Tatapannya perlahan berpindah ke arah ranjang. Ranjang besar yang dihiasi mawar, yang tadi sempat disinggung Rania dengan santainya, tentang tidur telanjang di atas bunga. Dan kini, pikiran Prabu berkelana. Membayangkan malam nanti… bagaimana tubuh itu akan menempel pada tubuhnya, kulit pada kulit, napas pada napas. Bagaimana lenguh Rania bisa berubah dari rengekan manja jadi desah liar yang tak lagi bisa dibendung. Sentuhan yang sebelumnya ditahan, kini dilepaskan sepenuhnya. Prabu menelan ludah. “Astaga…” gumamnya sambil mengacak rambut. “Jangan mikir aneh-aneh dulu.” Tapi sebelum ia bisa mengalihkan pikirannya ke hal lain—BRUK! Satu suara jatuh terdengar dari dalam kamar mandi. Disusul dengan erangan pelan. Panik, Prabu bangkit berdiri. “Ran?!” Tanpa aba-aba, ia membuka pintu kamar

