Sandiwara Panas-2

705 Words

Bram diam lama. Lalu terdengar suara desahan napas dalam yang nyaris seperti menyerah. “Pak, please? Ini nguntungin kita loh. Ya, Pak, ya? Mau ya?” “Oke.” Satu kata. Tapi cukup untuk membuat d**a Dita melonggar. “Serius?!” serunya dengan suara nyaris melonjak. “Serius. Tapi hanya sementara. Dan kamu harus janji... jangan libatkan terlalu dalam.” “Aku janji,” ucap Dita cepat. “Aku yang atur semuanya. Aku yang ngomong ke keluargaku. Aku yang atur narasi ke media sosial kalau perlu. Bapak tinggal diem dan ngangguk.” “Kalau begitu... kita resmi pura-pura,” ujar Bram dengan nada sarkas lembut yang membuat Dita senyum miring. “Resmi pura-pura,” ulang Dita, menutup panggilan dan menatap bayangannya di cermin. Wajahnya masih merah padam, tapi kali ini bukan karena takut. Sebelum menutup

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD