bc

Ratu yang Berhenti Mencintaimu

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
love after marriage
fated
opposites attract
second chance
friends to lovers
arranged marriage
badboy
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
lighthearted
kicking
bold
medieval
secrets
like
intro-logo
Blurb

Seravelle Asterin pernah percaya bahwa cinta mampu meluluhkan hati seorang pangeran. Namun, setelah bertahun-tahun menjadi istri yang diabaikan, ia justru kehilangan segalanya karena lelaki yang paling dicintainya.Ketika pengkhianatan merenggut kehormatannya, Seravelle memilih pergi—meninggalkan mahkota, pernikahan, dan cinta yang selama ini ia perjuangkan.Kini, Cassian Arveth baru menyadari nilai seorang ratu setelah kehilangan dirinya.Namun, bagaimana jika penyesalan datang ketika hati sang ratu telah berhenti mencintai?Sebab, tidak semua perempuan yang pergi menunggu untuk dikejar. Ada yang pergi karena akhirnya memilih dirinya sendiri.

chap-preview
Free preview
1. Cincin yang Kutinggalkan
Hujan mengguyur Istana Valtherion sejak fajar, membasahi atap-atap batu dan jendela kaca berwarna yang menghiasi kediaman keluarga kerajaan Asteria. Langit kelabu menggantung rendah, seolah turut berkabung atas sesuatu yang belum diketahui siapa pun. Di depan cermin besar, Seravelle Asterin memasang sepasang anting mutiara peninggalan ibunya. Gaun hitam berpotongan elegan membalut tubuhnya, sementara rambut peraknya disanggul sederhana tanpa mahkota ataupun hiasan berlian. Hari ini, ia tidak ingin terlihat seperti putri mahkota. Ia hanya ingin berdiri sebagai dirinya sendiri. “Yang Mulia, sidang kerajaan akan segera dimulai.” Seravelle menoleh kepada pelayan pribadinya, Mirelle. “Apakah suamiku sudah tiba?” Mirelle terdiam sesaat sebelum menjawab, “Pangeran Cassian sudah berada di ruang sidang bersama Lady Evelisse Vaun.” Tangan Seravelle berhenti di atas meja rias. Tentu saja. Cassian selalu bersama Evelisse. Perempuan itu hadir dalam jamuan kerajaan, menemani suaminya bekerja hingga larut malam, bahkan duduk di sisinya dalam acara-acara yang seharusnya menjadi hak seorang istri. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Seravelle telah menyaksikan semuanya dengan senyum yang sama, seolah hatinya tidak pernah terluka. “Baiklah,” katanya sambil mengambil sarung tangan. “Jangan membuat mereka menunggu.” Ketika memasuki ruang sidang, puluhan pasang mata langsung tertuju kepadanya. Raja Edric duduk di singgasana, sementara Cassian berdiri di sisi kanannya dengan seragam hitam bersulam emas. Di dekat Cassian, Evelisse mengenakan gaun biru pucat dan kalung berlian yang berkilauan di bawah cahaya lampu kristal. “Yang Mulia Putri Mahkota,” ujar seorang bangsawan, membungkuk singkat. Seravelle membalas sapaan itu sebelum berdiri di tempat yang telah disediakan. “Kau terlambat,” kata Cassian tanpa menoleh sepenuhnya. Seravelle menatap suaminya. “Hanya beberapa menit.” “Ketepatan waktu adalah bagian dari tanggung jawabmu.” Ia hampir tertawa mendengar kalimat itu. Lelaki yang berkali-kali membiarkannya menunggu di meja makan kini mempermasalahkan keterlambatan beberapa menit. Namun, Seravelle hanya mengangguk dan tidak membalas. Raja Edric mengangkat tangan, menghentikan bisikan para bangsawan. “Sidang ini diadakan untuk menyelidiki kebocoran dokumen militer kerajaan. Informasi mengenai rute pasukan dan jadwal patroli perbatasan telah sampai ke tangan pihak Dravencourt. Jika laporan ini benar, keselamatan ribuan prajurit kita berada dalam bahaya.” Seorang kepala penyelidik maju membawa berkas. “Berdasarkan pemeriksaan awal, segel pribadi milik Putri Mahkota digunakan untuk mengakses dokumen yang kini dinyatakan hilang.” Suasana seketika berubah. Seravelle menegakkan punggung. “Apa maksud Anda?” “Kami menemukan catatan penggunaan segel Anda tiga malam lalu, Yang Mulia.” “Itu tidak mungkin. Saya tidak pernah mengakses dokumen militer.” “Apakah Anda menyangkal bahwa segel tersebut milik Anda?” “Saya tidak menyangkal kepemilikannya. Saya menyangkal tuduhan bahwa saya menggunakannya untuk membocorkan rahasia kerajaan.” Sebelum penyelidik menjawab, Evelisse melangkah maju dengan ekspresi penuh keprihatinan. “Mungkin sebaiknya kita tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Namun, bukti yang ada tetap harus dipertimbangkan. Keselamatan kerajaan tidak boleh dikorbankan hanya karena kita ingin melindungi seseorang.” Seravelle menoleh kepadanya. “Saya tidak meminta siapa pun melindungi saya, Lady Evelisse. Saya hanya meminta agar penyelidikan dilakukan dengan benar.” “Tentu saja, Yang Mulia. Aku tidak bermaksud menyinggung Anda.” “Kalau begitu, jangan menyamarkan tuduhan sebagai kepedulian.” Wajah Evelisse memucat. Beberapa bangsawan saling bertukar pandang, tetapi sebelum percakapan itu berkembang, suara Cassian memotong ruangan. “Cukup, Seravelle. Jangan mempermalukan dirimu sendiri.” Seravelle menatap suaminya cukup lama. “Apakah Anda percaya saya melakukan ini?” Cassian mengerutkan kening. “Aku percaya bukti yang ada di hadapanku.” “Bukan itu yang saya tanyakan.” “Jangan mengubah sidang kerajaan menjadi persoalan pribadi.” Sesuatu dalam diri Seravelle terasa patah. Selama tiga tahun, ia telah berusaha memahami suaminya. Ia menerima pernikahan politik mereka, menerima kamar tidur yang lebih sering kosong daripada ditempati bersama, dan menerima kenyataan bahwa Cassian tidak pernah menyebutnya sebagai perempuan yang dicintainya. Ia hanya berharap, ketika semuanya dipertaruhkan, lelaki itu setidaknya akan memberinya kesempatan untuk menjelaskan diri. Ternyata, bahkan kepercayaan pun terlalu mahal untuk diminta darinya. Raja Edric menatap putranya. “Cassian, kau memahami konsekuensi tuduhan ini?” “Aku memahaminya, Ayah. Sampai penyelidikan selesai, hak-hak Seravelle sebagai putri mahkota akan ditangguhkan.” Seravelle menarik napas panjang. “Jadi, Anda sudah memutuskan sebelum mendengar penjelasan saya?” “Aku mengambil keputusan berdasarkan bukti.” “Kalau begitu, saya juga akan mengambil keputusan berdasarkan kenyataan yang selama ini saya hadapi.” Ia melepas sarung tangan kanannya, lalu menarik cincin pernikahan dari jarinya. Selama tiga tahun, cincin itu menjadi pengingat akan janji yang tidak pernah benar-benar dipenuhi. Kini, ia meletakkannya di atas meja marmer di hadapan Cassian. Bunyi logam yang menyentuh batu terdengar kecil, tetapi cukup untuk membuat seluruh ruangan terdiam. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Cassian, sorot matanya mengeras. “Berhenti berpura-pura.” “Seravelle.” “Selama tiga tahun, saya menjalankan kewajiban sebagai istri Anda. Saya menjaga nama keluarga Anda, berdiri di sisi Anda dalam setiap upacara, dan menerima penghinaan yang bahkan tidak pernah Anda anggap sebagai penghinaan.” Suaranya tetap tenang, meski jemarinya terasa dingin. “Saya tidak pernah meminta Anda mencintai saya. Saya hanya berharap Anda mau mempercayai saya sebelum menjatuhkan hukuman.” Cassian melangkah mendekat. “Kau tidak bisa meninggalkan pernikahan ini sesuka hati. Kau adalah istri pewaris takhta.” “Dan saya telah menjalankan kewajiban itu sebaik yang saya mampu.” “Jangan bertindak seolah-olah kau satu-satunya orang yang berkorban.” Seravelle tersenyum tipis. “Saya tidak pernah meminta Anda berkorban untuk saya, Cassian. Saya hanya meminta Anda berhenti memperlakukan saya seperti orang asing di rumah sendiri.” Untuk sesaat, Cassian tidak menjawab. Namun, kebisuan itu tidak bertahan lama. “Jika kau pergi sekarang, jangan berharap aku akan memanggilmu kembali hanya karena kau berubah pikiran.” Seravelle membungkuk kepada Raja Edric. “Yang Mulia, saya memohon izin untuk meninggalkan istana selama penyelidikan berlangsung. Saya juga meminta agar seluruh bukti diperiksa secara independen.” Raja menatapnya dengan ekspresi serius. “Permintaanmu akan dipertimbangkan.” “Terima kasih, Yang Mulia.” Seravelle berbalik dan berjalan menuju pintu. Tidak ada tangisan, tidak ada permohonan, bahkan tidak ada satu pun tatapan memohon kepada lelaki yang masih mengenakan cincin pasangannya. “Seravelle!” Langkahnya terhenti ketika Cassian memanggilnya. “Kita akan membicarakan ini setelah penyelidikan selesai. Pikirkan kembali tindakanmu.” Seravelle menoleh. “Kita sudah memiliki tiga tahun untuk berbicara, Yang Mulia. Anda tidak pernah merasa perlu mendengarkan saya.” Setelah mengatakan itu, ia meninggalkan ruang sidang. Di kamarnya, dua koper kecil telah menunggu. Seravelle hanya membawa pakaian, beberapa buku, dan surat-surat peninggalan ibunya. Ia meninggalkan perhiasan kerajaan, gaun-gaun mahal, serta semua hadiah yang pernah diberikan Cassian. Tidak ada satu pun benda yang ingin dibawanya dari kehidupan yang telah membuatnya merasa begitu kesepian. “Apakah Anda benar-benar akan pergi?” tanya Mirelle dengan mata berkaca-kaca. “Ya.” “Bagaimana jika Pangeran Cassian memerintahkan Anda kembali?” Seravelle terdiam sejenak sebelum menutup koper terakhir. “Katakan kepadanya bahwa seorang istri mungkin bisa dipanggil pulang dengan perintah. Namun, hati seseorang tidak bisa diperintahkan untuk kembali.” Ia melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Ketika keretanya melewati gerbang selatan, Seravelle memandangi istana yang semakin jauh. Ia tidak tahu apa yang menunggunya di luar sana, tetapi untuk pertama kalinya, ketidakpastian terasa lebih baik daripada kehidupan yang selama ini ia jalani. Sementara itu, di ruang sidang, seorang pengawal bergegas masuk membawa pesan darurat dari perbatasan timur. Pasukan Dravencourt bergerak menuju Benteng Elarion, dan mereka tampaknya mengetahui jadwal patroli kerajaan. Cassian segera membaca laporan itu. Wajahnya mengeras ketika melihat rincian rute yang seharusnya dirahasiakan. “Yang Mulia,” ujar sekretaris kerajaan dengan ragu, “ada satu surat lagi yang ditemukan di ruang kerja Anda. Surat ini berasal dari Putri Mahkota, dikirim tiga hari lalu, tetapi belum pernah dibuka.” Cassian menerima amplop bersegel lambang keluarga Asterin. Ia mengenali tulisan tangan Seravelle bahkan sebelum membuka surat tersebut. Cassian, Ada ketidaksesuaian dalam laporan persediaan dan pergerakan pasukan di perbatasan timur. Aku khawatir seseorang di dalam istana telah membocorkan informasi militer kita. Tolong selidiki sebelum semuanya terlambat. Jika aku keliru, kau boleh menyalahkanku nanti. Namun, jika aku benar, jangan biarkan kebanggaanmu membuatmu terlambat bertindak. — Seravelle. Cassian membaca surat itu dua kali. Lalu ia mengangkat wajahnya. “Siapa yang bertanggung jawab atas surat-surat masuk?” Sekretaris kerajaan menelan ludah. “Lady Evelisse membantu mengatur sebagian korespondensi pribadi Anda, Yang Mulia.” Cassian menoleh kepada Evelisse. Perempuan itu mendadak kehilangan warna di wajahnya. “Evelisse,” katanya perlahan, “apakah kau pernah melihat surat ini?” “Aku... aku tidak ingat.” Untuk pertama kalinya hari itu, Cassian melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh jawaban sederhana. Ketakutan. Ia menggenggam surat tersebut, lalu berbalik menuju pintu. “Siapkan kudaku.” Raja Edric berdiri. “Apa yang akan kau lakukan?” Cassian menatap pintu besar yang telah dilewati Seravelle beberapa saat sebelumnya. “Aku akan membawanya kembali.” Namun, jauh di luar gerbang istana, kereta Seravelle telah menghilang di balik hujan. Dan untuk pertama kalinya, Cassian mulai menyadari bahwa mungkin bukan Seravelle yang telah melakukan kesalahan terbesar dalam pernikahan mereka. Melainkan dirinya sendiri.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.5M
bc

The Silver Wolf

read
603.8K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.1M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
903.6K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook