F8

1700 Words
"I Miss you so bad" ucap Diaz. Agatha diam terpaku disana. Agatha langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sedangkan Diaz masih setia memandang wajah cantik itu. "Tapi aku tau, ga ada harapan untuk kisah kita di tulis kembali" ucap Diaz membuat Agatha menatapnya kembali. Diaz tersenyum tipis dan menyandarkan tubuhnya di kursi itu. Matanya terpejam. Agatha masih diam menatap Diaz disana. "Karena kamu sudah memiliki orang lain. Dan aku pun begitu" lanjut Diaz dengan mata yang masih terpejam. Entah mengapa mendengar kata itu membuat hati Agatha serasa di remas remas. Ia ingin menangis, dan berteriak di depan Diaz untuk mengatakan jika ia masih mencintainya. "Kita tidak sejahat itu. Meninggalkan orang yang selama ini selalu ada buat kita ketika orang dari masa lalu telah kembali" lanjut Diaz. Ya apa yang dikatakan Diaz memang benar. Kemudian Diaz membuka kedua matanya dan terkekeh pelan. "Sorry... Kata itu perlu diperbaiki. Lebih tepatnya bukan kita tapi aku. Karena aku gatau kamu masih cinta atau enggak sama aku,hingga kamu mau ninggalin dia saat bertemu lagi denganku." Diaz kembali terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri karena beranggapan Agatha masih mencintainya dan ingin kembali padanya. Sama seperti dirinya yang masih mencintai Agatha "Kamu ga salah. Aku masih cinta sama kamu, dan aku juga ga mungkin ninggalin Dipta yang selama ini selalu ada buat aku" batin Agatha. Agatha tersenyum tipis. Dan tentunya itu adalah senyum palsu. "Kamu kenapa bisa ada disini?" "Aku ada pemotretan disini. Untuk beberapa bulan aja sih" ucap Agatha berusaha santai. Diaz mengangguk anggukkan kepalanya "Kamu temannya Lexi kan?"tanya Diaz. Agatha mengangguk pelan. Kemudian Diaz tersenyum . "Dia pacar kamu ya?" Tanya Agatha dengan hati hati pada Diaz. "Ya untuk setahun ini" balas Diaz dengan entengnya. "Dia orang yang baik" ucap Agatha. Diaz mengangguk. Tiba tiba ponsel di atas meja itu Diaz berdering. Diaz dan Agatha sama sama melihat ke arah layar ponsel itu. Tertera nama Lexi disana. Diaz langsung menerima panggilan dari Lexi di depan Agatha. "Halo" ucap Diaz "...." "Aku ada di tempat biasanya" ucap Diaz. "..." "Kau sudah dirumah?" "..." "Baiklah. Tunggu disana aku akan kesana" "..." Diaz mengakhiri panggilan itu. Kemudian ia melihat ke arah Agatha yang masih memperhatikannya sejak tadi. "Aku harus pergi" "Oke. Makasih es krim nya. Ini gratis kan?" Tanya Agatha dengan nada bercanda "Enak saja. Bayar sendiri nanti di kasir" ucap Diaz. Agatha mengerucutkan bibirnya kesal. Jika dulu Diaz akan mencium bibir itu namun sekarang, ia hanya bisa tersenyum saja. "Aku pergi. Sampai jumpa. Jika kamu masih mau bertemu denganku" Diaz sudah bangkit dari duduknya dan memakai jaket yang ia bawa tadi. "Kenapa aku harus bertemu dengan orang sepelit kamu" ucap Agatha sedikit mendongak. Diaz bereskpresi seperti orang sedang berfikir keras "Emmm mungkin jika kamu rindu" "Cihhh, rindu kamu? Udah terlalu sering sampai aku bosan" ucap Agatha melipat kedua tangannya didepan dada. Kemudian ia sadar dengan apa yang ia katakan. Ia langsung salah tingkah. Sedangkan Diaz menahan senyumnya. Berpura pura tidak mendengar perkataan agatha "Apa tha?" Tanya Diaz "Gapapa" jawab Agatha dengan cepat. "Oh yaudah. Aku pergi" "Iya. Hati hati" "Oke" Diaz tersenyum pada Agatha kemudian melangkah pergi. Namun baru dua langkah ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap Agatha "Tha aku senang hubungan kita baik baik saja. Meskipun hanya sebatas teman" ucap Diaz. Agatha mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Diaz tersenyum pada Agatha kemudian benar benar melangkah pergi dari sana. Meninggalkan Agatha sendiri. Agatha menghela nafas beratnya. Ia memegangi dadanya yang terasa sedikit nyeri. Karena jantungnya berdetak terlalu cepat sejak tadi. Kemudian Agatha menikmati es krim nya lagi dengan senyum terukir di bibirnya. "Hei.. maaf aku lama" ucap Dipta yang datang. "Hei.. gapapa kok" "Kamu jadi sendirian disini" ucap Dipta. Agatha bergerak gelisah. Dipta mengerutkan keningnya melihat tingkah Agatha. "Sebenarnya aku dari tadi ga sendiri" ucap Agatha dengan hati hati "Terus? Sama siapa?" Tanya Dipta masih santai "Sama... Kak Diaz" ucap Agatha. Dipta tersenyum. "Syukur deh kamu jadi ada temennya. Dia kok bisa ada disini?" "Ga tau. Tiba tiba aja dia dateng bawa es krim ini" Agatha menunjukkan mangkuk es krim yang sudah habis itu. Dipta hanya tersenyum. Namun hatinya sangatlah gelisah. Diaz sudah mulai memasuki hidup Agatha lagi. Itu artinya waktu Dipta untuk melepaskan Agatha sudah semakin dekat. Dipta menggenggam tangan Agatha yang ada di atas meja. Agatha tersenyum sambil menatap mata Dipta. "Dipta aku akan berusaha untuk selalu sama kamu kok. Jangan khawatir" ucap Agatha mengerti jika Dipta mulai gelisah. Meski Dipta menunjukkan senyumnya. Karena di saat apapun Dipta selalu tersenyum. "Ga usah memaksakan diri terlalu keras tha. Jalani aja, kalau kamu masih bahagia bersamaku, aku bakal seneng banget. Tapi kalau kamu memang ingin sama dia, ya gapapa. Aku memang cinta sama kamu, tapi aku ga berhak untuk meminta kamu selalu jadi milik aku selamanya. " "Dipta kenapa sih kamu baik banget sama. Aku lebih dewasa dari kamu, tapi sikap kamu jauh lebih dewasa dari aku" "Ya kamu sih mainnya sama boneka panda, beruang gimana mau dewasa" ucap Dipta bergurau. Agatha mencubit tangan Dipta yang menggenggam tangannya. "Terus aja ejek aku karena aku masih suka boneka. Emang salah cewek suka boneka?" "Hehe.. maaf maaf. Jangan marah gitu. Kamu kalau marah jadi mirip sama singa" ucap Dipta sambil mencubit kedua pipi Agatha. "Aduh.. Dipta. Sakit" "Hehe.. habis gemes banget aku sama kamu" "Kamu pikir aku squisy yang bisa di cubit cubit ha?" "Andai ada squisy yang bentuknya secantik kamu pasti aku beli. Terus aku peluk waktu tidur" ucap Dipta menerawang "Iya terus kamu tidurnya ileran. Iyuhhh" Agatha bergidik ngeri. Dipta mencubit hidung mancung Agatha karena kesal "Aku ga ileran tha" "Ga ileran apanya. Orang bantal kamu membentuk pulau pulau besar dan kecil. Mirip kek bentuknya kepulauan di indonesia dari Sabang sampai Merauke. " Dipta melipat kedua tangannya didada. Berdebat dengan Agatha ia akan selalu kalah. Tapi memang yang dikatakan Agatha benar, bentaknya banyak sudah membentuk kepulauan Indonesia. "Pulang yuk. Aku udah bosen" "Yaudah ayo" "Kamu ke mobil duluan aja. Aku mau bayar es krim nya dulu" "Biar aku aja yang bayar" ucap Dipta. Agatha menurut, ia keluar dari tempat itu dan memilih menunggu Dipta di dalam mobil. "Tagihan untuk meja nomor empat" ucap Dipta pada penjaga kasir. "Tagihan meja nomor empat sudah dibayar, atas nama Diaz Arsenio" Dipta diam. Kemudian tersenyum pada penjaga kasir itu. Kemudian ia pergi dari sana setelah mengucapkan terimakasih. Dipta masuk ke dalam mobil dan duduk di tempat pengemudi. Agatha sedang sibuk memutar musik di mobil itu. "Udah?" Tanya Agatha disela kegiatannya "Udah dibayar sama Diaz" ucap Dipta sambil menyalakan mobilnya. Agatha mengerutkan keningnya. Kemudian ia tertawa hingga Dipta dibuat kebingungan olehnya "Kenapa?" Tanya Dipta. "Dasar. Tuh orang emang ga berubah. Tadi waktu aku tanya apa es krimnya dibayarin sama kak Diaz, dia malah bilang katanya "enak aja, bayar sendiri nanti di kasir" kayak gitu. Dan sekarang, ternyata udah dibayar sama dia" ucap Agatha dengan tawa kecilnya. Dipta memperhatikan wajah itu. Wajah yang terlihat sangat ceria dan tawa yang lepas seperti tanpa beban. Tidak seperti biasanya. Dipta senang Agatha bisa bahagia seperti ini. Namun di sisi lain ia merasa sakit, karena bukan dia alasan Agatha bisa sebahagia ini. Padahal yang dilakukan Diaz hanyalah hal sederhana, namun Agatha sudah bisa sebahagia ini. Sedangkan Dipta butuh perjuangan mati Matian agar bisa membuat Agatha bahagia, namun hasilnya tidak pernah seperti ini. Agatha sadar dengan apa yang dilakukannya. Ia terdiam dan berdeham "Maaf Dipta. Aku kelepasan. " Ucap agatha. Dipta tersenyum dan mengusal puncak kepala Agatha "Gapapa. Kalau kamu emang bahagia tunjukin aja. Kenapa harus di tutupin Hem?" Ucap Dipta. Agatha hanya mengangguk kecil. Ia tau, jika ia baru saja menyakiti Dipta. Namun Dipta selalu bisa menutupinya dari Agatha. Lagi lagi Agatha merasa bersalah kepada Dipta. Dipta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Disana hanya terdengar suara musik yang diputar Agatha. Sedangkan Dipta fokus menyetir dan Agatha sibuk dengan pikirannya sendiri. ******** Diaz membuka pintu kamar. Dan saat itulah ia di suguhkan pemandangan yang sangat menggoda birahinya. Lexi hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya sebatas dada sampai paha. Rambutnya juga terlihat basah. Lexi tersenyum menggoda pada Diaz. "Kau menggoda ku Hem?" Ucap Diaz sambil menutup pintu kamar Lexi. Lexi tertawa kecil. Ia mendekati Diaz kemudian mengalungkan tangannya di leher Diaz. Diaz juga melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. "Kiss me" ucap Lexi. Diaz memajukan wajahnya dan mencium bibir Lexi. Hanya kecupan saja. Kemudian ia menarik wajahnya kembali. "Thanks" ucap Lexi. Dia mengangguk. Kemudian Lexi menjauh dari Diaz dan duduk di depan meja riasnya. Sedangkan Diaz membaringkan tubuhnya di ranjang Lexi. Lexi sibuk mengeringkan rambutnya "Kamu ngapain disana?" Tanya Lexi "Biasalah, Exel niatnya nyari mangsa baru cewek cewek disana. Tapi alasannya mau cari hiburan, cihh aku sudah hafal sekali dengan sikapnya itu" Lexi tertawa "Lalu, jika Exel mencari mangsa baru apa yang kau lakukan? Bertemu mantan?" Tanya Lexi sambil menyisir rambutnya. Ia bertanya dengan maksud bergurau namun yang ditanyakan Lexi memang benar terjadi. Diaz duduk di pinggir ranjang sambil melihat ke arah Lexi yang membelakanginya dan sedang mengusapkan vitamin pada rambutnya. "Iya" ucap diaz membuat gerakan tangan Lexi terhenti. Mereka saling g bertatapan lewat pantulan cermin itu. "Agatha?" Tanya Lexi. Diaz mengangguk "Ga sengaja ketemu" jelas Diaz. Lexi hanya ber o ria saja. "Kenapa Agatha ada disana?" "Dia bersama kekasihnya" ucap Diaz karena ia sebenarnya mengetahui keberadaan Agatha sejak Agatha baru saja tiba di area outdoor bersama Dipta. Namun Diaz bersikap seolah olah tak melihatnya. "Kekasihnya?" Tanya Lexi sambil mengingat ingat "Oh pria humoris dan murah senyum itu kekasihnya?" Tanya Lexi pada Diaz. Diaz mengangguk "Ya pria itu selalu antar jemput Agatha untuk ke studio" "Aku tau" ucap Diaz. Lexi beangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah Diaz dan langsung duduk di pangkuan Diaz. "Aku takut kamu pergi " ucap Lexi menatap mata Diaz dengan dalam. Diaz mengusap puncak kepala Lexi dan mencium bibirnya sekilas. "Ga usah takut. Aku ga kemana mana. Dia hanya masa lalu aku" ucap Diaz menenangkan Lexi. Lexi tersenyum. Dalam hati ia sebenarnya ragu. Karena ia tau seberapa besar Diaz mencintai Agatha. Namun Lexi berusaha menepis perasaan itu. Lexi memeluk leher Diaz dan menyandarkan tubuhnya disana. Diaz juga merengkuh tubuh Lexi. Meskipun ia masih menggunakan handuk saja Lexi tak merasa risih diposisi sedekat ini dengan Diaz. Karena ia selalu nyaman saat bersama Diaz. Mereka sama sama diam. Sibuk dengan pikiran masing masing. Sungguh pertemuan antara dua kekasih yang telah lama dipisahkan membuat banyak hati mulai merasa gelisah.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD