6. Kiss

2192 Words
            Nadine tidak menghiraukan pertanyaan tuannya itu, “berkemaslah Tuan karena kita akan segera pulang sekarang!” ucapnya kemudian melangkah menuju pintu. “Saya akan menunggu di luar,” lanjutnya.             Nicole menggeram pelan karena pertanyaannya tidak ditanggapi dan kepalanya terasa begitu sakit bahkan berdenyut tak menentu. Bagaimana cara mereka akan pulang nantinya jika ia saja seperti ini.             Melihat Nadine sudah menghilang di balik pintu, Nicole berusaha meraih pakaiannya dan segera mengenakannya. Ia mengambil minuman yang ada di sana dan bersiap meminumnya, namun kemudian ia mengurungkan niatnya. Bisa saja wanita tadi juga memasukkan sesuatu di dalam minuman itu.             Nicole mengumpat pelan dan berusaha membawa tubuhnya keluar dari kamar itu sehingga dapat melihat Nadine yang sudah menunggunya diluar.             “Apa kamu bisa membantuku? kepalaku sakit sekali.”             Nadine dengan sigap menghampiri Nicole dan menuntun pria itu untuk berjalan. Nicole yang sedikit lebih tinggi darinya tidak terlalu menyulitkannya, pria itu bahkan membiarkan tubuhnya ditahan oleh Nadine dan gadis itu cukup kuat juga bisa menahan tubuh Nicole.             Tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya, Nadine membawa Nicole ke lantai dasar dan kembali menemukan keramaian. Nadine membawa Nicole menuju bar untuk mengembalikan kunci cadangan yang ia pinjam dari Ardan tadi.             “Thank's!”             Nadine melempar kunci itu dan Ardan dengan sigap menangkapnya, pria itu menatap Nicole yang terlihat lemah di sampingnya. “Bagaimana kalian akan pulang?’ tanya Ardan.             Nadine baru ingat jika mereka tadinya pergi menggunakan motor besar milik Nicole dan saat ini, tidak mungkin pria itu bisa mengendarainya.             “Nic bawa motor jadi nanti aku yang bawa motornya.”             “Kamu yakin, bisa? atau perlu aku antar?”             Nadine menggeleng cepat karena mereka tidak bisa masuk melalui pintu depan kediaman Nicole, itu sama saja dengan bunuh diri namanya.             “Tidak perlu! Aku bisa mengatasinya, tenang saja dan terima kasih sekali lagi!”             Nadine langsung membawa tubuh Nicole keluar dari tempat itu sedangkan pria itu sendiri tidak mengeluarkan sepatah katapun dan matanya kadang terbuka kadang tidak.             “Nic?”             Teriakan itu berasal dari luar, tepatnya dari dalam mobil seseorang. Nadine dapat mendengarnya dengan jelas kemudian pria itu keluar dari mobil dan menghampirinya dan juga Nicole.             “Apa dia mabuk?” tanya pria itu.             Nadine menatap pria itu sedikit kesal, “ya!”             Pria itu mengambil alih tubuh Nicole, “biar gue saja!” ucapnya membuat Nadine tidak mau mengalah. “Tidak perlu! saya bisa membawanya sendiri.”             Pria itu terkekeh kemudian menatap Nadine dari atas hingga bawah. “Lo yakin bisa? Tubuh lo saja hanya sebesar ini, apa tidak lelah membopong pria ini dari dalam sana?”             Nadine tersenyum miring, ‘maaf, tapi saya lebih kuat dari yang anda fikirkan.” Nadine kembali mengambil alih dan membawa Nicole menuju tempat di mana motornya disimpan.             “Apa lo yakin, bisa membawanya pulang dengan mengendarai motor besar itu?”             Pria tadi ternyata masih mengikutinya dan Nadine hanya bisa menarik nafas dalam kemudian menatap tajam pria itu.             “Lebih baik masukkan Nic ke dalam mobil gue saja, biar gue yang antar kalian pulang dan motornya bisa ditinggal disini dulu.”             “Tidak perlu!” jawab Nadine cepat.             Pria itu mendekati Nadine, “hey! Ayolah! jangan terlalu keras kepala jadi wanita. Gue tahu kalau Nic keluar diam-diam dan tidak mungkin kembali ke rumah melalui pintu depan. Gue tahu jalan pintas menuju kamar Nic.”             Nadine sedikit terkejut mendengar hal itu, namun ia berusaha tidak memperlihatkannya.             “Ayolah! Gue ini sepupu Nic jadi lo tidak perlu khawatir.”             Pria itu adalah Gabriel, sepupu Nicole yang saat ini tengah menatapnya yakin. Terlihat tampang usil juga dari wajah pria itu yang dapat dengan mudah Nadine baca.             “Oke!” putus Nadine akhirnya setelah menimbang-nimbang banyak hal. Ia bisa saja mengendarai motor besar itu dan membawa Nicole, tapi ia tidak yakin pria di belakangnya itu akan baik-baik saja karena keadaannya yang setengah sadar.             Gabriel membantu Nadine membawa tubuh besar Nicole menuju mobil merah milik Gabriel itu. Perlahan keduanya memasukkan tubuh itu ke dalam tempat duduk penumpang di belakang. Nadine pun ikut menyusul namun Gabriel langsung menahannya.             “Lo di depan saja!”             Nadine memutar bola matanya kesal kemudian masuk ke sisi samping pengemudi setelah Gabriel membukakan pintu untuknya. Nadine menatap Nicole yang tergeletak di belakang sana sejenak, pria itu tengah meracau yang tidak bisa didengar Nadine dengan begitu jelas.             Gabriel masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengendarai mobil itu, membelah kabut malam yang mulai pekat.             Tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka selama beberapa menit berjalan. Keduanya menutup mulut rapat-rapat hingga Nicole yang berada di belakang meracau jelas.             “Kamu itu cocoknya jadi wanita yang memuaskanku di ranjang, tidak cocok jika kamu harus menjagaku.”             Nadine mengerutkan keningnya mendengar racauan Nicole, apa perkataan pria itu tertuju untuknya?             “Iel, gue sudah bilang ‘kan, dia sangat sulit untuk ditakhlukkan.”             Kali ini Nadine beralih menatap pria yang tengah mengemudi dan duduk di sampingnya, sedangkan pria itu ikut menolehkan kepalanya kepada Nadine kemudian memperlihatkan senyuman serta deretan giginya.             “Bicara apa sih, Nic?” tanyanya.             Nicole kembali diam dan tidak meracau lagi, ia hanya mengubah posisi tidurnya kemudian tidak melakukan apa-apa lagi.             Nadine tidak ambil pusing, ia kembali menatap jalanan dan memastikan jalan yang mereka lalui ini benar.             “Gue sama Nic udah berteman sejak kecil, jalan rahasia itu juga tidak diketahui oleh orangtuanya, hanya gue dan Nic saja yang mengetahuinya.”             Nadine hanya diam, tidak berniat menanggapi perkataan Gabriel barusan.             “Kalau ada apa-apa sama Nic, lo bisa menghubungi gue. Apa lo perlu nomor ponsel gue?”             Nadine mengerutkan keningnya menatap Gabriel sekilas yang saat ini tengah memperlihatkan cengirannya. “Tidak perlu,” jawab Nadine tegas.             “Oh, baiklah.”             Setelah itu tidak ada lagi percakapan di sana hingga mereka tiba di tempat yang akan membawa Nicole kembali ke kamarnya.             Gabriel ikut membantu Nicole, mengantar pria itu hingga terbaring di atas tempat tidur. Nicole masih tidak sadarkan diri, sepertinya ia meminum alkohol terlalu banyak.             Setelah meletakkan Nicole di atas tempat tidurnya, Gabriel memutar tubuhnya dan menatap Nadine. “Tidak perlu berterima kasih.”             Nadine terkekeh remeh, “siapa juga yang akan berterima kasih?”             Gabriel tidak terlalu menanggapinya dengan serius, “jangan terlalu ketus sama gue, nanti lo jadi suka.”             Nadine memutar kedua bola matanya jengah, tuan dan sepupunya ternyata satu spesies. Tapi, sepupu tuannya lebih bisa membuatnya mendengus kesal.             “Silahkan kembali ke rumah anda!” usir Nadine sopan.             “Oke, karena lo bekerja untuk sepupu gue maka kita akan lebih sering bertemu dan persiapkan hati lo untuk itu.”             Gabriel melangkah santai meninggalkan Nadine yang masih menatap aneh pria itu. Gabriel bahkan mengacuhkan tatapan tajam yang ia berikan dan segera memasuki lift kemudian kembali menatap Nadine dan mengedipkan sebelah matanya sebelum menutup pintu lift itu.             Nadine menggelengkan kepalanya, dia sudah biasa berhadapan dengan pria yang secara terang-terangan merayu dan menggodanya. Jadi, ia tidak perlu khawatir akan sepupu Nicole yang ternyata lebih menyebalkan dari Nicole sendiri.                                                                                 ¨¨¨¨¨             Pagi ini, Nicole akan ke kantor Peter. Tadi malam saat makan bersama, pria itu meminta anaknya untuk datang ke kantor, melihat keadaan kantor serta menyapa beberapa orang penting di sana.             Saat ini sudah pukul 7 lewat, Nadine sudah bersiap dan menunggu Nicole keluar dari kamarnya. Sudah lima belas menit ia berdiri di depan pintu kamar dan menunggu tuannya keluar namun tuannya tak kunjung menampakkan diri.             Telepon yang berada di ruangan itu berdering dan Nadine langsung menerima panggilan itu.             ‘Nadine, segera bawa Nic ke bawah untuk sarapan bersama, jangan lupa dia akan ke kantor pagi ini.’             “Baik, Tuan. Saya tengah menunggu Tuan Nic keluar dari kamarnya, Tuan.”             ‘Kamu cek saja ke dalam kamarnya, sudah jam berapa ini.’             “Baiklah Tuan.”             Nadine segera menjalankan perintah dari Peter, ia memang sudah lama menunggu di luar jadi tidak apa jika ia harus masuk ke dalam kamar Nicole, apalagi sekarang dia sudah mendapat izin.             Nadine mengetuk pintu kamar itu lagi, menunggu sahutan dari dalam sana namun tidak ada juga balasan terdengar. Akhirnya Nadine memutuskan untuk membuka saja pintu kamar itu yang ternyata tidak dikunci.             Sosok Nicole terlihat masih tergeletak di atas kasurnya, matanya masih terpejam dan sepertinya ia masih belum bangun sejak tadi malam.             Nadine melangkah mendekati tempat tidur kemudian menyibak selimut yang menutupi Nicole dan mengecek suhu tubuhnya, ia bernafas legah mengetahui suhu tubuh pria itu masih normal.             “Tuan, bangun Tuan! sudah pukul tujuh lewat, tuan Peter sudah meminta Tuan untuk turun sarapan karena pagi ini Tuan akan ke kantor.”             Hening, pria itu sama sekali tidak berkutik dengan apa yang diucapkan Nadine.             “Bangunlah Tu-”             Suara Nadine mendadak menghilang saat sebuah lengan menarik pinggangnya, dengan sigap ia menahan tubuhnya menggunakan kedua tangan agar tidak menindih tubuh pria itu. Nicole baru saja menarik tubuhnya hingga terjatuh di atasnya.             Cup!                Mata Nadine terbelalak sempurna ketika merasakan bibirnya dikecup oleh pria itu. Tanpa butuh waktu lama Nadine segera menjauhkan tubuhnya dari Nicole yang saat ini masih memejamkan matanya di atas tempat tidur.             Plak!                Tangan Nadine melayang begitu cepat menyentuh pipi Nicole dan berhasil menyadarkan pria itu. Ia langsung mengaduh kesakitan dan lekas membuka matanya.             “Mandilah Tuan, Tuan Peter akan marah jika Tuan terlambat ke kantor. Saya akan menyiapkan pakaian Tuan terlebih dahulu.”             Nadine tidak ingin berlama-lama berdiri di hadapan pria yang baru saja mencuri ciuman bibirnya. Ia lebih memilih untuk kembali ke ruangan yang sempat membuatnya pusing, namun sekarang ia tidak akan merasa pusing lagi karena ia sudah mengingat dimana letak pakaian-pakaian Nicole berada.             Tak butuh waktu lama bagi Nadine untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Nicole untuk ke kantor nanti.             “Nadine!”             Teriakan itu berasal dari dalam kamar mandi, sepertinya pria itu sudah berada di dalam sana. Nadine segera melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi.             “Iya Tuan?”             “Minta bu Ima untuk mengantar makanan ke atas dan bilang sama papa kalau saya akan menyusulnya nanti.”             “Baik Tuan.”             Nadine segera menjalankan perintah Nicole, ia menghubungi melalui telepon yang memang digunakan untuk keperluan seperti itu.             Nadine menghubungi bu Ima dan memintanya mengantar sarapan untuk Nicole keatas kemudian menghubungi Peter dan menyampaikan permintaan maafnya kepada pria paruh baya itu.             Nadine memilih untuk tetap berada di sana dan menunggu bu Ima tiba. Ia tidak berniat untuk masuk ke dalam kamar itu lagi setelah apa yang dilakukan oleh pria itu. Sepertinya Nicole juga tidak menyadari tindakannya karena Nadine melihat bahwa saat itu mata Nicole masih terpejam dan belum sadar sepenuhnya. Akibat tamparan kuatnya, Nicole berhasil mendapat kesadarannya.             Tak berselang lama, bu Ima terlihat keluar dari lift sambil membawakan makanan di kedua tangannya serta tersenyum sumringah menatap Nadine.             “Tuan Nic masih belum selesai?” tanyanya seraya menata makanan itu di atas meja yang ada di sana.             “Mungkin sebentar lagi Bu,” jawab Nadine.             Bu Ima menganggukkan kepalanya, “Tuan Peter tadi berpesan agar Tuan Nic tiba di kantor sebelum jam delapan.”             Nadine mengangguk, “baik bu. Terima kasih.”             Bu Ima membalas senyum Nadine kemudian melangkah meninggalkan Nadine beserta makanan yang sudah ditatanya.             Baru saja Bu Ima menutup lift, pintu kamar Nicole terbuka dan muncullah sosok pria yang sudah mengenakan setelan untuk ke kantor. Itu pakaian yang disiapkan Nadine tadi.             Pria itu sudah tampak lebih baik sekarang, sepertinya ia sudah sadar sepenuhnya. Hanya saja, dasi yang menggantung di lehernya masih belum dikenakan dengan baik.             Pria itu langsung duduk di tempat duduk yang ada dan menatap makanan yang sudah terhidang kemudian beralih menatap Nadine. “Kamu sudah makan?” tanyanya tak terduga membuat Nadine mengerutkan keningnya.             “Ehm, nanti saya akan makan Tuan.”             Nicole menarik kursi yang ada di sebelahnya kemudian menepuk-nepuk telapak tangannya di sana. “Sini! Kita makan sama-sama. Kamu perlu tenaga yang banyak untuk menjaga saya.”             Nadine langsung mengikuti perintah itu dan duduk di samping Nicole tanpa merasa canggung, ia memang sudah lapar sejak tadi jadi tidak perlu basa-basi lagi.             “Oh iya, bagaimana kita bisa pulang tadi malam?” tanya Nicole disela makan mereka.             Pria itu baru ingat jika tadi malam ia tidak tahu apa yang terjadi setelah ia merasakan Nadine mambawanya keluar dari club. Alkohol terlalu menguasainya tadi malam.             “Sepupu Tuan yang mengantar kita pulang dan motor Tuan masih berada disana,” jawab Nadine.             Nicole menganggukkan kepalanya kemudian kembali melanjutkan makannya. Sepupunya itu akan menjadi orang yang akan selalu ada untuk membantunya. Saat keadaannya tidak memungkinkan, pria itulah yang selalu menyelesaikannya.             “Tuan Peter berpesan agar Tuan tiba di kantor sebelum jam delapan.”             Nicole melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Kemudian bergegas menghabiskan sisa makanannya, begitupun dengan Nadine. Setelah selesai, Nadine langsung beranjak dari tempat duduknya dan merapikan peralatan makan mereka.             “Biar bu Ima yang nanti menyelesaikannya.”             Nadine mengangguk patuh kemudian mengambilkan tas Nicole yang diletakkannya di atas sofa tadi kemudian lekas memberikan kepada sang pemilik.             “Apa kamu bisa mengenakan dasiku?” tanya Nicole.             Nadine baru ingat bahwa dasi pria itu masih belum selesai. Dengan sigap ia memasangkan dasi itu dengan sebagaimana mestinya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Jarak mereka yang terlalu dekat itu membuat mereka memilih fokus dengan pikiran masing-masing.             Nadine yang awalnya fokus memasangkan dasi Nicole seketika teralih saat tidak sengaja menatap bibir merah Nicole yang tadi sempat menyapa bibirnya.             Sedangkan Nicole masih berkutat dengan pikirannya sambil tersenyun tipis menatap wajah Nadine yang begitu dekat dengannya. Wajah gadis itu terlihat begitu natural.             Bulu mata lentik dengan sedikit eyeliner di kelopak matanya membuat tatapannya menjadi terlihat tajam. Bedak tipis yang menaburi wajahnya, hidung mungil yang terlihat menggemaskan serta bibir merah yang cukup menggoda Nicole. Bibir itu terlihat unik, kecil namun tidak tipis dan bagian atasnya seperti membentuk lambang cinta serta tahi lalat yang berada di bawah bibirnya.             “Sudah Tuan.”             Nicole kembali tersadar setelah mendengar ucapan gadis itu dan tubuhnya yang menjauh. Nicole menatap pantulan tubuhnya dari cermin full body yang ada di sana kemudian menganggukkan kepalanya setelah melihat penampilannya.             Nicole langsung memimpin jalan dan membawa Nadine menuju lift dan mereka segera bergegas menuju kantor Peter, Petroleum Group. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD