Secret-13

2001 Words
Setelah menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang. Kaleena memilih duduk termenung di depan pintu dapur, yang menghadap ke taman samping. Dia berpikir jika dia akan mencari tahu siapa foto wanita itu. Tapi Alden meminta Kaleena untuk tidak ikut campur dalamirusan pribadinya. Itu memang tercetak jelas di kontrak perjanjian mereka. Jika dimana Alden maupun Kaleena, tidak ada satupun yang boleh ikut campur urusan mereka. Tapi kan masalahnya, Alden itu suka marah jika Kaleena dekat dengan Aiden. Bukannya itu termasuk melanggar kontrak? Memijat pelipisnya pusing, Kaleena pun memutuskan untuk pergi. Mungkin dia membutuhkan bantal dan kasur pagi ini. Atau mungkin ucapan Alden benar, jika semalam Kaleena benar-benar mencari sakit bukan mencari sehat. Baru juga membalikkan badannya, Kaleena malah sudah disuguhi Maria yang berjalan ke arah dapur. Karena masih pagi, dan mood Kaleena juga sudah tidak baik, dia pun memutuskan untuk bersembunyi di taman. Jika wanita tua itu memanggil, yang jelas Kaleena tidak akan dengar. Dan benar saja. Wanita itu terus memanggil nama Kaleena berkali-kali dengan nada marahnya. Karena tidak mau membuat satu rumah ini, terganggu dengan suaranya. Kaleena memutuskan untuk keluar dari persembunyiannya dan menemui Maria. Tapi sebelum hal itu terjadi, Kaleena lebih dulu membasahi rambut dan juga dahinya dengan air. "Iya Nyonya besar, ada apa?" ucap Kaleena, dengan gaya mengusap dahinya. Seolah dia baru saja mengerjakan pekerjaan yang berat. "Kamu dari mana? Saya memanggil kamu, sampai suara saya mau putus!! Dan kamu malah budek!!" katanya. Kaleena menunjuk taman samping, dengan alasan jika dia baru saja membuang sampah dengan jumlah yang banyak. Jadi dia tidak dengar jika Maria memanggilnya berkali-kali, karena jarak mereka juga cukup jauh. "Ada apa ya Nyonya nyariin saya, apa butuh sesuatu?" tanya Kaleena cepat. Cepat ingin melihat wanita tua itu segera pergi dari hadapan Kaleena. "Bersihkan kolam ikan saya. Dan ingat!! Jangan sampai ikan saya mati satupun!!" perintah Maria. Kaleena yang tidak mau berdebat dengan Maria pun hanya menganggukan kepalanya kecil. Dia pun langsung berjalan ke arah kolam renang dengan loyo. Sejujurnya ini bukan tugasnya, dan tidak termasuk dalam daftar tugasnya. Tapi yang ada, Maria malah mempersulit semuanya. Hanya dia saja yang tidak suka dengan keberadaan Kaleena. Mungkin karena kalah cantik, dan Maria tidak suka itu. Ya, maklum saja Kaleena kan masih muda sedangkan Maria sudah tua dan keriput. Wanita itu menatap sepuluh ekor ikan koi yang dengan ukuran besar. Dari sini Kaleena bingung bagaimana caranya membersihkan kolam ikan nya. dengan amat terpaksa Kaleena pun menjaring satu persatu ikannya, dan dia jemur di bawah pohon yang lumayan rindang. Dan barulah, Kaleena membersihkan kolam ikan ini sambil menguras airnya. Sambil bersenandung ria, Kaleena pun dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Lagian hanya membersihkan kolam saja mah, gampang bagi Kaleena. Lumut yang menempel pun, sudah tidak terlihat lagi. Wanita itu menegakkan tubuhnya menatap ikannya yang masih bergerak di tempat. Kaleena pun kembali mengisi kolam itu dengan air bersih, dan duduk di pinggiran kolam. Setidaknya air kolam ini harus berisi setengah, dan barulah Kaleena memasukan ikan koi itu ke dalam kolam ini. "Kaleena …. " teriak seseorang. Kaleena menoleh, dia pun menatap Maria yang menunjukkan wajah galaknya. Sangking galaknya, Maria sampai melepas sandalnya dan berlari ke arah Kaleena. Tidak hanya Maria saja ternyata yang menghampiri Kaleena, tapi juga dengan Magdalena, Jordy dan juga Aiden. "Apa yang kamu lakukan dengan ikan saya Kaleena!!!" teriak Maria histeris. "Haa apa Nyonya? Kan saya nguras kolam, ini masih isi kolamnya dengan air." jawab Kaleena dengan wajah bloonnya. "Kamu bo-doh atau gimana!!" teriak Maria dan semakin membuat Kaleena tidak paham. Wanita tua itu langsung mengambil ikannya dan kembali memasukkan ke dalam kolam. Tidak peduli, jika air dalam kolam itu tidak begitu banyak, dan ikan pun juga masih bergerak dengan lincah di dalam air. Seingat Kaleena, dia mematuhi apapun yang Maria katakan. Dimana Maria meminta Kaleena untuk membersihkan kolam ikan. Lalu Kaleena mengeluarkan ikan itu dan menjemurnya dibawah pohon, agar ikan itu tidak kembali lompat ke air ketika Kaleena membersihkan kolam. Walaupun dia tahu jika ikan itu tinggalnya di air. Tapikan ikan piranha, juga hidup di daratan juga? Magdalena yang mengetahui hal itu langsung membantu mertuanya untuk mengambil ikan koi kesayangan mertuanya itu. Sedangkan Aiden dia pun langsung berdiri di samping Kaleena dan menahan tawanya. "Ada yang salah ya?" tanya Kaleena bingung. "Ya … ada." jawab Aiden seadanya. "Apa?" "Harga ikannya." Haa? Harga ikan? Bukannya bukan koin juga Harganya murah ya? Palingan juga satu ekor lima ribuan kan? -SecretWife- Berkali-kali Kaleena mengusap dadanya setelah lihat harga ikan koi milik Maria. Masih untung ikan koin itu tidak ada yang mati satupun. Walaupun dia harus mendapat omelan yang panjang dari Maria lebih dulu. Kalau tahu harga ikan itu, senilai dengan harga ginjal. Tentu saja Kaleena tidak akan seceroboh ini pada ikan peliharaan Maria. Bahkan disini Kaleena bisa melihat, harga paling murah ikan ini senilai seratus juta rupiah. Ini kalau Kaleena yang beli sangat disayangkan. Selain harganya yang mahal, jika ikan itu mati yang ada Kaleena akan nangis tujuh hari tujuh malam. "Bisa buat beli cilok se abangnya, Ai." rengek Kaleena. "Makanya itu, aku bilang kan harganya yang bermasalah." ucap Aiden dan tertawa kecil. "Kenapa nggak bilang dari awal? Itu kalau mati aku ganti pakai apaan? Bisa nggak di gaji beneran aku sama nenek kamu." Padahal Kaleena berpikir jika harga ikan itu paling cuma lima ribuan, atau paling mahal ya harganya dua puluh ribu. Taunya malah paling murah bisa buat beli mobil bekas. Lagian itu nenek buat apaan sih, beli ikan harganya mahal-mahal. Tok, kalau mati juga tidak bisa jadi berlian. "Namanya orang suka gimana sih? Berapapun harganya ya tetap dibeli." kata Aiden. Pria itu langsung menjelaskan pada Kaleena ikan apa saja yang ada di dalam kolam itu, dan kenapa Mafia sampai marah hanya karena ikan. Aiden menunjuk satu ikan yang memiliki tiga warna, bahkan pria itu juga mengambil ikan itu dengan jaring dan menunjukkan pada Kaleena. "Ini ikan Koi Black Dragon. Kalau nggak salah harganya cuma 2,9 miliar sih." 2,9 miliar hanya cuma? Dia pasti tidak tahu ikan komet yang satu plastik isi enam harga lima ribuan. Ikan itu memiliki tiga warga, merah, putih dan juga hutan seperti warna sisik naga. Itulah kenapa ikan ini dijuluki ikan paling mahal, karena sisiknya yang mirip dengan naga. Disini ada sepuluh jenis ikan koi kesayangan Maria. Tapi menurut Kaleena bentuk dan juga warna ikan itu semuanya sama. Ada yang warna merah, putih, kuning atau mungkin bintik-bintik hitam juga ada. Dan nyatanya Kaleena juga tidak bisa membedakan satu sama lain, walaupun ikan itu memiliki nama yang sulit. Tetap saja semua orang memanggil ikan. "Dah lah … pengap aku denger harga ikan. Mau masuk aja." kata Kaleena. Aiden tertawa kecil, "Yaudah masuk saja. Aku mau ke kantor dulu." Dari tadi terus ngapain aja? Sejak pagi sampai siang gini masih ada di rumah. Sedangkan abangnya aja udah pergi ke kantor pagi tadi tanpa pamitan dulu ada Kaleena. Maklum saja, Kaleena tahu jika Alden tengah marah padanya. Itu sebabnya, dia tidak menemui Kaleena lebih dulu sebelum pergi ke kantor. Pria itu juga tidak mengirim pesan pada Kaleeja untuk mengantar makan siang. Biasanya, dua atau tiga jam sebelumnya Alden sekaki mengirim pesan. Jika dia ingin Kaleena ke kantor dan mengirim makan siang. Kali ini sama sekali tidak. "Dia beneran marah?" gumam Kaleena bingung. "Cuma perkara foto?" gumamnya lagi. Bukannya itu terlihat sangat aneh? Kaleena hanya bertanya siapa wanita yang ada di foto itu. Entah dia mantan kekasih Alden. Atau mantan simpanan Alden, atau siapapun itu Kaleeja juga tidak peduli banget. Dia hanya ingin tahu saja namanya, tentang masa lalunya Kaleena sama sekali tidak tertarik. Tapi yang ada Alden malah marah besar, hingga mencengkram rahang Kaleena dan menghempaskannya begitu kasar. Karena masih penasaran dengan foto itu, Kaleena langsung keluar dari kamarnya dan melihat situasi. Rumah ini kosong dan tidak ada satu orang pun. Sejak pagi, setelah mengantar sarapan Kaleena juga tidak melihat Rose. Entah dimana wanita itu, kadang Kaleena berpikir jika Rose itu sudah seperti hantu. Datang dan pergi seusia hatinya, dan tidak ada satu orang pun yang tahu. Celingukan di lantai atas, Kaleena pun memastikan jika Maria tidak ada di lantai dua. Jika wanita tua itu tahu, kalau Kaleena berdiri di depan kamar Alden. Yang jelas wanita itu pasti marah besar pada Kaleena. Merasa aman dan tidak ada satu orang pun, Kaleena segera masuk ke kamar ini. Menatap sekeliling kamar ini dengan memuja. Walaupun semuanya serba hitam tapi terlihat sangat maskulin. Tidak mau membuang banyak waktu, Kaleena pun langsung menelusuri ruangan ini dengan begitu cepat. Dia harus mendapatkan bukti, apapun itu jika wanita itu tidak memiliki hubungan antara Alden dan juga Aiden. Atau mungkin dia adalah satu wanita yang diperebutkan oleh adik dan kakak. Kalau dilihat sih, masih cantikan Kaleena. Badannya juga masih montokkan Kaleena. Badan tipis kerempeng begitu bisa menggaet kakak dan adik? Kaleena pun juga bisa kalau dia mau!! "Dimana ya … kok nggak ada?" Sibuk mencari itu foto, Kaleena sampai tidak sadar jika Alden telah pulang dan memasuki ruangannya. Dia pun terkejut, ketika melihat Kaleena yang mengobrak-abrik loker di kamarnya dengan begitu tidak sopan. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras dia paling tidak suka jika ada orang yang mengganggu privasinya. Langsung saja Alden mengunci kamar ini dan berjalan mengendap ke arah Kaleena. Menarik tangan wanita itu, dan menghempaskannya di atas tempat tidurnya. Kaleena memekik kaget, dia pikir Maria atau orang lain yang akan berbuat jahat padanya. Tapi melihat Alden yang melakukan hal ini. Langsung saja membuat Kaleena keringat dingin. Pria itu langsung mengurung tubuh Kaleena dengan kedua tangan kekarnya. Jarak merek begitu dekat, sehingga Kaleena tidak mampu bernafas dengan benar. "Saya ngasih kamu kebebasan bukan berarti kaki bisa seenaknya sendiri. Ingat batasanmu Leena!! Saya tidak suka jika urusan pribadi saya diusik dengan orang lain!! Jadi … singkirkan pikiranmu itu yang mau mencari foto wanita itu. Atau tidak … " "Atau apa?" sahut Kaleena menantang. Padahal mah, dia juga sangat takut jika harus berurusan dengan Alden. Pria itu tersenyum kecil menatap bibir mungil milik Kaleena dengan tatapan menggoda. Ditambah lagi tubuh wanita itu yang hanya dibalut dengan kain tipis, yang dimana Alden sendiri juga bisa menyobekkan dengan satu tangan. "Atau apa? Katakan Alden!! Aku cuma pengen tau, tapi kamu malah marah-marah." kata Kaleena lagi. "Atau aku akan menghukummu!!" Kaleena mengernyitkan keningnya, memikirkan ucapan Alden. Tapi yang ada, belum sempat Kaleena protes dengan hal itu. Alden jauh lebih dulu membungkam bibir Kaleena dengan bibirnya. Menelusupkan tangannya yang bebas masuk ke dalam baju Kaleena. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Ingat!! Dia sudah dibayar oleh Alden, jadi apapun yang pria itu inginkan Kaleena akan selalu ada untuknya. "Atur posisi mu Kaleena!!" desis Alden. -SecretWife- Jika siangnya tadi dia habis bercinta dengan Alden sampai bosan. Malam ini, Kaleena harus keluar berdua dengan Aiden, dengan alasan jika dia tidak ingin makan malam di rumah. Dia menginginkan suasana baru yang sama sekali belum pernah dicoba. Langsing saja Kaleena mengajak Aiden makan di pinggiran jalan, dengan orang banyak yang ramai. Namanya juga orang kaya ya bund. Makan di tempat ini tentu saja menolak. Lagain bukan salah Kaleena juga, toh dia sendiri kan yang bilang. Jika dia ingin makan, yang belum pernah dicoba. "Tapi nggak gini juga Leena. Aku juga sering kok makan bebek begini. Bebek peking juga sering, masa iya harus begini." kata Aiden. "Tapi kan belum pernah makan di pinggiran jalan kan? Pasti makan bebeknya di resto, yang porsi sedikit bikin perut melilit." sahut Kaleena bersemangat. Ya itu benar, jika dia ingin makan seperti ini. Dia selalu memilih resto langganannya sejak dulu. Dan tidak pernah makan di pinggiran jalan, seperti apa yang Kaleena bicarakan. Ditambah lagi tempat ini sangat ramai, dan ada juga yang makan dengan kursi dan lesehan. Yang dimana satu meja panjang ini dihuni beberapa orang. "Ai ayo… " teriak Kaleena. Antara masuk atau tidak Aiden memilih putar balik. Tapi yang ada Kaleena malah menarik tangan Aiden, untuk masuk ke tempat makan ini. Dan mengambil posisi duduk di bawah. Yang katanya, dimana jika malam penyetan seperti ini paling enak duduk bawah. Dalam hati Aiden berdoa jika perutnya tidak akan sakit setelah makan. "Bang … bebek dua ya, sambalnya jangan pedes-pedes. Sama es teh 2 gulanya dikit aja." teriak Kaleena tanpa malu, dan membuat pemilik tempat makan ini mengangguk paham. -SecretWife-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD