Perasaan aneh kembali muncul saat tiba-tiba Debora menghisap bibirnya. Kenzo membuka mata saat wanita itu melepas ciumannya. Nafasnya terengah, tangan Kenzo terangkat dan mengusap bibir Debora yang sama sekali tidak bengkak.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya dengan bodoh. Sudah tau barusan mereka ini berciuman, tapi kenapa Kenzo malah bertanya seperti itu?
Debora mendongak menarik tangannya dari leher Kenzo lalu berlari menjauh. Jujur saja dia malu dan ini pertama kalinya dia mencium suami orang.
Melihat hal itu Kenzo pun langsung mengejar Debora dan memaksanya masuk ke mobil. Tak lupa juga meminta barang belanjaannya pada satpam tadi, dan mengucap terimakasih kasih.
Hening, Kenzo sendiri lebih sibuk dengan jalanan Ibukota yang sudah macet, apalagi ini jam istirahat kantor. Banyak karyawan yang mestinya mencari makan di luaran kantor. Sedangkan Debora dia sudah duduk memunggungi Kenzo, dengan menghadap ke jendela, menatap luar jendela.
Reflek tangan Kenzo terangkat mengusap sudut bibirnya, lalu dia pun membelokkan mobilnya ke arah lain. Ini bukan jalan pulang, melainkan jalan menuju ke suatu tempat.
Menyadari hal itu Debora pun langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Kenzo ragu. Niat hati ingin menegur, atau bertanya ini mau kemana. Tapi mengingat perlakukannya tadi membuat dia kembali bungkam dan memposisikan dirinya kembali seperti semula.
Mendadak Debora merasakan bersalah pada Kenzo. Harusnya dia berpikir dua kali sebelum melakukan hal itu. Tapi nyatanya orang yang emosi tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Begitu juga dengan Debora, harusnya tadi dia tidak melakukan hal itu.
Hingga tak lama mobil yang di tumpangi Debora pun berhenti. Kenzo turun lebih dulu, sedangkan Debora dia masih setia duduk di jok mobil Kenzo. Matanya menatap sekeliling tempat ini yang nyaris miris seperti hutan. Pikirannya melayang pada kejadian kriminal masa kini, Bos yang jahat menculik pembantunya untuk di jadikan b***k seks, atau Bos yang jahat setelah di perkosa pembatunya di bunuh, di mutilasi dan di beri makan ke hewan. Mungkin ini terlalu lebay, tapi itulah yang di pikiran Debora saat ini.
Karena merasa takut sendirian di dalam mobil, apalagi jalanan ini juga sepi akhirnya Debora pun turun dari mobil. Dia pun berlari mengikuti langkah kaki Kenzo yang menuju ke sebuah bukit. Jujur saja ini pertama kalinya Debora menatap sebuah bukit yang berada hampir seperti hutan, tapi kalau pinggir jalanan tadi dibersihkan dan di tata rapi mungkin akan terlihat sangat indah dan nyaman di lihat.
"Mas kita ngapain ke sini?" Tanya Debora akhirnya, dia takut yang mendadak Bosnya ini jadi jahat akibat ulahnya. Yang pasti Kenzo juga sudah berpikir jika Debora adalah w************n yang gampang sekali di cium.
Oh s**t!!!
Kenzo menoleh, lalu menepuk tempat di sampingnya tanda jika Debora untuk duduk di sampingnya. Dengan rasa takut dan was-was Debora pun duduk di samping Kenzo dan memberi jarak.
"Aku tau kamu masih sedih melihat pacar kamu selingkuh. Makanya aku bawa kamu ke sini." Ucapnya dengan lembut dan membuat Debora menoleh. "Kalau aku lagi banyak pikiran, atau banyak masalah aku pasti kesini untuk menenangkan diri." Ujarnya.
"Tapi….."
Masalahnya ini tempat panas, dia hanya duduk dibawah pohon yang tidak begitu rindang. Duduk diatas rumput hijau, dan menatap pemandangan genteng rumah orang yang terlihat begitu mengkilap. Mungkin kalau Kalamata sore hari akan terlihat bagus, bisa menikmati lampu yang menyala dan udara yang segar. Lah ini….
"Tapi kenapa?" Kenzo menatap Debora heran.
Debora menghela nafasnya jika suasana ini ini sangat bagus, jika dia melihat saat sore hari atau malam hari. Tapi sangat jelek jika dia melihat saat siang ini. Terlihat panas dan hanya menatap rumah warga yang kecil dengan genting warna-warni.
Mendengar hal itu Kenzo langsung menarik tangan Debora untuk berdiri. Kali ini tidak begitu kasar, bahkan bisa dibilang lembut. Yang Debora lakukan hanyalah pasrah dan mengikuti langkah kaki Kenzo. Ternyata mereka menuju rumah kecil tidak jauh dari bukit ini.
Debora berpikir ini rumah berdiri di antara hutan, apa mungkin tidak ada hewan buas, atau ular yang masuk ke rumah? Mengingat rumah ini tidak memiliki tetangga, dan jauh dari toko. Lalu persediaan makanan pun apa iya ada?
"Masuk Ra, kamu bisa melihat lampu nanti malam. Sekarang istirahat dulu." Ucap Kenzo.
Seketika itu juga Debora langsung menatap Kenzo curiga. "Mas nggak lagi mau ngapa-ngapain aku kan?" Tanya Debora memastikan.
Kenzo tertawa kecil, bahkan dengan sengaja dia mencondongkan badannya ke arah Debora, hingga membuat wanita itu mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Memangnya kamu mau aku apain?" Tanyanya dengan nada yang menggoda.
Debora berdecak, lalu mendorong Kenzo bisa bahaya ini kalau begini terus. Apalagi sekarang masih musim suamimu semangatku.
"Nggak sih, awas Mas minggir mau istirahat." Ucapnya dengan nada bergetar.
Kenzo terkekeh, "Cuma mau ingetin Ra, disini kamarnya cuma satu. Jadi bagi kamar ya."
"MAS KENZO DIEM!!!!"
-NannyToMommy-
"Mas ayo pulang…." Rengek Debora kesekian kalinya.
Sedangkan yang diajak pulang malah asyik masak di dapur tanpa menghiraukan rengekan Debora sekalipun. Janganlah menghiraukan, melirik Debora yang meringkuk di sofa dekat dengan tempat tidur saja tidak ditoleh, apalagi saat di ajak pulang.
"Mas…."
Mendengar hal itu Kenzo tertawa kecil, anggap saja dia sedang mengasuh Giffard dua. Bedanya kalau Giffard masih kecil dan perlu di kasih arahan. Serahkan yang ini jangankan arahan, dia sudah tahu segalanya luar dalam.
"Makan…" Titah Kenzo menaruh sepiring tumis bengkoang di depannya.
Debora bangkit dari meringkuk nya, lalu menatap masalah Kenzo yang tampaknya begitu lezat. Tadi Kenzo memang sengaja meminta Arga untuk membelikan makanan untuk Kenzo dan juga Debora. Kenzo pikir itu adalah makanan jadi siap santap. Tapi yang terjadi malah Arga membelikan bahan makanan mentah yang harus di oleh sendiri.
Terpaksa Kenzo turun tangan, dia harus membersihkan lebih dulu alat masak, lalu memotong sayuran dan teman-temannya. Lebih anehnya lagi Arga membeli bengkoang yang tidak tahu apa manfaatnya. Sampai akhirnya jadilah tumis bengkoang daging.
Karena merasa lapar Debora pun langsung menusuk daging yang ada di depannya dan memakannya. Tapi detik berikutnya dia pun langsung mengeluarkan daging itu di piring kosong.
"Kenapa? Nggak enak?" Tanya Kenzo panik.
Debora menggeleng, "Panas.."
"Udah tau masih ngeluh, nekat banget mau makan."
Itu sebuah cibiran yang langsung membuat Debora mendengus. Untung saja Bos coba saja kalau tidak, mungkin Debora akan depak dia sampai ke ujung dunia.
Dengan telaten Kenzo mengambil satu potong daging dan dia belah menjadi dua. Menusuknya dengan garpu dan meniupnya hingga dingin. Lalu menyuapkan daging dingin itu ke arah Debora.
Debora menerima suapan Kenzo. Menyadari akan tingkahnya, Debora pun mendongak menatap Kenzo dan berdehem.
"Maaf Mas, aku bisa makan sendiri." Lirih Debora.
Kenzo mengangguk, dia pun langsung menyantap makannya dengan lahap. Sesekali melirik ke arah Debora yang makan dengan pelan.
"Kalau nggak suka jangan di mana Ra. Aku tau masakanku pasti nggak enak." Ucap Kenzo.
"Bukannya nggak enak Mas. Aku pikir kamu ganti profesi aja bikin Restoran atau Cafe, terus kamu yang masak."
Kenzo hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, ini kalau Debora marah tidak mau masak, Kenzo juga tidak akan mau masak. Bahkan ini bisa dibilang pertama kalinya Kenzo masak, dan ini untuk Debora.
Saat makan Debora sengaja menyinggung tentang Giffard, dia kepikiran Giffard yang di rumah. Apalagi tadi keperluan Giffard habis semua, dia jadi berpikir kalau mandi Giffard pakai apa? Minyak dan teman-temannya saja Debora yang bawa.
"Kamu tenang aja, Giffard sudah tidur sama Mama."
Kenzo juga menjelaskan jika sejak tadi Giffard juga sudah tidur dan dia pun tidak rewel. Debora bisa menghela nafasnya lega, seharusnya dia juga tidak perlu khawatir karena disana juga ada Mamanya.
"Oh oke deh Mas, lagian ada Mamanya juga jadi aman dong."
Kenzo tersenyum kecut dia pun langsung mengambil ponselnya dan dia berikan pada Debora. Tentu saja hal itu membuat Debora bingung, Bosnya ini memberi ponselnya pada Debora atau mungkin meminta Debora melihat sesuatu?
Akhirnya Debora membuka lock di ponsel Kenzo dan membaca pesan dari Nadine, yang isinya jika dia tengah menginap di rumah Ibunya, dan menitipkan Giffard pada Helena.
"Baru kali ini aku lihat Ibu yang tega sama anak. Aku pikir cuma di televisi aja yang kayak gini, disini juga ada toh." Komentar Debora.
Kenzo juga menjelaskan jika sejak dulu Nadine selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Dia tidak peduli dengan suami dan juga anaknya sama sekali. Tidak hanya itu Kenzo juga memberitahu kalau Kenzo dan juga Nadine menikah karena perjodohan, bukan karena mau mereka berdua. Awalnya sempat menolak tapi kata mereka ini jalan yang terbaik untuk mereka. Sayangnya nasib buruk menimpa Kenzo dan juga Giffard setelah punya anak.
"Ini pertama kalinya Nadine menemani Giffard sakit hanya beberapa jam saja. Dulu dia nggak pernah sama sekali, dia lebih sibuk sama dunianya di banding aku sama Giffard." Ucap Kenzo memperjelas keadaan
"Kok gitu sih Mas, padahal ya peran Ibu dan istri itu penting loh. Walaupun aku belum nikah, tapi aku tau kalau dua hal itu seperti nyawa di rumah."
Debora pernah meneliti dua keluarga yang awalnya utuh sampai salah satu di antara mereka meninggal yaitu seorang Ibu. Benar kata orang, jika rumah akan terlihat hidup, ramai jika ada Ibu. Tapi rumah akan terlihat sepi, dan sunyi jika seorang Ibu tidak ada. Dan hal itu terjadi dengan Kenzo, istri ya masih ada cuma kurang perhatian dan kasih sayang. Anggap saja Kenzo kurang belaian.
"Tapi Mas pernah selingkuh nggak sih. Cari yang lain dari Bu Nadine?" Debora menggigit bibirnya takut, ini pertanyaan terlarang tapi Debora sudah terlanjur penasaran.
"Kenapa? Kamu mau ngajakin aku selingkuh?" Kekeh Kenzo
"Astaga Mas, ya nggak lah. Aku kan cuma tanya. Beda lagi kalau kamu yang ngajak Mas, kan aku lagi jomblo. Paling juga mau." Pekik Debora, dan melanjutkannya dalam hati sambil istighfar dalam-dalam karena sudah memiliki pemikiran yang buruk.
"Pernah, sering, dan berkali-kali. Tapi nggak pernah nemu yang pas. Dan mereka cuma mau uang aku dan nggak bisa menerima Giffard."
"Pernah selingkuh juga sama Babysitter?"
Kenzo menatap Debora dengan serius. Wanita di depannya ini bertanya atau bagaimana? Tidak mungkin juga dia berselingkuh dengan Babysitter, tapi kalau itu Babysitter Debora mungkin bisa dibicarakan baik-baik.
"Belum pernah, selama ini Babysitter Giffard udah umur dan punya suami. Tapi… Kalau Babysitter nya model kamu bisa dibicarakan." Kekeh Kenzo
Debora mendelik sempurna dan memukul Kenzo dengan bantal di sampingnya. "Astaga Mas nggak boleh, berdosah kamu loh." Ucapnya.
"Harusnya yang berdosah itu kamu bukan aku, bilangnya nggak punya ponsel tapi bingung pacar kamu nggak ngasih kabar. Btw, tadi siang itu pacar kamu?"
Debora mengangguk lalu bercerita jika Zero adalah kekasihnya, dia kabur dari rumah akibat cinta tak direstui. Belum lagi Papanya juga menjodohkan dia dengan pria lain, sehingga dia tidak bisa memilih jalan hidupnya. Dan untuk pertama kalinya Debora menyesal, dia telah mempertahankan pria yang salah. Tapi Debora juga tidak mau pulang, dia juga takut kalau pilihan Papanya akan buruk dan seperti Nadine dan membuat Debora berselingkuh seperti Kenzo.
Tidak mau lama-lama membahas hal ini Debora kembali merengek dan meminta Kenzo untuk pulang dia hanya takut kalau nanti Giffard bangun dan mencarinya.
-NannyToMommy-
Satu jam lamanya Helena terus menelpon Kenzo,tapi tak ada satupun panggilan yang direspon oleh Kenzo. Pasalnya anak laki-lakinya ini pergi sejak siang tadi,dan sampai jam sepuluh malam dia belum kembali.
Pasalnya Giffard bangun dan sedikit rewel, dia mencari Debora dan juga Papanya. Belum lagi siang tadi Nadine pergi begitu saja, dengan alasan jika dia ingin menginap di rumah Ibunya. Padahal Helena sudah melarang dan meminta wanita itu untuk tetap dirumah dan menjaga Giffard, tapi yang ada wanita keras kepala itu tetap pergi ke rumah Ibunya.
"Papa…. Nanny…." Lirih Giffard.
"Sabar ya sayang, Papa sama Nanny sebentar lagi pulang kok." Ucap Helena mencoba menenangkan Giffard.
Helena kembali mencoba menelpon Kenzo sekali lagi, tapi mendengar pintu dibuka begitu kasar membuat Helena menoleh. Dia pun menatap Kenzo yang masuk kedalam rumah dengan wajah tanpa dosanya, sedangkan Debora dia tampak tenang tapi syarat dengan kekhawatiran.
"Kalian kemana aja sih jam segini baru pulang!!" Omel Helena.
"Belanja Ma.."
"Belanja kok seharian, belanjanya di Irak apa." Helena mendengus, dia pun meminta Debora untuk menggendong Giffard, dan memberitahu Debora jika cucunya sudah makan dan minum obat. "Kamu ajak ke atas aja Ra, saya mau ada penting sama Kenzo." Ujarnya
Debora menurut dia pun langsung berjalan pelan ke atas, meninggalkan belanjaannya di bawah bersama dengan Kenzo. Sedangkan dia lebih memilih membaringkan Giffard di atas kasur milik Kenzo dan membacakan dongeng.
Walaupun terlihat sakit dia juga masih ingin bermain dengan Debora untuk beberapa menit kedepan. Hingga Giffard pun meminta Debora untuk membaca dongeng, tanda jika dia ingin tidur. Mungkin pengaruh obat makanya dia ingin tidur terus.
Debora bercerita tentang petani yang memiliki sapi yang sangat berharga. Dia selalu bersyukur apa yang dia miliki, sehingga banyak orang yang tidak menyukainya.
"Tukang kedai itu berpikir, jika sapi Sulaiman itu adalah sapi ajaib. Ternyata uang perak itu jatuh dari kantong merah yang diikat di leher sapi." Debora menunduk menatap Giffard yang ternyata sudah terlelap. Dia pun memindahkan tangannya yang menjadi bantalan Giffard.
Saat Debora kembali badannya, dia dikejutkan oleh Kenzo yang berdiri bersedekap d**a menatap Debora.
"Mas ngapain disitu?" Pertanyaan bodoh keluar dari bibir Debora. Tentunya membuat Kenzo bingung menatapnya.
"Ngapain? Kalau kamu lupa Ra, ini masih kamar aku."
Debora memutar bola matanya malas dia masih ingat dan belum lupa, hanya saja tadi dia reflek bertanya seperti itu. Debora memilih pergi tapi tangannya di cekal oleh Kenzo dan membuat langkahnya terhenti.
Debora menoleh dengan alis yang terangkat satu, "Ada apa?"
Kenzo tersenyum, "Cuma mau bilang ucapan aku tadi serius bukan candaan."
Debora berpikir keras mengingat ucapan Kenzo. Tapi saat ingat apa yang di kata Kenzo, mata Debora mendelik sempurna dan menepis tangan Kenzo dengan kasar lalu pergi begitu saja, membuat Kenzo tertawa kecil.
"Dasar suami orang gila…."
-NannyToMommy-