Setelah mengucapkan terima kasih, Rania melangkah pergi dengan langkah yang lebih berat daripada saat datang. Di dalam genggamannya, ponsel terus-menerus dicek... Tapi tetap saja, centang satu. Seolah Prabu menghilang di balik dunia lain yang tak bisa ia jangkau. Karena Rania tidak mau makan siang yang ia siapkan sia-sia, ia memutuskan untuk pergi ke gedung Pascasarjana saja. Baru ingat, Dita sedang ada kelas di sana. Dengan langkah mantap, Rania berjalan menuju gedung modern berlantai empat itu, sambil menelpon Dita. Tapi panggilannya berkali-kali hanya berakhir di nada sambung tanpa jawaban. Rania menghela napas, berdiri di lorong utama yang sepi, tidak tahu harus mencari ke mana, sampai akhirnya— "Mbak Rania?" Sebuah suara lelaki memanggil dari sisi kanan lorong. Rania menoleh, sed

