F12 21+

1350 Words
"Apa yang kalian lakukan semalam?" tanya Lexi menatap ke arah agatha. Seketika semua hening Diaz maupun Agatha tentu saja terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Lexi barusan "Maksud kamu?" Tanya Diaz. "Maksud aku, kok kamu bisa ketemu Agatha semalem" jelas Lexi dan spontan membuat Diaz dan Agatha bernafas lega. "Em.. semalem aku mau ketemuan sama Exel di tempat biasanya. Tepi jalan utama lagi macet banget, jadi aku lewat jalan itu dan ya.. ga sengaja ketemu" jelas Diaz. Agatha hanya diam saja. Lexi mengangguk anggukkan kepalanya. Sebenarnya pertanyaan itu lebih tepatnya soal apa yang dilakukan mereka semalam dalam satu ranjang? Kenapa mereka tidur bersama? Haruskah Diaz menemani Agatha yang saat ini terlihat baik baik saja? "Oh ya, kamu ga kekantor?" Tanya Lexi "Aku ada meeting penting hari ini" "Kalau gitu kamu siap siap sana gih" ucap Lexi. Diaz mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya. Kini menyisakan Agatha dan Lexi disana. Mereka sama sama diam dan melanjutkan menikmati makanan masing masing. "Kamu ga ada pemotretan?" Tanya Lexi "Hari ini aku ga ada agenda" ucap Agatha. "Wahh sama dong, gimana kalau kita jalan jalan gitu" ajak Lexi. Agatha tampak berfikir, kemudian ia mengangguk dan tersenyum "Sip, tapi jangan bilang ke Diaz nanti aku kena renungan malam" ucap Lexi. Agatha terkekeh kecil. Lexi dan Agatha melanjutkan acara makan mereka lagi, dan sesekali mereka terlibat perbincangan yang membuat mereka tertawa bersama. Meskipun acara makanan mereka sudah selesai mereka tetap disana menikmati waktu bersama. Hingga tanpa mereka sadari Diaz yang sudah siap dengan setelan kantornya diam diam memperhatikan mereka dari balkon lantai dua rumahnya.  ************ 22.15 Agatha melambaikan tangannya saat mobil Lexi meninggalkan area rumah Diaz. Mereka baru saja selesai berbelanja seperti rencana mereka tadi. Lexi langsung berpamitan pulang setelah mengantarkan Agatha kembali ke rumah Diaz, alasannya ia takut terkena renungan Diaz karena terlalu asik berbelanja. Pintu utama rumah Diaz terbuka, membuat langkah Agatha yang sedang menaiki tangga menuju teras rumahnya terhenti. "Kamu kemana aja tha, aku nyariin kamu dari tadi" ucap Diaz dengan raut wajah khawatir. Agatha melanjutkan langkahnya dan kini ia sudah berdiri didepan Diaz. "Aku habis shopping sama Lexi" ucap Agatha. Diaz menghela nafasnya. "Kenapa ga bilang ke aku dulu, aku khawatir sama kamu" ucap Diaz dengan nada tegasnya. Agatha diam menundukkan kepalanya "Please tha jangan buat aku hampir gila lagi dengan cara kayak gini. Kalau mau kemana mana bilang sama aku, aku pasti ijinin kok" Agatha mengangguk pelan. Kini ia sudah mirip dengan gadis kecil yang sedang dimarahi oleh ayahnya karena terlalu lama bermain. "Yaudah masuk" ucap Diaz sambil melangkah mundur untuk memberikan Agatha ruang untuk melangkah masuk rumahnya. Agatha melangkah cepat menuju kamarnya. Jujur ia kesal dimarahi oleh Diaz seperti itu. Dan Diaz tau jika Agatha sedang marah padanya. Agatha menutup pintu kamarnya dengan keras. Diaz melihat hal itu hanya menghela nafasnya saja. Agatha langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang. Barang belanjaannya tergeletak tak berdaya di lantai. Agatha sudah tak peduli lagi dengan barang barangnya. Perlahan kantuk mulai menghampirinya. Agatha pun menuju ke alam mimpinya tidak memperdulikan orang yang memanggil manggil namanya dari balik pintu kamarnya. "Tha... Kamu udah makan? Makan dulu ya. Jangan marah tha.. maaf aku tadi khawatir banget sama kamu, mangkanya aku marah sama kamu. Maaf ya. Tha..." Diaz terus berceloteh namun tak ada balasan dari Agatha. Diaz memutar kenop pintu Agatha dan ternyata tidak dikunci. Diaz melihat Agatha yang sudah tertidur dengan posisi tengkurap di ranjangnya. Bahkan Agatha belum melepas sepatu yang ia kenakan. "Kebiasaan" guman Diaz. Diaz melepas sepatu yang dikenakan Agatha. Kemudian ia membenarkan posisi tidur Agatha, menjadi terlentang dan kepala tepat di atas bantalnya. Diaz menarik selimut untuk menutupi tubuh Agatha hingga sebatas dada. Ia mengusap kening Agatha kemudian mengecup kening itu dengan sayang. Membuat Agatha bergerak kecil dalam tidurnya. Diaz memutuskan untuk keluar dari kamar Agatha dan membiarkan wanita itu istirahat dengan tenang. Sebelum keluar Diaz tidak lupa mematikan lampu kamar Agatha. Karena ia tau kebiasaan Agatha yang tidur dalam gelap. *********** 02.47 Agatha menggeliat dalam tidurnya. Perlahan kedua matanya terbuka. Ia melihat sekeliling dan sedikit terkejut saat melihat posisi tidurnya sudah benar. "Perasaan aku tadi asal tidur. Apa kak Diaz ya yang benerin posisi aku?" Guman Agatha. Agatha bangkit dari tidurnya. Tenggorokannya terasa kering, ia akan mengambil minum di dapur. Lampu lampu sudah padam. Agatha berjalan perlahan dalam kegelapan, takut tersandung atau salah melangkah. Saat sampai di dapur Agatha langsung membuka kulkas dan mengambil air mineral disana. Agatha menuangkan air itu ke gelas dan meneguknya. "Terbangun karena haus?" Tiba tiba terdengar suara itu membuat Agatha terbatuk batuk karena terkejut. Diaz memukul mukul pelan punggung Agatha agar batuk nya segera reda. "Maaf" ucap Diaz. "Tak apa" balas Agatha. Mereka saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Diaz bisa merasakan nafas Agatha yang memburu mengenai lehernya. Agatha tak bisa bergerak mundur karena atau ke arah lain karena punggung sudah menempel di kulkas dan Diaz mengurung tubuhnya. Diaz sedikit menunduk dan kini wajah mereka pun sejajar. Dalam gelap,mata mereka saling bertatapan. Perlahan tangan Diaz membelai pipi Agatha membuat nafas Agatha tercekat merasakan sentuhan Diaz. Diaz semakin memajukan wajahnya dan detik berikutnya bibir Diaz sudah menempel dibibir Agatha. Mata mereka sama sama terpejam. Hanya menempel untuk beberapa saat kemudian Diaz memberi jarak lagi antara bibirnya dan Agatha. "Kak Diaz..." Lirih Agatha dan menurunkan pandangannya. "Maaf untuk yang tadi. Aku khawatir itu sebabnya aku marah padamu"ucap Diaz. Agatha menatap mata itu. "Kenapa kamu mengkhawatirkan ku?" Tanya Agatha dengan sangat pelan namun masih bisa didengar oleh Agatha. "Karena aku mencintaimu, dan hati ku tidak tenang jika mata ini tidak melihat mu dan telinga ini tidak mendengar kabarmu" ucap Diaz. Wajahnya menghirup dalam ceruk leher Agatha. Agatha memejamkan matanya merasakan hembusan nafas diaz di lehernya. "I want you" bisik Diaz. Kemudian ia beralih menatap mata Agatha meminta persetujuan dari Agatha. Agatha bergerak gelisah namun masih dalam Kungkungan Diaz. Hingga akhirnya dengan sangat pelan kepala Agatha mengangguk. Diaz tersenyum sambil menyelipkan anak rambut Agatha kebelakang telinganya. Kemudian Diaz menggendong Agatha dan membawanya ke kamarnya. Agatha mengalungkan tangannya dileher Diaz dan menyembunyikan wajahnya di leher pria itu. Menghirup aroma tubuh pria itu yang masih sama sejak dulu. Diaz membaringkan tubuh Agatha di atas ranjang. Kemudian ia melepas kaos yang melekat di tubuhnya. Diaz kembali menindih tubuh Agatha dan kembali menghirup dalam ceruk leher Agatha. Perlahan tangan Diaz melepas satu persatu kancing baju Agatha. Membelai kulit mulusnya dan sedikit mempermainkan payudara Agatha dari balik bra nya. Tangan Agatha berada di kepala Diaz, meremas remas rambut pria itu untuk melampiaskan apa yang ia rasakan saat Diaz begitu memuja tubuhnya. Dengan bibir masih mengecap leher dan dada Agatha, tangan Diaz membuka kancing celana jeans Agatha, dan melepaskan celana itu. Ia membelai v****a Agatha dengan sangat lembut. "Ahhh mhhh" desahan Agatha akhirnya meluncur saat Diaz melepas CD nya dan mempermainkan klitorisnya. "Disini sudah basah" ucap Diaz berbisik secara sensual ditelinga Agatha. Pipi Agatha langsung bersemu merah mendengar nya. Diaz mengecup bibir itu sekilas kemudian ia bangkit dan melapas celananya. Agatha mengalihkan pandangannya saat melihat junior Diaz sudah bangun dan terlihat sangat berurat. Milik Diaz begitu besar dan panjang, dan Agatha sangat ingat betapa sakit nya junior Diaz saat memasukinya dulu. "Mungkin ini akan sakit, tapi tidak sesakit diawal" ucap Diaz kembali menindih tubuh Agatha. Agatha mengangguk pelan. Diaz tersenyum dan membelai rambut Agatha dan mencium keningnya begitu dalam sambil berusaha memasukkan juniornya ke lubang v****a Agatha. "Sshhhh ahhh sakiitt" ringis Agatha saat junior Diaz sudah memasukinya. Diaz memberhentikan gerakannya. Ia merasa juniornya di pijat kuat kuat oleh otot kewanitaan Agatha. Rasanya masih sangat sempit, sama seperti dulu waktu mereka pertama kali melakukannya. "Apa masih sakit?" Tanya Diaz. "Tidak terlalu. Bergeraklah" ucap Agatha. Diaz mengangguk. Perlahan ia bergerak mengeluar masukkan miliknya di dalam milik Agatha. Desahan mereka terdengar menggema di ruangan itu. Jika saja Diaz tidak menggunakan mode kedap suara untuk kamarnya pasti suara mereka sudah terdengar hingga ke luar. Mereka begitu menikmati pergulatan itu. Sentuhan yang sebenarnya dirindukan satu sama lain akhirnya terobati malam ini. "Ahhh shh kak diazz emhhhh" desah Agatha "Sempit sekalii ahhh" Diaz semakin mempercepat tempo gerakannya saat ia merasakan semburan dari milik Agatha di juniornya. Entah sudah berapa kali pelepasan yang mereka dapatkan. Namun mereka tetap melanjutkan kegiatan itu hingga pagi menjelang.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD