Sandiwara Panas-3

1113 Words

“Pantesan aja kamu betah banget ngajar di Jakarta,” goda abang sulung Bram sambil terkekeh. “Ternyata bukan cuma soal kampus, tapi soal mahasiswa... eh, mantan mahasiswa, ya?” “Yang dibimbing sampai... keterusan,” sambung sang adik ipar, tertawa geli. Bram mengangkat gelas anggurnya ringan, seolah mengabaikan semua komentar. Tapi sudut bibirnya terangkat samar, membuat semua orang tahu pria dingin itu sedang menikmati permainan ini. Dita menunduk, nyaris menyembunyikan wajah di bahu Bram. “Kalian jahat semua,” bisiknya lirih. Bram menoleh sedikit, suaranya rendah dan berat. “Kenapa?” Dita mencibir kecil tapi tetap manja, “Terus aja digoda.” Suasana terus mengalir, obrolan berganti dari makanan ke masa kecil Bram yang katanya selalu diam dan tidak pernah bawa pacar ke rumah. Kini, sem

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD