Secret-06

2129 Words
"Leena tolong bersihkan kamar Al ya, tadi dia minta sama saya untuk memberitahu kamu." ucap Magdalena. "Iya Bu." "Orang baru lho Len, masa suruh bersihin kamar Al. Kamu kan tahu kamar itu banyak sekali berkas, Lagian Al kadang suka menaruh barang sembarangan." sahut Maria--Oma Alden . "Mami ini yang minta Al bukan aku. Oma kan tahu cucu pertama oma ini keras kepala." ucap Magdalena membuat Maria mengerti. Bukannya mengerti Maria terus saja mengomel jika itu bukan tugas Kaleena. Maria hanya takut kalau mendadak Kaleena khilaf dan mencuri di kamar Alden. Mana mungkin dia mencuri di kamar suaminya sendiri, jatah setiap bulan yang diberikan Alden juga cukup untuk hidup satu tahun kedepan. Mendengar hal itu Kaleena jadi kesal sendiri, dia pikir dia akan maling di rumah mertuanya? Yang benar saja!! Pergi adalah pilihan yang tepat, Kaleena juga tidak peduli kalau dia dicap pembantu tidak tahu sopan santun. Lagian itu nenek tua kalau ngomong suka nyakitin hati, kok betah sih Alden punya nenek kayak gitu. "Kaleena." Kaleena menoleh saat namanya disebut, dan ternyata Aiden masih berada di sekitar rumah. Padahal tadi, setelah Alden pergi dia juga ikut pergi. "Ucapan Oma jangan dimasukin hati ya, dia emang suka gitu orangnya, tapi baik kok." Ujarnya Baik dari mana!! Belum apa-apa saja membuat Kaleena kesal. Jangan sampai Kaleena darah tinggi karena ngurus itu Oma. Dengan senyum yang begitu manis, dan semanis gula Kaleena mengangguk. "Nggak papa kok den, lagian saya maklum sudah tua." Aiden menggaruk keningnya. "Iya, jadi agak sedikit bawel." Bukan sedikit tapi banyak, kayak gitu mah udah bawel banget ini masih pemula. Nanti kalau udah lama, mungkin Kaleena harus siap ngelus d**a banyak-banyak musuh dia. Tidak mau menimbulkan gosip, Kaleena pun langsung pergi ke dapur. Tapi yang ada Aiden terus saja mengikuti Kaleena hingga ke dapur. Bahkan Mbak Putri dan juga Mbok Asih yang ada disana pun langsung pergi. Melihat hal itu Kaleena jadi bingung sendiri "Den Aiden ngapain ikutin saya? Saya mau kerja den." Ucap Kaleena. "Ya kamu kerja aja, kan saya mau ambil minum." Mendadak Aiden jadi gugup di depan Kaleena. Ini pertama kalinya dia seperti ini, sebelumnya mana pernah seorang Aiden gugup dengan wanita. Tidak mau menanggapi Aiden, Kaleena langsung meneruskan acara cuci piringnya. Lalu mengambil roti selai dan juga membuat secangkir coklat panas. Sesekali Kaleena melirik Aiden yang sama sekali tidak pergi dari dapur. Bukannya risih, tapi lebih tidak enak saja kalau di lihat. Masalah Mbak Putri atau Mbok Asih sih tidak masalah. Tapi Oma? Yang ada hidup Kaleena dalam masalah. Karena tidak tahan ditatap oleh Aiden, akhirnya Kaleena pun menyerah dia pergi. Bukannya Aiden pergi juga, yang ada Aiden malah mengikuti Kaleena sampai di taman rumah ini, dekat dengan gazebo. "Aden kenapa ikutin saya sih? Nanti kalau Oma tau saya di marahin." ucap Kaleena akhirnya. "Sebenarnya saya mau minta tolong Kaleena sama kamu." ucap Aiden akhirnya. "Minta tolong apa den?" Aiden mendadak ragu, tapi kalau dilihat Kaleena tidak buruk juga untuk di pajang di sampingnya. Mengaku sebagai kekasih Aiden, atau mungkin mengaku sebagai calon istri Aiden. Itu lebih baik dibanding dia harus datang seorang diri. "Begini, teman sekolah saya hari ini tunangan. Saya diundang, acaranya sore kok. Kamu bisa nggak bantu saya, datang ke acara tunangan teman saya?" Jelas Aiden ragu takut kalau Kaleena akan menolak ajakannya. "Maksudnya saya datang ke acara tunangan teman aden sendiri? Yang benar saja den, kan saya juga nggak kenal." Aiden menepuk jidatnya, mana mungkin dia meminta Kaleena untuk pergi sendiri. Yang ada Kaleena juga akan pergi bersama dengan dia. "Nggak, maksud saya kamu pergi sama saya. Temenin saya datang ke sana dari pada saya datang sendiri." Jelas Aiden lagi. Kaleena mengangguk paham, dia pikir kalau Kaleena suruh datang sendiri. "Oh saya pikir, saya pergi ke agar sendiri den, dan udah mau nolak." Kekeh Kaleena Aiden tersenyum, itu tandanya Kaleena mau kan pergi bersama dengan dia? "Jadi kamu mau kan?" Tanya Aiden memastikan. "Iya den saya mau. Jam berapa acaranya?" "Acaranya jam tujuh malam, kita pergi jam empat sore saja. Saya sedikit malas jika banyak orang, dan ingin cepat pulang!!" Jelas Aiden dan membuat Kaleena mengangguk. -SecretWife- Setelah bernegosiasi dengan Aiden, Kaleena pun memilih pergi ke kamar Alden. Magdalena memaksa Kaleena untuk membersihkan kamar Alden. Katanya ini permintaan Alden, yang ingin setiap hari Kaleena membersihkan kamar Alden. Dan kali ini Kaleena berada di kamar Alden, manatap berapa luasnya kamar suaminya yang mungkin akan membuat Kaleena betah lama-lama di dalam sana. Ruangan ini cukup luas dan bersih, debu atau baju yang di atas tempat tidur pun tidak ada. Lalu apa yang harus dibersihkan Kaleena? Mungkin saja Alden sengaja, dia menginginkan Kaleena untuk istirahat dari pekerjaanya. Makanya dia beralasan jika pria itu menginginkan Kaleena untuk membersihkan kamar Alden. Akhirnya Kaleena memutuskan untuk merebahkan dirinya di ranjang milik Alden. Memejamkan matanya, untuk mengusik rasa lelahnya. Tapi belum juga dia terlelap tiba-tiba saja pintu kamar ini terbuka, dan langsung membuat Kaleena bangkit dari rebahan nya dengan tergesa-gesa. "Alden…." Kaleena menghela nafasnya lega, dia pikir Oma atau mungkin Magdalena yang masuk. "Kamu kenapa?" Tanyanya dengan dahi berkerut, tanda dia bingung dengan sikap Kaleena. "Kaget tau, aku pikir Oma atau nggak Mami kamu." dengus Kaleena dan kembali menyebarkan dirinya di atas tanpa tidur Melihat hal itu Alden tersenyum kecil. Dia pun melonggarkan dasinya, dan mendekati Kaleena. Ditatap nya wanita itu yang memejamkan matanya tanpa beban. Alden tahu wanita itu sangat lelah dengan pekerjaan rumah. Padahal kalau dilihat dia lebih enak tinggal di apartemen dibanding harus tinggal bersama dengan dia di rumah ini. Alden mengurung tubuh Kaleena dengan kedua tangannya, kepalang menunduk mengecup bibir Kaleena singkat, syarat dengan sesuatu yang saat ini dia inginkan. Merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya, Kaleena membuka matanya lebar-lebar dia pun menatap Alden yang ternyata sudah berada di atasnya. Mata Kaleena mengerjap beberapa kali dan mendorong tubuh Alden, tapi pria itu tak bergeming sama sekali dari atasnya. "Al…" "Saya menyuruh kamu untuk membersihkan kamar saya bukan tanpa sebab," Alden kembali mengecup bibir Kaleena beberapa kali, walaupun tidak ada lumatan tapi Kaleena tahu jika suaminya ini menginginkan sesuatu dari dirinya. "Saya menginginkan hal ini sekarang dan di kamar saya." Ujarnya. Seakan tahu apa yang akan dilakukan Alden, Kaleena pun langsung mendorong tubuh Alden untuk bangkit dari atasnya. Lalu melirik sejenak ke arah pintu mamat ini, takut-takut kalau Mami-nya atau mungkin Oma datang dan memergoki Kaleena dengan posisi seperti tadi. Atau mungkin Oma-nya akan mengira kalau Kaleena adalah w************n. "Besok-besok aja deh Mas, atau nggak nanti malam kalau aku mood." Tolak Kaleena. Bukannya apa dia belum siap jika di unboxing di kamar Alden sendiri. Mana ini siang, dan takutnya ada orang ganggu kan nggak enak. Apalagi pas klimaks, udah mau keluar tapi nggak jadi. Ibarat udah bagus tapi nggak bisa minum, sakit, seret dan kawan-kawan nya. "Kamu nolak saya." Alden menatap Kaleena heran, baru kali ini dia ditolak dan itu adalah Kaleena istrinya sendiri. "Nggak nolak Mas, ini masih siang aku nggak mau pokoknya." "Terus ada masalah kalau siang?" "Ada!!" Kaleena menjauh cepat dan menunjukkan pintu kamar Alden, dan hal itu langsung membuat Alden menatap menatap Kaleena heran. "Aku nggak mau ya pas klimaks tiba-tiba ada orang gedor-gedor. Mending tahan dulu sampai nanti malam, baru perang bikin bayi kayak yang kamu minta." Ujarnya. Alden menegakkan tubuhnya dan duduk tegak di samping Kaleena. "Baru kali ini saya ditolak, dan itu kamu." Dengannya Kaleena tertawa kecil dia pun mengedikkan bahunya lalu pergi. Lagian tidak ada yang harus dia kerjakan, kamar suaminya ini sudah rapi dan bersih. Kaleena pikir mungkin besok dia akan membersihkan, dan merawat apapun yang menjadi barang suaminya. -SecretWife- Sore harinya Kaleena telah siap dengan gaun yang dibelikan oleh Aiden. Entah pria itu tiba-tiba saja mengirim sebuah gaun dan juga stiletto pengeluaran terbaru dan diyakini Kaleena jika harganya sangat mahal. Buktinya stiletto dan gaunnya sangat nyaman dipakai. Merasa siap dengan riasan nya, Kaleena keluar dari pintu samping. Wanita itu tidak ingin berdebat dengan wanita tua yang terus saja mengomel sepanjang masa. Kaleena mengendap-endap dan menenteng stiletto nya, jangan sampai menimbulkan suara apapun. Hingga akhirnya dia pun sampai di samping rumah, dan ternyata Aiden sudah menunggunya disana. Dengan nafas terengah, Kaleena lu melempar separinta di samping mobil Aiden. "Itu stiletto kenapa nggak dipakai?" Tanya Aiden bingung. Mengambil stiletto dan memakainya di kaki Kaleena "Ehh…" Pekik Kaleena yang kaget dengan tingkah Aiden. Dia pun menarik kakinya, tapi yang ada kakinya malah di tarik Aiden dan terus memakaikan stiletto itu. Aiden menegakkan tubuhnya dia pun menatap wajar Kaleena dengan seksama. Meneliti riasan dan juga cara berpakaiannya. Tidak ada yang kurang, tapi mampu membuat Aiden terpesona dengan dia. Merasa diperhatikan Kaleena menatap dirinya sendiri dari ujung kaki, hingga bercermin di kaca mobil Aiden. Dia hanya takut saja kalau tiba-tiba Aiden marah atau mungkin merasa malu dengan dirinya. "Den Aiden….." Seru Kaleena saat beberapa kali dipanggil tapi tidak menunjukkan respon. Aiden gelagapan dia pun menatap Kaleena heran, "Ya kenapa Kal?" Tanyanya. "Harusnya saya yang tanya. Aden kenapa melamun? Lihatin saya kayak gitu? Ada yang salah sama make-up saya?" Cerocos Kaleena. "Sorry Kal, nggak kok, nggak ada yang salah." Jawabnya sambil tersenyum Aiden membukakan pintu mobilnya dan meminta Kaleena untuk masuk, dan dirinya pun mengitari mobilnya dan duduk di kemudi. Di dalam mobil Aiden pun menjelaskan, jika Kaleena hanya boleh memanggil pria itu dengan nama tanpa ada embel-embel. Dan disana pun Aiden akan menganggap Kaleena adalah kekasihnya, jadi Aiden berharap jika menyentuh tangan Kaleena wanita itu tidak akan marah. Sesampainya di acara Aiden dan Kaleena pun turun dari mobil. Hal pertama yang Kaleena lihat adalah bangunan mewah yang diyakini Kaleena adalah hotel bintang sepuluh. Jalan masuk ke lobby hotel pun juga dipasang karpet merah. Bukan main yang tunangan pasti orang kaya, acara tunangan semewah ini apalagi nanti pas nikah? "Kal ayo masuk." Ajak Aiden dan membuat Kaleena mengangguk. "Den lain kali panggil Leena aja." Sejak dulu Kaleena memang paling risih kalau dipanggil dengan sebutan Kal. Semua teman dan keluarga panti dulu memanggil Kaleena dengan sebutan Leena. "Iya, Leena." Aiden langsung mengandung tangan Kaleena untuk masuk ke Ballroom hotel setelah mengisi daftar nama tamu. Memang masih sepi, karena acaranya malam dan Aiden sedikit ada urusan jadi dia datang lebih awal. "Aiden…" Pria itu menoleh saat namanya dipanggil. Ditatap nya wanita yang sudah bermake-up tebal menghampirinya. Bahkan tanpa malu wanita itu langsung mencium pipi Aiden. "Aku pikir kamu nggak mungkin datang." Ujarnya. "Aku pasti datang, kan udah janji. Selamat ya semoga langgeng sampai hari H." Wanita itu memang atap Aiden sedih, lalu mengajak Aiden untuk berbicara empat mata. Dan tinggallah Kaleena seorang diri disini seperti orang bodoh. Ini yang paling dibenci Kaleena jika diajak di pesta orang yang tak dikenal. Apalagi sampai ditinggal seperti ini. Karena penasaran, Kaleena pun mengikuti langkah kaki yang menuju ke lorong sepi. Mendadak Kaleena merinding sendiri. Dia jadi ingat cerita podcast yang menceritakan tentang hantu yang masih gentayangan di hotel. Atau arwah-arwah gentayangan yang bunuh diri dan teras di hotel. Tapi mana mungkin hotel semewah ini untuk ajak bunuh diri? Setan pun juga mikir kalau mau mampir sini. Langkah kaki Kaleena terhenti saat dia mendengar suara seperti seseorang ditabrakkan di pintu. Lorong ini mencapai batas tapi, masih memiliki sedikit ruangan kosong, mungkin tempat untuk bersantai. Seperti biasa Kaleena melepas stiletto nya dan mulai mengintip. Hal pertama yang dia lihat adalah Aiden yang memepet dan mulai mencium wanita itu dengan membabi buta. Lebih parahnya lagi wanita itu seakan tidak menolak saat Aiden menciumnya. "Gila ini parah banget, itu cewek udah punya tunangan tapi…." Sekali lagi Kaleena menatap lorong itu dan sudah tidak menemukan siapapun. "Lah kok nggak ada.." Peliknya histeris. "Cari siapa?" Ucap seseorang tepat di belakang Kaleena. "Cari Aiden tadi dia ciuman sama yang punya acara." Ucap Kaleena tanpa sadar dan masih terus menatap sekeliling lorong ini dan tidak menemukan siapapun. Hingga akhirnya Kaleena pun menoleh, niat hati ingin bertanya dimana Aiden. Tapi melihat pria yang bersandar di dinding hotel ini membuat kedua bola Kaleena hampir saja lepas dari tempatnya. "Aiden…." Pekik Kaleena dan membuat Aiden tersenyum. "Tadi kamu kenapa cium dia. Kamu kan tau dia udah punya tunangan!!" "Dari pada aku cium kamu?" "Cium aku?" ucap Kaleena menirukan ucapan Aiden. Mendengar hal itu Aiden pun mendekat, mengurung tubuh mungil Kaleena dengan kedua tangan kekarnya. Hal pertama yang dilihat adalah bibir mungil yang dibalut dengan lipstik berwarna coklat. Aiden menunduk tepat di depan bibir Kaleena, "Kamu yang minta…," ujarnya tersenyum penuh kemenangan. Kaleena masih bingung mencerna ucapan Aiden. Siapa yang minta, dan apa yang diminta? Belum sempat Kaleena protes dengan ucapan Aiden. Dia sudah lebih dulu merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya. Awalnya Kaleena kaget, dia sempat mendorong tubuh Aiden. Tapi belum tenaganya tak cukup kuat saat Aiden menggenggam tangannya. Hingga yang dilakukan Kaleena hanyalah pasrah dan menikmati ciuman Aiden yang melembut dan membuat dirinya terbuai. Astaghfirullah kamu berdosa dek. -SecretWife- udah tanggal 1 ternyata... up malam ya hehe
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD