Seperti biasa setelah mengurus Giffard, sekarang giliran Bapaknya yang di urus. Menyiapkan baju kantor, sepatu, tas dan juga membersihkan kamarnya. Tak lupa juga mengikatkan dasi di leher Debora, lalu melepaskannya dan menaruh dasinya di samping kemeja. Tak lupa juga jam tangan mahal yang menjadi ciri khas Tuan Kenzo.
Setelah sudah selesai semua, giliran Debora yang menyuapi Giffard. Lagian ini sudah waktunya sarapan setelah makan sereal. Kadang Debora berpikir perut Giffard apa tidak melar banyak makan? Pagi hari makan sereal dan juga s**u, dan sekarang minta makan lagi dengan nasi. Itu kalau perut Debora sudah kenyang sampai makan siang. Walaupun porsi yang diambil Debora tidak terlalu banyak.
"Ayo Giffard kita makan ayam panggang." Ucap Debora.
Giffard tertawa kecil sambil bertepuk tangan. Memposisikan dirinya di samping Debora dan duduk dengan tenang. Entahlah bayi satu ini sangat lucu saat bertingkah.
Debora membentuk pesawat untuk bisa masuk ke dalam mulut Giffard. Walaupun dia ini cepat makan, tapi kadang sulit membuka mulutnya. Tapi setelah masuk ke mulut ya tetap saja di telan.
Hingga akhirnya Kenzo pun turun dari tangga dan bergabung bersama Giffard dan juga Debora.
"Papa….." Panggil Giffard dengan suara lucunya.
Kenzo tersenyum, dia pun langsung mendekat dan mencium kening Giffard. Setelah itu ikut sarapan bersama dengan Giffard. Mendadak Kenzo berpikir jika di meja makan ini ada dirinya, Giffard dan juga Nadine. Mungkin hal itu akan sedikit berbeda.
Tidak mau berlalu lama Kenzo pun segera melahap sarapannya dengan cepat. Ini sudah hampir jam tujuh, jangan sampai dia terlambat ke kantor lagi.
"Ra nanti kalau saya nggak bisa pulang, tolong anterin makan siang saya ke kantor ya. Soalnya hari ini saya banyak kerjaan." Ujar Kenzo.
"Siap Pak nanti saya bawakan. Emangnya Bapak mau makan siang pakai apa?"
"Terserah."
Satu kata yang mampu membuat Debora jengkel setenga mati. "Kalau terserah Bapak mau saya bawakan piring sama sendok aja?" Dengus Debora.
Kenzo hanya geleng kepala mendengar jawaban Debora. "Maksud saya terserah kamu mau bikin apa."
"Yaudah nanti saya bawakan tumis kerikil Pak."
Kenzo tersedak dengan makanannya sendiri saat mendengar jawaban Debora. Dia pikir Kenzo ini apa hingga dia harus makan tumis kerikil? Tanpa mau meladeni Debora, Kenzo segera menghabiskan sarapannya dan pergi ke kantor.
Dan hal pertama yang menarik pandangannya adalah, Debora yang menenteng tas kantornya dan juga menggendong Giffard keluar rumah. Dia seperti istri yang tengah mengantarkan suaminya untuk pergi bekerja. Dan yang ada di bayangan Kenzo adalah, saat dia mengambil tas kantornya dan mengecup kening sangat istri. Mungkin, kalau itu Nadine ini wajar, tapi ini Debora yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Kenzo dan hidupnya. Dan dia hanya pengasuh Giffard saja tidak lebih.
Giffard melambaikan tangannya saat Kenzo sudah masuk ke mobil dan meninggalkan pekarangan rumah. Lalu Giffard dan Debora pun segera masuk dan menatap Mbok Sri yang berdiri tak jauh darinya
"Mbok Sri kenapa kok lihatin aku kayak gitu?" Tanya Debora aneh. Tatapan Mbok Sri seakan cemas dan khawatir, tapi hal apa yang membuat Mbok Sri seperti itu?
"Debora jangan terlalu dekat dengan Tuan Kenzo ya." Ucapnya dan membuat Debora bingung.
"Kenapa Mbok?"
"Dia kan udah punya istri."
Debora mengernyit keningnya dalam dan mencerna apa yang dimaksud Mbok Sri. Debora tahu jika Kenzo memiliki istri, lalu letak kesalahan Debora dimana? Bukannya Mbok Sri sendiri yang meminta Debora untuk menyiapkan kebutuhan Kenzo. Tapi kenapa sekarang di ingatkan oleh status Kenzo?
"Iya Mbok aku tau kalau Pak Kenzo sudah menikah. Terus masalahnya dimana? Kan Mbok sendiri yang minta aku buat nyiapin semua kebutuhan Pak Kenzo." Debora menurunkan Giffard saat bocah kecil itu minta turun. Tapi matanya terus menatap Mbok Sri yang tampak bingung. "Mbok kenapa sih, ada yang salah sama aku?" Ucapnya lagi
Mbok Sri menggeleng, "Kamu nggak salah sih Ra, tapi Mbok takut aja kalau Pak Kenzo punya perasaan lebih sama kamu. Dia memiliki istri yang tidak peduli dengan dia. Mbok juga tau kalau dia suka kamu perhatiin seperti ini." Jelas Mbok Sri.
Debora tertawa kecil lalu menggeleng, "Mbok tenang aja, aku udah punya pacar dan kita akan menikah. Jadi buang pikiran Mbok kalau aku mau nikung Pak Kenzo." Jelasnya dan mengejar Giffard yang masuk ke ruang bermain meninggalkan Mbok Sri yang sedikit bernafas lega setidaknya status Debora jelas, dan hal yang tak diinginkan tidak akan terjadi setelah ini.
-NannyToMommy-
Ini sudah masuk jam makan siang, tapi sampai saat ini Debora belum juga mengantar makan siangnya. Kenzo mencoba berpikir positif, mungkin di jalan sedang macet. Atau mungkin Debora sedang sibuk dengan Giffard. Atau tidak Debora sedang masak dan sedikit terlambat untuk ke kantor. Mengingat hal itu entah kenapa Kenzo tersenyum kecil. Andai saja Nadine seperti Debora, mungkin hidup Kenzo akan sempurna dan bahagia. Tapi… takdir berkata lain.
Sedang asyik berandai-andai suara ricuh membuat Kenzo menatap pintu ruangannya heran. Untung saja setengah pembatas ruangannya ini kaca, jadi Kenzo tahu jika ada bayangan atau derap kaki yang ingin ke ruangannya.
"Pak Kenzo!!"
Teriakan itu membuat Kenzo menajamkan pendengarannya. Dia juga menatap banyak sepasang sepatu di balik kaca ruangannya. Hingga akhirnya membuat Kenzo bangkit dari duduknya dan keluar
"Apa ada ini? Kenapa kalian berisik?" Seru Kenzo tegas
"Anu Pak ini, wanita ini nyelonong masuk dan ingin bertemu Bapak." Jelas Pak Supri menunjuk wanita bertopi di sampingnya.
Kenzo mengernyitkan keningnya, pria itu menatap wanita di depannya dengan teliti baju putih panjang, celana sobek, topi ring, masker hitam dan sepatu putih penampilannya seperti Debora tapi…
"Pak dia nih yang ngelarang saya masuk. Masa saya suruh nunggu di depan kantor? Bayangin Pak panas itu, kalau suruh nunggu di lobby sih saya masih nggak masalah. Tapi ini diluar kantor Pak, ya saya nyelonong masuk aja." Adu orang itu dan menurunkan maskernya.
Ternyata benar wanita itu adalah Debora. Kenzo langsung meminta semua orang untuk pergi, dan memberitahu semua orang jika Debora masuk, biarkan dia masuk.
Berbeda dengan Debora yang langsung menjulurkan lidahnya pada satu wanita entah siapa, yang sejak tadi marah-marah terus pada Debora. Secara fisik dia seksi, cantik tapi lipstiknya yang membuat Debora merinding.
Melihat Kenzo masuk ke ruangannya, Debora pun langsung mengikutinya lalu memberikan makan siangnya pada Kenzo
"Debora kamu mau kemana?" Tanya Kenzo saat tahu Debora ingin pergi.
Debora kembali badannya menatap Kenzo heran, "Mau pulang Pak. Kan udah nganterin makan siangnya Bapak."
"Ini bukan tumis kerikil kan?" Kenzo hanya memastikan jika ucapan Debora itu tidak benar. Dia tidak akan makan tumis kerikil seperti apa yang dibilang Debora.
Mendengar hal itu Debora pun tertawa, "Ya ampun Pak saya tadi cuma bercanda. Nggak mungkin juga saya ngasih makan Bapak kayak gitu. Isinya itu cuma nasi sama tumis daging." Jelasnya
"Saya pikir kamu beneran mau ngasih itu ke saya."
Sekali lagi Debora tertawa, "Nggak akan. Lagian hidup Bapak serius banget sih, diajak bercanda dianggap serius. Next time ngopi deh Pak biar selow hidup Bapak."
Baru kali ini ada wanita yang seberani ini dengan Kenzo. Ucapannya blak-blakan dan tanpa gengsi. Kenzo langsung melahap masakan Debora, dan meminta wanita itu untuk menemaninya makan. Sesekali Kenzo melirik ke arah Debora. Wanita yang belum ada satu minggu bekerja di rumahnya, mampu membuat dirinya sedikit tertarik.
Nyatanya dia lebih peduli dibanding Nadine yang entah sekarang ada dimana.
"Pak…."
Panggilan itu membuat Kenzo menoleh, dia pun menatap Debora yang seakan sedang meneliti ruangan ini. "Jadi Bos enak nggak sih Pak?"
"Nggak enak, seperti yang kamu bilang tadi hidup terlalu serius."
Walaupun tidak paham Debora hanya menganggukan kepalanya. Aneh saja kenapa foto pernikahan Kenzo dan juga Nadine tidak ada disini? Debora ingin bertanya tapi melihat Kenzo yang makan dengan lahap membuat dia mengurungkan niatnya.
"Kamu kenapa nggak ajak Giffard." Ucap Kenzo
"Mau ngajak sih Pak, tapi tadi tuh ada wanita tua yang datang ke rumah. Dia bilang Omanya Giffard, yaudah saya tinggal. Saya kasihan kalau Bapak kelaparan kalau saya ngajakin Giffard. Soalnya saya bawa motor." Jelas Kenzo
Dahi Kenzo mengernyit dalam dia pun berpikir wanita tua siapa? Kalau Mamanya Nadine mana mungkin datang saat tau anaknya ke luar kota. Tapi kalau Mami? Bukannya Mami sedang di Swiss ya?
"Ciri-cirinya seperti apa?"
Debora menjelaskan jika wanita itu memiliki rambut berwarna coklat panjang, lalu penampilannya juga sederhana tidak begitu mewah. Dia datang bersama dengan suaminya yang gagah walaupun sudah tua. Kenzo bahkan sampai menunjuk foto kedua orang tuanya, dan membuat Debora menganggukkan kepalanya antusias.
"Oh itu Mami saya, biarkan saja dia sana Giffard." Ucap Kenzo saat tau siapa yang datang.
"Iya, tadi Ibu itu bilang saya suruh cepet-cepet."
Kenzo mengangguk dia meminta Debora segera pulang. Sebentar lagi Kenzo juga akan pulang untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Debora…" Wanita itu menoleh saat Kenzo memanggilnya. "Lain kali jangan panggil saya Pak ya. Rasanya saya seperti Bapak-bapak tua." Jelasnya dan membuat Debora cekikikan.
"Bapak Bos saya, mana mungkin saya mau manggil nama. Nggak sopan Pak."
"Maksud saya kalau sedang berdua. Jika di rumah atau pas ada Nadine tidak masalah." Ralatnya dan membuat Debora mengangguk.
"Yaudah saya panggil Mas aja ya."
"Mas?" Ucap Kenzo menirukan ucapan Debora.
"Iya Mas Kenzo, itu lebih sopan kalau aku harus panggil kamu Kenzo."
Mendengar bahasa Debora yang berubah membuat Kenzo tersenyum. Dia pun mengangguk walaupun telinganya begitu asing mendengar kata Mas. Sebisa mungkin Kenzo mendengar biasakan diri dengan kata itu.
"Terserah kamu." Finally tidak ada kata yang bisa keluar dari bibir Kenzo selain kata itu.
"Oke, aku pulang dulu Mas. Bye!!"
-NannyToMommy-
Setelah pulang dari Swiss dua hari yang lalu Helena dan juga Immanuel pun datang ke rumah Kenzo. Tapi hal pertama yang dilihatnya adalah wanita cantik yang memakai celemek dan juga membawa penggorengan. Helena sempat berpikir jika itu adalah asisten rumah tangga yang baru, yang mungkin menggantikan Mbok Sri yang sudah tua. Tapi Helena salah, dia adalah Babysitter Giffard, dan wanita yang di minta Kenzo untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Hidup berumah tangga selama tiga tahun tak membuat Kenzo berhenti mengeluh. Hampir setiap hari dia mengeluh pada Mami nya untuk mengurus Giffard, jika Babysitter yang dia pilih tidak sesuai dengan kerjanya. Bahkan entah sudah berapa kali Kenzo gonta-ganti Babysitter karena tidak cocok. Menantunya ini sangat manja, sehingga tidak mau mengurusi anak dan juga Kenzo.
"Terus, sekarang Nadine nya kemana Mbok kok nggak kelihatan." Ucap Helena
"Non Nadine ke luar kota Nyonya sama temannya." Jelas Mbok Sri membuat Hellena geleng kepala.
"Anak itu nggak berubah ya. Masih aja acuh sama suami sama anak." Gerutu Helena
"Udah Mi nanti kalau Kenzo capek pasti di cerai in." Sahut Immanuel menepuk bahu istrinya
Helena langsung menatapnya tajam, dulu dia berharap jika anaknya menikah satu kali seumur hidup. Lagian kalau tahu seperti ini, mungkin dulu Helena akan berpikir dua kali menikahkan Kenzo dengan Nadine. Memang benar penyesalan datang di akhir, dan saat ini Helena menyesal telah memaksa mereka menikah dulunya. Andai waktu bisa di putar Helena ingin kembali dimasa, dimana Kenzo menikah dan lebih mempertahankan kekasihnya dulu, dibanding Nadine.
Mbok Sri juga bercerita kalau selama ini yang menyiapkan kebutuhan Kenzo dirinya. Tapi saat ada Debora, Kenzo meminta semuanya Debora yang menyiapkan, memasak, menyiapkan baju kantor, tas, sepatu. Bahkan memasang dasi pun Debora yang memasangkan bukan Nadine. Helena yakin kalau sekalipun Helena belum pernah memasangkan dasi Kenzo adalah Debora.
Mendengar hal itu Immanuel malah bersyukur kalau Kenzo berselingkuh dengan Debora. Atau mungkin hidup semati dengan Debora. Beda lagi dengan Helena yang langsung menatap tajam ke arah Immanuel dan berhenti berkhayal.
"Nanny…."
Panggilan itu membuat semua orang menoleh termasuk Helena dan juga Immanuel. Giffard pun berdiri dan langsung memeluk kaki Debora
"Hai Boy, asyik mainnya?" Tanyanya dengan nada meledek.
Giffard mengangguk dia pun menunjuk Helena dan juga Immanuel bergantian. "Oma…. Opa…"
"Appa?"
"Opa…"
"Appa…."
"Opa…." Pekik Giffard dengan wajah cemberut nya.
Debora tertawa kecil lalu mengajak Giffard pergi ke dapur. Mengambil ice cream buatannya, yang lupa dia berikan pada Giffard. Lalu mereka berdua pun kembali ke ruang keluarga bersama dengan Helena dan juga Immanuel.
"Giffard kok makan ice cream? Kalau batuk gimana?" Ucap Helena panik dan ingin merebut ice cream dari Giffard.
"Ibu tenang saja ice cream yang saya buat terbuat dari s**u kok. Itu susunya Giffard sendiri, dan juga saya tambah buah. Jadi aman, dan Giffard pun bisa makan buahnya. Soalnya Giffard nggak mau makan buah sama sayur, jadi harus di bujuk." Jelas Debora cepat.
Melihat hal itu Helena pun memilih diam dan membiarkan Giffard memaksa ice creamnya. Lagian bocah kecil itu juga tidak menimbulkan sesuatu saat makan ice cream.
Sekarang giliran Helena yang mulai menginterogasi Debora kenapa dia bisa sampai di rumah Kenzo dan akrab sekali dengan Giffard. Dengan santai dan sesekali menggoda Giffard, Debora menjelaskan pergantian kali bertemu dengan Kenzo, saat Giffard hilang.
"Giffard pernah hilang? Dan kamu yang menemukan? Dimana?" Ucap Immanuel heboh
"Di pinggiran jalan Pak, waktu saya makan tiba-tiba Giffard menarik ujung baju saya." Terang Debora.
"Dia sendiri?" Seloroh Helena.
"Sama Pak Kenzo aja sih Bu waktu itu saya juga nggak lihat Mamanya Kenzo."
"Jangan tanya kamu nggak akan menemukan Kenzo keluar sama Nadine." Serobot Immanuel dan membuat Helena memukulnya kecil.
Melihat hal itu Debora hanya tertawa kecil dan menggoda Giffard yang sedang makan ice cream. Hingga tak lama pintu rumah ini membuat semua orang menoleh. Masuklah Kenzo dengan santainya dan menaruh tas kerjanya di atas meja kecil.
Giffard yang melihat Kenzo pun ingin berlari ke arah Kenzo, tapi ditahan oleh Debora. "Papa biar cuci tangan dulu ya Giffard, biar ganti baju dulu. Baru nanti main sama Giffard." Jelas Debora dan membuat Giffard mengangguk
Kenzo segera baik ke atas dan mengganti bahunya dan juga mencuci tangannya. Sedangkan Helena dan Immanuel pun saling pandang apalagi Mbok Sri.
-NannyToMommy-
Tab love jika kalian suka ?