F5

1307 Words
2 tahun kemudian Madrid, Spain Diaz sangat sibuk dengan berkas berkas kantornya. Dengan jeli matanya membaca satu satu persatu laporan yang ada di mejanya untuk memastikan tak ada yang salah. Tok tok tok "Masuk" ucap Diaz tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas berkas itu "Brother sampai kapan kau akan seperti ini terus Hem? Selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan kantormu?" Ucap Axel, teman Diaz yang selalu dianggap nya sebagai penganggu. "Ayolah, setidaknya sehari saja lepaskan berkas berkas itu dan pergilah berlibur" "Aku tidak ada waktu" balas Diaz acuh Axel menghela nafasnya. Ia kasian pada kawannya ini yang berusaha keras untuk melupakan seseorang dari masa lalunya dengan cara kerja gila seperti ini. Tak ada hari tanpa bekerja. Bahkan kantornya kini berubah menjadi rumahnya. "Diaz.. setidaknya pedulikan perasaan Lexi" ucap Axel. Diaz langsung berhenti membolak-balik laporan yang ia pegang. Ia menatap ke arah Axel. "Lexi tidak pernah complain soal kesibukan ku di kantor" ucap Diaz. " Memang. Karena ia tau meskipun ia mengeluh padamu tetap saja kau akan gila kerja. Dan jadinya Lexi lebih memilih untuk diam" ucap Axel. Diaz masih diam menatap Axel dengan tatapan entahlah apa itu. Axel menghela nafasnya "Buat apa kau menjadikannya kekasihmu jika kau tidak pernah menganggapnya ada? Apa hanya sebagai status saja? Apa hanya untuk pelarian dari masa lalumu?" "Aku tidak bermaksud seperti itu. Memang, aku tidak mencintai Lexi, tapi aku tidak ada niat untuk menjadikannya sebatas status apalagi pelarian. Aku ingin menjalin hubungan yang serius dengannya" jelas Diaz "Menjalin hubungan serius tanpa cinta maksudmu?" Axel tertawa hambar "Cinta akan datang karena terbiasa" "Memang tapi itu hanya akan terjadi jika kau membuka hati. Tapi jika kulihat kau sama sekali tak membuka hati untuk siapapun. Pemilik hatimu masih sama. Yaitu dia, orang dimasa lalunya" "Aku sudah berusaha" "Kalau begitu buktikan. Jangan hanya diam disini" ucap Axel. Diaz menghela nafasnya. Ia kembali membuka halaman selanjutnya dari laporan yang ia pegang tadi. "Memangnya apa yang harus kulakukan?" Tanya Diaz dengan malas "Temui lexi, dan ungkapkan keinginanmu" Diaz menghela nafasnya. Ia menutup berkas itu dan meletakkannya di atas meja kerjanya. Diaz mengambil ponselnya dan menghubungi kontak bernama "my girl". Bukan Diaz yang memberikan nama itu, namun Lexi yang tak lain kekasih Diaz saat ini yang memberikan nama itu diponsel Diaz untuk kontaknya. "Halo" sapa Diaz " Halo Diaz. Ada apa?" "Kau dimana?" "Aku ada di tempat pemotretan. Kenapa memangnya?" "Apa masih lama?" "Tidak. Aku sedang menghapus make up ku sekarang. Dan bersiap untuk pulang" "Aku akan menjemputmu" "Benarkan Mr. Orlando? Waahh ada apa ini? Kenapa kau tidak cuek padaku sepeti biasanya Hem?" "Tak apa. Aku rasa tidak seharusnya aku terus terusan cuek padamu. Karena kau adalah..." Ucap Diaz terjeda. "Aku adalah????" Tanya Lexi meminta penjelasan. "Kau adalah orang yang selalu mengerti diriku" Axel yang mendengar itu menepuk keningnya karena kesal dengan Diaz. "Hahaha... Kau ini bicara apa sayang. Bukankah memang seharusnya seperti itu? Baiklah aku tunggu kedatanganmu. Bye bye my sweet heart" "Bye" Tut Sambungan telfon terputus. Diaz segera mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan Axel yang terperangah melihat kelakuan Diaz. "Derita punya kawan gagal move on ya gini nih" dumel Axel sambil memutar mutar kursinya. Diaz sudah sampai di studio tempat Lexi melakukan pemotretan. Diaz menunggu Lexi di sofa yang berada di loby studio itu. Tak lama setelah kedatangannya, ada seorang pria yang tiba dan duduk di sampingnya. Diaz tak memperdulikan keberadaan orang itu. Ia tetap fokus pada ponselnya. Diaz sedang membuka aplikasi i********: nya yang entah sudah berapa lama tidak aktif. Diaz melihat lihat story dari orang orang yang diikutinya. Hingga ia sampai pada instastory milik Lexi.  K emudian saat akan bergeser ke instastory selanjutnya. Pria di samping Diaz mengajaknya berbicara sehingga Diaz mengalihkan pandangannya ke orang itu. "Menunggu seseorang?" Tanya pria itu "Ya" "Siapa?" "Kekasihku" balas Diaz. Pria itu tersenyum. "Apa dia model disini?" "Iya dia salah satu model di sini. Kau?" "Oh aku juga menunggu kekasihku. Dia juga ada pemotretan disini. Dia baru ditempat ini" "Oh ya? Apa sebelumnya dia ada di tempat lain?" "Ya kami dari indonesia" Diaz hanya menganggukkan kepalanya saja. Mendengar kata Indonesia ia teringat wanita itu lagi. Diaz tersenyum miris. Tanpa ia sadari sejak tadi ponselnya masih menyala dan terus menampilkan instastory dari orang orang yang ia ikuti. Dan ada satu foto yang dia lewatkan. Foto yang berasal dari instastory milik Lexi yang sebenarnya akan membuat Diaz terkejut dan mungkin tak percaya. "Diaz..." Panggil Lexi saat ia sudah tiba di loby itu. Diaz langsung berdiri dan tersenyum pada Lexi. Namun Lexi malah langsung memeluknya. "Menunggu lama?" "Tidak" "Syukurlah. Ayo kita pulang. Apa kau mau makan atau bagaimana?" "Kau belum makan siang bukan?" Tanya Diaz. "Em... Belum" "Baiklah. Kita akan memasak saja. Aku bosan makan masakan diluaran sana" ucap Diaz. Lexi tertawa. "Oke. Kita akan memasak. Ayo" Lexi menggandeng tangan diaz. Sebelum pergi Diaz menundukkan kepalanya sebentar pada pria tadi yang masih diam sebagai tanda pamit. Sedangkan Lexi tersenyum pada pria itu. Lexi dan Diaz sudah berada di dalam mobil. Dan tak lama dari itu mobil Diaz sudah meninggalkan area studio foto itu. "Lama menunggu" ucap wanita yang baru saja tiba di loby itu dan menemui pria yang tadi duduk di samping Diaz. Kemudian wanita itu duduk di samping pria itu. Pria itu tersenyum. "Tidak sayang. Aku baru saja datang" ucap pria itu. Wanita itu tersenyum. Kemudian ia sibuk dengan ponselnya. "Apa kamu lapar Hem? Mau beli dimanam" Tanya pria itu. "Emma tidak Dipta. Aku sedang tidak ingin makan. Aku hanya ingin duduk sebentar. Kakiku capek" ucap wanita itu yang tak lain adalah Agatha. Ya, Agatha Putri Arya yang kini sudah menjadi model sukses untuk majalah majalah fashion besar. "Baiklah. Kita duduk disini saja dulu" ucap pria bernama Dipta itu. Agatha tersenyum. Dipta terus memperhatikan Agatha yang sibuk dengan ponselnya. Tangannya terulur untuk menyelipkan rambut Agatha ke belakang telinganya.  "Kamu cantik" ucap Dipta sambil tersenyum pada Agatha. Agatha hanya membalasnya dengan senyum tipisnya. Ia jadi ingat pada seseorang dimasa lalunya. Seseorang yang masih belum bisa ia lupakan. Diaz. "Tadi ada orang yang menunggu rekanmu. Katanya dia adalah kekasihnya" cerita Dipta. "Mungkin kekasihnya Lexi. Setahuku hanya dia yang memiliki kekasih" ucap Agatha "Apa kamu tidak?" Tanya Dipta menatap dalam ke arah Agatha. Agatha bergerak gelisah. Kemudian ia tersenyum tipis. Dipta menghela nafasnya. Ia menyandarkan punggung di sofa itu. "Aku tau kamu belum bisa melupakannya" "Maaf" lirih Agatha. Dipta tersenyum. "Tidak perlu. Kamu sudah berusaha, dan aku masih betah untuk menunggu cinta kamu. Bagiku dengan kamu mengakui hubungan kita saja itu sudah membuatku bahagia Agatha" ucap Dipta. Agatha merasa jika ia jahat pada Dipta. Ia menjadikan Dipta sebagai pelariannya. Padahal, meskipun mereka sudah kenal sejak kecil tak ada sedikitpun cinta Agatha untuk Dipta. Semuanya hanya untuk Diaz , untuk orang yang sudah tak ada lagi di genggamannya. Agatha memeluk dipta. Ia memejamkan matanya. Sungguh ia merasa sangat bersalah. Apalagi saat Dipta selalu sabar menunggu cintanya yang mungkin tak akan pernah tiba. Dipta mengelus rambut panjang Agatha. Ia menatap lurus ke depan. Cinta sendirian itu menyakitkan. Namun Dipta tak pernah memaksa Agatha untuk bisa mencintainya. Bagi Dipta jalani saja apa yang ada saat ini. Kruk kruk kruk Agatha langsung mengurai pelukannya dan memukul pelan lengan Dipta sambil tertawa. Ia harus aja mendengar suara perut Dipta yang minta diisi itu. "Hahaha.. oh astaga itu suara perut keroncongan. Kenapa tidak mengatakan jika lapar " ucap Agatha masih tertawa. Dipta menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Katanya kamu masih mau duduk istirahat disini. Yasudah. Aku diam saja" "Astaga Dipta kamu ini. Ya sudah ayo kita pergi. Aku juga mulai merasa lapar. Cuss" Agatha bangkit dari duduknya. Begitu pula dengan Dipta. Mereka meninggalkan tempat itu dengan cepat karena Dipta sudah tak tahan dengan rasa laparnya. Siapa yang tau takdir Tuhan? Tidak ada. Kini mereka sudah berdekatan. Mungkin sebentar lagi takdir tuhan akan membawa mereka untuk bertemu kembali. Mengulang kisah yang telah lama usai. Mungkinkah? . . . . . .. . . . . . . . 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD