NTM-09

2153 Words
Nadine memasuki kamarnya dengan menyeret kopernya. Dia baru saja bertemu dengan Debora yang baru saja keluar dari kamar Kenzo. Kalau di lihat, ini masih pagi dan Giffard pun masih tidur, untuk apa dia jam segini ada di kamarnya dan juga kamar Kenzo. Saat menatap kembali bajunya di lemari tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka dan muncullah Kenzo yang baru saja selesai mandi. Melihat hal itu Kenzo pun tersenyum miring, "Masih ingat rumah buat pulang? Aku pikir kamu udah lupa sama alamat rumah kamu." Cibir Kenzo. Mendengar hal itu Nadine pun membanting kopernya dan menatap Kenzo tajam. "Pulang nggak pulang sama aja ya salah dimata kamu." "Bukannya salah, tapi harusnya kamu tahu posisi Nad, Giffard lagi sakit dan butuh kamu. Tapi kamu malah asyik dengan teman-teman kamu dibanding Giffard." "Ken udah ya, aku capek aku baru pulang dari luar kota! Bisa nggak jangan mempermasalahkan hal ini!!" Kenzo menegaskan jika peran penting seorang Ibu dan istri di sini. Tapi yang ada Nadine malah tambah marah saat Kenzo menganggapnya tidak becus mengurus anak dan suami. Padahal Nadine pergi juga untuk menghibur diri sendiri. "Kalau kamu anggap aku nggak becus ngurus kamu. Perlu aku ingetin ya Kenzo, kalau di rumah ini nggak cuma aku dan kamu aja yang tinggal. Ada mbok Sri yang tinggal sama kita, dia bisa siapin apapun yang kamu mau. Atau nggak kamu bisa nyuruh Babysitter Giffard buat ngurus kamu juga, kenapa sih harus aku sedangkan di rumah ini ada banyak orang!!' teriak Nadine. Pasalnya dia tidak mau repot jika harus mengurus ini itu, kuku cantiknya akan rusak. Rugi dong tiap bulan perawatan badan kalau di rumah jadi babu. Padahal di rumah juga sudah ada babu yang tiap hari ngelayanin Kenzo. Mendengar hal itu Kenzo pun mendekat, dia pun menatap Nadine tajam hingga membuat langkah Nadine mundur beberapa langkah, sangking takutnya dengan tatapan itu. "Jadi kamu maunya aku di urus orang lain di banding istri aku sendiri?" Sinis Kenzo dan menatap Nadine tajam. Nadine mengangguk, bahkan dia meminta pada Kenzo untuk pisah ranjang, karena Nadine juga tidak betah jika harus setiap hari bertengkar terus dengan Kenzo. Tentu saja Kenzo langsung setuju dengan ucapan Nadine. Dia juga meminta Nadine untuk segera mengeluarkan barangnya dari kamar Kenzo, dan jangan sampai ada satu barang pun yang ketinggalan di kamar Kenzo. "Ini keputusan kamu, jadi jangan pernah menyesal dengan apa yang kamu ucapkan Nadine." Sinis Kenzo. "Nggak akan!! Aku udah mikirin ini matang-matang." Nadine keluar kamar Kenzo dengan kesal, dia pun langsung meminta Debora dan Mbok Sri pun membereskan semua bajunya dan pindah ke kamar tamu. Setidaknya setelah ini dia bisa leluasa pergi bersama dengan temannya, dan juga liburan tanpa henti. Mengingat tentang Giffard, Nadine kembali naik dan menatap Giffard yang masih terlelap di atas ranjang Kenzo. Sedikit melirik Kenzo yang tampak acuh dengan kedatangan Nadine. Langsung Nadine mengganggu Giffard hingga dia bangun dari tidurnya. Hal pertama yang dilihat adalah Giffard yang langsung memeluk Nadine dengan erat, dan kembali tidur. "Ayo sayang bangun, Mama tunggu di bawah ya mandi sama Nanny." Selalu, Jangan-jangan menyuapi Giffard, Nadine saja tidak pernah memandikan Giffard sekalipun. Langsung saja Kenzo manggil Debora dan meminta dia untuk segera memandikan Giffard. Sedangkan Nadin dia segera keluar lama Kenzo dan menunggu Giffard di bawah. -NannyToMommy- Debora disibukkan dengan Giffard yang mendadak tidak ingin mandi. Walaupun sudah di bujuk, dan panasnya pun sudah turun,bocah rambut keriting itu sama sekali tidak mau ingin bersentuhan dengan air. "Yaudah kalau gitu Giffard rawatan aja ya." Ucap Debora dan melepas baju Giffard. Lalu menggendong Giffard ke kamar mandi dan mulai mengusap badan Giffard dengan handuk kecil. Membersihkan cela-cela ketiak dan juga bagian-bagian dalam hingga bersih. Tak lupa juga meminta Giffard untuk sikat gigi, atau tidak giginya akan berlubang dan mengeluarkan ulat. Setelah sudah Debora langsung mengambil baju panjang Giffard yang ada di kamar Kenzo. Tapi saat mengambil minyak telon yang ada minyaknya tinggal sedikit, parfum dan juga pewangi rambut juga tinggal sedikit. "Mas kebutuhan Giffard abis semua." Ucap Denira melirik Kenzo dan juga pintu kamar Kenzo bersamaan. Takut-takut ada Nadine atau mungkin Helena masuk dan mendengar cara Debora memanggil Kenzo. "Kasih ke Mamanya nanti kita belanja." Baru kali ini Debora mendengar suara Kenzo yang tidak bersahabat sama sekali. Debora tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat barang Nadine yang sudah dipindahkan sebagian tadi oleh Mbok Sri, membuat Debora paham. Jika mereka sedang tidak baik-baik saja. "Iya Mas." Untuk mengakhiri dan tidak menjadi bahan amukan Ke zo, lebih baik Debora mengalah. Ini cara yang akan untuk mengatasi orang yang tengah marah. Setelah memakaikan baju Giffard, Debora langsung memberi Giffard pada Nadine. Tak lupa juga memberi makanannya dan juga obat pada Nadine. "Kata Dokter dia sakit apa Ra?" Tanya Nadine yang mulai menyuapi Giffard dengan bubur ayam yang dibuatkan Debora. "Kecapekan Bu, makanya demam. Dan Dokter juga bilang kalau den Giffard juga mau flu." Debora menjelaskan obat apa saja yang harus diminum oleh Giffard. Kalau-kalau Giffard ingin tidur bersama dengan Mamanya nantinya. Kan lumayan Debora bisa tidur nyenyak kalau Giffard tidur dengan Mamanya. Biar Mamanya juga punya kegiatan untuk mengurus anaknya, jangan hanya main dan berlibur saja. "Debora kita belanja." Ucap Kenzo tiba-tiba dan membuat semua orang menoleh, termasuk Helena dan juga Nadine. "Ken kan ada Nadine kenapa kamu ngajak Debora? Biar dia di rumah aja ngerus Giffard." Ucap Helena mengingatkan jika Nadine telah pulang itu tandanya Debora hanya perlu mengurus Giffard saja. "Cuma Debora yang tau kebutuhan Giffard apa saja yang habis. Sedangkan dia, cuma bisa habisin uang tanpa mau peduli sama anak." "Kenzo…." Tegur Nadine. "Eehhh…." Kenzo tidak peduli, dia malah langsung menyeret Debora untuk pergi bersamanya. Bahkan Kenzo juga tidak peduli jika kaki Debora beberapa kali menabrak kursi dan meja, sangking tidak siapnya saat Kenzo menyeretnya seperti kancing. Karena kesal Debora pun langsung menepis tangan Kenzo kasar, tidak peduli jika pria itu langsung menatap Debora tajam. "Sakit Mas kamu pikir aku kambing yang bisa kamu tarik seenak jidat kamu." Omel Debora. Menyadari atas sikapnya Kenzo langsung meminta Debora untuk masuk ke mobil lebih dulu. Tidak enak jika dia bertengkar dengan Debora di depan pintu yang masih terbuka. Apalagi Helena juga masih bisa melihat Kenzo dan juga Debora. Kenzo masih tidak mengatakan apapun, hingga dia pun menyalakan mobilnya dan pergi belanja kebutuhan Giffard. Dalam hati Debora berdoa jika dia turun dari mobil ini, dia masih memiliki nyawa dan organ tubuh yang masih utuh tanpa cacat sedikitpun. -NannyToMommy- "Minyak rambut, minyak telon, parfum, sabun…." Debora meneliti semua barang yang dibelinya jangan sampai dia kelupaan apa saja yang dibutuhkan Giffard kali ini. Termasuk handbody dan juga bedak bayi. Walaupun sudah besar, percayalah kulit Giffard ini gampang alergi. Jika cuaca dingin dan panas, maka punggung Giffard akan gatal. Seperti mengeluarkan jerawat tapi di punggung. Setelah dirasa cukup Debora pun langsung membawa barang belanjaannya ke kasir, lalu meminta Kenzo untuk membayarnya. "Terima kasih." Ucap Debora menerima belanjaannya Debora keluar toko bersama dengan Kenzo, tapi dia juga bisa melihat Kenzo yang tampak diam dan masih marah pada Nadine. "Masuk!!" Ucapan dingin dan datar syarat akan kemarahan pun membuat Debora mendengus. Bukannya masuk Debora malah sengaja berdiri di dekat pintu mobil dan menenteng belanjaannya. "Debora masuk!!" Ucapnya lagi. Sekali lagi Debora mendengus, dia pun menatap Kenzo tidak suka. "Mas aku tau kamu lagi marah sama istri kamu. Tapi bisa nggak sih nggak usah ngelibatin orang lain? Sejak tadi kamu bentak-bentak aku, nyeret aku kayak kambing. Bisa nggak kalau kamu marah nggak usah melampiaskan amarah kamu ke aku?" Mendengar hal itu Kenzo memukulkan kepalanya di pintu mobil dengan pelan. Ini masalahnya dengan Nadine tapi kenapa Debora yang kena getahnya? Niat Kenzo ingin meminta maaf, tapi baru juga membalik badannya, Kenzo malah melihat Debora membanting belanjaannya dan pergi begitu saja. Langsung saja Kenzo mengejar Debora, dan meminta satpam toko ini untuk mengamankan barang belanjaannya. Seperti apapun dia harus minta maaf pada Debora karena sikapnya. "Ra…." Panggil Kenzo dan meraih tangan tangan Debora dan membuat langkah itu terhenti "Apa? Mau bentak aku lagi? Masih marah sama istrimu? Nggak usah ngomong sama aku Mas." Debora memilih pergi, tapi Kenzo langsung menarik Debora dan memeluknya. Tentu saja hal itu membuat otak Debora langsung blank, jantungnya berdebar hebat, seakan dia seperti orang yang sedang lomba lari seratus meter. Nyatanya dia hanya berjalan kecil dan Kenzo memeluknya "Aku minta maaf udah ngebentak kamu, bukan maksud aku gitu. Tapi--aku beneran minta maaf." Ucap Kenzo sambil menangkup kedua pipi Debora Perlakuan ini hampir mirip dengan cerita novel yang sering Debora baca. Cerita cinta sepasang kekasih yang tengah melakukan kesalahan, atau mungkin tengah mengutarakan kata-kata manis yang membuat sang kekasih berbunga. Tapi-- ini Debora juga Kenzo. Debora menggelengkan kepalanya, dia pun langsung menepis tangan Kenzo dan memaafkan dia. Begini lebih baik, daripada dia harus berada di dekapan Kenzo. Sinar matahari berada diatas kepala, Debora mengajak Kenzo untuk pulang, dia takut jika Giffard akan mencarinya nanti. Tapi baru juga beberapa langkah pandangan Debora tak sengaja terarah pada sosok pria yang duduk di cafe dekat toko bayi. Pria yang memakai baju hitam lengan panjang, dan juga celana hitam selutut. Debora melangkah mendekat saat yakin jika pria yang dia lihat adalah Zero. "Ra kamu mau kemana?" Tanya Kenzo heran, tapi kakinya terus mengikuti langkah kaki Debora ke sebuah cafe di samping toko ini. Debora berlari kecil, dia hanya memastikan jika pria itu bukanlah Zero. Tapi saat berdiri di belakang Zero, Debora mendengar jika kekasihnya itu memanggil wanita di depannya dengan sebutan sayang. "Apa-apaan ini!!" Teriak Debora dan membuat Zero dan juga wanita itu berdiri dari duduknya. "Kamu panggil dia sayang? Oh jadi ini alasan kamu satu minggu nggak ngabarin aku. Karena kamu lebih sibuk sama selingkuhan kamu!!" Zero menatap Debora panik, pasalnya dua wanita ini sangat berharga untuk Zero di masa depannya. "Sayang dia siapa?" Tanya wanita itu menunjuk Debora. "Kenalin Mbak, saya Debora mantannya Zero. Kita baru putus satu detik yang lalu!!" Ketua Debora Wanita itu menatap Zero bingung dan meminta Zero untuk menjelaskan apa yang terjadi. Tapi Zero mengelak jika dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Debora, apalagi Zero juga bilang jika dia tidak mungkin pacaran sama orang miskin seperti Debora. Mendengar hal itu Debora pun sakit hati, benar kata Papa jika Zero bukanlah orang baik. Dan selama ini dia dibutakan oleh cinta palsu Zero. Plak….. "Walaupun aku jatuh miskin, tapi aku nggak sampai numpang hidup sama orang lain!! Aku masih mau bekerja buat cari uang, nggak manfaatin orang lain untuk menanggung hidup aku." Teriak Debora menunjuk Zero Zero mengusap pipinya yang memanas, sampai kapanpun dia tidak akan lupa dengan tamparan ini. "Sadar diri lah, hidup sudah susah jangan makin tambah susah!!" Debora ingin menampar Zero untuk kedua kalinya, tapi dia urungkan saat sebuah tangan menahan tangannya dari arah belakang, dan membuat Debora langsung menoleh. Siapa lagi kalau bukan Kenzo. Melihat hal itu Zero pun terus memaki Debora, jika wanita itu juga berselingkuh dengan om-om di belakangnya. Jadi menurut Zero hal ini impas. Debora berselingkuh dan Zero pun berselingkuh. Debora mengelak selama dia pacaran dengan Zero, sekalipun dia tidak pernah selingkuh. Yang ada Zero sudah kedua kalinya main gila di belakang Debora. Dan sekarang dia malah menuduh Debora yang tidak-tidak. "Kalau salah udah ngaku aja, jangan melemparkan kesalahan kamu ke aku!!" Ujar Debora marah. "Dan… aku nggak pernah selingkuh dari kamu, yang ada kamu yang selingkuh dari aku." Ujarnya lagi. "Mana ada maling ngaku, penjara penuh." Cibir Zero. "Ya jelas lah bego. Tapi kalau kamu udah nuduh aku kayak gitu, oke aku akui ini pacar baru aku. Namanya Kenzo, dan dia lebih baik dari kamu." Zero mengepalkan tangannya, dia paling tidak suka dibandingkan, dan di dunia ini hanya dia yang paling baik dan sempurna tidak ada pria lain. Rasa ingin memukul Kenzo, tapi Zero yakin jika wanita di depannya ini cinta mati dengan dia. Mana mungkin dia bisa berpaling dari Zero segampang itu. "Nggak percaya kalau itu pacar kamu. Aku yakin dan tahu betul kamu itu cinta mati sama aku." Ucapnya dengan percaya diri penuh. Debora tertawa kecil mendengar ucapan Zero yang menurutnya terlalu bar-bar. "Aku buktiin kalau dia ini pacar aku." Ujarnya. Debora menarik nafasnya kasar, dalam hati dia meminta maaf atas dosa yang akan diperbuat di tempat umum ini. Udah siang, banyak orang Debora hanya berharap satu tika ada yang lihat, dan tidak ada yang memviralkan mereka berdua. Debora mendekat dan berdiri tepat di depan Kenzo, kakinya berjinjit, dan kedua tangannya mengalun indah di tengkuk leher Kenzo dan sedikit menariknya ke bawah. Hinggi bibir Debora mencium, dan melumat bibir bawah Kenzo dengan lembut. Bahkan Debora sedikit sengaja menempelkan setengah badannya pada badan Kenzo, agar Zero yakin jika Kenzo adalah kekasih Debora. Beda lagi dengan Kenzo yang mendapat perlakukan itu mendadak menjadi patung pancoran. Entah berapa lama bibir ini tidak pernah menghisap atau melumat bibir wanita, hingga akhirnya Debora pun membangkitkan sesuatu dari diri Kenzo. Mata Kenzo terpejam seakan menikmati permainan Debora dan membalas lumatan lembut itu dengan begitu lembut. Hingga membuat Zero yang melihatnya langsung pergi begitu saja dengan wanitanya. -NannyToMommy- kalau masih menemukan typo maafkan saya. heheh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD