Secret-14

1971 Words
Pulang dengan perut kenyang, Kaleena langsung berlari kecil ke arah lorong kamarnya. Disana dia bisa melihat kamarnya yang terbuka. Langsung saja Kaleena berlari ke kamarnya dan mengintip siapa yang masuk ke kamarnya tanpa izin. Dan ternyata itu adalah Alden. Pria itu sedang mengeluarkan banyak baju milik Kaleena dan dia masukkan ke dalam tas besarnya. Tak lupa juga Alden mengemasi semua barang-barang wanita itu di dalam kardus sedang. "Apa-apaan kamu itu!! Kenapa barang aku kamu masukin ke tas aku, Alden!!" teriak Kaleena. Alden tidak menghiraukan ucapan Kaleena. Diam lebih sibuk memasukkan sepatu kesayangan wanita itu ke dalam kardus. Kaleena merebut sepatu itu, hingga membuat Alden menoleh. "Sejak kapan kamu di situ?" "Sejak Konoha pindah ke Belanda!!" wanita itu menarik semua barang yang ada di tangan Alden, dan kembali menatanya dengan rapi di tempat semula. "Lagian kamu itu kenapa sih, semua barang aku kamu masukin ke tas? Ada masalah apa kamu sama aku?" seru Kaleena kembali. Alden mendengus, melempar satu baju Kaleena. "Terus kenapa? Kalau saya membereskan semua baju kamu!! Toh, itu suka-suka saya kan?" "Ya tapi kan aku juga butuh alasan. Kenapa kamu kayak begini!! Jangan main usir aja!!" "Ini yang akan saya lakukan, jika kamu terus saja mencari tau wanita di dalam foto itu!!" Mengingat kejadian itu Kaleena pun menghela nafasnya berat. Dia pun menarik tangan Alden untuk keluar dari kamar Kaleena tanpa sopan. Lalu mengembalikan semua baju miliknya ke tempat semula. Tanpa menghiraukan ucapan Alden yang terus saja mengumpat dan memanggil nama Kaleena. Lagian siapa suruh berani dengan Kaleena. Dia itu tidak salah! Kaleena sama sekali tidak salah, dia hanya ingin tahu ada hubungan apa Alden dan juga wanita itu. Hanya itu saja!! Dan itu malah menjadi masalah besar bagi Alden? Daripada dia harus mendengar ocehan Alden yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. Kaleena memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur keras ini. Ingat!! Besok adalah hari dimana dia harus berperang kembali dengan Maria. Sedangkan Alden, yang menang marah pada wanita itu memilih pergi. Bisa-bisanya ada satu wanita yang berani dengan Alden. Dia lupa, jika bukan karena Alden dia tidak akan hidup enak. Apalagi pekerjaan Kaleena dulu cuma waiters di Club. Jika tidak dipungut oleh Alden, dia juga tidak akan tinggal di rumah semewah ini. Cafe ujung jalan adalah tempat yang Alden datangi. Disana sudah ada satu temannya, yang siap mendengar ocehan dan juga curahan hati Alden selama ini. Siapa lagi jika bukan Kevin. "Udah lama juga kita nggak ketemu. Apa kabar lo?" kata Kevin tersenyum kecil. "Buruk!!" Alis Kevin mengernyit, dia pun menatap Alden dengan tatapan bingungnya. "Maksud lo?" Dengan sekali tarikan nafas, Alden pun menjelaskan jika selama ini Kaleeja tinggal di rumahnya sebagai pembantu. Wanita itu ngotot datang ke rumah, dengan acara pingsan di depan rumah. Sehingga Magdalena yang merasa kasihan pun langsung meminta Kaleena untuk bekerja di rumah. Ditambah lagi, tukang masak di rumah juga keluar dari kerjanya. Wanita itu memperburuk keadaan rumah Alden. Pria itu juga jarang dirumah karena Kaleena. Ditambah lagi Aiden juga berusaha mendekati Kaleena. Karena beberapa kali Alden melihat Aiden dan juga Kaleena jarang berdua. Seperti tadi, entah dari mana mereka. Alden melihat Kaleena turun dari mobil Aiden. "Gila nggak sih!! Gue sampai puding karena dia doang. Padahal udah enak hidup di apartemen, malah nyamar jadi babu. Dipikir bayaran gue kurang apa!!" omel Alden. Kevin tertawa. "Spesies kayak dia, nemu dimana sih? Gue baru tau ini Al, bini lo aneh daripada yang lain." "Gue aja nggak habis pikir. Pengen tukar tambah aja bawaanya." Kevin tertawa kencang mengambil satu batang rokok dari tempatnya. "Nggak cuma itu doang kan yang bikin lo semarah ini? Bukannya harusnya lo suka ya, bisa tinggal sama istri lo?" Alden diam sejenak. Mungkin jika orang lain akan suka, jika harus tinggal bersama dengan istrinya. Tapi kan Kaleena itu istri simpanan, Alden, tugas dia hanya mengandung dan melahirkan bayi untuk Alden. Setelah itu tidak ada tugas lagi setelah Alden bilang cukup!! Sayangnya, beberapa hari ini Alden benar-benar dibuat marah dengan Kaleena. Wanita itu sudah berani mengusik masa lalunya yang selama ini dia lupakan. Bahkan ketika Alden sudah hampir bisa melupakan wanita itu, dengan breng-seknya Kaleena malah mengingatnya kembali. "Masa lalu apa?" tanya Kevin penasaran. "Vanya. Dia nemuin foto Vanya di kamar gue." seketika itu juga Kevin langsung menatap Alden tidak percaya. -SecretWife- "Ini panci pantatnya item, masa bersihin gitu aja nggak bisa!! Kamu itu jadi anak muda kok payah banget!!" cetus Maria. Menggenggam sabun colek berwarna ungu, Kaleena beberapa kali meremasnya dengan gemas. Untung saja sabun ini masih terbungkus rapi, dan belum dia sobek ujungnya. Ditambah lagi, Maria yang mengomel hanya karena panci yang memiliki p****t gosong. Sejak lima belas menit yang lalu, Kaleena sudah menggosok p****t panci itu dengan sabun colek. Sedangkan p****t panci gosong itu juga tidak ingin glow up macam Kaleena. Menghabiskan hampir empat bungkus sabun colek, Kaleena pun menyerah dan meminta Maria sendiri yang membersihkan p****t panci itu. Dan yang ada, Maria malah mengomel sepanjang masa dan menganggap jika Kaleena tidak becus membersihkan p****t panci. Melihat kepergian wanita itu Kaleena pun geleng kepala. Kok ada sih wanita macam Maria, yang suka seenaknya tanpa memikirkan orang lain. Padahal jika di lihat di video yang sering dia lihat, masih membutuhkan beberapa bahan lagi untuk membuat p****t panci ini glow up. Sedangkan Maria hanya menyediakan sabun colek satu karton di bawah kaki Kaleena. "Mau beli satu pabrik kalau nggak ada baking soda, atau abu gosok juga nggak mungkin bersih Maemunah!!" gerutu Kaleena. Dia pun juga memilih untuk pergi. Lagian untuk apa juga dia lama-lama didapur. Yang ada, dirinya sudah seperti dapur pada umumnya. Duduk santai di gazebo, Kaleena mengeluarkan ponselnya. Pekerjaan rumah sudah beres, dan waktunya Kaleena untuk bersantai ria. Mumpung Maria tidak ada, yang jelas Kaleena masih memiliki waktu untuk bermain ponsel. Ketika ingin membuka game kesukaanya. Kaleena malah dikejutkan pesan masuk dari Alden. Yang meminta Kaleena datang ke kantor saat ini juga. Wanita itu berpikir jika Alden akan menceraikannya, dan memberikan pesangon. Karena selama satu bulan ini Kaleena belum hamil, dan uang yang diberikan Alden juga masih tersimpan rapi sih. Sayang banget kalau buat jajan. "Kenapa ya? Kok jadi penasaran!!" Wanita itu memilih pergi dari gazebo ke kamarnya. Mengambil tas kecil, dan juga mengganti bahunya. Barulah Kaleena keluar rumah ini dengan motor milik Aiden. Untung saja pria itu tidak meminta kembali kuncinya, dan yang jelas Kaleena bisa lah ya buat sunmori sejenak. Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, Kaleena pun sampai di kantor Alden. Dia pun segera masuk, jika dulu ada banyak orang yang melarang Kaleena. Nyatanya saat ini, jangankan larangan. Palingan jika berani dengan Kaleena pecat adalah pilih Alden. "Kamu ngapain manggil aku ke kantor? Ada penting?" ucap Kaleena ketika dia baru saja masuk ke dalam ruangan Alden. Pria itu mendongak menatap Kaleena masuk. Lalu pandangannya terarah pada banyak orang, yang ternyata ada di ruangan Alden. Tentu saja hal itu langsung membuat Kaleena meringis dan membungkung. Dia pun segera kabur dari ruangan ini, sebelum Alden berteriak kencang dan memaki dirinya. Pantry adalah pilihan Kaleena. Dia pun langsung duduk anteng dan meminta satu orang di pantry ini untuk membuatkan kopi s**u. "Haus banget Mbak. Boleh ya kopi s**u satu aja." kata Kaleena layaknya bos. Tapi … enak juga sih kalau jadi bos, bisa suruh orang sesuka hatinya. Macan Maria. "Nggak es aja Mbak? Kan haus, di luar juga panas. Masa iya panas minum panas." jawab salah satu diantara mereka. Kaleena menoleh, menatap kaca pantry ini dengan dahi mengernyit. Dia bahkan lupa jika di luar sana sangat panas. Tapi jika dia meminum es yang ada Kaleena akan sariawan. Sedangkan orang itu bilang, jika panas paling enak minum es, dan membuat tenggorokan Kaleena tidak akan haus lagi. Wanita itu memutuskan untuk dibuatkan satu gelas sirin dengan ice blast yang banyak, agar rasa segarnya tambah-tambah. Dan tentu saja orang itu langsung membuatkan satu gelas sirin strawberry, dengan ice blast yang banyak, dan dia suguhkan untuk Kaleena. Tentu saja wanita itu langsung memeluknya tanpa banyak bicara. Dan benar saja, ketika rasa dingin itu melewati kerongkongannya, Kaleena benar-benar merasa lega dengan hawa dingin sesaat itu. "Gila ya!! Enak banget!!" komentar Kaleena. Orang itu tersenyum. "Jelas dong. Lagian Mbak ini siapa? Kok bisa sampai nyasar ke pantry, pegawai baru ya? Divisi mana?" Kaleena menggeleng, dia bukan karyawan baru. Tapi dia datang karena perintah Alden. Dia adalah salah satu asisten rumah tangga di rumah Alden. Dan dia juga bingung tiba-tiba saja, Alden meminta Kaleena untuk datang ke kantor. Tapi orang itu ngeyel, karena melihat Kaleena masuk dengan membawa motor Aiden. Yang jelas Kaleena tidak mungkin sendiri kan datang kesini? "Saya sendiri Mbak. Itu motor saya pinjem." terang Kaleena. "Oalah … tapi kan bos lagi ada rapat. Itu pun juga lama selesainya." Mata Kaleena membulat seketika itu pun menatap orang itu dengan tidak percaya. Bahkan Kaleena juga sempat meminta orang itu untuk melanjutkan apa yang dia katakan. Tidak mungkin kan rapat macam itu menghabiskan waktu hingga satu hari? Bahkan Kaleena berpikir mungkin hanya beberapa menit saja dan semuanya selesai. "Jangan harap Mbak. Saya aja pernah lihat dapat di ruangan itu, orangnya masih sama kok. Yang dibahas juga sama, dan mereka membutuhkan waktu satu Minggu untuk mendapatkan jawaban yang finansial." jelas orang itu dan membuat Kaleena melonggi. Satu Minggu? Bukanlah waktu yang singkat tapi itu cukup lama dan akan membuat Kaleena mati kutu di tempat. -SecretWife- Kaleena pikir dia diminta datang buru-buru untuk apa. Taunya hanya untuk menemani Alden pergi ke Bali. Disana katanya, Alden ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal. Sedangkan Alden semdidi mengajak Kaleena, juga karena ide Kevin. Selain tidak lagi mengungkit tentang Vanya, Alden juga bisa menjauhkan Kaleena dari Aiden. Bukannya apa, seharusnya Aiden tahu batasan tentang dirinya dan juga Kaleena. Dan Alden juga tidak ingin, jika hal itu terjadi kembali. Cinta segitiga yang membuat Alden membenci hidupnya. "Kalau tau begini, kalau dari awal kamu bilang. Aku bisa …." "Silahkan … " pramugari itu memotong ucapan Kaleena, dengan menyuguhkan orens jus pada mereka. Dan juga beberapa snake yang harus mereka makan juga. Kaleena menatapnya tajam, pasalnya dia lagi berbicara dan dengan tidak sopannya pramugari itu datang dan langsung menyela. Setidaknya dia harus bilang dulu, permisi atau maaf agar mereka juga tahu jika Kaleena dan juga Alden membutuhkan ruang privasi untuk berbicara berdua. "Kamu tuh denger nggak sih aku ngomong apa!" seru Kaleena kesal. "Tau!! Kenapa!!" "Kenapa nggak bilang dari awal? Padahal kemarin malam baru mau ngusir aku, terus sekarang ngajakin ke Bali. Kamu maunya apa?" Alden menatap Kaleena dengan tatapan jengahnya. Semalam, dia memang membereskan baju Kaleena dan memasukkan ke dalam koper ya karena hal ini. Tapi yang ada wanita itu sama sekali tidak ingin mendengarkan Alden, dan memilih mengusir Alden dari kamarnya dan memilih tidur. Lalu letah kesalahan Alden dimana? Ketika dia ingin bilang saja, Kaleena langsung mengusirnya dan memilih tidur. "Dan itu bukan salah saya!! Kamu yang tidak memberi saya waktu untuk berbicara." kata Alden. "Kalau kamu bilang dari awal, ya mungkin aku juga nggak begini lah. Orang kamu nggak bilang kok." protes Kaleena. Dia paling tidak suka disalahkan. Karena menurut Kaleena di dunia ini hanya satu penyebab masalah, yaitu pria. Alden memutar bola matanya malas dan lebih memilih mengambil tablet dalam tas kecilnya. Lalu membaca beberapa email yang masuk dan membuat Kaleena penasaran. Sampai saat ini Kaleena belum tahu betul, apa alasan Alden menikahinya dan menginginkan anak. Padahal pria itu tidak memiliki cacat apapun, dia terlihat sangat tampan saat tidur, tubuh yang membuat Kaleena meneteskan air liurnya ketiak bersama, tatapan mata yang tajam dan hangat. Pekerja keras, kaya raya dan juga punya segalanya. Dan bahkan Kaleena berpikir jika pria itu bisa memilih calon istri yang sepadan, yang bisa membuat dia bahagia seumur hidupnya, dengan istri dan juga anak yang dia inginkan. Dan sekarang Kaleena benar-benar goyah akan hal ini. Bagaimana jika dia terlalu dalam mendalami perannya, dan membuat dirinya jatuh cinta dengan seorang pria bernama Alden Raphael Jonathan? Apa yang harus dia pikirkan? Dan apa yang harus dia lakukan? -To Be Continued-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD