Prabu hanya diam, menahan setiap kata itu seperti peluru yang menembus hatinya. Ia terus memijat pergelangan kaki itu lembut, sesekali menenangkan dengan sentuhan kecil. Ketika Rania akhirnya kehabisan napas dan hanya bisa menghela dalam-dalam, Prabu menunduk... dan mencium pergelangan kakinya perlahan. Ciuman penuh harap, di atas gelang kaki perak kecil yang pernah ia beri saat Rania diwisuda—hadiah kecil dengan makna besar. “Kemanapun kamu melangkah, Mas selalu menganggap kamu rumah Mas. Kamu tetap milik Mas,” ucapnya pelan, nyaris seperti doa. “Maafkan aku... Maaf karena diamku menyakitimu. Maaf karena niat baikku malah merusak kepercayaanmu. Aku masih sayang. Aku... akan terus sayang. Maaf karena kata-kata kasar Mas, Rania. Mas memang bodoh dan tidak seharusnya begitu.” “Aku benci s

