Mata Kenzo tak henti-hentinya menatap Debora yang tampak cekatan saat bekerja. Dia tahu saat ini dia sedang di bayar bekerja di rumah Kenzo. Tapi yang membuat Kenzo tertegun adalah, saat Debora melakukan hal itu tanpa beban. Bahkan saat Giffard mengganggunya pun tidak membuat Debora marah ataupun membentak Giffard. Kecuali saat Giffard mengganggu, Debora hanya akan menggendong Giffard pergi lalu meninggalkannya dengan berlari. Sedangkan Giffard yang melihat pun langsung mengejar Debora dan tertawa. Ini seperti sebuah permainan untuk Giffard yang jarang sekali bermain bersama dengan Nadine. Jika dibedakan dari Babysitter nya dulu, hanya Anggun dan juga Debora yang selalu membuat Giffard tertawa.
"Lihatin apa kamu?" Pertanyaan itu membuat Kenzo tersadar dari lamunannya. Dia pun menatap Arga yang masuk ke rumahnya tanpa ketuk pintu dulu.
Kenzo mendengus, "Masuk rumah orang ketuk pintu dulu."
"Sudah, cuma kamu aja yang nggak denger."
Arga duduk di depan Kenzo dan meminum kopi Kenzo tanpa permisi. Setelah itu mengikuti arah pandang Kenzo, yang ternyata melihat Babysitter nya yang tengah membersihkan rumah dengan Giffard
"Babysitter Giffard ganti profesi, apa nge double kerjaannya." Tanya Arga,
Kenzo menjelaskan sebenarnya bersih-bersih rumah bukan tugas Debora. Tapi saat melihat Mbok Sri sibuk dan rumah belum ada yang beresin, akhirnya Debora yang beresin. Tapi berhubung Giffard sudah bangun, bocah kecil itu berniat untuk membantu dan nyatanya memperparah keadaan. Debora tidak jadi bekerja melainkan kejar-kejaran dengan Giffard.
Bahkan di dalam benak Kenzo saat ini, dia membayangkan jika dia ada di posisi itu. Dimana dia ikut bercanda tawa dengan Giffard dan juga…. Debora.
Kenzo menggelengkan kepalanya pelan lalu tersenyum kecil, bisa-bisanya dia memikirkan Debora sedangkan dia sudah memiliki istri. Harusnya dia berpikir jika itu adalah Nadine bukan Debora.
Melihat hal itu Arga pun tersenyum kecil dia pun langsung menepuk kepala belakang Kenzo dan membuat sang empu mendengus.
"Kamu pikir nggak sakit apa!!" Ketus Kenzo dan mengusap kepala belakang.
"Salah sendiri liatin dia sampai nggak kedip. Ingat istri di rumah."
Tentu saja hal itu selalu diingat Kenzo, tapi wanita di depannya itu mampu menjadi objek menarik di mata Kenzo. "Nggak usah di ingatkan, aku pasti ingat!!" Ucapnya.
Kenzo bangkit dari duduknya dia pun menghampiri Debora, dan meminta Debora untuk menyiapkan baju kerjanya. Sedangkan Kenzo dia memilih mandi. Harusnya tadi dia ke kantor pagi-pagi sekali, tapi karena melihat Debora dan Giffard kejar-kejaran membuat niat itu hilang ditelan bumi. Dan akhirnya Kenzo berangkat ke kantor setelah jam sembilan pagi. Bahkan Kenzo juga meminta Debora untuk ikut dengan dirinya ke kantor bersama dengan Giffard.
"Pak saya…"
"Saya lagi nggak pengen ditolak Debora, lebih baik kamu ikut." Potong Kenzo cepat.
Debora menghela nafasnya, dia pun memilih mengalah dan menurut. Lebih baik dia mengganti baju Giffard lebih dulu barulah bersiap.
Hampir sepuluh menit Debora pun selesai, dia pun segera kembali ke ruang tamu bersama dengan Giffard. Bersamaan dengan itu, Kenzo turun dari tangga dengan menggulung lengan kemejanya. Lalu memberikan dasi hitam pada Debora.
Seakan tahu apa maksud Kenzo, Debora langsung mengambil kursi kecil dan menaikinya. Entah Debora yang terlalu mungil atau Kenzo yang terlalu tinggi hingga memasang dasi saja Debora harus membutuhkan bantuan.
Berbeda lagi dengan Kenzo, yang membayangkan jika Debora adalah istrinya yang setiap pagi memasangkan dasi dengan Kenzo yang terus menggodanya. Memeluknya atau mungkin mencium keningnya. Sayangnya dia bukan istri Kenzo, membayangkan saja membuat Kenzo tersenyum kecil.
"Bapak kenapa senyum gitu? Mikirin saya yang aneh-aneh ya." Kekeh Debora, menarik simpul dasinya.
Kenzo tersenyum, "Sok tau kamu itu."
"Ya kan siapa tau aja Pak. Mikir mau mecat saya atau mungkin merencanakan penculikan." Kekeh Debora.
"Yang nyulik kamu juga nggak mungkin mau Debora." Debora mendengus mendengar ucapan itu. Lagian kalau dijual Debora masih laku mahal. Bodynya goals, dia cantik, kulitnya putih pucat dengan rambut pirang nya. Mana mungkin penculik menolak dia.
"Yee Bapak. Lagian saya heran deh Pak. Punya istri nggak dimanfaatin banget, sekarang dasi saja saya yang pasangin. Repot sendiri Pak. Mending Bapak telepon Bu Nadine segera pulang, suaminya minta di manja."
Ini sudah bukan lagi seperti Bos dan bawahan. Tapi sudah seperti seorang teman yang saling meledek. Tapi Debora tahu batasan dengan siapa dia bercanda.
Kenzo tertawa kecil, dia pun menganggukkan kepalanya, "Ya nanti saya akan bilang sama istri saya. Jika Babysitter Giffard mencarinya." Ucapnya dan membuat Debora mendelik.
Belum sempat Debora protes dengan ucapan Kenzo. Arga lebih dulu menyela dan meminta Kenzo untuk berhenti berkelahi dan segera pergi ke kantor. Jam terus berjalan, dan tidak mungkin Arga terus melihat pertengkaran mereka.
-NannyToMommy-
Sesampainya di depan kantor semua orang langsung menatap Debora menilai. Dari segi penampilan sepertinya tidak ada masalah. Dia hanya memakai kemeja putih strip dan juga celana hitam sedikit sobek dibagian lutut. Memakai sneakers dan juga mencepol rambutnya. Ini penampilan yang wajar bukan? Tapi kenapa semua orang menatapnya seperti itu? Seakan mereka sedang menilai penampilan Debora.
Karena merasakan risih Debora berjalan sedikit jauh dari Kenzo. Biar semua orang tahu jika dia ini Babysitter bukan istri atau mungkin simpanan Bos besar mereka. Belum lagi banyak yang berbisik.
Merasa ada yang aneh dengan karyawannya Kenzo dan Arga pun saling pandang dan menoleh. Menatap Debora dan juga Giffard yang berjalan sedikit jauh darinya.
"Debora, ayoo." Kenzo berjalan ke belakang, dia pun langsung menggendong Giffard dan menarik tangan Debora
Diperlakukan seperti itu Debora langsung panas dingin dan menatap semua orang yang berbisik. Langsung saja Debora melepas tarikan tangan Kenzo dan berjalan disamping Kenzo.
"Maaf Pak tapi… nggak sopan dilihat orang." Ucapnya menundukkan
Kenzo paham dia pun langsung berjalan lebih dulu dan masuk ke lift. Sedangkan Arga dan Debora berjalan di berjalan di belakang Kenzo.
Ting!!
Debora mendongak dia pun menatap pintu lift terbuka, dan dengan segera berjalan keluar mengikuti lengkap kaki Kenzo. Dia itu sedang lari atau bagaimana? Lengkap kakinya sangat lebar dan membuat Debora sulit mengimbangi langkahnya.
"Aduh…"
Kenzo dan Arga pun menoleh saat mendengar suara benda jatuh. Kenzo pikir itu tas atau vas bunga yang jatuh. Ternyata Debora yang terjatuh dengan posisi tersungkur dengan kedua tangan yang menyangga tubuhnya.
"Debora…" Kenzo berlari kecil ke arah Debora dan membantunya berdiri. "Kamu nggak papa? Ada yang sakit?" Ucapnya khawatir
"Nggak sih Pak, tapi tolong itu karpet dipindahin kek, mengganggu jalan saya. Kalau nggak ya di rapiin." Omel Debora tanpa sadar. Dia pun menatap lututnya yang sedikit merah.
Bukan hanya Kenzo yang berpikir jika wanita ini sangat unik. Sampai-sampai benda mati pun disalahkan. Dan pada akhirnya dua pria dewasa itu hanya mampu menahan tawanya dan membantu Debora untuk berjalan.
-NannyToMommy-
Sore hari setelah seharian di kantor Kenzo, Debora dan Giffard pergi ke sebuah mall. Giffard ingin membeli mainan yang baru saja dia lihat di sebuah apk merah, yang banyak mereview banyak mainan.
Memasuki toko mainan terkenal Giffard mendadak bingung dan hanya bisa keliling rak demi rak hanya untuk menatap banyak mainan. Hingga Giffard menunjuk sebuah boneka Barbie dengan gaun pink panjang dan rambut pirang nya. Tentu saja hal itu mengundang tawa Debora dan juga Kenzo.
"Astaga sayang itu untuk perempuan. Kamu kan laki-laki." Ucap Debora tertawa.
Kenzo menggaruk keningnya dan mengulum tawanya. "Kamu Boy jadi harus pilih mainan untuk cowok."
Giffard mengangguk dia pun kembali berkeliling rak untuk menatap satu persatu mainan yang ada. Hingga akhirnya Giffard pun menunjuk dua mainan dinosaurus dengan model dan warna yang berbeda. Bahkan mainan itu jalan pun menggunakan baterai.
Setelah memastikan itu yang dipilih Giffard, Kenzo langsung membayar bill nya dengan cepat. Bukan karena apa, mendadak dia lapar saat mencium bau makanan.
"Giffard mau makan apa?" Tanya Kenzo menghentikan langkahnya di sebelah restoran mahal.
"Bapak belum pernah makan di pinggiran jalan ya?" Tanya Debora tiba-tiba dan membuat Kenzo menoleh.
"Pernah lah, waktu ketemu kamu saya juga makan di pinggiran jalan."
"Bukan itu Pak."
"Terus apa?"
Debora memberi ide pada Kenzo jika mereka mending makan nasi penyetan. Harganya murah, dan bikin kenyang. Bahkan Debora juga jujur, kalau makan di restoran dia kurang kenyang. Hal ini dia rasakan saat dia menginjak sekolah menengah keatas. Dimana anak kos yang harus hemat dan bersahabat dengan diskon dan promo. Walaupun kaya, sejak dulu Debora lebih suka makan di pinggiran jalan. Lalu tinggal di kos agar tidak dikekang oleh Papanya. Anggap saja dia itu wanita bebas.
Kenzo menyetujui ide Debora, itung-itung belajar makan di pinggiran jalan dan menatap banyaknya motor dan mobil yang berlalu lalang. Untung saja dekat mall ini ada banyak yang jual penyetan. Dan kata Debora yang ramai itu pasti masakannya enak. Sayangnya disini sua penyetan yang saling berjejeran ramai semua.
"Mau pilih yang mana Ra? Saya nggak tau ya mana yang enak." Ucap Kenzo menatap sekeliling penyetan ini
Debora berpikir sebentar penyetan itu identik dengan sambal. Daging dan kawan-kawan nya rasanya seperti pada umumnya. Dan yang membedakan adalah sambal, sedangkan dilihat Debora ada juga yang pakai sambal ijo seperti masalah padang.
"Dih Pak saya bing--"
"Debora."
Ucapan wanita itu terpotong saat seseorang memanggil nama Debora dan membuat Debora menoleh bingung. Disana ada seorang pria yang berjalan ke arah Debora, bukan jalan melainkan berlari kecil ke arah Debora.
"Debora Ansylla jangan bilang kamu lupa sama aku ya." Ucap pria itu saat sudah di hadapan Debora.
Debora berpikir siapa pria yang ada di depannya. Kalau teman sekolah atau kuliah dia pasti ingat. Tapi pasalnya satu kelas pun pasti banyak sekali muridnya, dan tidak mungkin juga Debora harus ingat semuanya.
Tapi melihat raut wajahnya yang tidak asing dan juga tau lalat di bawah bibirnya membuat Debora berpikir. "Kamu…. Panji bukan?" Ucapnya sambil menunjuk pria itu
Pria itu tersenyum dia pun mengangguk, "Alhamdulilah kalau kamu ingat sama aku Ra. Aku pikir lupa." Kekehnya.
"Astaga kamu beneran Panji? Panji Nugraha?" Debora hanya memastikan jika pria itu adalah Panji teman sekolahnya dulu. Teman yang suka sekali memberi contekan pada Debora setiap ada ujian dadakan, dan saat Debora tidak sempat belajar.
Pria yang disebut Panji pun mengangguk, "Iya.. Panji yang suka kasih contekan pas ujian dadakan. Panji yang suka kamu titipin s**u coklat dan juga makaroni di kantin."
Debora melompat senang dia bahkan sampai bertepuk tangan mendengar hal itu. Jadi benar jika pria di depannya adalah Panji teman sekolahnya.
"Kamu ngapain disini?" Tanya Debora heran.
"Aku buka cabang penyetan disini. Kamu sendiri ngapain disini. Dan…" Panji menghentikan ucapannya saat menatap satu pria dewasa sedang menggendong anak yang sejak tadi menatap interaksi Panji dan juga Debora. "Gila ya kamu nikah tapi nggak undang-undang." Ujarnya dan membuat Debora mendelik.
Seketika itu juga Debora langsung memukul Panji. Saat Debora ingin protes yang ada Kenzo malah mengukuhkan tangannya dan berkata, "Saya Kenzo suami Debora." Ucapnya tanpa dosa.
Mata Debora mendelik sempurna dia pun menatap Kenzo dengan penuh tanya. Ini suami orang maksudnya bagaimana? Kenapa dia berkata seperti itu? Belum lagi Giffard yang terkikik kecil mendengar ucapan Kenzo.
"Astaga kamu Ra nikah nggak undang-undang, sumpah ya jahat banget."
"Eh Ji buk---"
"Udah mumpung kamu di sini sama suami kamu. Ayo mampir di penyetan aku, rasain sambalnya pasti enak." Potong Panji cepat dan membuat Debora gelagapan.
Dia ingin protes tapi belum sempat Panji malah lebih percaya dengan ucapan Kenzo. Belum lagi ekspresi Kenzo yang membuat Debora semakin kesal. Wajah-wajah tanpa dosa yang ditampilkan.
"Pak kenapa bilang gitu, nanti kalau Bu Nadine tau terus salah paham gimana?" Omel Debora.
Kenzo tersenyum, "Dia tidak akan peduli." Ujarnya dan membuat Debora melongo.
-NannyToMommy-