Salah Yang Berulang

2086 Words
“Mana suami kamu? Kok belum pulang juga? Tadi padahal bilangnya cuman sebentar aja,” ujar Atina, memerhatikan Vania yang tampak gelisah menunggu kepulangan suaminya. Zafran, pria yang tadi pamit pergi untuk pergi ke toko sembako untuk membantu Arbani itu sampai sekarang belum pulang. Padahal, saat akan pergi Zafran mengatakan jika dirinya akan pergi sebentar saja. Namun, hingga kini jarum jam menunjukkan pukul delapan malam pun pria tersebut tak kunjung kembali. Vania mendesah lelah, bosan melihat ke arah jam dinding dan juga bosan mendengar kalimat yang diutarakan oleh neneknya. Bukannya menenangkan, Atina justru membuat Vania berpikir negatif pada suaminya tersebut.  Berulang kali Vania mengirimkan pesan pada suaminya tersebut. Namun, suaminya tersebut sama sekali tak mengaktifkan ponselnya. Hal tersebut membuat Vania merasa khawatir dan juga kesal di saat yang bersamaan. Walau sejak tadi tubuhnya duduk dan tak beranja dari ruang utama bersama neneknya, nyatanya hati dan juga pikirannya berkelana.  Banyak kemungkinan-kemungkinan yang sejak tadi bergentayangan di dalam kepala Vania. Apakah suaminya tersebut masih berada di toko? Ataukah justru pria muda itu sebenarnya sudah pulang dan sedang bepergian ke lain tempat? Jika iya bahwa Zafran tengah bepergian ke lain tempat, maka ke mana perginya pria tersebut? Vania tak memiliki ide untuk mencari keberadaan suaminya tersebut. “Kamu udah hubungin temennya belum?” tanya Atina, tetap menatap ke arah Vania seperti sebelumnya. Seolah baru menyadari kelalaiannya, Vania kini baru teringat akan sosok Arbani berkat kalimat pertanyaan yang dilontarkan oleh Atina. “Aku baru inget, Nek,” balas Vania singkat, tangannya dengan cepat mengutak-atik ponselnya kembali untuk mengirimkan pesan pada Arbani. Tidak banyak kata yang Vania ketikkan, ia hanya bertanya mengenai keberadaan Zafran saja karena memang hal tersebutlah yang ingin ia tahu. Setelah itu, Vania menunggu dengan harap-harap cemas. Ia tak sabar untuk segera mendapatkan jawaban dari pria yang bekerja pda suaminya tersebut. Hingga akhirnya sebuah notifikasi akhirnya masuk, balasan dari Arbani yang langsung saja Vania buka dengan senang hati. Dari pesan yang Vania baca, Arbani mengungkap bahwa Zafran sudah meninggalkan toko sejak toko ditutup. Itu artinya, Zafran sudah meninggalkan toko sejak pukul lima sore tadi. Yang menjadi pertanyaan Vania sekarang adalah, ke mana suminya tersebut jika ia tak pulang ke rumah?” “Apa katanya?” tanya Atia penasaran.  “Katanya Zafran udah pulang dari toko sejak tadi, Nek.” Atina langsung mendengus. “Udah Nenek duga. Suami kamu itu pasi keluyuran dulu! Ya ... namanya juga anak muda. Makanya lebih baik cari sumi itu yang udah mapan dan juga udah berusia matang! Kalau nikah sama anak muda ya begini, dia masih mau hidup dengan gaya bujangan seperti temen-temennya.” Vania mengatupkan bibirnya. Sama sekali tak mau mengeluarkan protes yang dilontarkan oleh neneknya tersebut. Sebenarnya, ia tidak cukup setuju dengan apa yang diucapkan oleh Atina. Hanya saja, Vania juga tidak mau mendebat wanita tua tersebut.  Jika Vania berani membantah, bisa ia pastikan jika wanita tua itu akan memperpanjang pembicaraan dalam suasana yang tak menyenangkan. Vania tidak mau sibuk dengan hal lain ketika dirinya disibukkan dengan keberadaan suainya yang sampai sat ini belum ia tahu. “Kalau kamu nikah sama cowok yang udah matang, dia mana mungkin pergi tanpa kejelasan kabar kayak gini? Kalau laki-laki udah punya pemikiran yang dewasa, dia bakal tahu alau ada istri yang nungguin kabarnya di rumah. Sedangkan suai kamu? Lihat, sekarang dia gak jelas ada di mana dan gak ada kabarnya juga.” Atina kembali mengeluarkan pendapatnya. Jujur saja ia tidak begitu menyukai Zafran sejak pertama bertemu. Ia ingin agar cucunya menikah dengan pria yang lebih matang. Hanya melihat dari penampilannya saja, Atina tahu jika Zafran belumlah sepenuhnya dewasa. Vania hanya menunduk, pemikirannya semakin bercabang saja. Ia tidak mau berburuk sanga pada suaminya. Namun, semua kalimat yang diucapkan oleh Atina membuat ia melakukannya.  “Nek, mungkin Zafran lagi ada keperluan,” ujar Vania, mencoba untuk menjejalkan pemikiran positif pada neneknya tersebut perihal suaminya. Vania sangat menyadari jika respons yang diberikan oleh Atina terhadap sosok Zafran tidak begitu baik. Maka dari itu, Vania tidak mau sampai neneknya tersebut semakin menumpuk rasa tidak suka terhadap sosok Zafran. “Mau apa pun alasannya, seharusnya di kasih kamu kabar. Bagus-bagus kamu masih tinggal di sini. Coba kalau kamu pindah rumah sa dia, terus dia gak pulang dan gak kasih kabar kayak sekarang. Kamu mau apa coba?” Atina menghela napas, beralih tempat duduk agar lebih dekat dengan cucu perempuannya tersebut. Ia pun berata, “Kamu tahu, kenapa orang tua itu selalu bilang sama anak perempuan yang ada di rumahnya supaya cari suami yang mapan dan juga matang? Karena alau udah rumah tangga, yang dipikirkan itu bukan lagi cinta. Ada banyak orang yang saling cina tapi gak bahagia setelah nikah. Karena apa? Karena mereka gak bisa menjalani rumah tangga dengan bauk.” Vania mulai merasa risi dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh neneknya. Ia merasa jika Atia tengah mencoba untuk mengatakan bawa keputusannya untuk menikah dengan Zafran adalah sebuah kesalahan. Padahal, rasa cinta tidak ada yang bisa memaksa. Da lagi, jodoh itu di tangan Tuhan. “Nek, memang jodohnya aku itu Zafran, gak masalah sebaya sama aku. Tuhan yang udah menakdirkan ini, siapa yang bisa tolak?” “Ya memang, tapi sejak awal pun kamu udah pacaran sa dia. Dan kalian nikah muda, apa kamu udah memikirkan nasib kamu ke depannya sama dia gimana?” tanya Atina. “Kalau aku sama Zafran belum memikirkan itu semua, gak mungkin kita melangkah sejauh ini, Nek. Sekarang aku sama Zafran udah nikah, aku inta doa sama Nenek supaya hubungan aku sama Zafran bau-baik aja.” Vania menyunggingkan senyum tipis, tapi palsu, ia merasa kesal pada wanita tua tersebut yang malah membuatnya berpikir buruk. Seharusnya, sebagai seseorang yang sudah sangat dewasa dan juga mempunyai banyak pengalaman Atina memberikan banyak petuah yang bermanfaat dan membuat Vania berpikir positif pada suaminya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Atina malah membuat Vania semakin berpikir buruk terhadap suaminya sendiri. Dan Vania yakin jika neneknya tersebut tak akan menyerah. “Ya udah, kalau gitu Nenek mau tidur dulu.” Vania bernapas lega saat Atina pergi meninggalkannya. Lebih baik Atina lekas tidur ke kamarnya daripada membuat Vania mempunyai pikiran-pikiran buruk. Vania kembali duduk seperti semua, memandangi ponselnya dan berharap akan ada suatu kabar dari suaminya. Hatinya benar-benar tak tenang, ia sangat khawatir pada suaminya tersebut.  “Kamu ke mana sih,” gumam Vania pada dirinya sendiri, tangannya menggenggam ponsel dengan erat. Berulang kali ia menarik dan mengeluarkan napas dengan cara yang kasar dan sangat berharap agar apa yang dilakukannya dapat membuat rasa khawatir yang ada dalam hatinya pergi. Namun, semakin banyak ia menarik napas maka semakin khawatir pula hatinya. 0o0o0o0o0o0 Suara motor yang masuk ke area rumah Vania membuat wanita yang adi sudah terlelap di ruang utama itu kembali terjaga. Vania mengucek matanya dengan punggung tangan, ia menguap lebar dan juga menggunakan tangannya yang lain untuk menutup mulutnya.  Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, Vania tidak berniat tidur tetapi ia ketiduran. Setelah sadar bahwa tadi dirinya mendengar ada suara motor, Vania dengan segera bangkit untuk membuka pintu. Ia ingin melihat apakah yang datang adalah sosok yang sejak tadi ditunggunya atau bukan. Senyuman penuh kelegaan terbi di bibir Vania setelah melihat jika yang datang adalah sosok Zafran, suami yang sejak tadi ia tunggu kepulangannya. Namun, Vania tiba-tiba saja mengubah mimik wajahnya menjadi marah karena ia kesal pada sosok tersebut. “Ke mana aja kamu jam segini baru pulang?” Vania melipat tangannya di d**a, sama sekali tidak mau menyambut kedatangan pria tersebut dengan bauk. Vania benar-benar merasa kesal pada Zafran yang bisa-bisanya pulang larut malam tanpa abar. Apakah pria itu berpikir jika Vania tak akan merasa khawatir padanya? Zafran menyunggingkan senyum tipis untuk meredakan amarah yang dirasakan oleh istrinya. Ia mengusap puncak kepala Vania dengan sayang dan berharap apa yang tengah dilakukannya dapat membuat kemarahan yang Vania rasakan lenyap tak bersisa.  “Aku tadi ke rumah orang tua aku dulu, terus gak sengaja deh ketiduran,” balas Zafran.  Jawaban tersebut membuat Vania semakin mengeraskan wajahnya. Bukan hanya satu atau dua kali Zafran memberikan alasan yang demikian. Walaupun Vania tahu jika suaminya tersebut tidak berbohong, tetap saja ia merasa sangat kesal dibuatnya. Ia merasa jika Zafran belum bisa jauh ari kedua orang tuanya padahal mereka sudah menikah. Vania memilih untuk tak memberikan jawaban apa pun, ia langsung memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kamar. Wanita uda tersebut benar-benar merasa kesal sekarang. Sejak tadi ia mengkhawatirkan suaminya, tetapi ternyata suaminya malah sedang tidur di rumah orang tuanya.  Dengan langkah kakinya yang tak santai, Vania bisa sampai dengan cepat di kamarnya. Ia menghembuskan napasnya kasar berkali-kali, Vania mendudukkan dirinya di sofa dengan wajahnya yang sangat tak enak untuk dilihat.  “Kamu marah?” Zafran yang baru saja masuk ke dalam kamar bertanya dengan tampangnya yang polos. Pemandangan tersebut membuat Vania semakin mengeram marah dan ingin mencakar wajah suaminya tersebut. Tidakkah suaminya tersebut menyadari kesalahannya? “Kamu tanya aku marah atau enggak? Kamu tahu gak dari tadi aku khawatir sama kamu yang pamitnya cuman pergi sebentar tapi ga pulang-pulang sampai malam!” dengus Vania, menatap tajam suaminya tersebut.  Zafran yang menyadari hal tersebut hanya menggaruk tengkuknya saja seraya menghampiri Vania. Pria itu berjongkok di hadapan istrinya dan melihat ke arah mata Vania dengan seksama. “Tadi aku pikir mau ke rumah orang tua aku sebentar, tahunya aku malah ketiduran.” “Ketiduran ya?” Vania mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku baru tahu kalau kamu bakal kasih alasan kayak gitu lagi sama aku!”  Dari apa yang disampaikan oleh Vania saja Zafran sudah bisa menyimpulkan jika wanita yang telah dipersuntingnya itu ini marah. Zafran berdecak malas seraya beralih duduk di samping istrinya yang tengah merajuk. “Aku mina maaf, tadi aku beneran ketiduran, terus aku pas bangun langsung pulang kok. Ini buktinya sekarang aku ada di sini,” ujar Zafran, mengusap wajahnya yang terasa dingin karena tadi tersapu angin malam sepanjang perjalanan pulang. Bukannya melembut, Vania justru tertawa sinis seraya menjauh dari suaminya. Ia lebih memilih untuk duduk di bibir ranjang daripada duduk bersebelahan dengan suaminya. Vania sudah merasa bosan dan juga muak akan alasan yang selalu itu-itu saja setiap kali Zafran telat pulang. “Terus kenapa HP kamu gak aktif?” tanya Vania, melipat tangannya di d**a dengan mimik wajah yang tetap tak bersahabat.  “HP aku—“ “Abis baterainya ‘kan?” sela Vania dengan cepat, ia sudah sangat tahu akan apa yang akan disampaikan oleh suaminya tersebut. Dan ketika melihat Zafran mengangguk, Vania menghembuskan napas asar seraya mendelik tajam. Sungguh, ia benar-benar merasa kesal kali ini. Mungkin jika ini kali pertama Zafran berbuat hal semacam ini maka Vania tidak akan begitu marah seperti saat ini. Namun, sayang sekali apa yang terjadi kini bukanlah hal yang pertama. “Kamu sadar gak sih kalau kamu sekarang udah nikah?” Vania bertanya dengan tajam, ia melihat suaminya tersebut tanpa minat. Pertanyaan yang dilontarkannya membuat Zafran mengernyit, tentu saja Zafran ingat dan bahkan sangat ingat jika kini ia telah menikah. Untuk apa Vania mempertanyakan hal tersebut? “Kamu kenapa tanya gitu? Ya jelas aku inget kalau aku udah nikah. Kamu pikir aku amnesia?” pekik Zafran dengan kesal. Ia menghembuskan napasnya kasar seraya menyusul istrinya untuk duduk di bibir ranjang. “Bagus kalau kamu inget,” jawab Vania dengan lugas dan jelas. Lantas ia bertanya, “Kalau inget kenapa kamu bertingkah kayak cowok yang masih lajang? Pulang semaunya gak kasih kabar, kalau kamu masih betah buat tinggal di rumah orang tua kamu mending kamu gak usah pulang ke sini sekalian!” “Kamu kok bicara kayak gitu sih?” Zafran terperangah, tidak percaya jika istri yang sangat ia cintai bisa berkata demikian. “Kenapa emangnya? Aku ada salah bicara? Emang iya kan? Kamu tuh kayak bujang yang gak punya istri di rumah! Selalu aja pergi ke rumah orang tua kamu dan bablas. Kalau ditanya psti jawabannya ketiduran! Kamu pikir aku gak bosen dengernya?” Zafran memilih untuk tidak menjawab, ia menarik napas dan juga menghembuskannya secara perlahan. Sekarang, yang Zafran pikirkan adalah mengenai dirinya sendiri. Apakah benar jika ia masih bertingkah layaknya pria lajang yang tak memiliki istri? Padahal, Zafran hanya mengunjungi orang tuanya dan ia bena-benar tak sengaja jatuh lelap dalam tidur. “Aku minta maaf, aku salah,” aku Zafran pada akhirnya. Ia memegang tangan Vania dan mencium punggungnya dengan harapan jika hal tersebut dapat membuat Vania mau memaafkannya. “Salah, minta maaf! Slah lagi, minta maaf lagi! Gitu aja terus sampai rambut ini jadi uban!” keluh Vania, memilih membaringkan tubuhnya daripada harus menanggapi Zafran yang kini menghela napas kasar. “Terus kamu maunya apa? Kalau aku salah aku gak boleh minta maaf?” “Aku maunya kalau kamu salah kamu gak ulangi lagi!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD