“Akhirnya aku bisa ketemu sama kamu juga Leena. Sumpah ya, kangen banget aku sama kamu.” pekik Tiara teman satu-satunya Kaleena dan langsung memeluknya.
Satu minggu sudah Kaleena tinggal bersama suaminya sebagai pembantu, dia bahkan banyak sekali menerima komplain dari Maria. Yang mengatakan jika Kaleena tidak becus dalam bekerja. Padahal dari awal Magdalena bilang, jika Kaleena hanya fokus dengan memasak selain itu bukan lagi pekerjaan Kaleena. Tapi yang ada, bukan hanya masak yang kaleena lakukan. Pekerjaan kebun pun Kaleena lakukan juga demi Maria. Tiga hari yang lalu tanaman yang baru saja ditanam oleh Kaleena, yang disuruh oleh Maria pun mati. Dari awal Kaleena sudah bilang jika tanah ini harus diberi pupuk dulu, agar tanaman itu bisa hidup dan berkembang biak. Bukannya mendengar, maria malah mengomel dan mengatai jika Kaleena adalah bocah kemarin sore. Sekarang giliran tanamannya mati, Kaleena juga yang di salahin.
Ternyata hal itu tidak terjadi pada Kaleena saja. Dulu sebelum kaleena masuk ke rumah ini sebagai pembantu baru, banyak pembantu yang keluar dari rumah ini karena tidak sanggup dengan ucapan Maria. Kalau saja Kaleena tidak mengikuti Alden suaminya, sudah dipastikan jika Kaleena juga tidak ingin seperti ini. Hidup menimpuh di bawah kaki Maria, walaupun dia itu nenek dan paling tua. Setidaknya Maria memberikan contoh yang bagus, tidak malah mengeluarkan kata-kata pedas untuk orang yang derajatnya jauh di bawahnya.
“Sabar Leen, cobaan banget nenek tua itu.” kata Tiara.
“Tapi aku nggak betah Tiara. Gila ya, hampir tiap hari makan ati terus perkara dia doang.”
Tiara meminta Kaleena untuk terus bersabar, mungkin ini memang jalannya. Jika dia harus memiliki nenek mertua yang galak dan jahat. Setidaknya dia harus memberikan Alden anak lebih dulu, barulah kaleena bisa pergi dari rumah itu dengan damai. Wanita itu juga mminat Kaleena untuk cepat hamil, dengan hamil Kaleena bisa saja mengerjai wanita tua itu untuk menuruti apapun yang Kaleena mau. Bukannya orang hamil, jika ngidam tidak boleh dibantah ya?
Ide Tiara tidak buruk juga, jika hal itu dirasakan Kaleena ketika pernikahan mereka secara resmi. Sedangkan saat ini, pernikahan Kaleena hanya pemberkatan saja tidak lebih. Jadi dia tahu Kaleena hamil, yang jelas orang itu tidak akan percaya dengan ucapan kaleena karena tidak memiliki bukti sama sekali.
“Alden nggak mungkin diam aja kan?”
“Nggak tau deh, aku juga bingung kenapa dia ngajakin nikah begini amet. Padahal kalau nikah sah di depan gereja juga nggak masalah kan kalau kontrak? Aku hamil, punya anak kasih ke dia terus cerai? Itu jauh lebih bagus, daripada jadi istri simpanan begini.” dengus Tiara.
Sebenarnya tidak ada yang bagus jika masih ada Maria, yang jelas sah atau tidak ya tetap saja Kaleena akan di bentak dan diperlakukan sama seperti saat ini. Jalan satu-satunya ya Kaleena hamil, Alden mengakui jika Kaleena hamil karena dirinya. Semua masalah selesai, dan Kaleena akan diperlakukan dengan baik pula.
“Nggak tau deh. Jangan bahas lagi, aku ketemu kamu buat happy bukan buat bahas masalah rumah tangga. Bisa pusing beneran aku kalau musuh nenek tua itu.”
Tiara tertawa kecil, dia pun langsung menarik tangan Kaleena untuk masuk ke sebuah mall baru. Mall ini baru dibuka satu minggu yang lalu, tapi tore yang ada di dalamnya juga sudah lumayan banyak. Bahkan ketika Tiara melewati mall ini, tak ada kata sepi sama sekali. Itu sebabnya karena penasaran juga, Tiara pun mengajak Kaleena untuk pergi shopping. Setidaknya dengan begini Kaleena bisa melupakan sedikit masalah hidupnya.
Dasarnya kaleena itu suka sekali dengan belanja, dan duit dari Alden juga tidak pernah dipakai sama sekali. Siang ini Kaleena ingin sekali pergi ke salon, belanja banyak dan juga membeli beberapa tas branded dengan harga kw premium. walaupun punya suami kaya raya, pemilik beberapa perusahaan, bukan berarti Kaleena harus royal ya. Dia harus memikirkan tagihan bulanan dan juga masa depannya ketika tidak lagi bersama dengan Alden.
“Bikin dia jatuh cinta, biar nggak jatuh miskin.” cetus Tiara.
“Setelah aku pikir-pikir, nggak jadi!! Aku trauma beneran kalau punya nenek mertua kayak Maria, nyeremin dan takut khilaf.”
Tiara menoleh bingung. “Khilaf kenapa?
“Khilaf kalau aku nggak sadar terus bunuh dia!!”
Entah pemikiran dari mana, tapi memang itu yang ada di pikiran Kalena beberapa hari yang lalu. Dia ingin membeli racun dan dia campur di makanan Maria, racun yang kalau bisa langsung membuat Maria tewas seketika. Jangan sampai membuat wanita itu sekarat lebih dulu, karena nanti hidupnya akan lebih lama lagi.
Mendengar hal itu Tiara pun tertawa kecil, temannya ini benar-benar gila jika harus memikirkan hal itu. Tiara juga sempat menawarkan racun yang bisa dibeli di toko-toko biasa. Dimana racun ini bisa langsung membunuh orang dalam hitungan detik. Racun yang biasanya dibuat untuk membunuh ikan di sungai.
“Asal kalau masuk penjara ya kita berdua.” kekek Kaleena.
“Enak aja. Nggak lah. Kamu aja, aku jangan.”
Kaleena menolak, dia memang yang memiliki ide. Tapi kan Tiara juga membantu Kaleena dalam hal ini. Itu sebabnya, jika Kaleena masuk penjara, maka Tiara juga harus masuk penjara. Setidaknya, di dalam penjara Kaleena masih memiliki teman untuk bergosip ria. Mereka pun mengakhiri obrolan konyol itu, dan memilih berkeliling mall. Tapi panggilan dari arah belakang, membuat kaleena menoleh cepat dan menatap siapa yang tengah memanggilnya.
“Kaleena … “
-SecretWife-
Dengan cemberut Kaleena pun duduk di samping Aiden. Ya, pria yang memanggilnya tadi adalah Aiden. Dimana pria itu katanya, ada urusan penting dengan pemilik mall ini, dengan alasan kerjasama dengan pemilik malla. Bahkan Aiden juga menjelaskan, jika kaleena dan juga Tiara adalah salah satu teman Aiden yang suka sekali belanja. bahkan Aiden juga mempromosikan beberapa toko yang bagus, jika mereka ingin blanja. Dan langsung membuat Kaleena geleng kepala, masalahnya pilihan Aiden itu bisa saja membuat kaleena dan juga Tiara mati berdiri di depan mall.
Tadi saja, Kaleena sempat mengintip harga kaos putih dengan gambar macam, dibandrol dengan harga tiga juta. padahal Kalena berpikir jika kaos itu harganya cuma ratusan ribu saja, taunya malah nyekik leher Kaleena dan juga Tiara. Tentu saja di depan Aiden, Kaleena maupun Tiara tidak jadi shopping, selain harganya mahal store yang mereka pilih juga store pilihan selebgram, jadi seratus persen Kaleena dan juga Tiara tidak akan mampu membelinya kembali.
Tidak hanya di situ, Aiden juga mengajak Kaleena untuk menonton bioskop. Mereka juga tidak hanya berdua, karena Kaleena sendiri juga tidak ingin timbul fitnah, jika Alden mengetahui hal ini. Wanita itu juga mengajak Tiara kemana pun wanita itu pergi bersama dengan Aiden. Kaleena tahu, jika Aiden itu baik ngajakin Kaleena keliling mall dan melihat banyak tempat yang juga toko yang bagus. Mungkin karena masih opening makanya masih fresh-freshnya,
“Setelah ini kita makan ya, aku lapar.” bisik Aiden tepat di telinga kanan Kaleena.
Wanita itu menoleh cepat menatap Aiden yang sudah merengek. “Sekarang aja. Aku juga lapar.” jawab kaleena berbisik pula.
“Tapi filmnya belum selesai.”
Film ngebosenin begini mah, selesai atau tidak Kaleena juga tidak peduli. Sejak tadi kaleena itu ingin sekali pergi dari tempat ini. Filmnya membuat kaleena mengantuk, bahkan ketika melihat Tiara dia malah menemukan wanita itu tertidur pulas selama film di mulai.
“Tuh liat … dia aja sampai tidur.” kata Kaleena menunjuk Tiara.
Aiden tertawa kecil, dia pikir jika melihat film romantis mereka akan semakin dekat lagi, tidak sebagai atasan dan bawahan. Tapi sebagai teman atau mungkin sahabat. Nyatanya, Kaleena bukan tipe wanita yang suka hal-hal romantis. Aidn meminta Kaleena untuk membangunkan Tiara, mereka harus segera pergi dari gedung ini, Aiden sudah sangat lapar dan dia harus segera makan, sebelum maagnya kambuh. Jika tidak … tidak hanya Magdalena yang marah tapi juga dengan Maria. Sudah cukup, jika wanita tua itu terus saja mengomel sepanjang masa dan melarang apapun yang Aiden dan juga Alden lakukan.
“Apaan sih Leen … aku masih ngantuk.” Tiara menepis tangan Kaleena yang mencoba membangunkannya. Tapi bukannya bangun, Tiara malah memunggungi Kaleena dan memilih tidur,
Dengan kesal Kaleena pun mengambil air minumnya dan dia siram sedikit ke wajah Tiara aga wanita itu membuka matanya. Dan benar saja, jika wanita itu membuka matanya dan langsung menatap Kaleena tajam.
“Apaan sih!! Main siram aja jadi orang, bajuku basah Leena!!” teriak Tiara tanpa sadar.
Semua pengunjung langsung menempelkan tangannya pada bibir mereka masing-masing, tanda jika Tiara maupun Kaleena harus diam. Ini gedung dan mereka menikmati film yang tengah diputra. Tapi karena malu dengan sikap Tiara, tentu saja Kaleena langsung menarik tangan wanita itu untuk keluar gedung bersama dengan Aiden.
“Leena lepasin!!” teriak Tiara kesal dan menarik tangannya secara kasar.
“Den Aiden lapar!! Mau ikut makan atau nggak? Kalau nggak pulang sono kamu!!” seru Kaleena.
Dengan cemberut sambil merapikan rambutnya Tiara pun menganggukan kepalanya kecil “Mau. Yaudah ayo makan. Dimana tapi?”
“Lantai empat kayaknya banyak resto. Kita kesana saja.” jawab Aiden dan membuat dua orang itu mengangguk setuju.
-SecretWife-
“Begini kalau pembantu nggak tau asal usulnya, belum di kasih libur kok malah main ndak pulang-pulang.” omel Maria.
Magdalena yang mendengar pun hanya mampu menghela nafasnya berat. Ibu mertuanya itu selalu saja banyak bicara, banyak mengatur dan apapun yang dilakukan semua orang selalu salah. Yang benar hanya dia saja tidak ada yang lain. Magdalena juga pernah meminta suaminya untuk membeli rumah sendiri, tapi yang ada dua orang itu tetap saja mengikuti Magdalena dan juga suami. Sebenarnya dia itu tahu tidak, jika Magdalena tidak betah jika harus satu rumah sama dia?
"Nanti aku bilangin ke dia." jawab Magdalena.
"Kamu itu jadi majikan yang tegas, kalau bisa pembantu itu juga harus takut dan patuh sama kamu. Biar nggak seenaknya, lagian dia kerja juga dibayar kok malah keluyuran. Mau makan gaji buta apa!!"
Tidak mau mendengar omelan Maria, Magdalena pamit pergi. Dia mau liburan atau keluyuran kemanapun juga urusan dia. Lagian Kaleena itu juga manusia kan? Dia juga membutuhkan hiburan, apalagi dia baru saja ditinggalkan suaminya. Yang jelas banyak beban yang dipikirkan Kaleena, ditambah lagi jika kedua orang tua Kaleena tahu jika anak perempuannya ditinggalkan suaminya hanya karena status sosial. Pasti sangat menyakitkan.
Membuka pintu utama rumah ini, Magdalena menatap mobil Aiden yang baru saja memasuki lingkup rumah. Wanita paruh baya itu ingin menghampiri Aiden. Tapi dia malah dikejutkan oleh Kaleena yang keluar dari mobil Aiden, dan sesekali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Makasih ya den, udah dikasih tumpangan." kata Kaleena lirih.
"Sama-sama. Jangan lupa mandi sana."
"Iya. Aden juga … jangan lupa mandi. Kan tadi habis meeting."
Aiden tersenyum mendapat perhatian dari Kaleena. Memainkan kunci mobilnya, dan meminta Kaleena masuk lewat pintu belakang. Yang ada Aiden malah dikejutkan oleh Magdalena yang berdiri di ujung tangga.
"Mama ngapain disitu?" tanya Aiden gugup sambil menggaruk tengkuk lehernya, yang diyakini Magdalena tidak gatal sama sekali.
"Ngapain? Cari udara segar lah," kekeh Magdalena. Dia pun menarik telinga Aiden sehingga membuat pria itu meringis kesakitan. "Kamu habis darimana sama Kaleena? Itu Oma kamu ngomel-ngomel terus, Mama pusing dengernya."
Aiden menepis tangan Magdalena dengan lembut. Lalu menceritakan apa yang terjadi, jika dia bertemu dengan Kaleena di mall siang tadi. Lebih tepatnya tidak sengaja, Aiden yang baru saja selesai melihat-lihat situasi mall dan juga membahas sesuatu. Lalu ketika Aiden bosan dan ingin pulang, dia malah melihat Kaleena masuk ke dalam mall bersama dengan temannya. Ya sudah, daripada dia bosan sendiri mengelilingi mall yang besar itu. Aiden pun mengajak Kaleena dan juga temannya untuk mengikutinya mengelilingi mall ini.
Tidak hanya di situ, Aiden juga menceritakan jika Kaleena tidak jadi belanja baju ketika melihat harga baju yang katanya, hampir mencekik lehernya. Padahal Aiden sudah berbaik hati ingin membelikannya baju atau apapun yang Kaleena mau. Nyatanya, wanita itu malah menolaknya dengan alasan nanti jika dia memiliki uang banyak, dia akan membelinya tanpa hutang dulu pada Aiden.
Magdalena tersenyum tulus mengusap kepala anaknya dengan sayang. "Dia gadis yang baik bukan?"
Aiden akui Kaleena wanita yang baik. Jarang lah ya Aiden menemukan sosok wanita seperti itu. Dulu, Aiden juga pernah menggandeng satu wanita jika dibilang mau belanja apa, Aiden yang belanja. Ya ada wanita itu langsung menguras habis kartu ATM Aiden. Sedangkan Kaleena, dipaksa pun wanita itu sama sekali tidak minat.
Melirik Magdalena yang masih berdiri di sampingnya, Aiden pun mendekat dan berbisik. "Mah … kalau Leena yang jadi pacar Adik, Mama restui nggak?"
-SecretWife-