NTM-08

1927 Words
Sejak pelukan dadakan itu Debora sedikit merasa canggung dengan Kenzo. Begitu juga dengan Kenzo entah kenapa di merasa aneh dengan dirinya. Dan ini bukanlah dirinya sesungguhnya. Seperti pagi tadi Kenzo meminta Debora untuk membersihkan kamarnya, dan juga menyiapkan apa yang harus dipakai untuk pergi ke kantor. Biasanya ada sapaan ada candaan, tapi kali ini sama sekali atau pergi dengan sama sekali. Dan hal itu membuat dua belah pihak merasa tidak nyaman. Kenzo pun memberanikan diri untuk berbicara berdua dengan Debora, tapi belum juga niat itu terpaksa Giffard sudah lebih dulu menggagalkan rencana. Anak itu sedikit rewel entah karena apa, sejak semalam minta gendong terus tanpa mau turun. Kata Mbok Sri mungkin saja Giffard rindu dengan Mamanya. Tapi mana mungkin, Nadine saja sama sekali tidak peduli dengan Giffard, yang jelas anak itu sedang tidak baik-baik saja. "Mending kita bawa ke dokter aja, biar kita juga tau dia sakit apa." Ucap Debora dan membuat Kenzo menoleh kaget. "Iya Tuan Kenzo, kita bawa den Giffard ke Dokter saja." Sahut Mbok Sri. Kenzo mengangguk dia pun meminta Debora itulah segera mengganti baju Giffard agar tidak merasa dingin. Setelah merasa siap, Kenzo dan Debora pun segera pergi ke Dokter spesialis anak. Dan badan Giffard juga sudah mulai demam. "Mas bisa cepat sedikit nggak, ini Giffard udah demam." Debora panik, dia pun terus memeluk Giffard yang sudah menutup matanya. Wajahnya sangat pucat, dan suhunya juga pasti sangat tinggi. Debora terus saja meminta Kenzo untuk menambah laju mobilnya, belum lagi Debora yang terus mengomel sepanjang masa membuat telinga Kenzo panas. Tak butuh waktu lama Kenzo dan Debora pun sampai di Dokter spesialis anak. Debora langsung duduk di kursi tunggu sambil menunggu Kenzo selesai mendaftarkan Giffard. "Dapat nomor berapa Mas?" Tanya Debora panik. "Dapat nomor delapan, kita tunggu saja ya. Tapi Dokternya adanya jam delapan nanti." Tidak masalah mau jam berapa Dokternya ada, yang penting saat ini Giffard mendapat obat untuk pertolongan pertama. Sesekali Debora menatap sekeliling ruangan ini yang mulai banyak sekali dengan orang. Bahkan Giffard saat ini juga sudah mulai rewel, karena panas, bajunya yang panjang dan juga ruangan ini tidak memiliki pendingin ruangan. Tidak hanya Giffard, tapi semua anak yang ada disini juga sudah mulai rewel. "Astaga sayang, diem ya disini sudah ada Nanny dan juga Papah. Diem ya sayang." Debora menimang Giffard sambil berjalan-jalan untuk menenangkan Giffard, tapi tetap saja anak itu tetap saja masih rewel. Melihat hal itu Kenzo pun ingin menggantikan Debora untuk menggendong Giffard, tapi yang ada Giffard sama sekali tidak ingin bersama dengan Kenzo. "Mas tolong deh telepon Mamanya, mungkin saja Giffard kangen sama Mamanya." Kenzo mencoba menelpon Nadine, tapi yang ada Nadine malah menolak teleponnya dan mengirim pesan, jika dia sedang sibuk pesta terakhir sebelum dia pulang kerumah. Padahal Kenzo sudah bilang jika Giffard sedang sakit, dan mungkin saja merindukan Nadine. Mendengar hal itu Debora pun naik darah, mana ada Ibu yang seperti itu. Lebih penting temannya dibanding anaknya sendiri yang sedang sakit. Di mana-mana saat anaknya sakit, Ibunya adalah peran penting dalam penyembuhan. Nyatanya istri dari Bosnya ini malah keenakan bermain dengan yang lain. "Aku nggak tau harus komentar apa, tapi beneran Mas istri kamu itu jahat banget." Ucap Debora dan membuat Kenzo tersenyum kecut. Kalau saja bukan karena perjodohan, mungkin Kenzo juga tidak akan menikah dengan Nadine. Dan kenapa juga Kenzo baru mengenal Debora saat ini, kenapa tidak dari dulu saja dia kenal dengan Debora. Mengingat hal itu entah kenapa malah membuat Kenzo sesak dengan sendirinya. Jangan sampai Kenzo memiliki perasaan lebih untuk Debora, walaupun dia yang mengurus Kenzo tapi dia harus ingat jika Kenzo sudah memiliki istri. "Anak Giffard Tyler…." -NannyToMommy- Sesampainya di rumah Debora langsung menidurkan Giffard di kamar Kenzo. Malam ini Kenzo ingin Giffard tidur dengan dia, agar dia tidak begitu membebankan pada Debora. Tapi Kenzo juga yakin kalau nanti Giffard pasti akan mencari Debora. Akhirnya Kenzo pun meminta Debora untuk tidur di kamar Kenzo juga. Lebih tepatnya di sofa besar di kamar Kenzo. Tidak mungkin juga kalau Debora akan tidur satu ranjang dengan Kenzo. "Mas aku bawa Giffard ke kamar aku aja ya, aku nggak enak sama Bu Helena, kalau aku tidur di sini." Dia hanya takut kalau Mama Kenzo salah paham saat melihat Debora tidur di kamar Kenzo. Padahal dia tidur itu hanya untuk mengurus Giffard yang sedang sakit. Tapi yang ada Kenzo menolak dia tetap ngeyel jika Debora harus tidur di kamarnya, dia hanya tidak mau harus turun ke bawah hanya memanggil Debora saat Giffard mencarinya. Akhirnya Debora pun mengalah dia menatap Giffard yang tidur terlelap di depannya. Dan juga menatap Kenzo yang baru saja keluar dari nama mandi. Untung saja Bosnya ini langsung pakai baju, coba kalau tidak. Dua hari yang lalu Debora pernah melihat Kenzo telanjang d**a saat membersihkan kamar Kenzo. Lebih tepatnya tidak sengaja, karena Debora sedang membersihkan kamarnya dengan telinga yang di sumpal headset. Jadi dia tidak mendengar suara percikan air yang dimatikan, dan juga suara pintu dibuka. Saat membalik badannya dan disaat itulah mata Debora dimanjakan dengan perut kotak-kotak milik Kenzo. Dan tentunya untuk menutupi image liarnya, Debora pura-pura berteriak dan menutup matanya. Dia sampai keluar kamar Kenzo sambil menabrakkan dirinya dengan meja rias milik Nadine. Dalam hati dia pun cekikikan, pagi-pagi udah sarapan roti sobek ala-ala Bos. "Mas itu Mamanya beneran nggak mau pulang sekarang?" Tanya Debora dia hanya memastikan jika Nadine akan pulang demi anaknya. Tapi saat Kenzo memberikan ponselnya pada Debora, wanita membaca pesan Nadine dengan gelengan kepala. Tidak mau memperkeruh suasana Debora pun mengalihkan pembicaraan. "Mas mau aku ceritain nggak pas waktu aku ke rumah Oma dan pas ada gempa." Kenzo cukup tertarik dengan cerita Debora dan meminta Debora menceritakan kejadian gempa yang dialami Debora. "Yang jelas kamu ngungsi kan." Tebak Kenzo tertawa kecil. Debora mengangguk kecil, dia juga bercerita jika hal pertama kali yang dia selamatkan adalah lipstik kesayangannya, beberapa tas branded kesukaannya, walaupun kw tapi tetap saja Debora suka. Sepasang sepatu, dan juga ponsel kesayangannya. Itu adalah hal penting yang diselamatkan terlebih dulu saat gempa "Kamu nggak selamatkan berkas-berkas atau apa gitu Ra? Kenapa malah selamatkan lipstik." Kenzo menatap Debora tidak percaya, baru kali ini dia mendengar jika lipstik lebih penting dari segalanya. "Itu paling akhir Mas." Kekeh Debora dan membuat Kenzo geleng kepala. Debora terus bercerita saat dia di pengungsian, ternyata tidak jadi gempa. Padahal dia sudah di pengungsian selama satu minggu, karena takut ada gempa susulan. Kenzo tersenyum dia juga merespon cerita Debora hingga membuat Kenzo larut dalam hal itu. Dia terlalu fokus dengan dunianya, dan bermimpi jika Debora adalah istrinya bukan Nadine. Mungkin jika Nadine memiliki sikap seperti Debora, hidup Kenzo tidak akan abu-abu seperti saat ini. Apalagi saat Kenzo pulang kerja ada yang menyambutnya, ada yang masak untuk dia, dan juga ada menyiapkan baju kerjanya. "Ra ada yang pengen aku bahas sama kamu." Ucap Kenzo tiba-tiba dan membuat Debora menatap Kenzo heran. "Soal pelukan itu…" "Mas maaf ya waktu itu aku lagi seneng banget, aku pikir aku mau diculik, taunya itu kamu. Makanya aku reflek meluk kamu, maafin aku ya Mas." Potong Debora cepat dan berharap jika Kenzo tidak salah paham. "Iya aku tau, tapi setelah itu sikap kamu beda ke aku, dan aku kurang nyaman." "Aku cuma bingung aja harus gimana. Dan aku takut Mas marah terus mecat aku." Kenzo menggeleng mana mungkin dia mecat Debora hanya dengan kasus dia meluk Kenzo. "Nggak mungkinlah aku pecat kamu Ra." Debora bernafas lega, ketakutannya hilang begitu saja. Hingga dia pun meminta izin untuk pergi ke dapur. Debora merasa lapar dan ingin makan sesuatu. Mungkin dia akan memasak dan membuat Kenzo juga ikut dengan dia ke dapur, untuk memasak makanan bersama. Momen yang indah bukan, saat minyak panas meletik ke tangan mereka. -NannyToMommy- Hal pertama yang dilihat Helena saat masuk ke kamar Kenzo adalah, Debora yang masih terlelap di sofa kamar Kenzo. Sedangkan sang empu tidur di samping Giffard dan memeluknya. Bahkan Helena juga menatap satu piring besar bersama dengan dua sendok. Apa mungkin semalam Kenzo dan Debora makan dalam satu piring? Helene berjalan pelan dan membangunkan Kenzo,ini sudah siang apa Kenzo tidak ingin pergi ke kantor? "Aku lagi nggak ke kantor Mi. Giffard semalam rewel baru tidur jam empat pagi tadi." Jelas Kenzo dengan mata terpejam. Helena mengangguk paham, tapi Debora…. "Dia juga baru tidur jam empat tadi gantian sama aku Mi." Ucap Debora dan membuat Helena menatap Debora. "Hari ini Nadine pulang, jangan sampai dia lihat hal ini Ken." "Iya Mami tenang aja." Kenzo membuka matanya perlahan, dan menatap Debora yang masih bersembunyi di balik selimut. Lalu menatap Helena yang berdiri bersiap untuk pergi. Setelah memastikan Helena pergi dari kamarnya, Kenzo pun berjalan pelan ke arah Debora, duduk di sampingnya dan mengusap lembut kepalanya. Harusnya bukan ini yang dia lakukan pada Debora, seharusnya dia membangunkan Debora dan memintanya untuk membereskan kekacauan ini sebelum Nadine pulang. Tapi yang ada Kenzo malah menikmati wajah terlelap Debora yang hanya terlihat setengah. Sedangkan Helena yang tidak benar-benar pergi, mengintip dibalik pintu yang tidak tertutup rapat. Dia bisa melihat Kenzo yang menguap pipi Debora, setelah mengusap kepadanya. Bahkan sampai menatap selimutnya agar Debora merasa nyaman saat tidur. "Mi kamu lagi apa? Kok malah ngintip Kenzo sih." Ucap Immanuel tiba-tiba. Helena menoleh kaget lalu menarik Immanuel agar bisa melihat apa yang dia lihat. Ketika ekspresi Helena khawatir melihat mereka berdua, tapi Immanuel malah tersenyum kecil sambil menarik Helena pergi. "Seorang pria akan lebih menyukai wanita yang betah di rumah, ngerti sama suami dan juga bisa ngurus anak. Tambah satu lagi, bonus masak dan sayang keluarga." Jelas Immanuel dan membuat Helena menatapnya tidak suka. "Kalau dia tidak mendapatkan cinta dari istrinya, Tuhan akan mengirim cinta yang lain, yang lebih baik dari yang pertama. Walaupun suatu saat nanti Kenzo menyukai Debora, Papi orang pertama yang akan merestui hubungan mereka." Ujarnya dan berlalu membuat Helena diam. Sedangkan Kenzo dia pun langsung menggoyangkan tubuh Debora agar segera bangun, tapi yang ada wanita itu malah memeluk erat gulingnya sambil bergumam tidak jelas. "Ra bangun, istri aku mau pulang. Kamu masih mau tidur disini?" Ucap Kenzo. Mendengar kata istri, mata Debora pun terbuka dengan sempurna. Hal pertama yang dia lihat adalah Kenzo yang duduk dekat dia sambil meneguk minumnya. Kedua, kamar ini adalah kamar Kenzo. Dan Debora lupa kalau semalam dia tidur di kamar ini, lebih parahnya di sofa lagi. Debora meregangkan otot-ototnya dan tersenyum canggung, pasti keadaannya saat ini sangat berantakan. Iler di sudut bibir, belek di sudut mata dan rambut yang acak-acakan seperti singa. Lihatlah walaupun bangun tidur Kenzo masih terlihat tampan dan rapi. Astaghfirullah hal adzim Debora berdosanya kamu. "Selamat pagi Mas." Sapanya dan ikut meneguk minumnya jangan sampai dia bau jigong. "Selamat pagi juga, bangun. Dan tolong bersihkan ini semua sebelum Nadine pulang." Entah kenapa hal itu langsung membuat Debora tidak suka. Dia pun menatap Kenzo yang langsung masuk ke kamar mandi. Sedangkan Debora dia sudah seperti orang kesetanan yang langsung menggigit bantal dan juga selimut. Tidak mau lama-lama Debora pun segera membersihkan kamar Kenzo tanpa harus mandi dulu. Setidaknya kamar ini sudah bersih lebih dulu sebelum istrinya pulang. Jangan sampai parfum Debora menempel di bantal atau mungkin selimut yang dia pakai. Lalu tercium oleh Nadine dan membuat wanita itu salah paham. Tapi Debora juga sedikit senang saat Nadine pulang, setidaknya Giffard akan segera sembuh dan dia bisa tidur nyenyak jika ada Mamanya. Setelah beres membersihkan kamar Kenzo dan menyiapkan baju untuk Kenzo. Debora berniat untuk pergi, lagi tugas dia sudah selesai dia bisa lanjut tidur lagi di kamarnya. Tapi baru juga membuka pintu, Debora dikejutkan oleh seseorang yang berdiri dengan sorot mana yang sangat sulit diartikan menatap Debora tajam. "Se-selamat pagi…." -NannyToMommy-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD