6

1281 Words
Jika ditanya, bagaimana aku mendeskripsikan diriku dalam 5 kata? Maka akan kujawab, I'm B.I.T.C.H! Beautiful.. Intelligent.. Talented.. Charming.. and Hot! Tiap kali aku melihat diriku di depan cermin, aku merasa sempurna! Selalu! Aku puas dengan segala yang ada padaku. Lihat! Bahkan piama sexy sepaha berwarna hitam yang aku kenakan sekarang sangat pas membalut tubuh putihku. Gaun piama berbahan satin dengan bawahan d**a rendah hingga memperlihatkan belahan dadaku yang kencang! Sangat menggiurkan bagi kaum adam! Yap, aku baru membeli beberapa piama baru! Jika Daddy tau aku membeli pakaian haram itu, maka aku pasti akan mendapat wejangan darinya. Tapi masa bodoh! Lagipula aku memakainya hanya di depan Daddy! Tubuh indahku ini hanya untuknya. Walaupun marah aku pastikan Daddy akan tergoda! Dia tidak akan bisa menolakku. Kemudian aku beralih pada lingerie merah yang tergeletak di atas ranjang tidurku. Hehe, aku juga membeli itu. Aku mempersiapkan kain keramat itu untuk nanti. Sebagai awalan piama seksi ini sudah cukup. Aku harus melihat dulu respon Daddy tentang piama ini. Jika terlalu buru-buru mungkin Daddy akan menyadari bahwa saat ini aku sedang mencoba mengodanya. Jadi, lakukan secara perlahan namun pasti! Rasanya menyenangkan dan menantang! Ketika pria baik-baik menjadi liar, mereka akan sangat hebat di atas ranjang. Aku menantikan moment itu! Dan hari ini adalah momentnya! Karna hari ini sepertinya semesta sedang berpihak padaku. Dari dulu, setiap malam minggu aku selalu menyempatkan untuk menonton film bersama Daddy dan Mommy di ruang keluarga. Namun saat ini hanya aku dan Daddy saja yang berada di rumah, karena Mommy sedang ada perjalanan bisnis keluar kota selama 2 hari. Kesempatan selama 2 hari ini tentunya tidak akan aku sia-siakan! Aku menjadi lebih agresif untuk menggoda dan terus menempel manja pada Daddy, akan kubuat Daddy tidak bisa lepas dariku! Aku berjalan keluar kamarku, mendebarkan sekali rasanya keluar dengan pakaian minim seperti ini dan aku juga tidak memakai bra! Hanya CD. Memakai bra kadang membuat payudaraku sesak, mungkin aku harus membeli bra dengan ukuran yang lebih besar, karena saat ini semua bra di lemariku sudah tidak bisa menampung Samantha dan Rachel. Aku menarik nafas sebelum menghampirinya yang tengah duduk di sofa sambil menonton acara berita, ia sudah berjanji mau menonton film bersamaku. Entah bagaimana reaksi Daddy, tapi aku yakin reaksinya sama dengan saat ia melihatku mengenakan pakaian renang seksi tempo hari. "Dor!!" sentakku, mencoba mengagetkannya tapi Daddy tidak kaget sama sekali. Ia menolehkan kepalanya santai, menelisikku sekilas lalu tersenyum hangat. Eh, tunggu... Reaksinya itu diluar ekspektasiku! Tidakkah ia akan menceramahi pakaianku? Aku menatapnya, mengernyit heran, tapi Daddy terlihat biasa saja. Daddy menggeser duduknya, mempersilahkanku agar aku duduk di sebelahnya. Suasana diantara kami mulai menghangat. Aku mengatakan pada Daddy bahwa Rine merekomendasikan sebuah film agar aku tonton. Film itu baru dirilis dan sedang booming di kalangan remaja dan orang dewasa. Awalnya Daddy menolak dan menyarankan agar menonton film bergendre komedi, itu lebih menyenangkan dan menghibur katanya. Ya, film komedi memang menghibur namun film bergendre dewasa lebih menarik ditonton saat ini. Karena aku mempunyai segudang rencana untukmu, Dad! "Ace sedang ingin nonton film yang romantis, Dad" ungkapku. "Itu film dewasa, Ace! look at their thumbnails, too vulgar" tunjuk Daddy pada layar TV yang menampilkan cover film yang katanya terlalu vulgar. "Justru itu, Dad. Berarti akan ada adegan ciuman! Ace suka melihat orang berciuman. Ace kan jadi bisa belajar" ucapku bersemangat dengan muka polos dan tak lupa tatapan puppy eyes andalan agar ia luluh. Lagi-lagi Daddy tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauanku, aku menyunggingkan senyum kemenangan. Akhirnya kami menonton film yang Rine rekomendasikan, aku percaya bahwa temanku yang satu itu tidak akan pernah mengecewakan jika soal rekemendasi film. Terutama film dewasa! Di menit awal film semuanya berjalan aman, pemeran utama pria dan wanita saling bertemu dan tersenyum malu-malu ketika tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat ingin mengambil buku yang terjatuh di kolong meja. Yah, romance tipis-tipis di awal film. Klise sekali! Beberapa adegan lucu dan tingkah konyol para tokoh di menit awal juga berhasil mengundang tawa puas aku dan Daddy. Namun, seiring berjalannya alur cerita, film itu menjadi serius dan adegan dewasa dan vulgar mulai di perlihatkan. Aku melirik Daddy yang nampak santai menanggapi setiap adegan dewasa di layar TV. Ketika pemeran pria dan wanita saling berciuman dengan cara yang tidak biasa, liar dan brutal. Adegan seperti itu ditatap dengan pandangan jijik oleh Daddy. Reaksi Daddy yang seperti itu membuatku terkekeh ringan. Aku jadi tidak fokus menonton! Kedua tokoh utama film kini tengah b******u panas di atas ranjang. Mereka saling mendesah nikmat akan sentuhan masing-masing. Suara erangan mereka mengisi keheninganku dan Daddy. Aku menjadi tidak tenang dalam dudukku, melihat adegan seperti itu membuat tubuhku ikut b*******h. Aku juga ingin disentuh dan berciuman dengan mesra seperti dua tokoh utama itu. Niatnya aku ingin membuat Daddy terangsang tapi malah sebaliknya, ia nampak biasa saja. Malah aku yang sudah gatal di bawah sana. Perlahan aku mendekatkan dudukku hingga kini menempel pada lengan Daddy. Menyadari pergerakan di sebelahnya, Daddy menoleh ke arahku yang kini menatapnya sayu. "Dad..." gumamku manja sambil menjilat bibir bawahku sendiri ketika pandanganku jatuh di bibirnya. "Hm?" Sialan, bahkan deheman saja sudah membuatku ingin menerkamnya. Aku tambah menempelkan tubuhku padanya membuat payudaraku yang tidak terbalut bra itu menyentuh lengan kokohnya. Apa kau merasakan mereka, Dad? "Melihat mereka berciuman seperti itu. Ace jadi ingin dicium Daddy" beritahuku dengan nada seduktif. Kedua tanganku sudah melingkar memelukkanya dari samping. Adegan panas itu masih berputar di layar TV, suara desahan dua tokoh itu bagai musik erotis di telingaku. Aku merasakan Daddy bergerak tidak nyaman dalam duduknya. Ia bergerak mengambil remote dan menekan tombol pause, hingga film tersebut terhenti. Lalu kembali beralih padaku yang kini sudah menatapnya berkabut gairah. "Kenapa di pause, Dad?" tanyaku. "Sudah malam, lebih baik Ace tidur" balasnya. Mau menghindar lagi, Dad? Kurasa Daddy tau bahwa little princessnya kini tengah b*******h. Tidak akan kubiarkan kau mengelak lagi, Dad! "Kenapa harus tidur, Ace belum mengantuk" kupeluk Daddy posesif agar ia tidak bisa kemana-mana. "Ace ingin berciuman dengan Daddy. Ace suka, bibir Daddy manis!" ucapku lagi sambil melayangkan kecupan ringan di ujung bibirnya. Matanya menatapku dalam diam. Aku menangkup wajahnya dengan sebelah tanganku, jari lentikku membelai lembut rahang tegasnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, menyusurinya kemudian mengelus bibir sexynya. Daddy memejamkan matanya seolah menikmati sentuhan jariku di wajahnya. Pandanganku jatuh pada jakunnya yang bergerak turun naik. Sedang menahan gairah, Dad? Aku tersenyum miring lalu kembali mengecup bibinya. Awalnya hanya kecupan namun aku mulai bertindak berani dengan melumatnya. Daddy tidak menolak ciuman ringanku tapi juga tidak membalas membuatku gemas sendiri. Dalam ciuman sepihak itu, lidahku terulur menjilati bibirya yang terkantup. Menggoda bibirnya agar membalas ciumanku. Dengan gerakan seduktif aku mengesekkan dadaku di lengan telanjangnya, harusnya ia dapat merasakan putingku yang mengeras di balik gaun piama yang kukenakan. Sebelah tangan Daddy yang bebas terangkat meraih jemariku, menghentikan pergerakanku mengelus rahangnya. Daddy memundurkan wajahnya, membuat ciuman sepihakku ikut terhenti. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti, hingga kami bisa saling merasakan deru nafas masing-masing. Daddy menatap mataku dalam, dari matanya aku merasakan ada percikan gairah. Walaupun wajahnya datar dan dingin, mata itu seperti menyalurkan hasrat lain padaku. "Ace kecanduan berciuman dengan Daddy" ungkapku jujur dengan suara rendah menahan nafsu sambil menatap bibirnya lalu beralih pada mata tajamnya lagi. "Ace ini tidak benar, sayang" ucapnya. "Tapi Daddy juga menyukainya" balasku. "Ace, Mommy.." Aku balik mengusap tangannya yang masih menggenggam sebelah tangaku. Menatapnya lekat, mencoba menghilangkan keraguan yang menyelimutinya. "Mommy tidak di rumah, Dad" ucapku tak tahu malu. Aku seperti seorang jalang yang sedang merayu pria untuk diajak berselingkuh. "I know you want it too, Dad" ucapku lagi menggigit bibirku dengan cara yang seksi dan itu diperhatikan oleh mata tajamnya. Daddy kembali diam namun jakunnya bergerak naik turun menatapku. Detik selanjutnya aku melihat sudut bibirnya tertarik tipis keatas. I got you, Dad! . . TBC KOMEN! JIKA INGIN LANJUT!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD