Duduk di pinggir jalan adalah hal yang dilakukan oleh kaleena. Dia bingung jalan mana yang harus diambil lebih dulu, antara kiri dan juga kanan. Arah kiri yang akan membawa dia pada Aide. Sedangkan arah kanan akan membawa dia pada Alden.
“Jalurnya mana dulu?” ucap wanita itu merengek.
Menatap dua kotak yang berbeda warna, rasanya kaleena ingin sekali menangis. Dia tidak tahu harus mendahulukan yang mana, karena Kaleena sendiri juga tahu jika dua orang itu bertemu dengan Kaleena. Yang jelas Kaleena tidak akan bisa pulang dengan cepat. Karena mereka sama-sama menggurung Kaleena di dalam kantor mereka.
Wanita itu berpikir cukup lama di pinggiran jalan, jika dia pergi ke kantor Aiden lalu bagaimana dengan suaminya yang akan marah, jika melihat aleena bersama dengan Aiden. Walaupun terlihat biasa saja, tapi rahang pria itu cukup ketara jika dia tengah marah. tapi jika dia pergi ke kantor Alden lebih dulu, yang jelas suaminya itu pasti minta jatah. Dan yang jelas itu tidak akan hanya sekali saja, pasti berkali-kali hingga Kaleena lupa jika dia adalah babu di rumah Jonathan.
Kaleena memutuskan untuk mengambil ponselnya, dia pun menelpon Tiara untuk membantu dirinya. Dan wanita itu memutuskan untuk pergi ke kantor Alden lebih dulu, atau mungkin pergi ke kantor Aiden lebih dulu bersama dengan Tiara. Jika Kaleena sendiri, sudah dipastikan Kaleena akan kesulitan untuk keluar dari lobang buaya.
Menunggu hampir tiga puluh menit, Tiara pun datang dengan mobil biasanya. Kaleena menatap curiga dengan mobil itu, tapi tidak masalah yang penting dia harus sampai di kantor Aiden lebih dulu, dan barulah ke kantor Alden. Jika dia dikurung di kantor Alden, itu tidak masalah karena Alden juga adalah suaminya.
“Lagian dua-duanya di embat. Sekarang suruh nganter makan siang aja bingung.” cibir Tiara.
“Dih … kamu nggak tau aja jadi aku kayak apa.”
“Kalau aku jadi kamu, dari awal aku udah nolak buat nikah sembunyi-sembunyi kayak gini. Padahal cuma karena anka doang, kamu juga belum tau kan masa lalu Alden kayak apa? Dan sekarang adiknya lagi deketin kamu.”
“Tiara terus aku harus apa?”
“Minggat jalan satu-satunya yang ada dipikiranku.” jawab Tiara cepat.
Tapi tidak dengan Kaleena. Dia tidak bisa pergi begitu cepat dari rumah itu, selain membuat Alden jatuh cinta, kaleena juga ada misi tertentu memecahkan masalah. Yaitu foto yang sempat ditemukan di ruangan Alden dan juga Aiden. Foto itu memiliki kemiripan tujuh puluh lima persen, Kaleena hanya takut jika adik kakak itu pernah mengalami cinta segitiga dengan wanita yang ada di foto itu. Walaupun cuma foto wanita, cuman ya begitu, pemikiran wanita selalu benar dan tidak pernah salah.
Sesampainya di depan kantor Aiden, Kaleena meminta Tiara untuk ikut turun dengannya. Dia tidak ingin turun dan masuk sendiri ke kantor ini. yang dimana Aiden pasti akan meminta Kaleena untuk tinggal di kantor. Jika dia bersama dengan Tiara, setidaknya dia memiliki alasan untuk pulang cepat.
Tiara ingin sekali menolak, tapi karena rengekan dan juga wajah memelas Kaleena. Pada akhirnya wanita itu langsung mengiyakan ucapan Kaleena, dan meminta wanita itu untuk berjanji jika hanya hari ini saja Kaleena merepotkan dirinya. Setelah ini Tiara tidak mau menerima keluhan Kaleena. Wanita itu sudah memberi saran pada kaleena, untuk pergi dari rumah itu. Dan Kaleena yang keras kepala memilih tetap berada di rumah itu. Padahal dia juga sudah tahu jika nenek suaminya itu sangat galak dan tidak menerima Kaleena sama sekali.
“Hai .. “ sapa Kaleena ketika dia baru saja masuk ke ruangan Aiden.
Pria itu langsung menurut berkasnya dan menyambut Kaleeena dengan senyum manisnya. “Hai .. tumben terlambat macet di jalan?” tanya Aiden. Dia pun melirik Tiara yang hanya tersenyum di samping Kaleena. “Dan tumben banget ngajakin Tiara? Kalian mau pergi?”
“Iya sorry ya terlambat,” Kaleena menaruh kotak makan biru di atas meja Aiden dan meminta pria itu untuk segera makan. “Aku mau nganterin Tiara ke salon, nanti malam dia ada acara sama pacarya. jadi nggak papa kan, kalau aku pulang duluan dan nggak bisa nemenin kamu makan siang?” bohong kaleena. Dalam hati dia berdoa, jika Aiden tidak akan curiga dengan ucapannya.
Aiden diam sejenak dan menghela nafasnya berta, dia pun mengambil kotak makan itu tanpa selera. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Kaleena untuk tinggal di kantor ini seorang diri, apalagi dia datang bersama dengan Tiara. Ditambah penjelasan itu juga langsung membuat mood Aiden ancur.
“Nggak papa. Kamu pergi aja.” jawab Aiden akhirya.
“Tapi … .”
“Nggak papa Leena, pergi aja. Nanti aku makan bekalnya. Makasih ya udah dianterin bekalnya.”
Kaleena tersenyum tidak enak. Dia pun langsung berpamitan pulang bersama dengan Tiara. Lagian dia juga harus ke kantor Alden, yang dimana jarak antara kantor Aiden dan juga Alden sangat jauh. Dan wanita itu berpikir jika Alden pasti akan marah-marah pada Kaleena, karena makananya datang tidak tepat waktu.
-Secretwife-
“Kamu tau kana makan siang itu jam dua belas sampai jam satu. Makannya pun juga harus gantian, nggak boleh barengan. Dan kamu juga tau kalau aku cuma makan sama roti tidak nasi, dan sekarang pas waktunya makan siang kamunya datang terlambat!! Itu kamu maunya apa?” omel Alden.
Tuh … apa yang dipikirkan Kaleena benar apa adanya, jika Alden akan marah jika makanannya datang terlambat.
Tidak mau meladeni Alden, wanita itu lebih fokus menata makan siang Alden, agar pria itu cepat makan. Lagian dia juga harus pulang dengan cepat sebelum Maria kembali mengomel. Wanita itu meminta Alden untuk segera makan, akan jauh lebih baik jika pria itu makan dengan cepat. Atau mungkin ketika Alden makan, Kaleena bisa pergi dari kantor ini untuk menghirup udara segar.
“Lagian ya … udah punya suami ngapain masih nyabang? Sama adik ipar sendiri lagi!!” bisik Tiara, ketika Kaleena berdiri di sampingnya.
Wanita itu menunjukkan wajah cemberutnya, dia pun langsung menatap Tiara tidak suka. “Bukannya nyabang. Kan niatnya biar akrab aja sama adiknya kali mau jadi kakak ipar yang sombong.”
“Tapi nggak gitu dodol!! Sekarang giliran begini saja kamu udah pusing duluan Leena.”
Alden merasa curiga dengan dua wanita yang saat ini berbicara saja harus berbisik-bisk. Belum lai salah satu diantara mereka menunjukkan wajah cemberutnya, wajah yang selalu membuat Alden tidak tenang. Ya, menurut Alden wajah itu begitu menggemaskan dan lucu. Sehingga kemana pun Alden pergi, dan jika melihat wanita yang menunjukkan wajah marahnya tentu saja Alden langsung teringat pada Kaleena. Karena wanita itu suka sekali menunjukkan wajah marahnya pada Alden.
“Kalian ngapain bisik-bisik begitu? Nggak bisa apa ngomong kencengan dikit?”cetus Alden.
Tiara dan juga Kaleena pun langsung menggelengkan kepalanya cepat. Bukannya tidak mau berbicara dengan nada tinggi, tapi Kaleena tahu betul jika Alden akan marah pada Kaleena jika tahu, kalau Kaleena juga mengantar makan siang untuk Aiden. Merasa tidak dipergunakan lagi di kantor ini, Kaleena pun memilih pulang. Dirumah masih banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.
Sedangkan Alden sendiri langsung menatap Kaleena tidak suka, siang ini dia ingin sekali menghabiskan waktu berdua dengan kaleena. Tapi wanita itu malah berangkat bersama dengan Tiara, padahal Alden sudah mengirim pesan pada Kaleena. Untuk datang ke kantor ini sendiri dan tepat waktu.
Tidak ada yang bisa Alden lakukan selain menganggukkan kepalanya. Dia pun langsung mengizinkan Kaleena untuk pergi dari kantor ini secepat mungkin, sebelum Alden benar-benar menerjang dan mengurung Kaleena dalam kantor ini.
Merasa dunianya begitu bebas, Kaleena langsung memeluk Tiara dengan erat. Semoga saja ini akan menjadi yang terakhir untuk Kaleena. Jika tidak, satu minggu kedepan, entah sampai berapa tahun bulan atau mungkin hari. Kaleena ingin Tiara membantunya dalam hal ini.
“Makanya apa-apa itu dipikir dua kali dulu!! Jangan main iya aja, kalau udah gini susah sendiri kan?” dengus Tiara.
“Pasalnya Tiara, aku nemu foto perempuan samaaaaa di kamar mereka. Dan aku curiga plus kepo banget sama foto itu!!”
Alis Tiara mengernyit. “Foto? Perempuan? Siapa?”
Tiara sendiri juga tidak tahu itu foto siapa? Yang jelas foto itu pasti memiliki kenangan tersendiri untuk mereka berdua, sampai-sampai mereka masih menyimpan foto perempuan itu dengan begitu rapat.
“Kalau begitu semoga berhasil.” kata Tiara dan mendapat anggukan dari Kaleena.
-Secretwife-
Malam pun tiba, Kaleena duduk di pinggiran kolam renang dengan kaki yang dimasukkan ke dalam air. Pandangannya terarah pada langit yang sudah menghitam tanpa ada bintang sama sekali. Malam ini … bulan bersinar begitu indah menurut Kaleena.
Helaan nafas keluar dari bibir mungilnya, lalu dia pun masuk ke dalam kolam renang dengan perlahan. Dengan harapan jika malam ini dia mampu meluapkan, dan juga meluapkan emosi yang menimpa dirinya. Menenggelamkan diri dan juga muncul dipermukaan, Kaleena pun mengusap wajahnya dengan begitu kasar.
“Tanya nggak sih? Kok penasaran ya.” gumam Kaleena.
“Tanya aja, mumpung saya bisa jawab!!”
Jawaban itu membuat kaleena terjingkat kaget. ia pun membalik badannya dan menatap Alden yang berdiri di pinggiran kolam sambil membawa kopi. “Ngapain kamu malam-malam berenang? Cari sakit?”
Kaleena menggeleng dia sedang tidak mencari sakit, tapi dia mencari sehat. Lagian berenang malam hari seperti ini malah membuat Kaleena senang dan juga tenang. Dia tidak suka jika harus berenang di siang bolong. Selain bisa mengekspos kulitnya, Kaleena juga tidak suka jika ada yang melihat dirinya dengan pakaian minim. Sedangkan dimalam hari, walaupun telajang bulat pun ketika dia berenang, tidak ada yang melihatnya sama sekali. Itulah yang membuat Kaleena suka.
Sedangkan Alden sendiri yang sudah tergoda pun hanya menganggukan kepalanya, dan mengalihkan pandangannya dari dua gundukan padat yang sejak dulu menjadi kesukaan Alden.
“Terus?”
Kaleena menatap Alden bingung. Dia pun menyibakkan rambutnya ke arah belakang semua, dan menambah kesan seksi di mata Alden. “Apanya yang terus?”
“Terus ngapain masih disana? Ini sudah malam, lebih baik kamu cepat keluar dari kolam renang dan tidur. Bukannya masih ada banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan besok?”
Itu benar. Ketika melihat Alden ingin pergi, Kaleena pun langsung menarik tangan Alden untuk tetap berada di pinggiran kolam renang. Ada hal penting yang harus dibicarakan dengan Alden, dan ini tidak bisa ditunda. Kaleena bukanlah tipe orang yang suka mengurusi kehidupan orang. Tapi dia juga ingin tahu ada hubungan apa Alden dengan wanita yang ada di foto itu. Bahkan foto itu ada dua, satu diamar Alden dan satunya lagi di foto Aiden.
“Maksud kamu foto apa? Ngomong yang jelas.”
“Foto perempuan di kamar kamu. Fotonya hampir mirip sama foto yang aku temukan juga di kamar Aiden. Dia itu … siapa?”
Mata Alden menyipit dengan sempurna. Dia pun meletakkan cangkir kopinya di meja bulat dekat dengan pintu, lalu kembali berjongkok di pinggiran kolam, sambil menarik rahang Kaleena dengan begitu kasar.
“Perjanjian kita tertulis, jika kamu dilarang keras untuk ikut campur dalam hidup saya. Itu masih satu foto perempuan yang kamu temui dan langsung kamu bilang ke saya? Bagaimana jika kamu menemukan sepuluh foto perempuan di kamar saya? Apa kamu akan menanyakan semuanya?” Alden melepas cengkraman itu dengan begitu kasar dan membuat Kaleena terkejut. Baru kali ini dia melihat Alden sekasar ini dengan dirinya. “Ingat baik-baik!! Saya gaji kamu bukan untuk menelusuri masa lalu saya. Tapi untuk memberikan saya pewaris untuk rumah ini. Jadi tolong fokus dengan pekerjaan kamu, dan jangan ungkit apapun!!” ujarnya kembali dan pergi begitu saja.
Kaleena terkejut mendengar hal itu, dia pun menatap punggung Alden yang sudah di hilang di balik pintu. Sebenarnya apa yang terjadi? Dan kenapa dia semarah ini hanya karena foto? Jika Kaleena tidak diizinkan untuk mengetahui foto itu, dia hanya perlu berbicara dengan halus dan lembut. Lagian diajak ngomong baik-baik Kaleena masih bisa nangkap kok, dibanding harus digertak seperti itu.
Merasa cuaca sudah dingin, wanita itu memilih keluar dari kolam renang. Niat hati ingin masuk ke dalam kamarnya, yang ada Kaleena malah menatap Aiden yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Entah sejak kapan adik dari suaminya itu berdiri disana. Dan apa mungkin Aiden juga mendengar obrolan Kaleena dan juga Alden tadi? Jika iya, tamatlah riwayat hidup Kaleena.
"Aiden … kamu kok ada disini. Kenapa? Butuh sesuatu?" tanya Kaleena gugup dan mencoba mendekatinya.
Aiden menyisipkan kedua bola matanya, dan menikmati roti selainya. Ada ya malam-malam makan roti selain selain pagi. Mungkin dia.lapar, dan malas makan nasi itu sebabnya dia makan roti, yang bisa mengganjal perutnya sampai besok pagi.
"Kamu … kenapa malam-malam berenang?" ucap Aiden.
"Biar nggak gerah aja Ai." jawab Kaleena asal.
Aiden menggelengkan kepalanya. "Masuk saja. Nanti masuk angin, ini sudah hampir tengah malam. Nggak baik buat kesehatan kalau berenang malam-malam."
Kaleena mengangguk kecil. Dia tidak tahu betapa b*******h hanya berci-nta di tengah malam dan di dalam kolam. Atau tidak di luar kolam, udara yang begitu dingin dengan suhu tubuh yang memanas. Kaleena pun segera pergi dari hadapan Aiden, dia juga sudah kedinginan karena Alden tadi.
Sedangkan Aiden, dia masih sedikit curiga dengan Kaleena dan juga Alden. Dia sempat melihat Alden mencengkram rahang Kaleena, dan wanita itu hanya diam saja tanpa mengatakan apapun. Sayangnya, Aiden tidak bisa mendengar begitu jelas ucapan mereka karena jarak. Pas Aiden mendekat, Alden malah pergi begitu saja dari hadapan Kaleena. Sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua itu? Sebelum Aiden melangkah lebih jauh lagi, mungkin dia akan mencari tahu hal ini.
-SecretWife-