Suara dari alat electrocardiogram memenuhi ruangan itu. Berbagai alat penunjang kehidupan melekat di tubuh Diaz. Kaki dan tangannya mengalami patah tulang. Wajahnya penuh luka. Matanya terus terpejam. Dan Agatha tidak suka itu. Ia duduk di samping ranjang Diaz yang berada di ruang ICU ini sambil terus menatap wajah pria itu lekat lekat. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipinya sejak dokter mengatakan bahwa Diaz mengalami masa koma. Dan ini semua lagi lagi karenanya. "Bangun...." Lirih Agatha dengan isakan kecilnya. Tak ada balasan dari Diaz. Pria itu masih diam. "Kamu ga pernah nyuekin aku kayak gini. Kamu jahat" Agatha semakin terisak. Hatinya benar benar hancur. Artha, ataya dan juga Dipta memperhatikan Agatha dari kaca besar yang mengarah ke ranjang Diaz. Dipta diam, tak

