NTM-04

1950 Words
"Mbok cerita dong, aku penasaran banget loh. Itu suami istri kenapa liburan beda-beda sih." Mbok Sri yang lagi masak pun menoleh dan menggeleng kepala. Tanda jika wanita tua itu tidak mau bercerita sedikit pun tentang Bosnya. Tapi bukan Debora namanya kalau dia tidak bisa membuat Mbok Sri bercerita tentang mereka. Dengan pura-pura menangis Debora sanggup membuat Mbok Sri kelagapan bingung. Dia pun meminta Debora untuk diam agar tidak menangis lagi dan membuat Bosnya terbangun. Mengingat ini masih jam lima pagi, dan untung semalam Giffard tidur dengan Kenzo. "Diem dulu, nanti Mbok ceritain. Tapi nanti." Ucap Mbok Sri "Sekarang Mbok, sambil masak sambil cerita, rasanya ahh mantap!!' jawab Debora sambil terkekeh Walaupun usianya tidak ABG lagi tapi sikap Debora disitu menandakan jika dia menolak untuk tua. Bisa dibilang Debora ini masih memiliki sikap kekanakan yang sulit dihilangkan. Sikap egois dan ingin menang sendiri. Bahkan dia akan terlihat sangat manja jika sesuatu yang dia inginkan tidak terpenuhi. Mbok Sri pun mengalah dia pun menceritakan apa yang terjadi di rumah ini. Apalagi Mbok Sri asisten rumah tangga semenjak mereka berdua menikah. Bisa dibilang Kenzo dan Nadine itu korban perjodohan. Waktu itu mereka saling memiliki kekasih, hingga kedua orang tua mereka menjodohkan mereka karena saham perusahaan. Perusahan Papa Nadine yang waktu itu hampir kolaps, akhirnya menyerahkan Nadine pada Papa Kenzo untuk menikah dengan Kenzo. Penolakan pun terjadi, dan mereka mengaku jika memiliki kekasih. Tapi kedua orang tua itu tidak mau tahu dan tetap menikahkan mereka berdua. Setelah menikah Kenzo masih berhubungan dengan kekasihnya. Begitu juga dengan Nadine yang masih sering bertemu, atau mengajak kekasihnya di rumah. Tapi sayangnya, hal itu tidak bertahan lama. Mami Kenzo mengetahui hal itu dan membuat kekasih mereka pergi jauh. Bahkan tidak hanya di situ Papa Kenzo juga meminta pewaris hartanya di masa depan, alias anak dari Kenzo dan juga Nadine. Mereka menikah hampir tiga tahun dan baru saja memiliki anak Giffard. Tapi kericuhan di rumah ini tidak berhenti disitu. Disaat semua orang sepakat untuk menerima pernikahan ini, dan di saat inilah semuanya berubah. Nadine sama sekali tidak mau melayani Kenzo apapun yang terjadi. Menyiapkan makan, baju, tas kantor pun Nadine tidak mau. Nadine juga tipe istri yang bodo amat, dia tidak peduli saat suaminya sakit dan membutuhkan sesuatu. Dan Kenzo akan melakukan hal apapun dengan sendirinya. Apalagi saat Giffard lahir, semuanya tampak bodo amat!! Mendengar hal itu Debora jadi kasihan. Dia jadi berpikir gimana nasibnya nanti kalau dia menikah dengan pilihan Papanya. Apa mungkin hidup Debora akan seperti Kenzo dan juga Nadine? Membayangkan saja membuat Debora pusing. Tidak mau berlama-lama Debora pun ingin pergi. Tapi baru juga membalik badannya dia terkejut saat melihat Kenzo berdiri di belakangnya beberapa langkah, dengan tangan yang dilipat di d**a. "Selamat pagi Pak.." Sapa Debora tersenyum canggung. Jangan sampai Kenzo mendengar apa yang baru saja Debora dan juga Mbok Sri bicarakan. "Selamat pagi." Sapanya balik dengan suara berat. Sudah dipastikan jika pria itu baru saja bangun dan masuk ke dapur. Bahkan Debora juga bisa melihat Kenzo yang mengambil minum di botol kecilnya. "Debora tolong bersihkan kamar saya." Ujarnya. Jadi begini ya suara pria matang yang baru saja bangun tidur. Bahkan kalau dilihat tidak ada minusnya sama sekali. Debora mengangguk dan langsung ngacir ke tangga, menuju kamar Kenzo dan mulai membersihkannya. Hal pertama yang dilihat adalah foto pernikahan Kenzo dan juga Nadine yang terpampang jelas di atas kepala ranjang. Kedua, Giffard yang tidur dengan meringkuk. Ketiga, kamar ini tidak kotor sama sekali, malah terlihat bersih dan wangi. "Debora kenapa kamu masih di depan pintu kamar saya? Kenapa tidak masuk?" Suara berat itu membuat Debora terjingkat kaget. "Ada apa?" Ucapnya lagi. Deborah tersenyum canggung, dia pun langsung masuk ke kamar Kenzo dan mulai membersihkan apapun yang bisa dibersihkan. Contohnya, laptop yang belum tertutup, berkas yang berantakan di atas meja dan juga di lantai. Setelah itu membersihkan kemeja yang berada di atas sofa dan menciumnya. Kalau wangi masih bisa dipakai, tapi kalau bau taruh tempat kotor. Sayangnya kemeja ini tidak ada bedanya antara kotor atau bersih, dan akhirnya Debora pun menaruh baju itu ke keranjang kotor. Mengambil kemeja baru, jas dan juga celana khaki yang siap di kenakan oleh Kenzo. Tak hanya itu Debora juga menyiapkan tas kantor Kenzo dan menaruh di dekat setelannya. Setelah sudah selesai semua Debora langsung mendatangi Giffard dan membangunkannya. Ini sudah pagi dan dia waktunya sarapan. Walaupun susah di bangunkan Debora langsung menggendong Giffard agar segera bangun. Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Debora segera meninggalkan kamar ini. Tapi suara berat itu membuat Debora berhenti tanpa mau menatap ke arah belakang "Debora, makasih." -NannyToMommy- Helaan nafas keluar dari bibir Debora. Siang ini dia mengajak Giffard pergi ke kedai kopi. Bukan untuk mengajak Giffard bermain. Tapi untuk bertemu dengan Zero, yang sudah beberapa hari ini tidak menghubunginya. Dan mendadak Zero ingin bertemu dengan Debora siang ini. Ini sudah setengah jam Debora menunggu, tapi Zero tak kunjung datang juga. Bahkan Giffard sudah bosan duluan karena terlalu lama menunggu. Pintu kedai pun terbuka masuklah seorang pria dengan penampilan berandalan dengan topi dan juga masker. Dia tahu kalau itu adalah Zero. Hanya dengan melambaikan tangan pria itu langsung menghampiri Debora. "Sayang, dia anak siapa? Dan kamu kenapa ngilang gitu aja?" Ucap Zero bingung. Bocah kecil itu malah menjulurkan lidahnya saat melihat Zero. Sejujurnya Zero tipe pria yang tidak suka dengan anak kecil. "Sayang ini anak majikan aku." Jelas Debora. Zero melongo mendengar ucapan Debora. Dia bilang anak majikan? Apa mungkin kekasihnya ini jatuh miskin? "Majikan?" Zero menatap Debora tidak percaya. Jangan sampai Debora jatuh miskin, dan Zero tidak akan mendapat apapun. "Sayang keluarga kamu nggak bangkrut kan?" Alis Debora terangkat satu menatap Zero. Mana mungkin keluarga dia jatuh miskin, yang ada harta, tahta yang dimiliki Debora tidak akan jatuh miskin. Tidak mau membuang banyak waktu Debora pun langsung menjelaskan pada Zero. Jika dia tengah kabur dari rumah sampai mendapat restu dari Papanya. Kalau Papanya belum mendapat restu mau sampai kapan pun Debora tidak akan pulang ke rumah. Debora juga bercerita jika dia di jodohkan oleh Papanya dengan pria yang bernama Aska. Tapi tenang saja Debora menolak dan masih bertahan di samping Zero. Sedangkan Zero sendiri dia tampak bingung. Kalau sampai wanita itu tidak pulang ke rumah masa depannya terancam. Apalagi job bandnya juga lagi sepi dan dia sangat mengandalkan Debora untuk biaya hidupnya. Anggap saja matre tapi memang itu yang dilakukan Zero pada Debora. Bahkan semenjak pacaran Debora banyak sekali memberi uang pada Zero. Sedangkan Zero sepeserpun tidak pernah memberi Debora uang. Bahkan saat makan pun Debora yang bayar. Prinsip Zero, selama wanita itu masih memiliki banyak uang, dia harus di pepet terus sampai dapat. "Sayang tapi kalau kamu nggak pulang aku khawatir sama kamu. Papa kamu pasti bingung nyariin kamu dan masalah perjodohan kamu masih bisa dibicarakan dengan baik-baik sayang. Pulang ya." Jangan sampai dia jatuh miskin karena Debora tidak memberi uang padanya. "Gak bisa!! Aku nggak bisa pulang sayang, Papa pasti maksa aku buat nikah sama pria lain." "Tapi sayang…" "Udah ya kamu tenang aja. Aku pasti pulang tapi nggak sekarang. Kalau Papa sudah restuin kita, aku pulang. Itu janji aku." Potong Debora cepat Debora memutuskan untuk pergi saat pandangannya tak sengaja menatap seseorang yang mirip sekali dengan orang suruhan Papanya. Jangan sampai itu orang melihat Debora dan juga Giffard. Sambil lari keluar dari kedai, Debora sesekali menatap arah belakang. Ternyata orang itu tahu kalau itu adalah Debora. Dengan terpaksa Debora pun masuk ke mobil orang dengan nafas yang terengah. Matanya terus menatap ke arah belakang dan melihat dua orang itu masih mengejarnya. "Hei kamu siapa? Kenapa masuk ke mobil saya?" Ucap orang entah siapa yang berada di kemudi. "Aduh Pak jangan banyak tanya dulu. Tolong selamatkan saya Pak, hidup saya dalam bahaya." "Apa sih, turun deh. Saya nggak kenal sama kamu mending kamu turun." "Pak saya mohon!!" Debora memohon dia pun memeluk Giffard yang sejak tadi diam saja. Untung saja tadi pas lari Giffard tidak banyak tingkah kecuali tertawa kecil. Melihat hal ini pria itu langsung menjalani mobilnya. Lagian dia juga tidak tega melihat satu wanita bersama dengan anaknya tengah menghadapi masalah. -NannyToMommy- Sesampainya di depan rumah, Debora mengeluarkan uang berwarna biru dan dia berikan pada sopir itu. Tapi yang ada sopir itu langsung menolak jika dia tidak berminat dengan uang Debora. "Saya nggak mau uang kamu. Lagian saya bukan taksi online." Ucapnya Debora tersenyum malu, mobil ini berwarna biru dan hampir mirip dengan mobil taksi. Ditambah lagi sekarang mobil taksi online pun bermacam-macam. "Sorry, aku pikirkan taksi online." "Lain kali tanya deh sebelum masuk ke mobil. Untuk kali ini saya maafkan, lain kali jangan di ulang." Debora mengangguk dia pun langsung turun dari mobil setelah mengucap terimakasih. Setidaknya uang jajannya terselamatkan. Memasuki rumah hal pertama yang dilihat adalah Kenzo yang ternyata sudah berada di rumah. Berkacak pinggang menatap Debora dan juga Giffard yang terlelap dalam gendongan Debora. "Pak Kenzo… Maaf Pak nggak bilang…" Debora menunduk, tadi saat dia pergi Debora tidak mengirim pesan pada Kenzo maupun Nadine. Dan saat ini belum juga jam kantor pulang Kenzo sudah di rumah. "Nggak masalah, kamu tidurkan dulu Giffard. Dan…." "Dan?" "Dan saya lapar, bisa kamu buatkan saya nasi goreng?" Debora mengangguk dia pun langsung pergi ke kamar Giffard, menidurkan bocah itu agar nyaman dan tidak terbangun. Setelah itu Debora pun segera turun dan masuk ke dapur. Memasak dua piring nasi goreng nugget untuk dirinya dan juga Kenzo. Debora berteriak saat minyak panas mengenai tangannya. Tapi dengan cepat Debora langsung memasukkan tangannya ke dalam air, agar tidak melepuh. "Debora nggak papa?" Tanya Kenzo khawatir. Tadi dia mendengar Debora berteriak makanya Kenzo langsung berlari ke arah dapur, hanya memastikan buka Debora baik-baik saja. "Nggak papa sih Pak. Tapi ayamnya protes pas saya goreng." Ucapan ngelantur Debora membuat Kenzo tertawa. Mana ada ayam protes saat digoreng? Yang ada ayam itu masih basah karena dicelup ke air dan gerakan air panas dan meletik. Tidak mau tertawa sendiri Kenzo pun langsung membantu Debora untuk masak. Awalnya Debora menolak, karena dia bisa sendiri tanpa dibantu oleh Kenzo. Kalau saja itu Mbok Sri mungkin Debora juga tidak akan masalah, tapi ini Bosnya mana mungkin dia membiarkan Bosnya ini masak di dapur. "Pak udah deh, saya aja yang masak. Bapak tunggu di meja makan aja, nanti makannya selesai kok." Debora menarik tangan Kenzo tanpa sopan. Bodo amat kalau Bosnya memiliki pemikiran yang aneh-aneh pada Debora. Dia hanya tidak ingin Bosnya ini masuk ke dapur. Sedangkan Kenzo yang mendapat perlakuan hal itu pun tertawa kecil. Dia pun masih ngeyel untuk terus masuk ke dapur, dengan ancaman jika nasi goreng buatan Debora telah hangus. Nyatanya nasi goreng itu baik-baik saja, karena Kenzo mengecilkan apinya. "Pak…." Seru Debora dan menghalangi Kenzo yang ingin mendekat ke kompor. "Bapak ih bandel banget sih, minggir nggak? Atau Bapak saya lempar pisau?" Ucapnya lagi Kenzo tertawa, "Kamu itu lucu ya, padahal saya yakin usia kamu nggak muda lagi. Tapi nggak ngebosenin." "Huuu Bapak Bucin banget sih, sana udah minggir!! Saya mau masak." Bukannya minggir Kenzo terus mengganggu Debora masak hingga selesai. Bahkan tak hanya itu Kenzo juga meminta Debora untuk menemaninya makan. "Nggak sopan Pak, kalau saya makan sama Bos. Saya makan di belakang saja sama Mbok Sri." Kenzo menahan tangan Debora agar tetap berada di sampingnya dan menemani dia makan. Lagian Kenzo juga tidak biasa makan sendiri, apalagi Giffard masih tidur tidak mungkin dia makan sendiri. Dan terpaksa Debora pun duduk di samping Kenzo dan menikmati makan sorenya. Sesekali Debora malah menyinggung Nadine istri Kenzo yang belum pulang sama sekali. "Ya saya heran aja Pak, kenapa liburan gini kok sendiri-sendiri, kenapa nggak barengan aja? Kan lebih enak tuh bisa menciptakan momen terbaik." Mendengar hal itu Kenzo pun tersenyum dan melahap nasi gorengnya dengan tenang, "Sebenarnya, tadi kita sudah membuat momen terbaik kita saat masak." Ucapnya dan membuat Debora diam seketika. -NannyToMommy-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD