"Udah, jangan nangis...." Derby menyeka air mata yang jatuh di pipi Dista. "Kamu nggak berusaha menjelaskan ke Mama tentang peristiwa itu," Dista masih menangis sesenggukkan membayangkan Derby dan teman-teman perempuan kecilnya yang mengalami nasib yang sangat malang. Derby tersenyum mendengar komentar Dista. "Orang panik tidak bisa diajak ngobrol baik-baik ... orang panik tidak bisa mendengar dengan baik." "Derby...." Dista tidak sanggup menahan air mata yang tumpah ruah. Terbayang olehnya anak-anak perempuan kecil yang selalu mendapat siksaan dari orang-orang terdekat. Wajah tanpa dosa, wajah lugu yang tidak tahu apa-apa, wajah-wajah pasrah. Dan Derby ingin sekali melindungi mereka. "Deb," desah Dista lagi. Derby pun jadi ikutan sedih. Diusapnya punggung Dista perlahan. "Mungkin a

