'BUGH'
Nadine menghantamkan kepalanya pada kening pria itu dengan begitu keras hingga membuat pria itu mendesis kesakitan. Rasa ngilu menjalar di kepalanya yang saat ini juga terasa berdenyut.
Nadine kembali menegakkan tubuhnya dan mengontrol rasa sakit yang juga menyerang kepalanya. Tangannya langsung menahan kedua tangan pria itu sedangkan tangannya yang satu lagi menahan leher pria itu.
“Katakan! Siapa yang mengutusmu!”
Pria itu tidak mengeluarkan suara sama sekali, hanya desisan yang keluar dari mulutnya serta matanya yang masih terpejam. Ia mengerang pelan ingin menyentuh kepalanya yang terasa ngilu namun tidak bisa karena Nadine menahan kedua tangannya.
'PLAK'
Nadine memberikan tamparan yang kuat kali ini hingga pipi pria itu memerah dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Pria itu tidak menyangka bahwa wanita yang tengah duduk di pangkuannya saat ini cukup berbahaya. Ia mengira wanita itu hanya asisten Nicole dan tidak akan bisa melakukan apa-apa kepadanya. Namun ternyata ia salah besar.
'PLAK!'
Nadine kembali memberikan tamparan kuat di sisi lainnya hingga kedua pipi pria itu terlihat memerah akibat tamparannya. Pria itu tidak juga menjawab pertanyaannya dan sepertinya saat ini mulai tidak sadarkan diri.
Nadine keluar dari mobil berusaha mengeluarkan pria itu dan memindahkannya ke tempat yang tadi ia duduki. Kini Nadine mengambil alih kemudi dan memutar balik haluan mobil untuk membawa Nicole kembali ke jalan yang benar menuju rumah majikannya itu.
Nadine sesekali menatap pria yang sudah terkapar di sampingnya itu sambil tersenyum miring. Sekilas, Nadine memang terlihat biasa saja. Dia bahkan sengaja mengenakan pakaian yang tidak terlalu mencolok dan membuat dia terlihat seperti seorang bodyguard sungguhan. Dia bahkan sengaja mengenakan pakaian seperti wanita yang bekerja di kantoran hanya saja dia tidak mengenakan rok tentunya.
Setengah jam perjalanan Nadine tempuh hingga akhirnya bisa melihat istana megah majikannya. Para penjaga yang ada di gerbang masuk langsung membukakan jalan untuknya dan saat tiba di depan rumahnya, Nadine langsung memanggil beberapa penjaga yang ada di rumah itu.
“Angkat dan bawa Nicole ke dalam! Saya harus mengurus sesuatu.” Perintah Nadine dan langsung dilaksanakan oleh tiga orang pria yang bertubuh gempal itu.
“Apa yang terjadi?” tanya pria yang juga merupakan salah satu temannya yang dibawa oleh pamannya untuk menjaga rumah besar ini.
“Supir Nic menghilang dan ada orang asing yang menyamar jadi supirnya dan membawa kami meninggalkan kota. Untung saja tadi gue mengetahuinya dengan cepat.”
Pria itu melangkah menuju mobil yang dikendarai Nadine tadi dan membuka pintu mobil itu hingga membuat pria yang ada di dalam sana terjatuh karena ia tengah bersandar pada pintu mobil.
“Lo tahu siapa dia, Ky?” tanya Nadine.
Pria itu, Rocky memperhatikan wajah pria yang dimaksud oleh Nadine dengan seksama. Bahkan ia memindahkan tubuh pria itu hingga mendapat pencahayaan yang cukup jelas.
“Gue belum pernah melihat sebelumnya. Tapi, lo bisa melaporkannya kepada Boss dan memberitahu Tuan Peter." Nadine mengangguk menyetujuinya. "Tapi, lo nggak apa-apa ‘kan?”
Nadine mengerutkan keningnya dan bibirnya tertarik untuk menampilkan senyuman namun segera ia tahan agar Rocky tidak melihat hal itu. “Gue bahkan menang melawan lo, Rocky.”
Rocky terkekeh mendengar hal itu. Nadine memang bukan gadis sembarangan, ia bahkan bisa mengalahkan Rocky saat bertarung dan Rocky memang mengakui itu walaupun sebenarnya pria itu memang sengaja memilih mengalah agar tidak melukai gadis itu.
“Lo istirahat saja, biar gue yang mengurus dan mencari tahu tentang pria ini.”
Nadine menganggukkan kepalanya kemudian langsung masuk ke dalam rumah besar itu. Terlihat beberapa pelayan masih berkeliaran di dalam rumah, juga para penjaga yang selalu berjalan-jalan mengelilingi rumah.
Nadine tidak melihat keberadaan kedua orang tua Nicole, mungkin saja pap Nicole belum pulang dan mamnya mungkin sudah tidur. Nadine keluar dari pintu lift dan langsung melihat seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik dan bersinar tengah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
“Selamat malam, Nyonya!” sapa Nadine ramah dan membuat wanita itu berdiri dari duduknya.
“Apa yang terjadi dengan Nicole, Nak?” tanya wanita itu.
Nadine tersenyum tipis, ia dapat melihat tatapan khawatir yang diberikan oleh wanita itu, ibunda Nicole yang sangat lemah lembut dan berbeda sekali dengan dirinya.
“Maafkan saya Nyonya. Karena kurang berhati-hati. Supir yang biasanya mengantar Nicole menghilang dan ada orang asing yang menggantikannya. Saya tidak terlalu memperhatikan awalnya namun setelah saya mengetahui jalan yang kami lewati akhirnya saya tahu jika orang itu bukan supir Nicole yang sebenarnya. Namun sekarang orang itu sudah diamankan dan saat ini sedang diselidiki.”
“Syukurlah, Nak.”
Tubuh Nadine tiba-tiba saja membeku saat merasakan sentuhan lembut Rayna, ibunda Nicole pada punggung tangannya kemudian menggenggam erat tangannya.
“Kamu tidak apa-apa ‘kan, Nak?”
Nadine terdiam menatap sorot mata Rayna yang begitu menghangatkan. Ia belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dikhawatirkan oleh seseorang yang terlihat seperti mamanya. Nadine mencoba menarik kedua sisi bibirnya untuk menampilkan senyumannya. “Saya baik-baik saja, Nyonya.”
Raut kekhawatiran itu perlahan sirna dari wajah Rayna dan kini digantikan dengan senyuman manisnya. “Syukurlah, Nak. Kamu tidak perlu memanggil saya seperti itu, panggil Ibu saja. Sekarang kamu istirahat saja, ibu tahu kamu pasti sangat lelah sekali hari ini.”
Nadine langsung menjalankan perintah Rayna dan melangkah menuju kamarnya, membiarkan Rayna terus menatapnya hingga ia masuk ke dalam kamar.
Nadine merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wajah khawatir yang diberikan Rayna kepadanya tadi terus menghantui pikirannya. Ia sangat merindukan mamanya saat ini dan ia sangat merindukan dikhawatirkan oleh sosok malaikat yang sudah berjuang melahirkannya itu.
Sudah sepuluh tahun berlalu dan selama itu juga ia tidak pernah lagi merasakan kehangatan dari kedua orangtuanya yang sudah meninggal. Dia tidak lagi merasakan hangatnya pelukan seorang ibu dan dia sangat merindukannya sekali.
Semenjak kedua orangtuanya meninggal, Nadine hidup dengan begitu keras. Dia memantapkan dirinya untuk mengikuti jejak kedua orangtuanya, terlebih lagi ia dijaga oleh Andi yang memang akan dengan mudah mewujudkan hal itu kepadanya hingga ia menjadi seperti sekarang ini.
Dahulu sekali ia sangat tidak terima akan kematian kedua orangtuanya dan berniat mencari orang yang sudah membuat mereka meninggal. Bahkan itulah yang menjadi alasan Nadine hingga ia bisa menjadi seperti ini.
Namun, sudah sepuluh tahun berlalu dan ia tidak kunjung menemukan orang itu. Biasanya kasus akan segera ditutup setelah sepuluh tahun dan dia tidak akan bisa lagi membalaskan dendamnya kepada orang itu.
'Tok... Tok... Tok....'
Nadine tersadar dari lamunannya saat mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Gadis itu dengan segera beranjak dari atas tempat tidur dan membukakan pintu itu.
“Maaf jika ibu mengganggu istirahatmu.”
Sudut bibir Nadine kembali tertarik dan menampilkan senyumannya kala melihat sosok yang berada di balik pintu kamarnya itu. “Tidak Bu, sama sekali tidak mengganggu.”
Rayna tersenyum hangat dan memberikan sebuah botol kepada Nadine. “Ini vitamin, kamu bisa meminumnya untuk menjaga kesehatan kamu. Bagaimanapun, pekerjaanmu itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Pekerjaan itu harusnya dilakukan oleh seorang pria, bukan wanita sepertimu ini, Nak.”
Nadine tidak bisa menghilangkan senyuman di wajahnya. Jika mamanya masih hidup, wanita itu juga pasti akan menentang pekerjaannya saat ini. Mengingat pekerjaan yang dia lakukan ini seharusnya tidak dilakukan oleh seorang wanita.
“Terima kasih banyak, Bu.”
Nadine menerima botol itu dengan baik dan membuat Rayna merasa senang dengan hal itu. Setelah itu Rayna pamit untuk kembali ke kamarnya. Nadine berniat untuk mengantar namun wanita itu menolak dan meminta Nadine untuk beristirahat saja. Nadine mengalah dan akhirnya hanya bisa mengantarnya hingga masuk ke dalam lift dan berpisah saat lift itu tertutup.
Nadine bukanlah gadis yang murah senyum, namun saat melihat sosok Rayna, senyumannya meluncur dengan begitu mudahnya bahkan bertahan lama hingga sosok itu menghilang dari pandangannya.
¨¨¨¨¨
Pagi ini Nadine bangun lebih awal dan sudah harus menemui Peter karena pria itu memanggilnya. Di sinilah Nadine berada sekarang, di dalam ruang kerja Peter yang ada di rumahnya.
“Apa yang terjadi dengan Nic?” tanya Peter.
Pria itu sudah mengetahuinya karena Nadine memberitahunya tadi malam, hanya saja gadis itu belum menjelaskan kerincian dari ceritanya.
“Siang kemarin kami pergi makan di sebuah kedai yang sering Tuan Nic kunjungi. Di sanalah saya pertama kali melihat pria itu, dia menjadi pelayan yang mengantarkan makanan kami. Awalnya saya memang sudah curiga karena saya tidak pernah melihatnya sebelum itu. Setelah makan siang, Tuan Nic kembali bekerja di kantor dan saya selalu berada di luar menjaganya. Namun untuk pertama kalinya, saya tertidur saat bekerja. Saya yakin orang itu sudah memasukkan sesuatu ke dalam makanan kami. Karena saat di perjalanan pulang, Tuan Nic langsung tertidur begitu saja dan bahkan tidak terbangun saat orang itu menghentikan mobil secara mendadak.”
Peter mendengarkan dengan seksama cerita Nadine dan tidak melewatkan satu hal pun. Gadis itu menceritakan semuanya kepada Peter.
“Andi sedang menyelidiki siapa yang mengutus pria itu dan saya harap agar kamu tetap berada di dekat Nicole. Jangan sampai kamu terlihat seperti bodyguard Nic dan kalau bisa kamu bersikap seperti kekasih Nic saja agar para musuh tidak mengetahui identitasmu.”
Nadine sedikit terkejut dengan permintaan Peter, dia memang mengatakan bahwa pria yang berniat membawa Nicole tadi malam itu tidak mengetahui bahwa dia adalah bodyguard Nicole namun dia tak menyangka juga akan keputusan Peter itu.
“Kamu tidak perlu khawatir dengan Nic, dia tidak akan bisa melawan permintaan saya. Setelah mengetahui siapa yang berada di balik ini semua, saya akan mengurusnya dengan segera.”
Nadine hanya menganggukkan kepalanya kemudian segera meninggalkan ruangan itu setelah Peter memintanya. Nadine kembali ke ruangan Nicole dan memastikan pria itu apakah sudah selesai karena mereka akan segera sarapan bersama.
Nadine mengetuk pintu kamar Nicole terlebih dahulu kemudian segera masuk setelah mendapat jawaban dari dalam kamar. Seketika aroma parfum Nicole langsung menyeruak memenuhi rongga hidungnya saat pintu itu terbuka.
“Apa Tuan sudah selesai? Tuan Peter meminta Tuan untuk segera turun dan sarapan bersama.”
Nicole sudah mengenakan setelan kerjanya dan saat ini tengah berdiri memunggungi Nadine menatap pantulan dirinya dari cermin besar di hadapannya. Tangannya terlihat bermain di kerah bajunya. Seakan mengerti apa yang tengah dihadapi oleh majikannya, Nadine langsung melangkah mendekati pria itu.
“Biar saya yang pasangkan Tuan, jika anda kesulitan.”
Nicole tidak menjawab dengan kata-kata, ia langsung memutar tubuhnya hingga menatap Nadine. Namun seketika matanya melebar melihat penampilan gadis itu yang terlihat berbeda dari biasanya.
“Kamu berdandan?” tanya Nicole sambil menatap Nadine dari ujung kepala hingga kaki. Nadine hanya berdehem dan melangkah semakin dekat agar bisa meraih dasi yang berada di leher Nicole yang masih terlihat berantakan.
Nicole terkekeh pelan, “apa kau sengaja menggodaku?” tanya Nicole sambil terus menatap wajah Nadine yang terlihat tengah serius mengenakan dasinya dengan baik.
“Saya hanya menjalankan perintah Tuan Peter,” jawab Nadine kemudian melangkah mundur setelah memastikan dasi terpasang dengan baik dan rapi di leher Nicole.
“Kenapa Papa meminta kamu melakukan ini?” tanya Nicole masih tidak mengerti.
Nicole masih belum mengetahui kejadian yang menimpanya tadi malam, sehingga ia berpikir bahwa Nadine saat ini tengah berusaha menggodanya.
“Tuan akan tahu nanti setelah bertemu Tuan Peter.”
Setelah mendengar hal itu, Nicole langsung melangkah meraih tas kerjanya dan berjalan keluar dari kamar. Nadine pun langsung mengikuti gerakan majikannya itu.
Di meja makan saat ini sudah duduk Rayna dan Peter yang menyambut kedatangan putra mereka satu-satunya itu. Sedangkan yang disambut malah menampilkan ekspresi wajah yang membingungkan dan menatap kearah papanya.
“Kenapa Papa meminta dia berdandan seperti ini?” tanya Nicole tanpa basa-basi.
Rayna sedikit terkejut dengan pertanyaan putranya itu. Namun ia berusaha menenangkan Nicoleh. “Duduk dulu Nic, biar papa kamu bisa menjelaskan dengan tenang,” ucap Rayna.
Nicole menurutinya dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Rayna sembari terus menatap Peter, menunggu jawaban dari pria itu.
“Tadi malam ada orang yang menyamar sebagai supir kamu dan membawa kamu pergi meninggalkan kota. Untung saja Nadine bisa menyelamatkan kalian dan membawa kamu kembali dengan selamat.”
Nicole menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar kemudian matanya beralih menatap sosok wanita yang tengah berdiri di ujung meja.
“Orang itu tidak tahu kalau Nadine bodyguard kamu jadi dia tidak takut saat membawa Nadine bersamamu. Karena itu Papa ingin merahasiakan status Nadine dan meminta kamu untuk bersikap bahwa Nadine ini adalah pacar kamu agar para musuh tidak tahu siapa Nadine sebenarnya.”
Kerutan di dahi Nicole terlihat dengan jelas setelah mendengar perkataan papanya itu. “Makanya Papa meminta Nadine untuk berdandan dan bersikap seperti wanita yang tengah berkencan denganmu.”
Nicole kembali menatap kearah Nadine, gadis itu menatapnya dengan datar dan tanpa pergerakan sedikitpun. Nicole tidak tahu apakah ini akan memudahkan atau menyulitkannya. Tapi, entah kenapa hatinya bergejolak saat ini. Sudut bibirnya terangkat tipis sembari menatap Nadine.
“Papa juga tidak akan memberikan supir pribadi kepada kamu. Kamu bebas membawa mobil atau meminta Nadine yang membawa mobilnya asalkan kamu selalu bersama dia.”
Nicole kini menganggukkan kepalanya, “baiklah kalau memang Papa ingin seperti itu.” Nicole menjawab dan bersikap acuh kemudian mulai menikmati makanan yang ada di hadapannya itu dengan lahap.