Selalu salah

1539 Words
"Saya tidak menduga pekerjaan pertama yang anda lakukan setelah bebas dari penjara adalah menjadi gigolo, Tuan." Damian tidak menoleh. Ia hanya memutar lembut helaian rambut panjang wanita yang tertidur di sebelahnya. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang untuk pria yang baru saja menghabiskan malam panjang dengan seorang istri dari keluarga konglomerat. Ia mengisyaratkan pada asistennya untuk menjaga jarak, tak ingin lelaki itu melihat wajah Alisa yang tertidur dengan napas teratur dan tubuh yang hanya tertutup selimut tipis. "Jelaskan alasan dia datang ke tempat ini." "Wanita ini, nyonya Alisa istri dari pemilik Alexander group, ingin hamil dengan pria yang mirip dengan suaminya. Ia membayar tiga puluh juta untuk membeli 'benih' dari anda." jelas sang asisten setelah melakukan penyelidikan awal. Damian menghela napas pelan, lalu menyeringai kecil "Haa... lucu sekali. Dia membeliku dengan uang receh." "Semua berjalan sesuai rencana, Tuan. Klub malam ini dikendalikan Madam yang sangat menyukai tampilan Anda. Dan tampaknya, Nyonya Alisa juga berpikir Anda adalah pilihan yang tepat." "Jadi, sampai ia hamil, aku harus menjadi gigolo pribadinya ya." Damian terkekeh, menarik rambut panjang Alisa dan mengecupnya singkat, menghirup aroma manis yang menguar dari tubuhnya. Ia begitu menikmati permainan peran ini. Tadi malam ia tidak ingat sampai berapa ronde, sepertinya hingga terdengar suara subuh berkumandang. Malam yang menyenangkan. "Anda tidak perlu melanjutkannya jika anda enggan, Tuan. Saya selalu bisa mengeluarkan anda dari tempat ini. Madam klub malam tidak bisa menahan anda menjadi pekerjanya. Meskipun madam sangat suka dengan penampilan anda." "Aku tahu. Tapi aku mulai juga menyukai pekerjaan ini. Sekarang kau pergilah, aku harus melanjutkan yang tadi malam." Damian mengusir, saat ia melihat Alisa bergerak gelisah. Asisten itu mundur dengan anggukan, tanpa berkomentar apapun lagi. Ia sudah terbiasa dengan segala perilaku aneh dan nyentrik yang sering dilakukan oleh bos nya ini. Begitu pintu ditutup, Damian mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut dan nakal. "Selamat pagi, Alisa." sapanya, mereka berdua sudah setuju untuk saling memanggil nama. Alisa mengucek matanya yang perih. Begitu bangun ia merasakan nyeri luar biasa di hampir seluruh tubuhnya, bahkan pinggangnya terasa hampir patah. "Apa masih terasa sakit? Mau ku ambilkan air?" laki laki di sebelahnya ini, sembari tiduran, menatapnya dengan mata berbinar bangga. Alisa melirik kesal, padahal dia lah tersangka utama yang meremukkan seluruh tubuh Alisa. Padahal Alisa sudah minta berhenti, tapi stamina orang ini tidak ada habisnya terus menggempur tanpa jeda. "Kamu... uhhh, yang tadi malam sangat berlebihan." geram Alisa dengan suara serak. Ia beranjak duduk, lalu tangan besar laki laki ini membantunya dengan menyangga punggung. "Awas selimutmu. Jika aku melihat tubuh vulg*rmu, aku tidak bisa menahan diri untuk menyerang lagi." Alisa tergesa menarik selimutnya hingga ke bahu, menutupi seluruh tubuhnya dengan kain yang bersih? Sepertinya selimut baru. Dan Alisa sejujurnya juga baru sadar bahwa meskipun sakit, tubuhnya bersih, tercium aroma sabun yang segar. "Kamu sudah bangun dari tadi?" tanya Alisa. "Ya, aku bahkan sudah memesan makanan, mandi, dan membasuh tubuhmu dengan kain basah." Melihat laki laki yang mirip suaminya, tetapi berbicara dengan nada rendah dan penuh perhatian membuat Alisa merasa canggung. Laki laki ini sekarang mengambilkan segelas air dan sepiring sandwich isi daging dan sayur. "Aku tidak tahu apa yang kau suka jadi aku hanya membeli roti." Alisa mengangguk, meneguk segelas air hangat dan mulai mengunyah roti dengan tetap mempertahankan selimut untuk menutupi bagian d*danya. Laki laki di depannya menatap dengan senyuman seram. Alisa seakan bisa melihat gejolak nafsu dalam tatapannya ke tubuhnya. "Untuk hari ini cukup. Aku lelah." Alisa langsung menegaskan. Damian tergelak. Baginya itu lucu, mengingat tadi malam Alisa menangis tersedu sedu dan tidak berhenti 'berteriak' antara rasa sakit dan nikmat hingga suaranya serak. Tapi sekarang ia malah sok galak begini. "Lalu," Damian meraih rambut di pipi Alisa, ia selipkan ke belakang telinga. "Kapan kau akan datang lagi? Satu kali tidak akan cukup untuk hamil, lady." Wajah Alisa langsung bersemu merah. Mengalihkan pandangan ke sembarang tempat. Tak ingin melihat wajah mengharap Damian. "Tidak tahu, aku harus mengeceknya terlebih dahulu, siapa tahu yang tadi malam sudah cukup untuk membuatku hamil." "Begitu ya, baiklah kau memang harus melakukannya. Sedangkan aku akan menunggumu di sini. Kuharap akan ada hari berikutnya." Damian menatapnya dalam, ia tidak mengalihkan pandangan barang sedetikpun dari wajah wanita ini. Wanita yang putus asa karena terjerat pernikahan tanpa cinta. "Selagi tidak melakukannya denganku, tolong jaga kesehatan 'barangmu', aku sudah membelimu sampai bisa membuatku hamil jadi aku tidak akan terima kalau kamu sampai terkena penyakit menular." Alisa kini kembali serius dan menatapnya. Kalimatnya membuat Damian menutup mulut. Ia tak percaya bisa mendapatkan tuduhan seperti ini. Padahal yang tadi malam adalah yang pertama. Damian juga tidak punya waktu untuk melakukannya dengan sembarang orang. Tapi karena ia sedang menyamar sebagai 'gigolo' tentu saja Alisa bisa berfikir demikian. "Karena kau sudah membeliku, aku milikmu, jadi aku akan menjaga diri. Berpuasa hingga kau datang lagi." Kalimat yang sungguh ambigu. Alisa tidak menanggapi, segera setelah menyelesaikan beberapa hal dan kembali menyamar, ia pergi dari tempat pel*curan ini. *** Satu minggu yang lalu "Apa klien dari Jepang yang kamu temui itu perempuan?" "Bukan urusanmu, kenapa tiba tiba bertanya?" Alex menjawab ketus tanpa memandang Alisa sedikit pun. Ia meregangkan tubuhnya dan langsung berbaring di kasur, sambil memainkan ponselnya. Ia membiarkan Alisa, yang seorang istri, melepas kaos kakinya dan merapikan barang barangnya yang berada di dalam koper. "Ada bau parfum perempuan di jasmu. Aku tahu ini bukan parfummu." jawab Alisa pelan. Ia mengatur nadanya serendah mungkin supaya Alex tidak tersinggung. "Hah! Kau curiga aku selingkuh hanya karena bau parfum? Aku ini bekerja di luar tidak hanya berkumpul dengan laki laki. Kau sendiri tahu sekretaris ku juga seorang wanita muda, wajar saja kalau bau parfumnya menempel karena kami sering bertemu untuk urusan pekerjaan." "Sekretarismu ganti lagi? Bukankah yang sebelumnya," "Itu bukan urusanmu, Alisa. Kau ini istri yang tidak bisa apa apa selain melebarkan kaki di tempat tidur, jangan mengaturku dan mempertanyakan hal tidak jelas begitu. Aku lelah, kau keluar saja sana." Mungkin jika di awal pernikahan dulu, Alisa akan protes dan tidak terima diperlakukan seperti ini. Tapi sekarang, setelah lima tahun menikah Alisa mulai terbiasa dan tidak mau memperdebatkan kemarahan Alex. Bahkan jika Alisa mendengar kabar bahwa Alex selingkuh pun ia sepertinua tidak akan terkejut. Karena sudah sejak satu tahun lalu Alex kehilangan minat padanya. Sejak pernikahan mereka, Alex hanya memperlakukannya baik di atas tempat tidur. Lalu semakin lama, ia semakin bosan bahkan di tempat tidur sekalipun Alex memperlakukannya dengan kasar. Baru saja Alisa membuka pintu, di depannya sudah ada sekretaris Alex, wanita muda yang baru lulus dari kampus terkenal. Entah ia bisa menjadi sekretaris karena keahliannya atau karena tubuh dan penampilannya. Alisa menatap tak suka. "Ini sudah malam, apa ada pekerjaan mendesak yang harus kau sampaikan? Jika hanya memberikan berkas, aku akan membawanya ke Alex." Alisa langsung mencegat sebelum Laras membuka pintu. Alisa tahu namanya dari nametag di kemeja ketat yang gadis itu kenakan. "Mohon maaf ya ibu, ada yang harus saya diskusikan juga dengan pak Alex. Saya harus masuk sendiri." Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Tapi bagaimana mungkin perempuan muda dengan pakaian yang seksi seperti ini datang ke rumah bos nya yang sudah memiliki istri? Tidak tahu adab! "Apa tidak bisa ditunda besok? Alex juga sedang lelah. Kalian juga baru berpisah beberapa jam setelah dari perjalanan bisnis ke Jepang," "Bu, ibu ini tidak paham masalah pekerjaan. Tolong biarkan saya masuk atau saya teriak dan panggil pak Alex dari sini." Benar benar gadis muda yang tidak punya sopan santun! Alisa mengepalkan tangan. Meskipun di rumah ini Alex tidak menghormatinya sebagai seorang pasangan, tapi ia merasa tidak terima jika bawahan Alex, yang hanya seorang sekretaris pun juga kurang ajar padanya. Alisa masih punya harga diri sebagai nyonya di rumah ini. "Pergi atau kupanggilkan satpam." tegas Alisa. "Ha? ibu mau mengusir saya?" "Aku sudah menegurmu baik baik. Kembali saja besok pagi atau sampaikan lewat sss jika memang mendesak. Dan, lebih baik perhatikan pakaianmu yang seperti kurang bahan itu." Alisa melirik ke bawah. Rok yang gadis itu kenakan bahkan tidak bisa menutupi pahanya yang sint*l. "Heh ibu tidak punya hak untuk mengatur gaya berpakaian saya ya. Pak Alex saja tidak pernah mempermasalahkannya. Lebih baik ibu saja yang belajar dari saya supaya tidak merasa kalah saing." Laras tersenyum penuh arti, seakan mengejek gaya berpakaian Alisa yang ia anggap kampungan. Alisa memejamkan mata sejenak. Kemudian meminta bibi di bawah untuk memanggilkan satpam yang menjaga gerbang depan. "Apa apaan ini, saya tidak mau pergi. Saya harus menemui pak Alex malam ini. Pak! Pak! Saya di luar, tolong buka pintunya." Laras mengetuk pintu keras keras, memanggil bosnya. Alisa mencengkeram tangannya, menariknya agar menjauh. "Aww sakit! Akh! Jangan pegang pegang tangan saya!" "Aku tidak mengizinkanmu datang di malam hari dengan pakaian seperti ini. Kembali saja besok, aku punya hak untuk menghindari hal buruk dalam rumah tanggaku." "Ahhh dasar ibu ibu stres. Pantas saja pak Alex bilang tidak bernafsu padamu." Mata Alisa membulat terkejut, ia bahkan membiarkan Laras mengibaskan tangan dan mendorongnya dengan kasar. "Kenapa berisik sekali! Aku kan sudah bilang padamu untuk pergi," Saat Alex membuka pintu, bertepatan dengan tangan Alisa melayang menampar wajah sekretaris mudanya yang cantik. Alisa dengan nafas tersengal dan tangan terangkat tinggi tinggi terlihat sangat marah, sedangkan sekretarisnya dengan wajah tertoleh dan pipi merah menangis tersedu sedu. Alex pun menggeram emosi, mendorong Alisa menjauh dan menarik tangan sekretarisnya untuk ia lindungi di balik badan. "Alisa!" suara Alex menggelegar, menghardik Alisa dengan penuh kemarahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD