10. Nicole's Nightmare

1864 Words
            Senyuman itu tidak pernah sirna dari wajah tampannya. Semenjak masuk ke dalam mobil dan melihat gadis yang duduk di sampingnya saat ini, ia tidak bisa menghilangkan senyuman di wajahnya. Nadine yang duduk di sampingnya dan mengetahui hal itu hanya bisa menatapnya dengan datar tanpa berniat menanyakan apapun.             “Jadi, sekarang kita pacaran?” tanya pria itu akhirnya sembari sesekali menatap Nadine dan kembali menatap jalan yang mereka lalui.             “Anggap saja begitu, Tuan.”             Bibir Nicole semakin tersenyum lebar mendengar jawaban santai yang diberikan oleh Nadine. Entah kenapa dia begitu merasa bahagia padahal mereka tidak sungguh berpacaran.             “Jadi, aku bisa melakukan hal apapun kepadamu seperti orang pacaran pada umumnya?” tanya Nicole dengan tatapan menggodanya.             Nadine mengerutkan keningnya menatap tak percaya. Kenapa pria di sampingnya ini terlihat seperti remaja yang tampak malu-malu najis ketika bersama pacarnya.             “Tidak berlaku jika kita berada di rumah Tuan atau hanya kita berdua saja.”             Nicole masih tetap tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah apa yang tengah ada di dalam kepalanya itu hingga ia tidak berhenti tersenyum selama perjalanan.             Nicole langsung memarkirkan mobilnya dan segera keluar dari mobil berniat membukakan pintu mobil untuk Nadine, namun gadis itu sudah lebih dahulu membukanya dan membuat Nicole menatapnya tajam sembari mengerucutkan bibirnya.             Nadine kembali menatap hal itu tak percaya. Ada apa dengan Tuannya pagi ini? Apakah ini efek dari ulah pria kemarin yang entah memasukkan apa ke dalam makanan Nicole sehingga ia bertingkah seperti ini.             “Ada apa Tuan?”             “Bukannya aku pacar kamu? Harusnya aku yang membukakan pintu mobil untukmu.”             Nadine menatap tak percaya, ternyata karena hal itu.             “Tapi di sini hanya ada kita berdua Tuan, jadi Tuan tidak perlu melakukannya dan bersikap seperti biasa saja.”             Akhirnya Nicole kembali seperti semula setelah apa yang dikatakan Nadine. Ia kembali memasang air muka tenangnya dan melangkah mendahului Nadine memasuki kantor.             Saat keluar dari lift, Nicole langsung menarik pinggang Nadine agar merapat ke sisinya dan memeluk pinggang itu dengan lembut. Nadine yang awalnya terkejut dengan tindakan pria itu, perlahan mulai menguasai diri dan mendalami perannya. Melakukan hal seperti ini sudah keahliannya, ia bahkan bisa berperan sebagai apa saja saat menjalankan misi bersama Andi dan yang lainnya.             Beberapa karyawan yang melihat kedatangan Nicole sambil memeluk erat pinggang ramping Nadine menatapnya tak percaya kemudian langsung hormat mengingat pria itu nantinya akan menjadi pimpinan mereka.             Nicole mendekatkan wajahnya ke telinga Nadine, “ber-acting-lah sebagus mungkin!” bisiknya tepat pada telinga Nadine. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya kemudian memperlihatkan senyuman manisnya kepada Nicole dan berhasil membuat pria itu tertegun untuk beberapa detik.             Akhirnya ia bisa melihat senyuman manis gadis itu yang ternyata memang berpengaruh sekali kepadanya. Jantungnya bahkan tiba-tiba saja berdetak tak menentu setelah melihat senyuman di wajah gadis yang menambah kecantikannya.             Jujur saja, tidak tersenyum pun Nadine sudah terlihat cantik. Apalagi jika dia tersenyum, Nicole bahkan sempat mengira gadis yang ada di hadapannya saat ini adalah jelmaan bidadari yang sangat cantik.                                             ¨¨¨¨¨             Hari ini rasanya lebih melelahkan bagi Nadine meskipun sebenarnya pekerjaannya tidak terlalu berat. Namun bedanya hari ini ia merasa lelah fisik juga batin. Sepertinya keputusan Peter yang memintanya untuk menjadi kekasih-pura-pura Nicole tidaklah hal yang bagus. Dia memang tidak ingin gagal dalam pekerjaannya, tapi menjadi pacar pura-pura pria itu cukup melelahkan, apalagi jika menjadi pacar sungguhannya. Nadine langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan kembali fokus pada jalan yang ia lalui. Kali ini Nadine yang mengemudikan mobil karena ia juga bisa melihat bagaimana wajah kelelahan Nicole.             Pria itu harus berusaha mati-matian mengejar ketertinggalannya agar bisa pantas memimpin perusahan besar itu dan jika bukan karena Gabriel, Nadine yakin pria itu tidak akan bisa memimpin Petroleum Group dengan baik dan benar.             Ah mengenai Gabriel, Nadine cukup bersyukur karena pria itu sudah mengetahui bahwa dia adalah bodyguard Nicole sehingga ia tidak perlu berpura-pura saat mereka bersama pria itu. Karena apa?             Nicole selalu saja memeluk pinggangnya dengan begitu posesif saat berjalan di kantor, bahkan pria itu meminta Nadine untuk ikut masuk ke dalam ruangan dan tidak mengizinkan Nadine menunggu di luar.             Tidak hanya itu saja, dia bahkan dengan mudahnya menggoda dan mengatakan hal-hal manis layaknya remaja yang tengah berpacaran. Nadine tidak menyangka bahwa pria itu cukup hebat bermain peran.             Namun, hal itu juga cukup melelahkan bagi Nadine. Pria itu sangat tidak mudah ditebak. Di saat mereka hanya berdua atau bertiga dengan Gabriel pun, pria itu masih juga menggoda dan melontarkan kata-kata yang cukup menggelikan bagi Nadine sehingga Nadine hanya diam saja dan tidak ingin menanggapinya.             Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Nadine akhirnya menghentikan mobil itu dan membangunkan Nicole dengan hati-hati. Mata pria itu terlihat memerah saat terbuka, kemudian ia mengeliat sejenak dan barulah ia keluar dari dalam mobil.             Sosok wanita paruh baya yang sudah mengenakan baju tidurnya berdiri memandang Nadine dan Nicole dari pintu rumah. Senyum tipis terlihat di wajahnya saat melihat Nicole melangkah menghampirinya.             "Mama belum tidur?"             Nicole yang melihat sosok wanita itu langsung memeluknya lembut dan wanita itu yang merupakan ibundanya langsung membalas pelukan anaknya dan mengelus lembut kepala pria itu.             Nicole sebenarnya adalah pria yang sangat manja kepada mamanya, makanya mamanya terlihat begitu mengkhawatirkan sang anak yang pulang larut dan terlihat kelelahan itu.             "Mama nunggu kalian pulang. Udah makan malam?" tanya Rayna. Wanita itu membawa putranya masuk ke dalam rumah.             "Udah tadi, Ma."             "Kalau gitu kamu istirahat aja, jangan lupa bersihkan badan dulu sebelum tidur ya!"             Rayna mengecup kening Nicole sebelum pria itu melangkah menuju lift yang akan mengantar ke ruangannya. Nadine di belakangnya berjalan santai sambil memberikan senyuman tipis saat Rayna menatapnya kemudian segera pamit untuk ke kamarnya.             Nadine tidak terlalu tahu bahwa sosok Nicole itu sebenarnya anak yang begitu manja dan sangat disayang oleh mamanya. Dia bahkan iri saat melihat wanita itu menunggu Nicole pulang meskipun sudah larut malam.             "Kamu akan langsung tidur?"             Saat ini Nadine dan Nicole tengah berada di dalam lift yang akan mengantar mereka ke ruangan Nicole di atas. Keheningan yang terjadi beberapa menit itu terpecahkan oleh suara Nicole.             "Apakah Tuan perlu sesuatu?" tanya Nadine memastikan.             Nicole hendak mengatakan sesuatu, namun ia urungkan dan hanya menjawab dengan gelengan kepala saja. Nadine tidak terlalu peduli dan kembali menatap ke depan saat pintu itu terbuka.             "Kalau begitu saja izin ke kamar untuk istirahat, Tuan."             Nicole hanya menganggukkan kepalanya dan menatap punggung Nadine yang berjalan ke sisi lain tepatnya ke kamar gadis itu. Seharian ini, selain memikirkan pekerjaannya, sosok gadis yang berjalan menjauhinya itu juga memenuhi pikirannya dan membuatnya kesulitan berkonsentrasi saat bekerja.             Apakah efek dari gadis itu saat berdandan begitu mempengaruhinya sehingga ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya barang sedetik pun dari gadis itu. Ia bahkan meminta gadis itu untuk berada di dalam ruangannya dan menemaninya agar ia bisa memperhatikan gadis itu seharian ini. Gadis itu bahkan hanya memperlihatkan ekspresi datarnya di saat mereka tengah berdua, tapi tetap saja Nicole tak ingin mengalihkan pandangannya ke hal lain. Kepalanya dan matanya seakan disetel hanya untuk memandangi wajah gadis cantik itu yang hari ini terlihat lebih cantik.             Nicole segera menyegarkan tubuhnya setelah memasuki kamar. Ia memilih untuk berendam selama beberapa menit sembari menenangkan pikirannya. Namun hal yang terjadi malah sebaliknya. Pikiran jorok tentang Nadine malah datang menghampirinya. Ia tiba-tiba saja memikirkan bagaimana cara agar ia bisa memanfaatkan kesempatannya ini untuk menikmati tubuh gadis itu.             Ya, bukankah dari awal Nicole melihatnya, pria itu memang sudah berharap Nadine menjadi wanita yang akan memuaskan hasratnya. Namun ia kembali disadarkan dengan kenyataan bahwa gadis itu sangat sulit ditakhlukkan. Terlebih lagi gadis itu jago bela diri, jadi bagaimana cara dia yang kentang ini akan membuat gadis itu tunduk dan memberikan tubuhnya tanpa mendapatkan pukulan atau tendangan dari gadis itu.             Nicole tak ingin berlama-lama lagi, semakin lama berada di kamar mandi entah kenapa pikirannya semakin menjelajah entah kemana. Ia bahkan jadi berpikiran untuk masuk ke dalam kamar gadis itu secara diam-diam.                                                                     ¨¨¨¨¨             "Huft!"             Nadine menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah membersihkan tubuhnya. Ia seakan merasa segar kembali setelah seharian bekerja. Ingin rasanya ia memejamkan mata dan segera menyelami alam mimpi. Namun, ia harus membuang jauh-jauh keinginannya itu karena ia harus menyelesaikan sesuatu.             Nadine meraih ponselnya, sudah lewat tengah malam ternyata. Ia terlalu lama berada di dalam kamar mandi sehingga tidak menyadari waktu yang telah berlalu begitu cepat. Jari-jari cantiknya mulai menari di atas layar ponselnya dan tak berselang lama, ia langsung membawa ponsel itu menuju telinganya.             "Hallo Om," sapa Nadine kepada seseorang yang berada diseberang sana.             "Gimana? Apa kalian sudah mengetahuinya?"             Nadine langsung serius mendengarkan balasan yang diucapkan oleh orang di seberang sana. Seketika ekspresi terkejut langsung tergambar di wajahnya. "Tunggu! Jadi, yang ada dibalik ini semua dia?" Nadine menggigit bibir bawahnya, seketika rasa khawatir menyelimutinya.             "Apa dia mengetahui sesuatu tentangku, Om?" tanyanya lagi.             Seseorang di seberang sana kembali menjawab dan membuat Nadine sedikit bernafas legah setelah mendengarnya. "Baiklah, aku akan lebih berhati-hati lagi dan selalu berada di samping Nic."             Percakapan itu berakhir dan Nadine masih menatap ponselnya tak percaya. Dia tidak menyangka bahwa orang yang tengah mengincar Nicole itu cukup berbahaya.             Orang itu juga memiliki perusahaan yang besar namun namanya tidak terlalu terkenal seperti Petroleum, dia bahkan tidak terlalu mengungguli sesuatu pun di bidangnya. Dia bisa mempertahankan perusahaannya karena memiliki anak buah yang tidak bisa diragukan. Dia terkenal licik, bringas dan curang. Dia melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan sepertinya keinginannya saat ini adalah Petroleum Group.             Nadine menatap gelas kosong yang ada di meja samping tempat tidurnya. Kerongkongannya terasa kering dan ia pun langsung beranjak mengambil gelas itu dan melangkah keluar dari kamar. Dia mengisi air minum yang terdapat di ruangan itu sehingga ia tidak harus turun ke bawah. Setelah mengisi penuh, ia meneguknya sejenak kemudian duduk di bar kecil yang ada di sana.             Nadine termenung sejenak sembari jari tangannya bermain-main di bibir gelas. Pikirannya kembali mengembara, dia harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengan orang itu. Untungnya orang itu tidak mengetahui tentang dirinya sehingga ia bisa merasa sedikit lebih tenang.             "Aaaaaaa!!!"             Lamunan Nadine buyar seketika saat mendengar teriakan yang berasal dari dalam kamar Nicole. Ia segera berlari menuju kamar pria itu dan mendobrak pintu kamarnya. Ternyata kamar pria itu tidak dikunci dan Nadine tidak perlu membuang tenaga untuk mendobraknya.             Nadine melangkah cepat dan mencari keberadaan pria itu kemudian matanya melihat ke arah tempat tidur dan terlihatlah pria itu tengah meringkuk di atas sana sembari memejamkan matanya, keringat bahkan mengalir membasahi pelipisnya.             "Tuan!" panggil Nadine pelan.             Namun tidak ada jawaban dari pria itu, matanya masih terus terpejam, keringat terus mengalir di pelipisnya dan kini ia bahkan menggelengkan kepalanya.             "Tidak! Tidaaak!!" bentaknya dengan mata yang masih tertutup.             Akhirnya Nadine mengerti, pria itu pasti tengah bermimpi saat ini. Nadine melangkah semakin dekat dan berdiri di sisi tempat tidur pria itu.             "Tuan bangunlah! itu cuman mimpi Tuan."             Nadine mencoba menggerakkan tubuh pria itu hingga beberapa kali sembari memintanya untuk bangun dan membuka matanya.             Selang beberapa saat, Nicole membuka matanya dengan lebar seperti terkejut kemudian menatap Nadine yang saat itu juga tengah menatapnya khawatir.             Seketika Nicole langsung bangkit dari posisi tidurnya dan melingkarkan tangannya pada pinggang Nadine. Kepalanya tepat berada di bawah d**a Nadine dan berhasil membuat gadis itu tersentak kaget.             "Nggak! Gue nggak salah sama sekali. Itu bukan salah gue," racaunya sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh Nadine.             Nadine jadi tidak tega mendengar hal itu, ia tidak bisa memaksa pria itu melepaskan pelukannya begitu saja. Akhirnya Nadine memilih untuk menenangkan Nicole dengan mengelus lembut kepala pria itu.             “Tenang Nic, itu hanya mimpi, kamu tidak perlu cemas, ada aku disini.”[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD