Deretan dress cantik disuguhkan di hadapanku. Karena acara 7 bulanan tante Esia bertema party dengan dress code black and white, maka dressku juga harus di sesuaikan! Ini bukan acara formal apalagi acara bisnis seperti yang sering aku hadiri bersama Daddy dan Mommy.
Mataku tertarik pada dress hitam yang berada di sisi paling pojok.
Simple, elegant, dan sexy!
Yap, I chose that one!
Jika kebanyakan perempuan menyukai warna lembut dan pastel, namun berbeda denganku aku begitu menyukai warna hitam.
"Tapi nona, gaun ini terlalu terbuka" cegat Leya, dia adalah pelayan di butik ini.
Aku menaikkan sebelah alisku, "Lalu?"
"Nona, tuan Xiever akan marah" ucapnya membuatku terkekeh. Bahkan semua juga tau betapa posesifnya Daddyku itu menyangkut pakaian.
Oh, aku lupa memperkenalkan nama Daddyku. Namanya, Ghaxiever Cerolnn!
dan Mommy, Vaniela Hosler!
"Tuan Xiever sudah memilihkan dress ini untuk Nona Ace" Leya mengambil dress panjang yang menutupi dari mata kaki hingga ujung tangan!
Aku menatapnya melongo.
Really?!
Itu bahkan tidak bisa di sebut dress party!
"Daddy yang memilihkan ini?" Leya mengangguk membenarkan.
Lucu sekali, ternyata ia masih sempat-sempatnya mengatur pakaianku.
"Singkirkan, aku tidak mau! kau mau aku mati kepanasan memakai itu?" tolakku.
"Bagaimana dengan yang ini, Nona? Nyonya Hosler yang memilihkannya untuk nona Ace" Leya menyodorkan satu dress yang malah terlihat seperti gaun karena roknya mengembang lembar.
Come on! kenapa selera fashion orangtua begitu aneh?
"Aku bukan gadis kecil yang harus pakai gaun anak-anak, Leya. Jadi cepat berikan dress itu padaku!" tolakku lagi, tetap kekeh dengan pendirianku pada gaun hitam seksi itu.
Mau tidak mau, karena paksaanku akhirnya Leya memberikan gaun itu padaku, kemudian aku menyuruhnya pergi agar aku bisa mencoba gaunnya.
Aku mulai berkaca, mengamati diriku yang begitu indah! Lalu beralih pada payudaraku yang kini sudah mulai mengeluarkan asi sejak 3 hari yang lalu. Tapi tentu saja masih lama untuk menyusui bayi tante Esia yang bahkan masih 7 bulan dalam kandungan!
Untuk itu, karena aku sudah sangat berdosa di kehidupan ini, setidaknya aku harus berbuat kebajikan! Aku berencana menyumbangkan asiku! Yahh, walaupun tidak sebanding dengan dosaku yang terus bertambah, tapi setidaknya aku tidak ingin merasa begitu buruk!
Kini aku sudah mengenakan dress hitam pilihanku tadi dan lagi-lagi aku tersenyum bangga melihat pantulan diriku di depan cermin! Pakaian apapun akan sangat pas di tubuhku!
Aku memotret diriku yang cantikly, seksily, dan anggunly dalam balutan dress hitam.
Kau tau, manusia itu lucu sekali. Contohnya aku, baru saja aku berpikir tentang dosa dan kebaikan, kini aku secara sadar berencana membuat dosa lagi!
Aku sudah bertekat pada rencanaku. Urusan Daddy akan marah, mari pikirkan belakangan. Lagi pula, siapa suruh malah menghindariku!
Bertingkah seolah tidak terjadi apapun? Cih, Daddy harus tau. Aku pandai dalam segala hal, termasuk acting!
Sekarang, waktunya bersenang-senang Ace! Akan kutunjukkan bahwa aku baik-baik! Dan mari kita lihat selama apa kau akan terus bertahan bersikap dingin padaku, Dad
.
.
Dan disinilah aku, di pesta 7 bulanan tante Esia! dengan dress hitam pilihanku!
Aku melihat ke sekeliling, bahkan tamu yang lain pakaiannya lebih terbuka dari yang kukenakan!
Acaranya dimulai sekitar 30 menit lagi, jadi aku memutuskan untuk berkeliling dan menyapa keluarga yang lain. Keluarga Mommy dan Daddy sangatlah akrab! Bahkan semua kakek dan nenekku saling mengenal sejak kecil, jadi jangan salah jika di acara 7 bulanan tante Esia ini banyak keluaga yang hadir.
Disisi kanan ada sepupu-sepupu kecil yang sedang bermain, aku menyempatkan bergabung dengan mereka sebentar sebelum kemudian aku melangkahkan kakiku ke pekarangan rumah tante Esia yang kini telah disulap dengan begitu indah dengan lampu dan bunga-bunga.
Mataku menjelajah sekitar, sepertinya Mommy dan Daddy belum tiba, karena aku belum melihat mereka hadir.
"Ace!" pekik wanita yang sudah memasuki usia 60 tahun itu.
Dia nenekku, bukan ibu dari Daddy atau Mommy. Melainkan, ibu dari sepupu Daddy, aku biasanya memanggilnya grandma El. Dia sangat menyanyangiku, padahal aku bukan cucu kandungnya. Mungkin karena grandma El tidak punya cucu, anaknya satu-satunya sudah meninggal 18 tahun lalu, sehingga setua ini ia tidak memiliki cucu kandung. itu sebabnya grandma El begitu menyayangiku!
Setelah kematian anak laki-lakinya, ia mengadopsi anak lain untuk menjadi penerus perusahaan. Tapi, sampai sekarang aku tidak pernah bertemu dengan anak angkatnya, hanya tau namanya saja.
"Hai, grandma El!" sapaku berlari kearahnya dan memeluknya, grandma El menyambut pelukanku dengan hangat. Aku merindukannya, sudah beberapa bulan aku tidak melihatnya.
"Cucu grandma, bagaimana kabarmu?"
"Baik, Grandma. Bagaimana dengan grandma El?" tanyaku balik.
"Seperti yang bisa dilihat. Sangat sehat" jawabnya mantap.
"Ah, Ace merindukan grandma El!" ucapku mencium pipi grandma El sayang.
"Grandama, juga merindukan Ace yang cantik ini!"
"Grandma juga tak kalah cantiknya!" balasku balik memujinya. Aku tidak bohong di umurnya yang sudah lansia, ia tetap terlihat cantik dan bertenanga.
"Ngomong-ngomong dimana grandpa El, apa dia tidak ikut?"
Grandma El berdecih, "Kau tau, kakekmu itu sedang mengacau di dapur, membuat grandma pusing!" keluhnya.
"Benarkah? sepertinya grandpa El sangat sehat dan aktif!"
"Saking aktifnya ia seperti anak kecil. Maklum umur segitu memang sedang lucu-lucunya" ucapnya membuatku ikut terkekeh ringan. Begitulah grandpa El, kakek yang bersahaja!
Lalu grandma El kembali menatapku dengan matanya yang menghangat, "Semakin dewasa kau mirip sekali dengan ayahmu, Ace" ucapnya, mengelus rambutku dengan senyum lembutnya.
"Tentu saja, aku anaknya Daddy"
"Yah, Xiever mengurusmu dengan baik, kan?" tanyanya yang kungguki dengan senyum tipis.
Mendengar grandma El membahas Daddy mengingatkanku kembali bahwa hubunganku dengannya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Seperti baru mengingat sesuatu, grandma El menepuk jidatnya spontan.
"Oh Astaga, grandma lupa harus membantu tantemu itu dulu, nanti kita ngombrol-ngombrol lagi ya, sayang"
"Baiklah grandma, Ace senang sekali bisa ngobrol lagi dengan grandma El" ucapku tersenyum manis lalu melambaikan tanganku padanya yang sudah menjauh masuk menuju rumah.
Aku menghirup udara malam yang semakin dingin. Kemudian kulangkahkan kakiku menuju jejeran minuman di sebelah taman. Aku mengambil segelas teh hangat disana lalu menatap pemandangan langit malam diringi permainan piano yang telah dimainkan sambil menunggu acara inti dimulai.
"Ehem, hai?" aku menolehkan padanganku pada sosok yang tengah berdiri di sampingku.
"Hai.." sapaku balik. Apa aku mengenalnya?
"Berdiri sendirian, nona?"
"Seperti yang kau lihat"
"Mau aku temani?" tanyanya, bertepatan dengan itu aku melihat Daddy dan Mommy yang baru datang dan kini tengah bersalaman dengan orang-orang. Apa mereka datang bersama, tanpa memberitahuku? membuatku kembali mengendus kesal.
Baiklah, Dad! Mari lakukan seperti maumu dan lihat!.
.
.
TBC