Secret-11

1823 Words
Duduk sendiri di balik meja, dengan banyaknya hidangan di hadapannya adalah hal yang dilakukan oleh Kaleena. Di tempat ini tidak ada satu orangpun yang dia kenal. Tak ada satu orangpun yang bisa diajak bicara. Karena Aiden lebih sibuk dengan beberapa orang berjas, yang tengah berdiri di antara meja-meja. Bahkan Kaleena juga bisa melihat Aiden yang sesekali menatapnya, dan melemparkan senyuman manisnya. Menghela nafasnya berat, Karena lebih sibuk menikmati banyak hidangan di hadapanmu. Jangan sampai dia terlihat seperti orang bodoh di dalam pesta ini. Terlalu sibuk mencicipi beberapa kue dan juga cupcake. Kaleena bahkan tidak sadar, jika Aiden tengah duduk di hadapan Kaleena. Pria itu tengah tersenyum sambil menggaruk alisnya, ketika melihat Kaleena lebih sibuk dengan makanan dibanding dengan Aiden. "Sudah sampai mana kuenya? Sampai aku datang aja kamu nggak sadar." ucap Aiden dengan nad merajuk. Kaleena mendongak. "Sampai mana? Sampai sini lah, orang nggak ke mana-mana juga kok. Kamu itu lebih sibuk sama banyak orang dibanding nemenin aku makan." Aiden tertawa kecil, dan mengambil satu kue dan memakannya dengan sekali gigitan. Tentu saja Kaleena yang melihat hal itu hanya mampu menggelengkan kepalanya. Jika Kaleena yang makan, tentu saja itu bisa menjadi dua atau tiga gigitan. Maklum saja, wanita itu selalu menjaga image di depan banyak orang. "Aiden … " Aiden menoleh cepat ketika namanya dipanggil. Dia pun menatap satu pria berjam yang seumuran dengannya, tengah berdiri tegak di sampingnya bersama dengan wanita seksi. "Alex … " seketika itu juga Aiden langsung memeluk teman semasa kuliahnya dulu. Gila ya, sudah berapa lagi mereka tidak bertemu dan sekarang Alex sudah menggandeng wanita seksi yang berbeda lagi. "Ganti?" katanya menunjuk wanita di sampingnya. "Nggak direstui bro, jadinya gue lepas aja," Aiden tertawa dia masih ingat betul ketika Alex menceritakan hal itu padanya. Untuk mendapatkan restu, dia bahkan sampai meniduri wanita itu berharap bisa hamil, taunya malah tidak hamil sama sekali. "Eh pacar lo?" ucapnya sambil menunjuk wanita di hadapan Aiden yang sibuk menamakan kuenya. "Oh ya kenalin namanya Kaleena." ucap Aiden memperkenalkan Kaleena pada Alex. Wanita itu menoleh ketika ada sebuah tangan yang terulur mengarah padanya. Kaleena pun langsung menyambutnya uluran tangan itu dan tersenyum begitu manis. "Kaleena. Tapi panggil Leena aja." katanya. "Alex." jawabnya. Setelah mengobrol cukup lama dan saling mengenal. Alex akhirnya mengajak kekasihnya untuk pulang. Begitu juga dengan Aiden yang langsung mengajak Kaleena untuk pulang. Jika dilihat, wanita itu cukup kelelahan. Bagaimana tidak, jika seharian dia sudah bekerja di rumah dan malamnya masih harus ikut Aiden ke pesta. Ini pun, jika bukan karena Magdalena, Aiden juga tidak akan mau pergi ke pesta bisnis ayahnya seperti ini. Wanita itu bersorak gembira, ketika Aiden memintanya untuk pulang. Ini juga sudah malam, ditambah lagi besok Kaleena harus jadi babu lagi dan dimarahi oleh Maria. Ingat ya!! Wanita itu tadi sempat mencibir Kaleena ketika mengenakan barang branded milik Magdalena. Tanpa dicibir pun, Kaleena masih mampu membelinya. Kaleena jadi membayangkan, gimana jadinya kalau Maria itu tahu jika Kaleena hamil anak Alden? Yang ada Kaleena tidak akan membiarkan wanita itu hidup dengan tenang. Memasuki mobil dan langsung melepas sepatunya, Kaleena malah berteriak lega karena kakinya bisa terbebas dari sepatu yang hampir lima jam dia pakai. Ya, acaranya sangat lama, pengenalan, kenaikan jabatan dan juga pengganti kedudukan. Entahlah istilahnya, pokoknya itu yang Kaleena lihat sejak tadi. "Lega banget perasaan." kekeh Aiden. "Banget lah. Itu sepatu hampir lima jam aku pakai. Kakiku sampai berkeringat, takutnya kulitnya mengelupas." Bisa-bisanya Kaleena masih memikirkan kaki. Padahal setahu Aiden, jika mengenakan dres sepertinya ini. Gandengannya pasti ya pakai Stiletto dengan harga jutaan, tapi yang ada Aiden malah menemukan Kaleena yang lebih nyaman mengenakan sepatu. Katanya!! Hanya membutuhkan waktu setengah jam, Kaleena dan juga Aiden pun sampai di rumah. Wanita itu memasuki rumah melewati pintu belakang, yang dengan dengan kamarnya. Sedangkan Aiden sendiri, melewati pintu utama rumah ini. Walaupun satu rumah tahu jika Aiden perginya dengan Kaleena. Ya tetap saja, kalau pulangnya kemalaman tidak enak dengan seisi rumah. Kaleena sendiri bersiul bahagia memasukkan kamarnya. Dia pun melempar sepatunya ke belakang pintu kamar. Dia sangat lelah, dan ingin istirahat. Tugas memberishkannya bisa besok jika dia ingin. Tangannya mencari saklar lampu yang berada di samping pintu. Ketika lampu kamar ini menyala, dan juga pintu kamar ini tertutup. Kaleena malah dikejutkan dengan seseorang yang sudah duduk anteng di atas tempat tidurnya. Tubuh wanita itu membeku seketika. Bagaimana bisa dia datang dan langsung masuk ke kamar Kaleena? "Jadi … bagaimana kencannya sayang?" "Mampus!!" lirih Kaleena. -SecretWife- "Al nggak sarapan dulu?" ucap Magdalena ketika melihat anak pertamanya turun dari tangga. "Eh Abang udah pulang? Katanya seminggu?" sahut Aiden dan melahap roti selainya. Alden menatap tidak suka. Dia pun duduk di samping Magdalena sambil menikmati roti selainya dan juga air putih. Alden bahkan enggan untuk menjawab ucapan Aiden dan juga Magdalena. Dia masih kesal dengan kejadian malam tadi. Ya, malam dimana Alden malah melihat istrinya pergi bersama dengan adiknya sendiri. Sejujurnya itu hak Kaleena, tapi kan harusnya dia tahu jadwal Alden pulang ke rumah? Dia mau kencan sama pria manapun itu juga urusan Kaleena. Asalkan dia tahu, jika dia itu sudah memiliki suami dan juga ingat kewajiban istri, jika suami pulang dari luar kota. "Bang ditanya diem aja!! Kenapa sih!!" ucap Aiden kembali. Alden menoleh, dia pun meneguk minumnya sebelum berkata. "Apa?" "Lo kapan pulang? Kok gue nggak tau?" Kaleena melirik Alden yang sibuk mengunyah rotinya. Dia juga penasaran kapan Alden pulang, dan kenapa dia tidak mengabari Kaleena sama sekali. Terakhir kalinya Alden bilang, jika dia pulang dalam waktu tiga hari. Tapi ini belum ada tiga hari, dan pria itu malah sudah berada di rumah. Ya, pria yang semalam berada di kamar Kaleena adalah Alden. Pria itu menatap Kaleena layaknya, Kaleena adalah sebuah umpan untuk memancing ikan di laut. Dan tanpa mengatakan apapun, Alden juga langsung pergi begitu saja dari kamar Kaleena. Padahal malam itu Kaleena juga pengen jelasin pada Alden apa yang terjadi, agar pria itu tidak hidup dalam kesalahpahaman. Tapi yang ada … Alden seolah tidak ingin mendengar apapun dari Kaleena. Tapi tidak masalah. Jika nanti Kaleena memiliki waktu untuk berbicara dengan Alden. Dia akan menjelaskan semuanya apa yang terjadi. Jika semalam yang Alden lihat, bukanlah kencan atau sejenisnya. Dia masih setia kok sama Alden, walaupun sudah pernah mencicipi bibir Aiden sekali. "Kamu ngapain disitu? Nggak ada kerjaan? Mau saya kasih kerjaan? Biar gak diem di samping cucu saya terus!!" cetus Maria dan membuat Kaleena menatapnya tidak suka. "Maaf Nyonya." hanya kata itu yang keluar dari bibir Kaleena. Dan tidak ada kata lainnya lagi. Tidak!! Memang Kaleena tidak ingin mengatakan hal apapun pada Maria, kecuali kata maaf itu saja. Kaleena langsung pergi ketika mengucapkan kata itu. Dia pun sesekali melirik ke arah Alden yang tampak biasa saja. Dia bahkan tidak merasa kesal, ketika istrinya dibentak oleh Oma nya. Beda cerita sama Aiden, yang langsung menenangkan Maria untuk tidak marah-marah terus menerus. Lagian Maria itu sudah tua, jika terlalu banyak marah juga tidak baik untuk kesehatan Maria. Yang jelas, wanita itu langsung marah dan memukul Aiden. Dia itu belum tua jika belum menerima cicit. Sedangkan kedua cucu Maria juga belum ada yang memberikan Maria cicit satu pun. Dia sudah tidak sabar untuk bermain dengan cicitnya nanti. Disisi lain, Kaleena yang mendengar hal itu langsung mengusap perutnya. Jangan sampai anak yang dikandung harus bermain dengan Maria. Kaleena tidak ingin anaknya kelak menjadi seperti Maria yang suka sekali merendahkan orang lain. "Kalau lapar makan Leena. Jangan di usap terus perutnya." ucap Putri tiba-tiba. Alis Kaleena mengerut, dia pun menatap Putri yang masuk ke dalam dapur, dengan santainya itu anak dari mana sih kok baru datang? Putri menjelaskan jika dia baru saja mengejar tukang sayur langganannya. Ada banyak bahan dapur dan juga sayur yang habis, jadi untuk menghemat waktu Putri pun mengejar salah satu tukang sayur pagi yang biasanya mampir di rumah ini. Barulah, nanti jika Putri ada waktu dia akan pergi ke supermarket untuk belanja. "Terus kamu tadi kenapa usap-usap perut? Udah aku bilang kan kalau lapar makan Leena." kata Putri. Kaleena semakin bingung, kepalanya menunduk dan mendapati tangan Kaleena masih berada di perutnya. Langsung saja wanita itu menjauhkan tangan itu dari perutnya. Bisa bahaya kalau Putri tahu, apa yang terjadi pada Kaleena. "Nanti. Tau kan Maria kayak apa?" dengus Kaleena. "Mumpung dia masih makan. Mending kalau kamu beneran laper, makan dulu Leen. Takutnya kamu pingsan." "Aku gak selemah itu ya, Mbak Put. Yang nggak malam langsung pingsan." jawab Kaleena cepat dan membuat Putri tertawa kecil. Tapi tetap saja Putri meminta Kaleena untuk segera makan. Masalah pekerjaan kasih bisa mereka kerjakan nanti, lagian Putri juga lapar. Itu sebabnya, Putri mengajak Kaleena untuk sarapan bersama. Toh, pekerjaan rumah ini banyak walaupun ada banyak maid yang jelas pekerjaan Putri dan Kaleena lebih berat dari mereka semua. -SecretWife- "Leena bisa antarkan makan siang untuk Aiden? Soalnya tadi telepon, kalau dia nggak bisa pulang untuk makan siang bersama." kata Magdalena lembut. "Nyuruh kok dia!! Jadi kebiasaan Magda. Pembantu kayak gini, kalau dikasih hati ngelunjak minta paru-paru." sahut Maria. Kenapa nggak sekalian ginjal yang harganya jauh lebih mahal. Atau mungkin kornea mata juga lumayan kan ada dua? Magdalena hanya mampu tersenyum dan melihat kepergian Maria dengan senyum manisnya. Itu kalau Kaleena yang jadi menantunya, sudah dipastikan jika saat itu juga Kaleena akan membuat hidup wanita tua itu menderita. Contohnya, mengirim wanita tua itu ke panti jompo dan tidak akan membiarkan dia menelpon atau pulang ke rumah dengan sesuka hatinya. Tidak mengirim uang apalagi sampai menjenguknya. Tidak akan pernah!! Dan nyatanya saat ini Kaleena juga termasuk menantu dari cucunya. “Jangan diambil hati ya Leena. Mungkin mami lagi capek aja, makanya ucapannya kayak gitu.” ucap Magdalena. Kaleena mencoba untuk tersenyum, dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Didunia ini kurang afdol jika hanya di ciptakan orang jahat saja, dan Tuhan begitu adil menciptakan orang jahat macam Maria. Lagian majikannya dulu, juga seperti itu yang memiliki sifat lebih jahat lagi adri maria. Bahkan majikan Kaleena dulu, jika melakukan kesalahan selalu di siksa, entah disiram air panas atau mungkin tangannya disetrika. Hati Magdalena miris mendengar hal itu. Dia pun langsung mengusap kedua lengan nya dengan tangannya sendiri. “Emang ada ya Leena kayak gitu? Kok saya jadi ngeri ya.” Ada, kan di televisi. Jawab kaleena dalam hati. “Ada Bu. Untung saja saya nggak sampai seperti itu. Pas lihat teman saya di siksa begitu, saya langsung kabur dari rumah ini bareng teman kerja saya.” jawab Kaleena akhirnya. Magdalena meminta Kaleena untuk menyiapkan makan siang. Dia meminta kaleena untuk pergi ke kantor Aiden, untuk mengantar makan siang anak bungsunya. Karena siang ini Alden tidak bisa keluar kantor hanya untuk makan siang, itu sebabnya dalam satu minggu ini Magdalena meminta Kaleena untuk mengantar makan siang ke kantor. Sedangkan kaleena sendiri tampak bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa kali ini. Dia juga harus pergi ke kantor Alden karena pria itu juga meminta Kaleena untuk mengantar makan siang. Sedangkan Magdalena meminta Kaleena untuk pergi ke kantor Aiden mengantar makan siang juga? Dan sekarang Kaleena jadi bingung jalan mana yang harus diambil lebih dulu, pergi ke kantor Alden dulu atau pergi ke kantor Aiden lebih dulu? -SecretWife-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD