Bunda juga mau

1041 Words
Zafran mulai menurunkan pakaian dan barang-barang milik Vania. Bahkan, ia sampai membawa semua keperluan Vania yang tersedia di rumah Vano. Dari mulai perawatan tubuh, hingga berbagai aksesoris yang biasa menunjang penampilan Vania. Tak mau tinggal diam dan hanya menjadi mandor dari apa yang dikerjakan oleh suaminya, Vania pun langsung turun tangan untuk membantu Zafran menurunkan barang-barang miliknya. Namun, baru Vania akan mengangkat kardus yang berisi sepatu, tangannya sudah ditahan oleh Zafran. “Jangan, biar aku aja yang bawa. Kamu diam aja, nanti juga di rumah biar aku yang beres-beres.” Zafran tak mau jika Vania sampai merasa kelelahan, ia takut akan terjadi sesuatu yang membahayakan pada janin yang ada dalam kandungan istrinya. Vania berujar, “Gak apa-apa, biar aku aja. Gak akan ada apa-apa kali kalau aku cuman angkat ini, gak berat kok.” Kalimat yang dilontarkan oleh Vania langsung mendapatkan gelengan kepala tegas dari Zafran. Pria muda itu tetap ada pada pendiriannya, tidak mau mengizinkan Vania untuk membantu. “Enggak, Van! Kamu gak boleh capek, sekarang kamu duduk aja, atau paling enggak kamu diam aja di sini, lihat aku beresin barang-barang ini!” Tahu jika suaminya sudah mengeluarkan aura tegas, Vania pun langsung menghembuskan napas dan mengangguk pasrah. Akhirnya, Vania memundurkan tubuhnya dan membiarkan Zafran bergerak dengan bebas untuk menurunkan barang-barang lainnya. Tak banyak yang dilakukannya, hanya berdiri bagai patung dan melihat ke arah Zafran yang sedang beraktivitas. Hingga tak lama kemudian datanglah Kamal, berlari kecil menghampiri Vania yang langsung berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuh di antara mereka. “Halo, Sayang, mau ke mana?” sambut Vania, ia selalu merasa gemas pada adik dari suaminya ini. Semoga saja, anaknya kelak akan tumbuh menjadi anak yang menggemaskan seperti adik ipar yang kini langsung memeluk tubuhnya. “Amal mau main sama Kakak,” jawabnya dengan nada yang sangat menggemaskan. Vania jadi tak tahan untuk tidak mencubit pipi gembul dari bocah yang tampak lucu di matanya itu. Dengan segenap rasa gemas yang ia miliki, Vania pun langsung menggendong Kamal dan mendaratkan banyak kecupan di pipi adik iparnya itu. Apa yang dilakukan oleh Vania tak luput dari perhatian Zafran, ia tersenyum melihat kedekatan yang terjalin antara adik dan istrinya. Jika begini pemandangannya, Zafran yakin jika Vania sudah siap untuk menjadi ibu. Istrinya itu pasti akan menjadi ibu yang sangat baik untuk anak mereka kelak. Zafran langsung menyunggingkan senyum ketika Vania melihat ke arahnya. Tampak Vania yang langsung berjalan mendekatinya dengan Kamal yang masih ada dalam gendongannya. “Kamal mau main katanya sama aku, aku mau ke taman belakang dulu ya?” izin Vania, ia berniat untuk meninggalkan suaminya dan mengajak Kamal bermain, sesuai dengan permintaan bocah itu. Langsung saja Zafran menganggukkan kepalnya. Akan jauh lebih baik jika Vania bermain bersama Kamal daripada terus melihat aktivitas yang dilakukan oleh Zafran. Jika Vania terus berada di sini, wanita yang tengah hamil muda di usia muda itu akan bersikeras untuk membantu. “Hati-hati tapi mainnya, jangan lari-lari ya!” Seharusnya, pesan singkat seperti itu Zafran sampaikan untuk Kamal—adiknya yang masih kecil. Namun, Zafran mengutarakan hal tersebut untuk Vania, bahkan ia menggerakkan tangannya untuk mengelus puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Vania tersenyum, lalu ia pergi meninggalkan Zafran sendirian. Pria muda itu pun kembali sibuk pada aktivitasnya yang tengah memindahkan barang-barang. Tadi, saat ia datang ke rumah Vania untuk mengambil barang-barang milik istrinya, ia pun sempat kembali bersitegang dengan Atina. Apalagi nenek dari istrinya itu menghadapinya sendirian, tanpa ada Vano yang menjadi penengah mereka, karena kakak ipar Zafran itu sudah berangkat bekerja. Suasana yang tercipta di sana sangat menegangkan, Atina sampai mendaratkan dua kali tamparan di pipi kanan dan kiri Zafran. Untungnya, Zafran bisa menahan emosi hingga ia tak melayangkan tangannya ke arah wanita tua itu.  Hanya saja, Zafran melakukan aksi tidak sopan, ia membawa barang-barang milik Vania secara paksa tanpa mendengarkan Atina yang terus saja melarangnya. Saat Atina mengunci rumah pun, Zafran sama sekali tak kehilangan akal. Ia memanjat dinding dan mengeluarkan barang-barang milik Vania dari sana. “Zafran, lihat Kamal gak?” Datanglah Sulis yang langsung melontarkan pertanyaan. Wanita paruh baya itu melihat ke arah barang-barang yang sudah Zafran turunkan dari mobil bak. “Banyak banget barang-barang Vania, kamu bawa semua yang ada di kamarnya?” lanjut Sulis, kembali melontarkan pertanyaan untuk putra sulungnya. Zafran memilih untuk langsung menjawab pertanyaan ke-dua ibunya dan mengabaikan kalimat tanya pertama. “Iya, Ma. Ini aku bawa semua yang ada di kamar Vania. Kecuali lemari, sofa, dan benda-benda besar pokoknya. Semua keperluan Vania aku bawa ke sini.” “Baguslah, supaya istri kamu betah tinggal di sini. Sekarang di mana Vania? Bukannya tadi dia ke sini ya?” Zafran mengangguk. “Iya, tadi Vania pergi ke taman belakang sama Kamal, mau main katanya.” Sulis melangkahkan kaki untuk mendekati putranya. Ia akan membantu Zafran untuk menyelesaikan kegiatannya. Tak mampu untuk mengangkat barang-barang yang berat, Sulis sengaja memilih barang-barang ringan untuk diturunkannya dari mobil bak. Zafran pun kembali melakukan aktivitasnya tanpa melarang Sulis yang turun tangan membantunya. Sambil menurunkan sebuah tas, Sulis bertanya, “Istri kamu barang-barangnya bagus, kamu yang beliin ini sejak kalian masih pacaran ya?”  Tanpa ragu, Zafran langsung mengangguk. “Iya, sebagian besarnya aku yang beliin Vania, sejak kita masih sekolah.” Pengakuan yang dilontarkan oleh Zafran membuat Sulis langsung mendengus. Ia tak habis pikir, berapa banyak uang yang telah Zafran keluarkan untuk Vania sejak mereka masih sekolah? “Kamu beliin banyak barang buat Vania, tapi rasa-asanya kamu gak pernah beliin Bunda apa pun!” Zafran meringis, menggaruk tengkuknya yang tak gatal setelah ia mendengar kalimat lengkap yang dilontarkan oleh ibunya. Memang, sejauh ingatannya, Zafran tak pernah membelikan apa pun untuk Sulis. Seharusnya, ia pun memberikan sesuatu pada Sulis.  “Nanti kalau aku ada rezeki yang lebih, aku beliin Bunda. Emangnya Bunda mau apa?” “Kalau ada rezeki? Kalau yang namanya rezeki itu pasti ada. Yang jadi masalah itu kamu mau menyisihkan buat Bunda apa enggak. Bunda mau tas kayak gini aja,” tutur Sulis mendumel. Di akhir kalimatnya, ia mengangkat sebuah tas yang ia tahu jika harganya sangat mahal. Tawa ringan Zafran terdengar, ia merasa jika ibunya itu tengah cemburu pada istrinya. “Iya, Bunda, nanti Zafran belikan Bunda tas yang kaya gitu.” “Harus! Lain kali, kalau kamu mau belikan sesuatu buat istri kamu, kamu juga harus belikan Bunda.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD