5. Almost Missed

1916 Words
            Setelah kepergian Gabriel, Nadine kembali mengalihkan perhatiannya pada Nicole. Tuannya itu saat ini tengah memangku seorang wanita. Wanita itu bahkan tampak tengah meliuk-liukkan tubuhnya di atas pangkuan Nicole sedangkan pria itu terlihat santai berbincang dengan pria di sebelahnya.             Selagi memperhatikan itu, salah seorang wanita yang ada disana melangkah pergi menuju bar namun tidak terlalu dekat dengan tempat Nadine berada.             Entah kenapa, Nadine secara refleks mengikuti kemana wanita itu pergi. Ia memesankan sebotol minuman beralkohol kemudian langsung ia tuangkan ke dalam gelas, tak berselang lama wanita itu tampak menutupi minuman itu dengan tubuhnya membuat Nadine tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu. Akhirnya Nadine memutuskan untuk kembali menatap kearah Nicole dan terus memperhatikannya.             “Apakah anda tidak minum, Nona Nathalie?”             Nadine sedikit terkejut saat merasakan sebuah bisikan tepat di telinganya. Nadine memutar tubuhnya hingga menghadap pria itu, pria yang tadi berbisik kepadanya.             “Ardan?”             Nadine menatap tak percaya pria yang menjadi bartender itu yang sejak tadi mungkin berada di belakangnya. Pria itu menampilkan senyumannya, “sedang apa disini? Apa kamu mendapat tugas baru lagi?” tanyanya.             Ardan adalah teman semasa sekolahnya dulu, mereka sebenarnya tidak terlalu dekat namun beberapa kali mereka bertemu dan mengobrol seperti saat ini.             “Hm, ya. Saat ini aku bekerja sebagai bodyguard pribadi seseorang.”             “Siapa itu?” tanyanya.             Nadine mengarahkan matanya tepat ke tempat dimana Nicole berada dan Ardan dapat menangkapnya dengan cepat.             “Nic?” tanyanya memastikan.             Nadine mengangguk mantap, “kamu sendiri? apa yang kamu lakukan disini?” tanyanya.             “Kamu tidak lihat? aku sedang bekerja saat ini.” Ardan mengangkat gelas serta botol minuman yang ada di dekatnya.             “Sejak kapan?”             “Hm, mungkin sudah dua minggu lebih.”             “Jadi kamu sudah tidak bekerja di restoran itu lagi?”             Ardan menggeleng, “kamu tahu bahwa aku itu tipe orang yang suka bosan jadi tidak bisa terus bekerja disana.”             Nadine tersenyum miring, “dan sepertinya tempat ini tidak akan membuatmu bosan lagi ‘kan?”             Ardan langsung tergelak, “aku sangat menikmati bekerja disini karena bisa menemui wanita-wanita seksi.”             Nadine ikut melemparkan senyumnya dan menggelengkan kepala kemudian kembali menatap kearah tempat dimana Nicole berada namun ia tidak melihat sosok pria itu.             Ia hanya melihat para pria yang berbicara dengan Nicole tadi juga beberapa wanita yang tadi tampak menggoda Nicole, namun ia tidak melihat keberadaan wanita yang mengambilkan minuman untuk mereka.             “Aku pergi dulu!” pamit Nadine kepada Ardan yang tidak dapat dicegah oleh pria itu.             Nadine melangkah cepat menuju tempat yang tadi dihuni Nicole. Ia langsung menatap pria yang tadi berbicara dengan Nicole.             “Kemana perginya Nic?” tanyanya tanpa basa-basi.             Pria itu menatapnya bingung, “Nic? siapa itu? Aku tidak mengenal orang yang bernama Nic.”             Pria itu terkekeh pelan seolah tengah mentertawakan Nadine. Sepertinya pria itu tengah mabuk. Nadine akhirnya memutuskan untuk mencarinya sendiri.             Ia sempat memaki dirinya sendiri yang telah lalai sehingga tidak mengawasi Nicole dengan baik. Ia tidak tahu kemana pria itu pergi saat ini. Ia berusaha menajamkan penglihatannya di tengah keramaian itu, kali saja Nicole sedang berjoget bersama wanita tadi namun ternyata tidak, ia tidak menemukan Nicole berada didalam ruangan itu.             Seketika ia teringat akan sesuatu, dengan cepat ia segera melangkahkan kakinya. Ia harus segera menemukan Nicole bagaimana pun caranya.             Nadine mempercepat langkahnya, ia tahu dengan pasti bahwa setiap club malam pasti memiliki ruangan yang disediakan untuk beberapa pasangan dan biasanya terletak di lantai dua.             Nadine melangkahkan kakinya menaiki anak tangga yang akan membawanya ke lantai atas. Benar saja, setibanya ia di lantai dua, ia langsung disuguhkan dengan deretan pintu yang tentunya ditutup dan pasti dikunci.             Nadine harus mengetuk pintu setiap kamar itu atau harus memilihnya secara acak? sepertinya lebih baik dia pilih secara acak saja, karena biasanya instingnya tidak pernah salah.             Nadine pun memutuskan untuk melangkah menuju kamar nomor tiga yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Perlahan ia mengetuk pintu kamar beberapa kali dan menunggu jawaban dari dalam sana.             Namun, ia tidak mendapatkan apa-apa dan pintu itu tidak juga dibuka. Nadine berusaha memutar otaknya, matanya mulai berkeliaran menatap kesana-kemari tanpa tentu arah hingga kemudian terhenti pada CCTV yang ia lihat di sudut ruangan. Dari posisinya, sepertinya akan bisa terlihat siapa saja yang memasuki kamar itu.             Nadine kembali melangkah menuruni anak tangga dan menghampiri Ardan yang saat itu tengah menyiapkan minuman dan di depannya terlihat seorang wanita menunggu.             “Apa aku bisa meminta bantuanmu?” tanya Nadine yang langsung pada intinya.             “Apa itu?”             Nadine mencondongkan tubuhnya ke depan agar bisa meraih daun telinga Ardan kemudian membisikkan permintaannya pada pria itu.             ‘Bisakah bawa aku ke ruang CCTV?’             Ardan mengerutkan keningnya kemudian memberikan minuman yang sepertinya dipesan oleh wanita yang sejak tadi ada disana.             “Untuk apa?”             “Aku harus mencari keberadaan Nic sekarang juga.”             Ardan akhirnya menganggukkan kepalanya kemudian memberitahukan kepada pria di sampingnya bahwa ia akan pergi sebentar. Nadine mengikuti Ardan dari belakang, pria itu membawanya ke sebuah ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh orang tertentu saja.             “Ayo!” perintah Ardan setelah membuka pintu dan meminta Nadine masuk terlebih dahulu. Mereka memasuki ruangan CCTV, disana terdapat beberapa layar yang memperlihatkan kegiatan yang terjadi di dalam club ini.             “Aku mau melihat rekaman CCTV yang di lantai 2.”             Ardan mengangguk mengerti dan membawa Nadine menuju salah satu layar yang berada di sebelah kanan mereka. Ardan melihat beberapa rekaman dari CCTV yang berbeda yang terdapat dalam satu layar itu kemudian setelah mendapatkannya, ia memilih gambar yang diminta Nadine sehingga gambar itu membesar memenuhi layar.             “Mundurin beberapa menit yang lalu!”             Pria itu langsung mengikuti permintaan Nadine dan memundurkan rekaman CCTV itu secara perlahan. Mata Nadine menatap tajam layar yang ada di hadapannya itu.             “Stop!” perintahnya ketika melihat wajah Nicole bersama seorang wanita yang baru tiba di lantai dua.             “Majukan pelan-pelan!”             Rekaman video itu kembali terputar dan Nadine dapat melihat dengan jelas ke kamar mana perginya Nicole bersama wanita itu. Instingnya tepat sekali, mereka masuk ke pintu nomor tiga.             “Apa setiap kamar memiliki kunci cadangan?” tanya Nadine. Ardan menganggukkan kepalanya.             “Bisakah aku meminjam kunci kamar nomor tiga?" tanya Nadine memohon.             Ardan tampak tidak keberatan sama sekali, ia menganggukkan kepalanya dan melangkah menuju sebuah lemari yang ada di ruangan itu kemudian mengambil sesuatu yang ada di dalam sana dan memberikannya kepada Nadine.             Nadine menerima itu dan segera melangkah pergi, “Terima kasih Ar. Aku janji akan membalas semua yang sudah kamu lakukan untukku malam ini. Kita bertemu lagi nanti, atau lain kali.”             “Baiklah, aku tunggu Nat. Berhati-hatilah!” jawab Ardan sedikit berteriak karena gadis itu sudah langsung berlari meninggalkan ruangan itu.                                                                                         ¨¨¨¨¨             Nicole tak mampu menahan bobot tubuhnya setelah memasuki sebuah kamar bersama wanita yang tadi bersamanya. Kepalanya terasa begitu pusing dan matanya begitu sulit untuk dibuka. Wanita itu menjatuhkan tubuh Nicole di atas kasur membuat Nicole hanya bisa mengeluarkan leguhannya.             Kamar temaram dengan cahaya yang hanya berasal dari lampu yang ada di dekat tempat tidur saja membuat Nicole tidak terlalu bisa mengenali tempat itu. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya, biasanya dia bisa bertahan meskipun sudah minum beberapa gelas minuman beralkohol, namun kali ini baru sekali teguk saja rasanya Nicole sudah sulit mengendalikan kesadarannya.             Wanita itu kini berada di atas Nicole, mengangkangi tubuh Nicole dan perlahan membuka kaos yang dikenakan Nicole. Setelah berhasil membukanya, wanita itu langsung mencium Nicole dengan penuh nafsu membuat Nicole yang dalam keadaan setengah sadar itu langsung bereaksi dan membalas ciuman itu dengan tak kalah panas.             Lidah wanita itu begitu liar, menyapa rongga mulut Nicole dengan penuh nafsu dan tak membiarkan Nicole memegang kendali. Ciumannya mulai bergerak turun menyusuri rahang tajam Nicole, tangannya mulai membuka celana yang dikenakan Nicole.             Nicole sungguh sudah berada di atas awan saat ini, matanya terpejam namun mulutnya tak berhenti mengeluarkan leguhan akibat permainan yang dilakukan wanita itu. Kedua putingnya dilahap dan dijilat dengan penuh nafsu oleh wanita itu. Tangannya bahkan sudah menelusup ke balik celana Nicole hingga menyentuh benda pusakanya.             Nicole adalah lelaki normal yang mudah sekali terangsang, pria itu mencoba membuka matanya untuk melihat wanita itu, seketika bayangan bodyguard pribadinya muncul saat melihat wanita itu yang membuatnya semakin diselimuti nafsu.             “Ahh....”             Desahan Nicole kembali lolos saat kejantannya dikeluarkan dari sarangnya dan langsung masuk ke dalam mulut wanita itu. Nicole mulai meracau tak karuan dengan keadaan setengah sadar, tangannya bahkan meremas rambut wanita itu.             Tak berselang lama, wanita itu bangkit dan kembali mengangkangi tubuh Nicole, kini dia terlihat tengah menyesuaikan posisinya agar kejantanan Nicole bisa tertanam di dama intinya. Wanita itu mendongakkan kepalanya seraya menurunkan pinggulnya perlahan, desahannya ikut keluar ketika merasakan ujung kejantanan Nicole menyentuh pintu kewanitannya.             “Ahhh....”             Desahan kenikmatan itu keluar hampir bersamaan dari mulut Nicole dan wanita itu. Tanpa memberikan waktu untuk menyesuaikan, wanita itu langsung menggerakkan pinggulnya membuat Nicole semakin meracau tak karuan dan bahkan melontarkan umpatan kenikmatannya meskipun kedua matanya masih tertutup.             Di saat kedua manusia itu tengah menikmati peraduan mereka, seorang wanita berhasil masuk ke dalam kamar dan diam terpaku melihat kegiatan panas dan penuh gairah yang ada di hadapannya. Mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa ada orang lain di ruangan itu selain mereka dan wanita itu adalah Nadine.             Nadine dapat melihat sang wanita yang saat ini berada di atas tubuh Nicole, sedangkan Nicole tampak menikmati apa yang dilakukan oleh wanita itu kepadanya. Pria itu bahkan meracau seperti orang mabuk.             Nadine hanya menatapnya terlebih dahulu hingga ia melihat wanita itu meraih laci meja yang ada di sampingnya dan mengambil sesuatu dari sana. Nadine menajamkan penglihatannya di kamar yang tidak terlalu terang itu untuk melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu.             Nadine melotot tak percaya saat melihat wanita itu mengambil sebuah suntik yang berada di laci meja. Nicole sepertinya tidak mengetahui hal itu, dengan segera Nadine melangkah mendekat tanpa menimbulkan suara apapun.             Ia hanya mendengar suara desahan dari Nicole dan wanita itu sesekali karena wanita itu masih terus menggerakkan tubuhnya di atas Nicole. Nadine semakin dekat dan saat ini ia jelas melihat wanita itu meraih tangan kanan Nicole dan merentangkannya, wanita itu akan menyuntikkan pada tangan Nicole sambil terus menggoyangkan tubuhnya agar Nicole tidak menyadarinya.             Nadine yang sudah berada di belakang wanita itu langsung meraih suntik yang ada di tangannya. Wanita itu tampak terkejut saat mengetahui ada orang di dalam ruangan itu selain mereka.             “Apa yang kau lakukan?” bentak Nadine sambil menatap wanita itu tajam.             Wanita itu sudah menghentikan aksinya di atas tubuh Nicole sehingga membuat pria yang saat ini dalam keadaan setengah sadar itu menatapnya juga.             “Nadine? sedang apa kamu?” Nicole mengerutkan keningnya dan berusaha menyadarkan dirinya.             ‘PLAK’             Sebuah tamparan keras langsung mengenai pipi wanita itu hingga membuat wanita itu terkejut. Ia langsung beranjak dari atas tubuh Nicole dan menatap Nadine tajam.             “Kau! tunggu pembalasan dariku!” ancam wanita itu kemudian mengambil pakaiannya yang berserakan disana dan segera mengenakannya kemudian tanpa berkata-kata lagi, ia langsung keluar dari kamar.             Nadine hanya bisa terus menatap wanita itu hingga hilang ditelan pintu kemudian beralih menatap Nicole yang saat ini sudah menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut yang ada disana.             “Apa yang terjadi?” tanya Nicole yang masih terlihat bingung.             “Maaf Tuan, saya mengganggu aktivitas Tuan. Wanita itu berusaha memasukkan zat adiktif ke dalam tubuh Tuan melalui suntikan ini.”             Nadine memperlihatkan suntik yang berhasil ia rebut tadi. Ia sudah melihat dengan baik apa yang ada di dalamnya dan ia tahu dengan pasti benda apa itu.             Nicole memegang kepalanya yang terasa berdenyut, “bagaimana bisa club ini membiarkan wanita mereka melakukan hal itu?”             “Sepertinya wanita itu sudah merencanakannya Tuan, sebaiknya Tuan lebih berhati-hati dan jika saya boleh meminta Tuan untuk berhenti mendatangi tempat-tempat seperti ini.”             Nicole tersenyum miring, “lalu bagaimana cara saya melampiaskan hasrat saya nantinya?” tanyanya kemudian. “Apa kamu bersedia menjadi gantinya?” []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD