“Dipanggil sama Nenek, dari tadi kamu gak nyaut-nyaut!” tutur Vano saat ia berpasan bersama diknya yang baru saja keluar dari kamar. Vania pun langsung menganggukkan kepalanya karena sejujurnya ia sempat mendengar jika neneknya tadi memanggil. Namun, karena baru saja selesai mandi akhirnya memutuskan untuk bersiap terlebih dahulu.
Vano langsung berlalu ke kamarnya. Vania lantas menoleh ke arah Zafran yang baru saja keluar dari kamar dengan wajahnya yang segar.
“Aku mau masak sama Nenek aku. Kamu kalau mau nunggu di kamar gak apa-apa, nanti aku panggil kamu kalau makannya udah jadi,” ucap Vania, tersenyum ke arah suaminya yang langsung mengangguk.
Zafran kembali masuk ke dalam kamarnya karena ia merasa lebih baik jika dirinya berada di kamar daripada harus terjebak dengan nenek dari istrinya.
Vania sendiri, ia melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ke ruang utama di mana neneknya berada. Senyuman langsung terbit di bibirnya kala melihat Atina yang langsung berdiri untuk menyambut kedatangannya.
“Dari tadi Nenek panggil akhirnya keluar juga! Nenek kan ada di sini, mumpung ada di sini harusnya kita menghabiskan waktu buat ngobrol atau apa pun itu. Kamu jangan ngedekem terus di kamar!” Atina langsung mengomel, bibirnya komat-kamit karena kesal pada cucunya yang sangat cantik tersebut.
Vania pun memberikan tawa kecil seraya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menghampiri neneknya dan berkata, “Takut Vania lagi mandi, Nek, jadi siap-sap dulu! Oh iya, aku mau masa buat makan siang. Nenek mau makan apa?”
Seharusnya hari ini Vania sudah memasak banyak menu sesuai dengan apa yang direncanakannya kemarin ketika berbelanja. Namun, karena menginap di rumah mertuanya, akhir Vania sama sekali belum masak apa pun.
“Mending kita masak aja berdua!” usul Atina yang mana langsung diangguki oleh Vania. Dengan senang hati keduanya langsung berjalan menuju dapur untuk memasak makan siang.
Banyak bahan makanan yang tersedia di dapur membuat Atina tersenyum antusias. Rumah ini hanya ditinggali oleh tiga anak muda. Tadinya, Atina berpikir jika persediaan makannya pastilah hanya berputar pada makanan-makanan instan yang mudah untuk dimasak. Namun ternyata, persediaan makanan di sini sangat banyak dan juga lengkap.
“Siapa ini yang belanja?” tanya Atina seraya tangannya bergerak untuk memilih sayuran hijau yang paling segar untuk dimasaknya.
Vania dengan bangga langsung menjawab, “Aku. Kemarin aku sengaja belanja banyak karena aku tahu kalau Nenek sama Paman Raman mau ke sini. Oh iya, sekarang Paman ada di mana?” tanya Vania, baru teringat akan sosok pamannya tersebut yang tadi tak lagi dilihatnya.
“Raman udah pulang, kamu dan tahu sendiri kalau istrinya pasti gak mau ditinggal lama-lama. Raman itu suami yang baik, dia langsung pulang setelah nganter Nenek ke sini. Semoga aja Zafran juga bisa jadi suami yang baik kayak Raman.”
“Zafran udah jadi suami yang baik buat aku kok, Nek,” balas Vania dengan cepat, tak lupa ada senyum merekah yang hadir di bibirnya.
Kepala Atina mengangguk beberapa kali, tangannya sibuk memotong sayuran sesuai dengan pola yang diinginkannya. Lantas ia berkata, “Ya betul, mungkin sekarang dia jadi suami yang baik. Tapi ... belum tentu lau Zafran bakal jadi suami yang baik. Maksudnya gini, kalian berdua kan masih baru-baru ini menikah, jadi wajar kalau masih manis.”
“Doain aku dong, Nek, semoga hubungan aku sama Zafran bakal terus manis sampai selamanya!” pinta Vania dengan melas, sedikit tak suka dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut neneknya.
Atina pun mengangguk. “alau doakan ya pasti, tapi kamu juga sebagai istri harus waspada. Kalau Raman kan rumah tangganya udah lama, tapi dia sampai sekarang masih jadi suami yang baik. Itu artinya dia memang sosok suai yang baik. Kalau Zafran belum bisa dinilai baik atau belu, karena hubungan kalian masih baru. Jadi pasti yang ditunjukkin masih yang baik-baiknya.”
“Tapi kan aku sama Zafran pacarannya udah lama, aku udah tahu kok gimana sikap dia.” Vania berujar, sedangkan tangannya sibuk membersihkan daging ayam mentah.
Sayuran yang telah selesai dipotong pun Atina berikan pada Vania agar turut dicuci. Wanita tua itu menyimpan pisau yang tadi digunakannya dan ia menatap wajah Vania dengan saksama. “Tetap ada perbedaan. Ya mungkin lambat laun juga kamu bakal nemu perbedaan-perbedaan itu. Yang pentung, kalian harus sama-sama bisa jaga satu sama lain. Jangan sampai ego muda kalian mengusai. Nenek tahu, di usia kalian yang sekarang kalian itu masih labil.”
Sejujurnya, jauh dalam lubuk hati Vania, ia mengakui jika dirinya masih sangat labil, begitu juga dengan Zafran. Hal tersebut memang sangat wajar mengingat usia mereka yang masih sangat muda. Namun, Vania tidak ingin diingatkan akan hal tersebut dan juga tak mau mengakuinya.
“Aku mau keluar sebentar.” Suara Zafran membuat Vania langsung membalikkan tubuhnya. Ia tidak menyangka jika ternyata suaminya tersebut ada di ambang jalan masuk ke dapur. Psi Zafran mendengar apa yang dikatakan oleh neneknya.
Vania menoleh sejenak pada Atina, wanita tua itu terlihat sangat santai sembari memilih-milih bawang yang akan mereka gunakan untuk memasak. Lantas Vania pun kembali menatap k arah Zafran yang masih menunggu jawabannya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Vania, tersenyum sedikit kaku ke arah suaminya tersebut.
Zafran maju mendekati Vania. “Aku mau ke toko sebentar, kata Arbani ada yang belanja banyak jadi dia kewalahan kalau sendiri.”
“Tapi nanti pulang gak? Aku lagi masak buat maka siang padahal.”
Zafran tersenyum dan mengangguk. “Pulang, tapi pasti agak sore. Kamu sisain aja buat aku.”
Zafran bergerak untuk mencium kening istrinya. Lantas ia menoleh ke arah Atina yang tak mengacuhkan kehadirannya. Tas dasar kesopanan, Zafran pun berkata, “Nek, Zafran pamit dulu.”
Akhirnya Atina pun mau menatap cucu menantunya tersebut dan tersenyum. “Iya, hai-hati di jalan!”
Setelah itu, Zafran pun langsung pergi meninggalkan dapur. Vania kembali sibuk dengan apa yang dilakukannya tadi. Sedangkan Atina, ia malah mendekati Vania.
“Kalau toko sembako pasti yang banyak belanja itu ibu-ibu. Pasti banyak juga perempuan yang beli sesuatu ke sana. Pasti Zafran ketemu sama perempuan-perempuan cantik setiap harinya. Kamu jangan sampai kalah, kamu harus selalu cantik di hadapan suami kamu.”
Aktivitas yang dilakukan oleh Vania berhenti. Ia tidak pernah memikirkan hal tersebut sebelumnya. Dan jujur saja, kini Vania langsung memikirkannya. “Betul juga, Nek. Pasti Zafran ketemu banyak cewek cantik di toko.”
‘Itu udah pasti, hati-hati aja suami kamu kecantol!”
Vania jadi berburuk sangka sekarang. Sepertinya ia harus memantau suaminya tersebut walau sedang bekerja.