Secret-09

2006 Words
Seperti biasa setiap pagi Kaleena harus menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Dan hampir setiap pagi juga, Kaleena harus melihat satu piring yang masih tengkurap dan belum dibuka. Siapa lagi jika bukan piring Alden. Mendadak pria itu bilang, jika dia harus keluar kota kemarin malam selama satu minggu. Pekerjaannya tidak bisa ditinggal sama sekali. Maklum saja, dia pemegang kantor pusat sedangkan Aiden hanya kantor cabang. Yang dimana kinerja kerjanya juga sangat berbeda. Alden yang terlalu serius, sedangkan Aiden yang terlalu santai tapi optimis. "Selamat pagi Leena." sapa Aiden tersenyum manis. "Den Aiden selamat pagi juga." sapa balik Aiden. "Pembantu kok di selamat pagiin!!" cibir Maria. Kaleena melirik tidak suka, tapi ketika Maria menatapnya Kaleena langsung merubah ekspresinya dengan senyum bahagia. Begitu juga dengan Aiden yang malah menahan tawanya, dengan perubahan wajah Kaleena. Kalau saja Aiden di posisi seperti itu, tentu saja dia akan menunjukkan mimik wajah yang mirip dengan Kaleena. "Leena nanti siang tolong antarkan makan siang ke kantor saya ya. Hari ini jadwal saya penuh, saya tidak bisa makan siang di luar." kata Aiden. "Biar Oma aja yang anterin. Dia mana ngerti, masuk ruangan bagus takutnya mual!!" Sial!! Wanita tua itu benar-benar minta di racun!! Aiden menggeleng dia meminta Oma untuk tetap di rumah. Lagian Oma kan sudah tua, dan tidak bisa bepergian jauh. Jika Kaleena kan masih muda, dia masih bisa mengendarai motor untuk pergi ke kantor Aiden dengan cepat. Maklum jika jam makan siang, yang jelas jalanan ibukota akan ramai dan macet. Itu sebabnya Aiden meminta Kaleena pergi ke kantornya mengendarai motor saja jangan mobil. Awalnya Maria juga mengomel dan tidak setuju dengan ucapan Aiden. Tapi Paul lebih dulu menyela, dan meminta Maria untuk tidak mengurusi urusan cucunya. Lagian Aiden itu sudah besar, dia tahu mana yang baik untuk ya atau tidak. Dia juga sudah mengambil keputusan bukan? Harusnya Maria itu tidak terlalu mengekang atau melarang Aiden untuk melakukan hal apapun. Aiden bukan lagi anak kecil yang tidak boleh melakukan ini, dan harus menuruti apa kemauan Maria. Ingat, dia juga memiliki keputusan dan juga pilihan sendiri. Kita sebagai orang tua harusnya mendukung, bukan malah mencegah. "Benar itu!!" seru Kaleena tanpa sadar. Maria menatap Kaleena tidak suka. Dia pun meletakkan pisau makannya dan langsung meneguk s**u tulangnya. "Apa kamu bilang? Apanya yang benar!!" Dengan ekspresi yang menyebalkan Kaleena pun menggelengkan kepalanya. Setelah itu barulah Kaleena kabur ke dapur sebelum nenek sihir tua itu kembali mencermatinya dengan panjang lebar. Melihat sikap Kaleena yang aneh, Putri pun langsung menepuk bahu Kaleena dan membuat wanita itu terjingkat kaget. Sanking kagetnya, dia sampai berteriak kecil di dapur. "Mbak Putri ngagetin aja!!" teriak Kaleena mengusap dadanya. "Habisnya kamu ngapain lari-lari masuk ke dapur? Ada apa sih? Kamu buat masalah lagi ya?" tuduh Putri sambil menunjuk Kaleena. "Enak aja nuduh. Nggak ya, aku nggak buat masalah." "Terus ngapain lari?" Kaleena pun memberitahu Putri jika di meja makan, Aiden meminta Kaleena untuk mengantar makan siangnya. Tapi Maria menolak, dan memilih Maria yang akan mengantar makan siangnya. Terus Aiden menolak, karena dia ingin Kaleena yang datang dengan membawa motor. Dia tahu jika jam makan siang pasti jalanan ibukota akan macet. Dan yang lebih hebohnya lagi, Paul langsung menyela dan mengingatkan Maria. Jika kedua cucunya itu sudah besar, dan sudah bisa memutuskan apa yang menurut kedua cucunya itu benar dan salah. Lagian mereka juga tidak seharusnya hidup di bawah Kungkungan Maria. Mereka juga memiliki kebebasan dan juga pilihan tersendiri. Tidak harus Maria yang terus memilihkan. Nah, mendengar ucapan Paul tadi, Kaleena lepas kendali jika dia membenarkan ucapan Paul. Tentu saja Maria marah mendengar seruan Kaleena. Dan membuat Kaleena langsung pergi menuju dapur dengan berlari kecil. Rasanya Kaleena trauma jika harus mendengar ocehan Maria yang panjang kali lebar, dan tiada ujungnya sama sekali. Putri tertawa kecil. "Dasar gila!! Kamu itu suka banget bikin Oma marah." "Dih, bukan aku ya. Dianya aja tuh yang suka marah-marah nggak jelas. Nggak ingat umur sama sekali. Nggak tau ya, suka marah bisa menyebabkan penyakit jantung." "Malah ngedoain." "Amin!!" -SecretWife- Menatap motor sport di depannya membuat Kaleena bingung. Bahkan wanita itu sampai mencari motor bebek yang mudah digunakan. Sayangnya Kaleena tidak menemukannya sama sekali. Magdalena yang mengetahui kebingungan Kaleena pun menghampirinya. "Kenapa Leen?" tanyanya. "Eh Ibu … ini nggak ada motor bebek ya? Adanya cuma motor ini aja ya?" Magdalena menatap garansi mobilnya dan tidak menemukan motor lain selain motor Aiden. Bahkan jika diingat ini motor, pas jamannya Aiden masih sekolah dan kuliah. Motornya saja masih awet sampai sekarang, dan sang pemiliknya pun tidak menjualnya walaupun ada banyak orang yang menawarnya untuk dibeli. "Nggak ada. Cuma itu motor satu-satunya di rumah ini. Dan milik Aiden. Kenapa?" Kaleena cemberut bagaimana bisa dia mengantar makanan pada Aiden. Jika dirumah saja motornya Segede gaban. Iya kalau makanannya tidak semrawut, jika semrawut dan jadi satu kan rasanya sudah tidak enak lagi. Magdalena meminta Kaleena untuk memesan satu taksi online. Atau mungkin ojek online, tapi yang ada wanita itu langsung menolaknya. Lagian sayang duit kalau buat pesen ojek online dua kali. Mending duitnya buat beli es atau mungkin makanan pinggiran jalan. "Yakin apa Leen? Nanti … " "Nggak papa deh Bu, pakai ini saja. Saya mau ke dalam ganti baju, takut den Aiden nungguin." Magdalena mengangguk kecil dan menatap Kaleena pergi dari hadapannya. Dia masih ingat ucapan Aiden kemarin, yang tiba-tiba saja meminta restu pada Magdalena. Awalnya Magdalena ingin menolaknya, tapi yang ada menatap wajah merengek Aiden membuat Magdalena tidak tega. Mungkin itu sudah keputusan dan juga pilihan Aiden, bukannya kata Paul seorang ibu itu hanya bisa memberi restu dan menyetujui apa yang kedua anaknya inginkan? Itulah yang saat ini Magdalena lakukan, dia tidak akan melarang apa yang kedua anaknya inginkan. Wanita itu juga tidak memandang status dan juga tahta, selama hal itu bisa membuat kedua anaknya bahagia Magdalena bisa apa? "Ibu …. " Kaleena menepuk bahu Magdalena dan membuat wanita itu terjingkat kaget. Dia pun langsung menatap Kaleena yang sudah siap di sampingnya. "Ibu ngapain masih ada disini? Kok nggak masuk? Cuaca panas loh Bu." cerocos Kaleena. "Ini saya mau masuk. Kamu perginya hati-hati ya." "Iya Bu. Tapi boleh minta nomor ponselnya den Aiden ndak buk? Takutnya, saya sampai sana makah ndak boleh masuk." Dengan tertawa kecil Magdalena pun memberikan nomor ponsel Aiden pada Kaleena. Dan dia benar-benar dibuat terkejut dengan ponsel Kaleena yang hampir mirip dengan ponselnya. "Ponsel kamu bagus juga." puji Magdalena dan membuat Kaleena mendelik sempurna. Hal sekecil ini saja, Kaleena lupa. Jika ponsel yang digunakan juga dibelikan oleh Alden. "Sudah sama berangkat. Hati-hati ya Leena." Kaleena mengangguk kecil, untung saja dia juga pernah bisa menaiki motor. Coba saja jika tidak, mungkin Kaleena akan frustasi hanya karena motor. Meninggalkan pekarangan rumah ini, dengan mengendarai motor milik Aiden pelan. Sesekali Kaleena bersenandung kecil, sudah lama juga ya ternyata Kaleena tidak menghendaki motor seperti ini. Angin sepoi-sepoi dan juga cuaca panas menyengat di kulit Kaleena. Padahal dia sudah mengenakan baju panjang dan tertutup. Tapi tetap saja cuaca panas ini mampu menyengat kulitnya. Hampir setengah jam, Kaleena pun sampai di depan kantor Aiden. Wanita itu langsung berjalan ke arah ke arah lobi kantor, dan nyatanya Kaleena langsung di stop oleh satpam. "Kenapa sih Pak? Saya mau masuk. Mau ketemu sama Aiden." kata Kaleena bersikeras. "Tapi Mbak kalau nggak ada janji sama Pak Aiden ya nggak boleh masuk." Kaleena berdecak kesal, dia pun mendorong satpam itu untuk segera masuk. Tapi yang ada satu satpam lagi keluar dari dalam kantor dan langsung menangkap Kaleena. Meminta wanita itu untuk pergi dari lingkup kantor. "Pak jangan sampai, saya bikin Bapak keluar ya dari kantor ini!! Ayo minggir saya mau masuk." Sampai suara Kaleena putus pun, dua satpam itu tak bergeming. Dia tetap menahan Kaleena dan meminta wanita itu untuk pergi. Karena kesal dengan sikap dua satpam, akhirnya Kaleena pun mencoba menghubungi Aiden. Panggilan pertama tidak ada jawaban sama sekali. Tapi Kaleena tidak menyerah dan masih menghubungi Aiden. Bahkan sampai panggilannya ke lima kali, nyatanya Aiden juga sama sekali tidak menerima panggilan teleponnya. Ini yang terakhir!! Jika Aiden tidak menerima panggilan teleponnya, Kaleena akan pulang dan tidak mau mengantar makan siang Aiden lagi besok-besok. Disisi lain Aiden yang kesal terus saja ditelepon nomer baru pun langsung mengumpat dengan keras. Dia pun terpaksa menelan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinga kirinya. "Hallo!!" bentak Aiden kesal. "Buset dah den ngegas amat!!" kekeh orang itu dan membuat Aiden heran. "Siapa sih!! Ganggu aja!!" "Ella den. Ini saya Kaleena. Saya di bawah den, nggak bisa masuk. Lebih tepatnya sih nggak dibolehin masuk kalau nggak ada janji. Aden bisa jemput saja ndak sih di bawah?" "Oh Kalee … " Aiden menghentikan ucapannya ketika dia sadar jika dia meminta Kaleena mengantarkan makan siang untuknya. "Leena tunggu sebentar, saya akan turun." katanya kembali dan berlari keluar ruangan. Bisa-bisanya Kaleena ditahan dan tidak diperbolehkan masuk. Apa mereka tidak tahu, jika Kaleena datang untuk membawa makan siang Aiden? Sesampainya di bawah semua orang menunduk patuh, apalagi wajah Aiden yang terlihat sangat marah membuat semua orang menyingkir dengan sendirinya. Menyadari kehadiran Aiden, Kaleena pun langsung mendekat dan menunjuk dua satpam itu dengan kesal. "Tuh … mereka, yang nggak ngebolehin aku masuk. Pecat aja tuh!!" adu Kaleena kesal. "Tapi Pak saya hanya menjalankan tugas. Jika tidak ada janji siapapun tidak diperbolehkan ketemu sama Bapak Aiden." jelas salah satu satpam itu dan membuat Kaleena tidak suka. "Kalian … " Aiden menghentikan ucapannya ketika tangan Kaleena menarik tangan Aiden dan membawanya pergi. Rugi juga kalau harus bertengkar dengan mereka. Tapi yang ada Aiden langsung menepis tangan Kaleena lembut dan menghampiri dua satpam itu. "Ingat baik-baik!! Jika kalian berulah kembali, dan melarang wanita itu untuk tidak boleh masuk ke kantor saya. Kalian tanggung sendiri akibatnya!!" ujar Aiden. "Den Aiden ayo masuk!!!" teriak Kaleena dan membuat Aiden menghela nafasnya berat. Baru kali ini ada satu wanita yang berani, meneriaki nama Aiden sekencang ini dan di depan banyak orang banyak. Sungguh!! Nyalinya luar biasa. -SecretWife- Kaleena cemberut ketika satu hari ini Aiden menahannya di kantor Aiden. Dan nyatanya Kaleena berpikir jika ini hanyalah akal-akalan Aiden saja, untuk bisa bersama dengan Kaleena. Dia itu sadar tidak, jika Kaleena adalah kakak iparnya? "Aden bosen … ini kalau Oma tau pasti ngamuk." kata Kaleena merengek. Dia sudah seperti bayi yang akan merengek pada ibunya. "Aiden … bukan Aden." ralat Aiden dengan kepala yang menunduk kebawah. Pria itu fokus dengan file dan juga satu tangan yang memainkan bolpoinnya. "Tapi kan … " "Aiden … Leena." sela Aiden cepat. Kaleena menghela nafasnya berat. Dia pun merubah posisi duduknya sambil menatap Aiden jengah. "Iya … iya … Aiden ayo pulang." Aiden menutup filenya. Dia pun bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri Kaleena. Lebih tepatnya, duduk di samping Kaleena sambil menepuk puncak kepala Kaleena. Tentu saja wanita itu langsung menepis tangan Iaden dengan kasar. Peduli setan jika tangan pria itu akan sakit, Kaleena benar-benar tidak peduli. Bukannya marah, Aiden malah tersenyum kecil. Ini masih jam tiga sore, tentu saja Aiden juga belum bisa pulang cepat. Ditambah lagi, Aiden juga harus pulang tepat jam lima sore. Jadi mereka masih memiliki waktu dua jam di kantor ini dan tidak bisa ditinggal. "Tau gini mending tadi makannya aku titipin satpam." dengus Kaleena. "Jadi intinya kamu nggak mau satu hari ini saja sama aku?" tanya Aiden. Bukannya tidak mau. Kaleena mau jika dirinya belum menikah dan menghabiskan waktu bersama dengan Aiden. Tapi dia harus pulang, jika tidak Oma pasti akan marah-marah pada Kaleena. Mendengar kata Oma entah kenapa mendadak Aiden langsung tidak suka. Wanita itu suka sekali mengatur hidup Aiden dan juga Alden. Dan nyatanya mereka lebih suka hidup di luar dibanding harus satu rumah dengan wanita tua itu. "Dia itu bawel sekali. Kemarin tumbuhannya mati aku yang di salahin. Padavak ya, aku udah bilang kalau nggak ada pupuk akan cepat mati." dumel Kaleena dan membuat Aiden tertawa. "Namanya juga orang tua." "Aku punya orang tua juga nggak gitu-gitu banget. Selalu mendukung apapun yang aku lakukan." sahut Kaleena cepat. Alden tersanjung dengan ucapan itu. Dia pun meminta Kaleena untuk mempertemukan dirinya dengan kedua orang tua Kaleena. Sayangnya, wanita itu langsung menolak mentah-mentah sehingga membuat Alden kecewa. "Aiden ayo pulang." kata Kaleena merengek. "Baiklah … kita pulang." jawab Aiden sambil mencubit hidung Kaleena gemas. -SecretWife-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD