“Yaaudah deh. Tapi Mas ikut ya. Jangan tinggalin aku di villa sendiri. Harus nemenin. Harus nyuapin juga nanti. Mau makan rendang.” Prabu tersenyum hangat. “Siap. Mas ikut. Mas temani. Mas nyuapin. Bahkan Mas rela gendong juga kalau kamu mau.” Akhirnya, Rania berdiri, menarik tangan Prabu dan memeluk lengannya erat-erat. Ternyata Prabu membawa Rania ke villa utama, sebuah bangunan privat yang terletak di sisi paling tenang dari kompleks Astana Dewangga. Tidak seluas villa keluarga besar, tapi justru lebih intim dan hangat, dengan taman kecil yang memagari teras, dan air mancur batu di sudut yang gemericiknya lembut menenangkan. Dua kamar berada di lantai atas, dan Prabu menggandeng tangan Rania menaiki tangga kayu dengan pegangan besi tempa yang melingkar artistik. “Yang kanan kamar ut

