Aku kembali beralih pada orang asing di hadapanku dan memberikannya senyum manis andalanku, "Tentu saja" jawabku dengan senang hati.
"I'm Gabriel. You?" tanyanya mengulurkan tangan.
Sebentar...
Namanya terdengar tidak asing, jangan-jangan..
"Wait! Are you Gabriel Kenth?" tanyaku hati-hati.
Dia mengangguk membenarkan, "Benar sekali!"
Hei, ia adalah anak angkat dari grandpa dan grandma El! Wah, ternyata lumayan tampan! Aku baru baru pertama kali melihatnya!
"Kalau begitu kau adalah uncleku! I'm Ayna Cerolinyn" seruku antusias, balas menjabat tangannya.
"Ace?"
"Benar sekali, uncle Gabriel"
Ia meringis sambil menggaruk pelipisnya yang tak gatal, "Hmm, kupikir aku terlalu muda untuk dipanggil uncle" ucapnya.
"Really? how old are you" yah, aku bisa melihat dari wajahnya yang memang terlihat lebih muda dari uncle-uncleku yang lain.
"22 tahun" jawabnya.
"Waw! Too young!" balasku. Benar-benar diluar perkiraanku, uncel yang satu ini terlalu muda! ia hanya beda 4 tahun denganku!
Entah kenapa tiba-tiba udara disebalah kiriku terasa panas. Aku melirik sekilas dan langsung mendapati Daddy yang berada diantara saudara-saudaranya kini tengah memandangku dengan mata tajamnya, dari tatapannya aku tau dia marah. Namun, kali ini aku mengabaikannya dan beralih pada Gabriel lagi.
"Jadi aku harus memanggilmu apa?" tanyaku padanya.
"Panggil saja Riel dan aku akan memanggilmu Ace!" jawabnya dan aku menganggukinya.
Hawa dari sisi kiriku horror sekali, hingga aku tidak bisa menolehkan pandanganku ke arah sana. Tapi uncle Gha-, maksudku Riel adalah orang yang hangat dan menyenangkan bahkan kami sepertinya telah menjadi akrab! Membuatku merasa nyaman ngobrol dan berbagi cerita dengannya tanpa peduli pada sosok pria bermata tajam di sebelah sana.
"Lalu apa kekuranganmu, kau pemalas?" tebaknya.
Aku menggeleng. Apakah aku terlihat seperti orang pemalas?
Aku berpikir sejenak, "Aku memiliki sifat yang buruk" ucapku.
Riel menaikkan alisnya "Ah, kau suka membully di sekolah?" tebaknya lagi.
"Kau pikir aku kriminal?!" protesku galak dan ia malah terkekeh ringan.
"Aku terbiasa menerima dan aku tak pandai melepaskan. Jadi aku tidak bisa mengalah" tuturku menatap rumput.
"Kalau begitu kita sama. Berati jodoh!"
Aku mendongakkan kapalaku, kembali menatapnya.
"Benarkah? Kalau begitu kita bisa ke neraka bersama-sama!" ucapku berhasil membuatnya tertawa. Mendengarnya tawa lepasnya aku pun jadi ikut tertawa, jadilah kami tertawa bersama-sama~
Aku melirik kearah samping lagi, disana Daddy tengah berbicara dengan grandpa El. Ketika Daddy hendak mengalihkan padangannya padaku, aku kembali membuang muka menatap Riel yang masih menikmati sisa-sisa tawanya.
"Berikan nomormu padaku" ucapnya tanpa basa-basi langsung mengulurkan ponselnya padaku. Sepertinya dia adalah tipe orang yang otoriter! Apakah seluruh pembisnis memang seperti itu?
"Benar-benar sifat pembisnis!" kataku.
Ia kembali mengangkat sebelah alisnya dan menatapku. Aku hanya menampilkan senyum dan mulai mengetikkan nomorku di ponselnya lalu mengembalikan ponselnya padanya. Tak lama ponselku berdering, panggilan dari nomor tidak dikenal membuatku menatapnya.
"That's my number, keep it!"
"Tentu saja, Riel!" balasku.
Detik selanjutnya ponselku kembali berdering. Bukan panggilan dari Gabriel melainkan...
Daddy is calling..
Kutekan logo berwana merah itu keatas. Menolak penggilan darinya dan memasukkan ponselku kedalam tas kecilku.
"Mau berdansa denganku, nona Ace?" ajaknya mengulurkan sebelah tangannya padaku.
"Semua orang sedang berdansa" tambahnya melirik sekitar. Acaranya sudah dimulai!
Aku tersenyum penuh maksud dan menerima uluran tangannya, "Dengan senang hati, tuan Gabriel!" ucapku.
Kami berjalan menuju halaman rumah luas yang telah disulap menjadi lantai dansa itu. Aku dapat melihat Daddy di depan sana. Ia menatapku tajam sambil meremas ponselnya. Tapi, lagi-lagi aku mencoba menatapnya santai dan mengabaikannya. Lagipula, Daddy tidak akan menarikku atau menyeretku ditengah pesta karena marah, kan?
Aku dan Gabriel telah memposisikan diri kami, sebagai mana orang berdansa pada umumnya. Sebelah tanggan Gabrial memeluk pinggangku dan sebelah tangannya yang lain menggenggam jari tanganku. Aku pun begitu, sebelah tanganku kini berada di d**a bidangnya dan sebelah tanganku yang lain ikut mengayun mengikuti gerakan tangan Gabriel.
"Aku tidak bisa dansa" bisikku ketika aku berulang kali menginjak kakinya.
"Aku juga" balasnya. Kami kembali tertawa kecil sambil terus bergerak mengikuti pasangan yang lain.
Di depan sana, kulihat Mommy dan Daddy ternyata juga ikut berdansa. Berbeda dengan aku Gabriel yang bergerak kaku, Mommy dan Daddy terlihat lues dan ahli. Dalam hati aku memuji gerakan mereka.
Aku kembali merapatkan diri pada Gabriel, kami kembali berdansa dengan saling membisikkan lelucon-lelucon membuat kami terus terkikik ringan.
"Kau tau gajah apa yang higienis?" tanyanya
"Gajah baru mandi" tebakku.
Gabriel mendekatkan wajahnya ke sisi kananku lalu membisikkan sesuatu tepat di telingaku. "Gajalah kebersihan..." bisiknya, aku kembali memukul dadanya.
"Humormu sangat buruk, Tuan!"
"Tapi kau terus tertawa" ucapnya. Benar, saking garingnya sampai-sampai aku terus tertawa!
Gabriel menarik lagi wajahnya dari telingaku, kembali menatapku dengan iris birunya. Genggaman tangannya yang mengayun bersama tanganku itu ia lepas. Kini kami hanya bergerak-gerak dengan satu tangannya memeluk pinggangku dan satu tangannya yang lain menyingkirkan helaian rambutku ke belakang telinga.
Secara tak sengaja pandanganku kembali bertemu dengan Daddy mata hitam pekat itu memandangku dengan rahang yang mengeras. Aku menatanya datar dan membiarkan Gabriel yang sedang sibuk menggeser poni halusku. Aku ingin memperlihatkan pada Daddy bahwa aku juga bisa bersenang-senang dengan pria lain!
"Apa rambutku sekarang sudah rapi?" tanyaku.
Gabriel mengangguk, "Ya, kau jadi sangat cantik" pujinya membelai rambutku sambil tersenyum hangat.
Aku melirik Daddy sekilas. Jaraknya dengan kami cukup dekat, tepatnya entah kenapa ia berdansa di dekat kami! Dia harusnya ikut mendengar itu!
Aku menatap Gabriel dengan binar memuja, "Kau juga sangat tampan!" ucapku balik memujinya dengan senyum manis.
"Apa kau masih lajang?" tanyanya menyeringai tipis dengan tatapan genit.
.
.
Aku kembali berdiri di rentatan makanan dan minuman sendirian, karena Gabriel tiba-tiba dipanggil oleh grandpa El. Ujung bibirku terangkat tipis keatas, meresa puas melihat Daddy yang mengeraskan rahannya.
Dasar posesif! Pantas saja jika pria yang mendekati kabur. Tatapan Daddy seperti orang akan membunuh mereka saat itu juga!
Aku beralih pada tante Esia yang tengah memberikan pidatonya di depan sana. Karena keasikan menghabiskan waktu bersama Gabriel, aku jadi lupa memberitahu tante Esia jika asiku sudah keluar. Mungkin setelah ia selesai berpidato aku akan mendatanginya.
Udara malam bertambah dingin, terutama untuk aku yang berpakain minim seperti ini. Angin-angin jadi bebas menghembus kulit putihku secara langsung.
Aku hendak kembali menuangkan teh hangat untuk menetralkan rasa dinginku, namun tanganku malah terhenti di udara. Ketika seseorang sudah lebih dulu menggapai tanganku, menarikku hingga aku menjauh dari pesta.
"D-daddy!" kagetku ketika mendapati ternyata Daddylah yang menarikku keluar dari perkarangan rumah tante Esia.
"Pestanya belum selesai, Dad!" aku memaksa melepas cengraman tangannya di pergelangan tanganku. Tapi tidak bisa, cengraman Daddy begitu kuat hingga membuatku kesakitan.
"Pulang, Ace!" bentaknya membuat aku terdiam.
.
.
TBC