Dipta terus memandang ke arah luar jendela pesawat yang ia naiki. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Ia terus memikirkan Agatha. Tidak seharusnya Dipta meninggalkan Agatha sendiri di Madrid, namun bagaimana lagi. Ia memiliki tuntutan pekerjaan yang harus ia selesaikan. Mungkin jika sudah selesai ia akan segera kembali ke Madrid. Pandangan Dipta beralih pada ponsel yang ia genggam. Ponselnya dalam mode pesawat jadi ia tidak bisa menghubungi Agatha saat ini. Dipta memandang wallpaper ponselnya yang menunjukkan fotonya. Ia tersenyum melihat foto itu. Foto yang ia ambil dengan ponselnya sendiri. Bukan foto hasil jepretan para fotografer.  "Kamu baik baik aja kan? Kenapa aku jadi cemas gini" ucap Dipta memandang foto Agatha. Dipta menghela nafasnya secara kasar. Ia memilih memejamkan matanya dan memakai earphone yang di sediakan disana. Ia cemas pun percuma, karena saat ini ia tak bisa berbuat apa apa. Nanti jika sudah mendarat, ia akan langsung menghubungi Agatha. Disisi lain, Lexi sedang memandangi fotonya dengan Diaz yang ada di laptopnya. Ia tidur tengkurap di kamarnya. "Tunggu, Diaz kemana ya kok ga hubungin aku sama sekali dari tadi" guman Lexi. Ia segera mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan menelfon nomor Diaz. Lama menunggu, dan beberapa kali ia mencoba namun tak ada balasan dari Diaz. Lexi menghela nafasnya. Ia mengubah posisi berbaringnya menjadi terlentang. "Mungkin Diaz lagi istirahat. Gapapa besok aja aku ke rumahnya" guman Lexi. Lexi segera membereskan laptopnya. Ia mematikan lampu tidurnya yang ada di atas nakas. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas perut. Lexi menatap langit langit kamarnya dengan berbagai pikiran di kepalanya. "Suatu saat nanti apakah kamu bisa cinta sama aku?" Guman Lexi dengan tersenyum miris. "Dulu kamu sulit untuk melupakan dia, apalagi sekarang dia ada disini. Apakah itu tidak membuatmu semakin berat untuk melepaskan perasaanmu padanya?" "Dan sepertinya dia juga masih menyimpan rasa yang sama denganmu. Aku melihat caranya menatapmu tadi. Ia terlihat khawatir. Jika kalian memang saling cinta kenapa kalian tidak bersama saja? Jika seperti ini akan lebih banyak hati yang tersakiti. Bukan hanya aku, tapi kalian dan juga pria itu" Lexi terus memikirkannya. Pria yang dimaksud Lexi adalah Dipta. Ia merasa posisi Dipta juga sama dengannya. Berada di antara hubungan Agatha dan Diaz. Merasa seperti orang yang jahat dan memisahkan hubungan Agatha dan Diaz. *********** Agatha memejamkan matanya saat bibir Diaz menempel pada bibirnya. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Rasanya sangat nyeri di hati. Agatha merindukan bibir itu namun ia tau jika bibir itu bukanlah miliknya lagi. Diaz memberi jarak antara bibirnya dengan bibir Agatha saat ia mendengar isakan dari Agatha. Tangan Diaz terulur mengusap air mata Agatha. Agatha masih memejamkan matanya, isakannya semakin terdengar jelas. Agatha menundukkan wajahnya dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menangis sejadi jadinya. Diaz hanya diam membiarkan Agatha menangis. Karena ia tau Agatha. Ia orang yang tidak bisa berbuat kasar dan hanya bisa meluapkan emosinya hanya lewat tangisannya. Jadi Diaz membiarkan Agatha menangis karena setelah ini mungkin perasaan agatha akan membaik. "Aku jahat, aku jahat kak aku jahat hiks hiks" Isak agatha "Kamu nggak jahat" ucap Diaz "Aku jahat. Dipta... Dipta orang yang baik, tapi.. hiks ke.. kenapa aku ga bisa cinta sama dia... Kenapa hati aku sulit untuk mencintai dia.. kenapa hati aku terus terfokus ke kamu.. kenapa.. kita udah selesai. se.. seharusnya ini tidak terjadi hiks hiks" Isak Agatha. Agatha mencengkram kuat jas milik Diaz yang masih membungkus tubuhnya. Tubuhnya Meringkuk memeluk lututnya yang naik ke atas kursi mobil. Diaz tidak tega. Ia membawa Agatha dalam pelukannya. Setetes air mata jatuh tepat di puncak kepala Agatha. Diaz menangis. Bukan hanya Agatha, namun dirinya juga merasa sakit. Berpura pura baik baik saja selama ini terkadang juga membuatnya merasa lelah. Sakit yang ia rasakan selalu ia coba lupakan dengan sibuk berkerja dan menghabiskan waktu bersama Lexi. Diaz sayang dengan wanita itu, tapi tidak cinta. Diaz sayang dengan Lexi karena wanita itu selalu ada untuknya dan mengerti dirinya. Diaz juga merasa bersalah karena tak bisa membalas perasaan Lexi. Berusaha untuk mencintainya adalah yang Diaz lakukan selama ini. Dan hal itu membuat hati semakin tersakiti. "Sakit kak.. sakit... Hati aku sakit.." Isak Agatha didalam dekapan Diaz. "Kenapa takdir mempermainkan kita seperti ini.. hiks hiks. Sakit...." "Aku tau. Aku juga sakit tha. Bersikap seolah aku baik baik aja tanpa kamu, malah buat hati aku semakin sakit. Bukan hanya hati aku, tapi hati orang lain juga tersakiti karena aku ga bisa bales perasaanya. " Ucap Diaz dengan nada suara yang benar benar mencerminkan orang yang putus asa. Agatha semakin terisak. Tangannya yang awalnya masih menutup wajahnya, saat mendengar isi hati Diaz membuatnya memeluk pria itu dengan erat. Agatha menangis didada Diaz. "Aku capek..." Ucap Agatha dengan masih sesenggukan. "Aku tau. Ini berat banget buat kita. Jujur aku bingung, aku merasa bimbang" ucap Diaz. Agatha menguraikan pelukannya. Ia menatap mata Diaz dengan dalam. "Memperjuangkan dan bertahan sama kamu terasa seperti mustahil. Pergi pun menyakitkan. Lalu apa yang harus aku lakukan? " Ucap Diaz. Air mata kembali menetes. Agatha merasakan nyeri di hatinya melihat air mata itu. "Kalau memang kita tidak ditakdirkan bersama kenapa Tuhan tidak hapus saja perasaan ini" lirih Diaz. Nafas Agatha terasa tercekat saat Diaz mengatakan itu. Agatha melihat ke arah luar jendela. Sedangkan Diaz masih memandanginya dari samping. Agatha tidak menyangka jika selama ini bukan hanya dirinya yang tersiksa namun ternyata Diaz juga merasakan hal yang sama. Pikirannya berlari pada ayahnya. Orang yang bersi keras menolak hubungannya dengan Diaz. Suara Artha yang mengatakan penolakannya dan ketidak dikatannya pada Diaz tergiang di otaknya. Agatha memejamkan matanya kuat kuat saat mendengar suara itu. Hingga akhirnya ingatannya kembali pada malam itu. Malah dimana ia dan Diaz melakukan hal di luar batas. Melakukan hal yang mereka pikir akan mendekatkan mereka namun malah membuat mereka semakin jauh. Agatha menoleh ke arah Diaz yang masih menatapnya. Mereka saling bertatapan dalam diam untuk beberapa saat. Hingga akhirnya sebuah kalimat terlontar dari bibir Agatha "Aku mau pulang" ucap Agatha. Diaz masih diam memperhatikan wajah Agatha. Tiba tiba ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Agatha sangat dalam hingga mereka sama sama memejamkan mata untuk meresapi ciuman itu. Agatha membuka matanya dan menatap Diaz. "Kamu tinggal dimana?" Tanya Diaz. "Apartemen" "Ada siapa disana? Em... Dipta?" Tanya Diaz dengan ragu ragu. Agatha menggeleng "Enggak. Dipta ga tinggal se apartemen sama aku. Lagi pula dia sekarang balik ke Indonesia karena ada kerjaan disana. Aku baru aja nganter dia ke bandara" jelas Agatha sambil mengusap wajahnya dengan tisu yang ada di mobil Diaz. "Kamu ke rumah aku aja. Ga aman kamu di apartemen sendirian" ucap Diaz mulai melajukan mobilnya. Agatha mengerutkan keningnya "Enggak kak.. ga enak sama Lexi" "Lexi ga tinggal sama aku. Nanti aku jelasin sama dia, dia pasti ngerti" "Beneran?" "Iya tha. Lagipula di rumah ada pembantu dan beberapa penjaga. Jadi its oke" "Yaudah deh" Akhirnya Agatha pasrah. Ia menurut untuk dibawa kerumah Diaz. Mobil Diaz berhenti di depan pintu rumahnya. Diaz segera keluar dan membukakan pintu untuk Agatha. Agatha memperhatikan rumah Diaz yang mewah ini. "Tidak seperti masion keluargaku di Indonesia tapi setidaknya ini bisa di tinggali" ucap Diaz. Agatha tersenyum. Kemudian mereka masuk bersama sama. "Ini kamar kamu, dan itu adalah kamar ku" ucap Diaz menunjuk ke kamar yang berada di sebelah kamar untuk Agatha. "Terimakasih" ucap Agatha. "Ya. Sekarang istirahatlah. Jika butuh apa apa panggil aku atau bisa langsung saja ke pembantu di rumah" Agatha mengangguk kemudian ia masuk ke kamarnya. Ia melihat sekeliling kamar ini. Bagus.. memang benar tidak seluas kamar di masion Diaz atau pun masion ayahnya. Tapi masih tetaplah bagus. Agatha berbaring di sofa panjang yang ada didepan ranjangnya. Ia memikirkan beberapa hal yang terjadi tadi. Ungkapan isi hati Diaz terus terngiang di kepalanya. Agatha menghela nafasnya. Terlalu banyak melamun membuat Agatha tertidur di sofa itu. Diaz mengetuk pintu kamar Agatha beberapa kali dan tidak ada balasan akhirnya masuk begitu saja ke kaamr itu. Diaz melihat Agatha tertidur disofa. Perlahan Diaz melangkah mendekati Agatha dan berjongkok di depannya. Ia menyingkirkan rambut rambut yang menutupi wajah Agatha. Diaz merapatkan jasnya yang menutupi tubuh atas Agatha yang memakai baju sobek sobek hingga memperlihatkan buah dadanya. Jujur saja Diaz sempat melihat buah dada Agatha dan tentu ia merasa tergoda. Namun ia tidak mau melakukan hal itu lagi. Melakukan hal yang membuatnya semakin jauh dengan Agatha. Agatha bergerak kecil. Terlihat seperti tidak nyaman dalam tidurnya. Tentu saja. Sofa itu terlalu sempit untuknya. Akhirnya Diaz memilih untuk memindahkan Agatha ke ranjang. Diaz menggendong Agatha dengan begitu mudah seperti tak ada beban. Ia membaringkan Agatha di atas ranjang. Saat Diaz akan beranjak dari sana, ternyata tangan Agatha menggenggam erat jari telunjuknya. Diaz mencoba melepaskannya. Namun Agatha malah membuka sedikit matanya. Membuat Diaz berhenti melakukan itu. Akhirnya Diaz memilih untuk tidur di samping Agatha Ia memperhatikan wajah Agatha yang terlihat damai dalam tidurnya dengan memeluk lengan Diaz. Dia menarik selimut dengan kakinya kemudian menyelimuti dirinya dan Agatha. Dia menarik Agatha dalam dekapannya dan menyusul Agatha masuk ke alam mimpi. Biarkan seperti ini untuk malam ini. Tak ada yang di tutup tutupi, tak ada berpura pura dan tak ada rasa sakit yang di sembunyikan. . . . . . . . .