“Nanti malam saya ada janji dan kamu tidak perlu ikut. Saya akan pergi sendiri tanpa supir. ”
“Maaf saya tidak bisa mengizinkan Tuan pergi sendirian.”
Nicole berdecak lidah kesal, ia harus menilai bagaimana caranya agar gadis ini tidak mengganggu malamnya nanti.
Nicole dan Nadine baru saja tiba di kediaman Nicole dan saat ini mereka sudah berada di daerah Nicole dan tentu saja tidak ada seorang pun di sana, hanya dirinya dan Nadine tentunya.
"Kenapa kamu mau melakukan pekerjaan ini?" tanya Nicole.
“Karena atasan saya yang memintanya,” jawab Nadine dengan mudahnya.
Seharusnya Nicole tidak mempertanyakan itu, tentu saja tidak akan ada yang menolak bekerja untuk Petroleum apalagi dengan gaji yang begitu besar dan tidak main-main.
Tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di pikirannya, “kamu boleh ikut asalkan kamu mengikuti semua perintah saya nantinya dan pakaianmu juga saya yang akan menentukan.”
"Baik Tuan."
Nicole tersenyun sumringah, memang seharusnya Nadine apa yang ia perintahkan karena gadis itu mematuhi perintah. Ia harus bisa mengendalikan gadis itu apapun yang terjadi.
“Kamu boleh kembali ke kamar kamu, tidak akan ada yang berani masuk ke rumah ini jadi saya akan aman. Tunggu panggilan dari saya dan kamu harus segera ke kamar saya nantinya. ”
“Baik Tuan, saya permisi!”
Nadine segera beranjak dari hadapan Nicole dan membiarkan pria itu duduk bersantai seorang diri sambil menikmati minuman yang tadi dibawakan oleh asisten pelayan di rumah ini-Bu Ima.
Nadine langsung masuk ke dalam kamar sesuai perintah dari Nicole dan tak berselang lama ponselnya bergetar, dengan segera ia menerima panggilan itu.
“Iya Om?”
Ternyata yang menelepon Nadine adalah Andi, atasannya yang juga merupakan pamannya. Heh ada hal serius yang disampaikannya sehingga membuat Nadine terdiam dan mendengarkannya dengan seksama.
“Oke Om, aku akan selalu bersamanya.”
'.....'
"Tentu saja."
'......'
"Baiklah."
Panggilan itu berakhir dan Nadine langsung menyimpan ponselnya, gadis itu baru saja mendapatkan sebuah perintah. Meskipun ia bekerja untuk Petroleum, namun tetap saja ia hanya akan mengikuti perintah atasannya yang tidak lain adalah pamannya sendiri.
Nadine memutuskan untuk membersihkan tubuhnya karena ia tidak tahu kapan Nicole akan memanggilnya. Selagi ada waktu, ia harus memanfaatkannya sebaik mungkin karena seperti yang berhubungan dengan Andi.
¨¨¨¨¨
Nadine yang tengah menatap keluar yang terkejut mendengar suara ketukan yang berasal dari pintu kamar. Siapa yang datang ke kamarnya? Apakah itu Bu Ima?
Nadine akhirnya melangkah menuju pintu kamar dan lekas membukanya, terlihatlah seorang pria yang pakaian santai tengah berdiri di balik pintu dan menatapnya dari atas pakaian bawah.
“Eh, Tuan mau kemana?” tanya Nadine setelah Nicole menerobos dan masuk ke kamar begitu saja.
Pria itu sama sekali tidak melupakan Nadine dan terus melangkah menuju lemari besar yang ada di kamar itu kemudian membukanya.
“Apa yang Tuan lakukan?” tanya Nadine lagi.
Pria itu masih mengacuhkannya, kini ia tengah mengobrak-abrik isi lemarinya, entah apa yang dia cari di dalam sana.
“Apa kamu tidak mempunyai pakaian yang ... ehm, seksi?”
Nadine mengerutkan keningnya mencoba mengerti maksud tuannya itu, “untuk apa Tuan?” tanyanya lagi.
“Kalau kamu tidak punya, saya akan meminta maaf kepada Pak Setyo untuk membelikan beberapa pakaian seperti itu untukmu.”
Nadine masih tidak mengerti, kenapa Nicole menanyakan hal itu? Memangnya kenapa dengan pakaian itu?
“Tidak perlu Tuan, terima kasih.”
Nicole memutar balik tubuhnya dan mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Nadine. “Saya tidak menerima menerima. Kamu butuh pakaian itu jika ingin selalu bersama saya. ”
Nadine semakin tidak mengerti dengan maksud tuannya itu. Kenapa juga ia harus menjaga pakaian seperti itu untuk bersamanya.
“Saya punya pakaian yang seperti itu Tuan, jadi Tuan tidak perlu membelikan saya lagi.”
Nicole menatap tak percaya, “tadi saya tidak melihatnya di sana.”
Nadine bergerak menuju lemari itu lagi dan membukanya, ia sedikit menjinjitkan kakinya untuk meraih koper yang ada di bagian paling atas. Setelah dapat ia langsung menariknya dan membawanya ke dekat Nicole.
“Ini semua baju seksi yang saya punya,” ucapnya sembari menyerahkan koper itu kepada Nicole.
Pria itu sedikit tidak menyangka bahwa gadis dengan wajah datar di hadapannya itu ternyata memiliki pakaian seksi juga meskipun ia sembunyikan.
Nicole membuka koper itu dan melihat satu persatu pakaian yang ada disana kemudian mengeluarkan pakaian yang menurutnya akan dikenakan oleh Nadine nanti. “Kamu kenakan pakaian itu nanti, setelah makan malam kamu langsung ke kamar saya.”
“Baik Tuan,” jawab Nadine.
Nicole langsung beranjak pergi, melangkah keluar dari kamar Nadine dan membiarkan gadis itu menatap kepergiannya.
Setelah memastikan Nicole keluar dari kamar, Nadine langsung mengambil pakaian yang dipilihkan Nicole dan melihatnya. Ia memang selalu membawa pakaian seperti itu untuk penyamaran ataupun untuk keperluan lainnya.
Nicole memilihkan sebuah baju yang pendek dan sepertinya akan membuat perutnya terlihat serta rok pendek di atas lutut yang tidak ketat alias mengembang. Nadine tak habis pikir, apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Tuannya nanti malam sehingga ia harus pakaian seperti itu.
¨¨¨¨¨
Makan malam keluarga Petroleum itu baru saja selesai, keluarga itu selalu menyempatkan untuk makan malam bersama dan saling bertukar cerita. Nadine juga turut berada di sana namun bukan untuk duduk dan makan bersama, melainkan untuk berada di dekat meja makan yang besar itu.
Saat ini Nadine tengah berada di dalam kamar, seperti yang diperintahkan Nicole tadi, ia langsung memesan baju yang telah dipilihkan itu. Ia mengingat tanktop untuk dalaman agar perutnya tidak terekspos begitu saja.
Selesai dengan pakaiannya, ia memoleskan sedikit bedak di wajahnya serta lipstik merah yang tampak bercinta. Nicole sudah memberitahukan tujuan mereka saat berada di lift tadi, mereka akan ke club malam ini.
Nadine menyelipkan senjata yang selalu ia bawa pada lipatan stoking yang ada di paha kanannya dan sebuah pisau lipat ia selipkan di pinggangnya. Ia sudah siap dan segera melangkah keluar kamar menuju kamar Nicole.
Pintu kamar itu sudah terbuka saat Nadine tiba di sana, dengan segera ia masuk dan langsung menemukan Nicole yang saat ini tengah mengenakan jaket kulit berwarna hitam.
“Kunci pintunya!”
Perintah Nicole dan langsung ia laksanakan, kemudian pria itu mengambil ponsel serta dompetnya dan berjalan menuju pintu yang kemarin juga Nadine masuki saat diperintahkan untuk menyiapkan pakaian pria itu.
"Ikuti saya!" perintahnya lagi.
Nadine mengangguk dan mengikuti Nicole dari belakang, Nadine dapat melihat Nicole menggeser sebuah gambar yang dipajang di dalam sana kemudian terlihat sesuatu dari balik sana, tiba-tiba saja lemari yang berada di sisi kanan gambar itu bergerak hingga sebuah jalan yang sepertinya merupakan jalan rahasia yang dimiliki oleh Nicole.
Nadine tidak merekomendasikan untuk menanyakan apa-apa, ia hanya mengikuti Nicole yang sudah mendahuluinya di depan sana. Saat ini mereka berada di sebuah lorong, terus berjalan hingga masuk ke sebuah lift yang terlihat berbeda dengan lift yang biasa mereka gunakan.
Nadine memasuki lift itu dan Nicole langsung menutupnya kemudian mengangkat itu membawa mereka ke lantai dasar atau mungkin di bawahnya lagi. Ketika pintu lift itu terbuka, Nadine cukup terkejut saat melihat beberapa kendaraan yang terparkir di sana. He ini memang jalan rahasia Nicole untuk keluar dari rumah mewahnya itu.
“Pakai!”
Nicole melempar sebuah helm kepada Nadine dan dengan sigap langsung ia kemudian ikut serta saat melihat Nicole juga melihat benda itu. Hehe mereka akan pergi menggunakan motor malam ini.
Nadine sempat mendengus kesal, apa pria itu tidak mengingat jika ia saat ini tengah rok pendek dan baju yang lengannya tidak tertutupi hingga siku.
"Naik!" perintahnya kemudian.
Nadine masih terdiam di tempatnya, ia harus menaiki motor besar yang akan dikendarai oleh tuannya dengan keadaan yang menggunakan rok. Oke, baiklah .
Nadine akhirnya naik ke jok belakang setelah helm full face -nya itu. Setelah siaga, Nadine siap, Nicole mulai menjalankan motornya secara perlahan. Hanya diawal saja, karena setelahnya pria itu seolah membawanya berada di area balap. Nicole memacu motornya membelah malam yang terlihat tidak terlalu ramai itu tanpa memperdulikan gadis di belakangnya yang bisa saja tengah kedinginan saat ini.
Nadine mendengus pelan, sepertinya ini juga merupakan salah satu cara Nicole untuk berhenti dari pekerjaannya dan tentu saja Nadine tidak akan kalah. Ia sudah biasa dengan laju motor yang diatas rata-rata itu, ia bahkan bisa menghentikan motor lebih kencang dari Nicole saat ini.
Untuk angin malam yang menusuk kulitnya, ia tidak terlalu merasakannya. Heh ia sudah terlalu kebal dengan hal itu. Nicole salah jika menjadikan Nadine tandingannya karena gadis itu tidak akan pernah bisa tertandingi.
¨¨¨¨¨
Mereka tiba di klub malam setelah perjalanan selama 10 menit yang mungkin seharusnya ditempuh selama 30 menit. Club malam itu berada sedikit masuk ke dalam sebuah geng dan hampir tertutup oleh sebuah minimarket yang berada di lapangan. Hehal itu memang disengaja agar keberadaan klub itu tidak diketahui banyak orang.
Nadine segera turun dari motor dan merapikan penampilannya, untung saja ia mengikat rambutnya tadi, sehingga tidak kusut meskipun sudah memakai helm.
Nadine menggerai rambutnya, Nicole baru menyadari bahwa malam ini terlihat berbeda. Gadis itu menggunakan make up yang tipis dan juga bibirnya terlihat lebih merah dari biasanya membuat pikiran Nicole kembali melayang ke mimpinya namun dengan segera ia tepis.
“Saya 'kamu ikut karena saya yakin kamu tidak bisa dipercaya. Jangan sampai Papa tahu hal ini karena jika dia tahu, kamu bisa saja juga akan di pecat karena membiarkan saya kesini. ”
Nadine mengangguk mengerti, “tapi untuk apa Tuan kesini?” tanyanya kemudian.
“Kamu pikir, untuk apa orang datang ke club?” tanya Nicole balik.
“Oh iya, satu lagi. Selama di sana kamu harus jaga jarak dengan saya atau kamu nanti bisa bersama sepupu saya. ”
Nadine mengangguk mengerti, “baik Tuan, saya akan jauh dari jauh.”
Nicole melangkah untuk memasuki klub itu terlebih dahulu, setelah cukup lama baru Nadine menyusul kemudian. Ia tidak boleh lengah, ia tahu bagaimana keadaan klub Malam yang tentu saja ramai dan ia tidak boleh kehilangan keberadaan Nicole nantinya.
Nadine memperoleh keberadaan pria itu, ia baru bertemu dengan pria yang tadi siang juga ia temui kemudian ia dapat melihat Nicole menatap kearahnya yang kemudian diikuti oleh pria itu.
Nicole follow pria itu menuju sebuah sofa yang panjang, di sana ada beberapa orang, ada pria dan ada wanita juga. Pria yang membawa Nicole ke tempat itu dan terlihat menyambut kedatangan kedatangan Nicole dengan gembira.
Nadine memilih untuk duduk di bar, dari situ ia bisa melihat keberadaan Nicole dengan jelas. Pria itu tampak tengah berbincang dengan orang-orang di sana, bahkan kini beberapa wanita tampak mengelilinginya.
Tak berselang lama, Nadine melihat pria yang membawa Nicole ke tempat itu tadi, berdiri dan kini melangkah ke arahnya. Sepertinya ia akan memesan minuman untuk mereka.
Dugaan Nadine salah karena pria itu duduk di sampingnya dan menatap ke arahnya hingga membuat Nadine merasa risih ditatap seperti itu.
“Gabriel, nama lo siapa?”
Pria itu mengulurkan sebuah gelas yang sepertinya berisi minuman beralkohol. Nadine merekomendasikan mengacuhkannya namun ia batalkan setelah mendengar perkataan pria itu selanjutnya.
“Gue sepupunya Nic, dia minta gue untuk menemani lo disini.”
Nadine tersenyum miring, ia bisa sendiri tanpa harus ditemani oleh kelompok.
"Nama saya Nadine," jawabnya kemudian tanpa menatap lawan bicara karena matanya terpaku pada Nicole yang saat ini mulai bermain dengan beberapa wanita di sana.
“Nih!” Gabriel kembali mengangkat, mengisyaratkan bahwa ia masih mengacungkan sebuah gelas kepada Nadine.
Nadine menggeleng cepat, “maaf saya tidak minum alkohol saat sedang bekerja.”
Gabriel terkekeh pelan kemudian memilih untuk meneguk minuman itu. “Jadi, jika tidak sedang bekerja, lo akan meminumnya?” tanya pria itu.
Nadine berdehem pelan, “bisa jadi.”
Gabriel tersenyum miring, benar ternyata apa yang dikatakan oleh sepupunya, Nicole. Gadis itu sulit untuk ditakhlukkan.
Gabriel baru teringat bahwa minuman yang disodorkan ke Nadine tadi sudah ia campur dengan obat perangsang sehingga saat ini, obat itu malah bereaksi di tubuhnya.
Gabriel mengumpat dalam hati, merutuki kebodohannya kemudian menatap Nadine sekilas. “Gue ke toilet sebentar,” pamitnya dan langsung pergi begitu saja. Ia sudah tahu pasti gadis itu juga tidak akan terlalu memperdulikannya. Saat ini ia harus menuntaskan hasratnya yang telah ia bangun menggunakan obat hasil senjata tuan itu. []