F7

1327 Words
Dipta memperhatikan Agatha yang duduk melamun dan terus memandang keluar jendela. Tentu Dipta tau apa yang ada dipikiran Agatha. Dapat ia pastikan jika Agatha sedang memikirkan Diaz. Karena Agatha jadi lebih banyak diam setelah bertemu dengan Diaz lima hari yang lalu.  Agatha juga melakukan pemotretan lebih cepat dari biasanya. Jika biasanya ia bisa bertahan dengan berpose didepan kamera selama empat jam sampai lima jam, kini ia hanya berada di depan kamera selama satu atau dua jam saja. Ia tidak ingin melakukan pemotretan terlalu lama dengan alasan lelah atau tidak ada mood. Padahal Dipta tau jika ia sedang menghindari seseorang disana. Peristiwa bertemunya Agatha dan Diaz di rumah sakit waktu itu berakhir dengan kepergian Agatha tanpa mengatakan sepatah katapun. Bahkan ia meninggalkan Dipta disana. Sedangkan Diaz juga hanya diam memandang kepergian Agatha. "Tha ga bosen di apartemen terus?" Tanya Dipta dan sudah duduk di samping Agatha. Agatha menoleh dan tersenyum "Emang mau kemana? Aku lagi ga ada jadwal pemotretan" "Emang ga ada atau kamu yang nolak?" Tanya Dipta dengan sebelah alis terangkat. Agatha menyengir kuda "Aku minta libur. Capek tau" ucap Agatha dengan memajukan bibirnya lucu. Dipta mencubit bibir itu dengan gemas "Aww Dipta sakit" ringis Agatha sambil memegangi bibir merahnya "Biarin, salah sendiri kenapa akhir akhir ini bibir kamu kurang senyum gitu" ucap Dipta dengan senyum tipis.  Agat ha menundukkan kepalanya "Maaf" lirih Agatha "Buat?" Tanya Dipta. "Karena aku ngingkarin janji aku ke kamu untuk selalu tersenyum. Tapi Dipta, untuk beberapa hari ini aku merasa ketika aku tersenyum, senyum itu hanyalah palsu belaka. Aku tidak tersenyum dengan tulus" ucap Agatha menatap dalam mata Dipta "Kenapa?" "Karena hati aku gelisah, gelisah karena kehadirannya" ucap Agatha dengan jujur pada akhirnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Dipta mengelus puncak kepala Agatha dan membawanya dalam dekapannya. "Dipta aku ga mau kayak gini, aku mau hilangin rasa ini, aku pengen bebas dari dia, aku ga mau terbebani lagi oleh perasaan ini. Sungguh mencintai dia, adalah beban yang sangat berat buat aku" lirih Agatha. Suaranya terdengar mulai bergetar. Dipta terus mengelus puncak kepala Agatha dan sesekali mengecupnya "Kalau memang beban, lepaskan" ucap Dipta "Selama ini aku udah mencoba. Andai aku bisa memilih dengan siapa aku akan jatuh cinta" Dipta diam. Ia tersenyum miris mendengar perkataan Agatha "Andai memang seperti itu, aku tidak akan memilih mu sebagai tempat hatiku untuk berlabuh. Karena aku tau dari awal kita tidak ditakdirkan bersama. Aku hanya bertugas untuk menjaga mu sampai kamu menemukan orang yang memang ditakdirkan Tuhan untukmu selamanya" batin Dipta. Mereka akhirnya sama sama diam. Sibuk dengan pikiran masing masing. "Pengen es krim" ucap Agatha menguraikan dekapan Dipta. "Mau beli?" Tanya dipta. Agatha mengangguk. Dipta berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Agatha berdiri. "Yuk beli" Dipta menggenggam tangan Agatha untuk keluar apartemen. Namun Agatha menahannya "Kenapa?" Tanya Dipta. "Aku mau ganti baju dulu. Malu pakai baju panda gini" "Gapapa kelihatan lucu imut imut gimana gitu" ucap Dipta dengan sok manis "Dipta!!! Jijik " "Hehehe.. iya iya. Yaudah sana buruan ganti. Aku tunggu sepuluh menit kalau belum selesai ganti aku masuk kamar kamu dengan paksa, ga peduli kamu udah pakai baju atau lagi naked" "Mesum!!" Ucap Agatha dengan berlari menuju kamarnya. Dipta tertawa melihat hal itu Tentu saja dia tidak akan melakukannya karena Dipta masih tau batasannya. Dipta memilih menunggu di sofa ruang tamu saja sambil memainkan ponselnya. *********** "Kita kok berhenti disini?" Tanya Agatha dengan heran saat melihat tempat yang ada di depannya ini "Disini aja ya, sekalian aku mau ketemu sama teman teman aku" "Emang disini ada jual es krim?" Tanya Agatha mengingat tempat ini biasanya digunakan untuk party dan pastinya tidak jauh dari yang namanya alkohol atau minuman semacamnya "Ada dong. Mangkanya masuk dulu, nanti aku kenalin sama temen aku" Agatha akhirnya menurut dan mengikuti Dipta untuk masuk ke sana. Saat pertama kali masuk tempat ini seperti cafe cafe pada umumnya namun saat Dipta membuka salah satu pintu disana terlihatlah sebuah lapangan besar yang terdapat banyak sekali orang disana. Di tengah tengah lapangan itu terdapat sebuah panggung untuk Dj. Beberapa orang terlihat sedang menari mengikuti alunan musik DJ dan beberapa sibuk berbincang bincang dengan rekan rekan mereka. "Bagaimana?" Tanya Dipta pada Agatha "Tidak seburuk yang aku pikirkan" "Memang apa yang ada dipikiran kamu?" "Pesta alkohol dan wanita berpakaian minim" ucap Agatha dengan polos. Dipta tertawa "Mana mungkin aku membawamu ke tempat seperti itu. Sudah ayo kita cari temanku" Agatha dan Dipta berjalan lebih ke tengah. Dan akhirnya mereka bertemu dengan Bryan teman Dipta. "Dipta!! Hello brother.." sapa Bryan sambil memeluk Dipta secara jantan. "I am fine. Kau?" "Baik tentu saja. Dan hei siapa wanita cantik ini?" Tanya Bryan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Agatha. Agatha hanya tersenyum tipis "Jangan macam macam Bryan" peringat Dipta. Bryan tertawa "Tenang. Aku tau dia milikmu, aku hanya bercanda. Kau Agatha kan?" Tanya Bryan. "Ya. Kau tau namaku?" "Tentu, siapa yang tidak tau tentangmu. Seorang model andalan di beberapa majalah fashion ternama. Putri satu satunya dari Mr. Artha Surya pengusaha sukses dari Indonesia yang sudah berkembang diberbagai negara. Dan kakakmu yang merupakan kepala kepolisian di seattle" jelas Bryan panjang kali lebar. Agatha tertawa kecil sedangkan Dipta memutar bola matanya jengah. "Aku benar bukan?" "Ya sangat benar" ucap Agatha. Kemudian mereka terlibat perbincangan panjang. Lebih tepatnya Bryan dan Dipta. Agatha yang merasa mulai bosan dan lelah berdiri akhirnya mengedarkan pandangannya untuk mencari barang kali ada tempat untuk duduk disana. Namun yang ia lihat tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.  Agatha melihat disana ada Diaz yang sedang berbincang dengan teman temannya. Dan sesekali Diaz minum dari gelas yang ia bawa itu. Untuk sejenak Agatha diam memperhatikan paras tampan Diaz yang sebenarnya sangat ia rindukan. Kemarin saat ia bertemu di ruang sakit Agatha tidak dapat menikmati indahnya pahatan wajah milik Diaz karena ia sibuk dengan perasaan terkejutnya yang sudah campur aduk itu. Agatha sadar dari lamunannya. Ia harus segera pergi dari sana. Diaz tidak boleh tau keberadaannya disana atau ia akan terjebak lagi oleh masa lalunya. "Dipta aku kesana dulu ya" "Ngapain?" "Beli es krim" "Iya bentar ya nanti aku temenin" "Ga usah kamu sama Bryan aja dulu. Aku sendiri gapapa" "Beneran?" "Iya Dipta." "Kalau ada apa apa langsung telfon aku" "Oke" Agatha pun pergi dari sana dan menuju ke tempat indoor. Agatha memilih duduk di salah satu kursi yang ada di pojokan cafe itu. Agatha belum memesan apapun. Ia sudah tidak nafsu makan. "Ini dimakan" ucap seseorang sambil meletakkan semangkuk es krim di meja Agatha. Agatha melihat es krim itu. Es krim coklat chocochip dengan toping marshmellow , biskuit coklat dan wafer. Benar benar favorit Agatha. "Makasih dip...." Ucapan Agatha terhenti saat ia melihat siapa orang yang memberikan es krim itu. Diaz sudah duduk di kursi depan Agatha sambil tersenyum tipis padanya. "Ayo dimakan. Nanti keburu leleh. Katanya ga enak kalau leleh" ucap Diaz. Agatha hanya diam menatap Diaz. "Kak Diaz ngapain disini?" Tanya Agatha. Diaz menghembuskan nafasnya sambil menyandarkan punggung nya di kursi yang ia duduki. "Tadinya aku mau pulang. Tapi tiba tiba aku lihat ada cewek duduk di pojokan, sendirian dan kelihatan melamun. Apalagi baju nya putih gitu. Serem" ucap Diaz  Agatha msih diam. Memperhatikan wajah Diaz yang ada di depannya ini. Hingga ia sadar jika Diaz sedang menyindirnya "Dih.. kamu juga pakek baju putih" ucap Agatha menunjuk baju Diaz dengan dagunya. "Eh iya. Wah kok bisa samaan gini sih. Wah jangan jangan kamu udah ngikutin aku dari rumah ya?" Ucap Diaz melantur "Apaan coba. Aku aja gatau kamu tinggal dimana" "Wah berarti kalau gitu emang bener dong. Kita emang anak panti yang karena baju kita sering banget samaan. Ya kan?" Tanya Diaz. Mereka tertawa. Mengingat lelucon yang pernah di lontarkan agastya saat melihat Diaz dan Agatha memakai baju couple. Padahal pada dasarnya agastya hanyalah cemburu. Seketika tawa mereka hilang saat sudah sadar dengan siapa mereka tertawa. Agatha kembali menundukkan kepalanya dan perlahan menyendok kan es krim itu ke mulutnya. Sedangkan Diaz emperhatikan Agatha dengan serius. "Tha..." "Iya kak?" Tanya Agatha menaikkan pandangannya.  " I Miss you so bad" ucap Diaz. Agatha diam terpaku disana.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD