Emily mengerucut. Sudah bisa terlihat pada akhirnya pembicaraan ini dimenangkan oleh Aksa. Dia pun segera pergi ke luar kamar, mencoba mengabaikan sikap aneh suaminya. Sesampainya di dapur, Emily dibuat kaget setengah mati. Keadaan dapur kesayangannya seperti kapal pecah. Bungkus-bungkus camilan, kulit buah, s**u kotak, semua berserakan di atas meja. Piring-piring kotor menumpuk, lantai kotor oleh tumpahan air mie instan. Kepala Emily mendadak pening, menutup mulut agar tidak berteriak pun percuma. Dapur ini adalah tempat favoritnya di rumah. “Aksaaaa!” teriak Emily sangat keras sampai Aksa di sebelahnya menutup telinga menggunakan jari telunjuk. “Saya masih di sini, kenapa teriak-teriak? Rumah ini harganya milyaran, masih aja berasa tinggal di hutan,” ujar Aksa santai. “Coba jelasin ini maksudnya apa, hah?” tanya Emily dengan napas tidak teratur. “Hah?” “Hah? Aku tanya, cuma hah, doang jawaban kamu? Ini pasti kerjaan kamu, kan?” Emily melihat Aksa dengan kesal. Pekerjaan rumah bertambah, padahal pagi ini dia ada janji bersama Raihand untuk berdiskusi. Bahkan rencananya, mereka akan pergi ke tempat penjual bunga yang dikenalkannya. “Emang kenapa? Tinggal diberesin doang, gampang, ‘kan?” “Aksaaaaa ... masalahnya pagi ini aku ada janji sama Rai. Kalau kaya gini, aku pasti kesiangan!” “Nah, itu kamu tau. Inti masalahnya adalah kamu belom saya kasih izin pergi. Izin suami itu penting, loh. Atau kamu emang mau jadi istri durhaka, terserah.” “Aksa!” Emily hampir kehilangan kendali. Dia sungguh marah. “Saya kutuk jadi nenek ember, mau?” Aksa melebarkan senyum melihat Emily menahan tangannya sendiri yang bergerak aktif ingin mencubit. “Istri baik ... beresin yang bersih, oke? Nanti saya bantu do’a.” Telapak tangan besar Aksa mengusap puncak rambut Emily, kemudian mengecup pipi istrinya sebelum pergi dengan senyum. Emily jadi serba salah. Ingin marah tapi pipinya terlanjur kesemutan. Seolah ada aliran listrik saat bibir Aksa mendarat sempurna di sana. *** “Jadi, kamu tidak bisa datang tepat waktu? Apa Aksa menyulitkanmu lagi, humh?” tanya Raihand di telepon. Emily menghela napas. Dia menunduk lesu, menatap malas ke arah lantai yang masih belum dipel olehnya. Aksa tampak merencanakan ini dengan matang, asisten rumah tangganya semua diliburkan. “Iya. Tapi aku bakalan ngerjain ini secepatnya, kok. Nanti kalau udah selesai, aku kasih kabar lagi.” Tidak ada suara di gawai Emily dalam sesaat. Dia merasa bersalah, takut Raihand menganggap dia hanya bermain-main dengan bisnis mereka. “Baiklah, aku tunggu. Aku akan hubungi Michele tentang jam pertemuan kita.” “Iya, maaf merepotkanmu, Rai.” “Tak apa. Aku tidak merasa direpotkan, selesaikan tugasmu dengan baik dan jangan membuat masalah lagi dengan Aksa.” Emily menutup panggilan. Dia kembali mengerjakan tugas rumah dengan cepat, tidak ingin membuat teman-temannya menunggu lama. “Udah selesai?” “Ak-Aksa!” Emily terkejut. Suara Aksa mendadak datang dari arah belakang. “Jangan ganggu. Aku pengen kerjaan ini cepet selesai.” Emily mendorong tongkat kain pel dan melewati Aksa begitu saja. “Pengen cepet selesai apa pengen cepet ketemu selingkuhan kamu itu?” Pertanyaan Aksa sukses memancing pandangan tajam Emily ke arahnya. “Selingkuhan? Siapa?” “Si tiang listrik. Siapa lagi emang?” tanya Aksa menekankan. Dia pun berjalan mendekati Emily, tidak peduli pekerjaan yang dipegang wanita itu. “Seharusnya kamu udah peka sama lelaki kaya temenmu itu. Dia baik karena ada maunya, jangan mau dipermainkan.” “Tapi Rai bukan orang kaya gitu. Aku kenal dia udah lama, beda sama kamu yang mandang orang sebelah mata.” “Nah, gini, ini yang namanya mengatasnamakan sahabat tapi nggak pake ukuran. Kamu itu bukan lelaki, mana bisa ngertiin niat dan tujuan lelaki kaya apa. Makanya, bergaul itu perlu pilih-pilih. Jangan listrik dijadiin temen, pantes kelakuannya maen samber istri orang.” Aksa kesal. Kenapa pandangan Emily selalu bagus untuk Raihand? Sedangkan pikiran Emily selalu buruk untuk suaminya. “Terus kamu repot-repot ke sini cuma buat ngajak ribut, gitu?” “Ck! Giliran ke saya aja negatif terus.” Aksa memberikan dua batang cokelat ukuran besar kepada Emily sedikit kasar, setelah itu pergi. Emily mengernyit. Dia baru menyadari pemberian Aksa setelah melihatnya, ini adalah cokelat kesukaannya dari kecil. Saat marah atau sedih, Aksa pasti memberikan ini. “Dia jauh-jauh pergi ke toko buat beli ini?” gumam Emily. Mengingat jarak dari rumah ke toko cukup jauh. *** Setelah pekerjaan rumahnya selesai, Emily berjalan ke arah kamar dengan membawa buah-buahan segar dan air s**u hangat. Dia merasa bersalah juga telah bersikap seperti tadi. Dalam pertengkaran mereka, sebenarnya Emily ingin sesekali tidak peduli terhadap kekecewaan Aksa padanya. Namun, menjauh dari Aksa lebih menyakitkan dari pada pertengkaran. Mungkin itu sebabnya dia bertahan sampai sejauh ini, walau terkadang menyakitkan. Aksa tampak terbaring berbalut selimut di tempat tidur. Emily pun duduk di samping Aksa dengan kehati-hatian, takut membangunkan istirahat suaminya. “Cuma waktu tidur doang, keliatan kalemnya.” Emily bergumam. Dia memerhatikan wajah Aksa dari dekat, mengusap pipi Aksa dengan punggung tangannya sangat pelan. Beberapa saat kemudian, gawai Aksa berdering di dekatnya. Emily pun meraih gawai itu, memeriksa siapa yang menelepon. “Hallo, maaf. Ini siapa?” tanya Emily. Dia bertanya karena nomor yang tertera tidak memiliki nama. “Apa Aksa ada?” Emily mengernyit ... suara seorang wanita. Hatinya seolah terbakar api cemburu. Ini pasti wanita yang sedang dekat dengan Aksa. “Ada. Tapi dia lagi sakit, tolong jangan diganggu dulu,” jawab Emily sinis. “Bilang aja ini siapa? Apa yang perlu disampaikan ke Aksa. Nanti kalau dia bangun, aku sampein.” “Aksa sakit!” Wanita itu terdengar panik dari suaranya yang mengeras. “Nggak perlu. Nanti aku sendiri yang ke rumahnya.” “Bilang dulu ini siapa? Aku nggak akan ngasih izin siapa pun dateng ke rumah. Aksa butuh istirahat,” kata Emily. Dia merasa berhak marah dan melarang siapa pun datang. “Apa kau Emily?” “Hmh.” “Aku Diva, apa kau ingat—“ Brak! Emily spontan menjatuhkan gawai ke lantai mendengar nama itu tersebut kembali. Panggilannya masih tersambung, tetapi hatinya terasa ngilu dan sakit. Bagaimana Diva bisa tahu nomor terbaru Aksa? Atau mereka berdua memang sudah berkomunikasi sebelumnya? Kenapa harus Diva? Emily masih bisa menahan jika itu wanita lain, tetapi tidak untuk Diva. Wanita ini adalah masa lalu yang paling diingat Aksa. “Kenapa berisik banget, si?” Emily terperanjat mendengar suara serak khas bangun tidur milik Aksa. Suaminya pun langsung terbangun dengan wajah kusut. “Ma-maaf. Aku gak sengaja nyenggol ponsel kamu,” jawab Emily yang bergegas memungut gawai di lantai. Panggilan dari Diva dia matikan sebelum Aksa menyadari. “Ck! Ceroboh banget. Di ponsel saya banyak nomor penting. Kalau rusak, gimana? Emang kamu mau tanggung jawab?” “Mending ponsel kamu rusak, Sa. Biar telingaku adem dari cewek yang selalu nelepon kamu,” kata Emily. Dia pun meraih potongan buah apel yang sudah tersedia di piring kecil. “Ganjen!” Emily menyuapi Aksa dengan cepat dan tanpa jeda. Lima detik kemudian, mulut Aksa mengembung penuh oleh lima potong apel, pir dan melon. Dia kesal, cemburu bahkan khawatir. Sungguh, ini ancaman terbesar jika sampai Aksa tahu. “Ngamwek sih, ngamwek! Nawi ini mulut aya buhan hemphat sampah. Sengala diwasukin!” kata Aksa yang susah payah menelan makanan di mulutnya. Padahal dia baru bangun tidur, lelembutnya pun belum kumpul semua. Namun, dia merasa sikap Emily sangat aneh. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD