Respons yang diberikan oleh Atina tidak begitu baik. Namun, Zafran tetap pulang ke rumahnya dengan sebuah senyuman yang enggan luntur dari wajahnya. Kebahagiaan yang ia dapatkan berkat berita kehamilan Vania membuatnya tak begitu memedulikan akan bagaimana pun sikap yang ditunjukkan oleh Atina.
Berbeda dengan Atina, Vano memberikan respons yang sangat positif. Vano sangat bahagia karena tak lama lagi ia akan menjadi seorang paman dari anak yang akan dilahirkan oleh Vania kelak.
Bahkan, Vano sampai berpesan kepada Zafran agar pria itu menjaga Vania dengan sebaik mungkin.
Tentu saja, tanpa harus diminta oleh siapa pun, Zafran akan menjaga istri dan calon anaknya dengan sangat baik. Ia tak akan mau jika sampai Vania mengalami sesuatu yang merugikan dan dapat membahayakan janinnya.
Kini, Zafran sudah sampai di rumahnya. Pria itu berjalan dalam langkah yang sangat gontai memasuki rumah yang telah ditinggali oleh Sulis dan Herman sejak pernikahan mereka dilangsungkan.
Zafran semakin melebarkan senyumannya kala ia melihat Vania dan Sulis yang tengah bercengkerama di ruang utama. Bukan hanya mereka berdua, ada juga si kecil Kamal--adik Zafran yang duduk di pangkuan Sulis sambil memainkan ponsel.
"Assalamu'alaikum," salam Zafran, memecah pembicaraan mereka.
Salam yang diucapkan olehnya pun langsung mendapatkan balasan dari Sulis dan Vania.
Istrinya, langsung menegakkan posisi duduknya dan menepuk sofa di sebelahnya yang kosong. Zafran menganggap jika itu adalah sebuah perintah yang diberikan oleh Vania agar ia duduk di samping wanita itu.
Tanpa mau berpikir panjang, Zafran pun langsung mendudukkan tubuhnya di samping Vania. Ia bahkan secara otomatis langsung mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya.
"Gimana tadi? Kamu udah kasih tahu nenek Vania dan juga kakaknya 'kan?"
Sulis bertanya, yang membuat Vania pun langsung menolehkan kepalanya melihat ke arah Zafran dan menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh suaminya tersebut.
Zafran pun langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, aku udah datang ke rumah Vania dan juga kasih tahu Nenek dan Kak Vano soal kehamilan Vania."
Vania langsung saja bertanya, “Gimana respons mereka soal kehamilan aku?"
Sungguh, Vania sangat tak sabar untuk segera mengetahui respons yang akan diberikan oleh keluarganya mengenai kehamilan yang tengah ia jalani saat ini. Besar harapannya jika Vano dan Atina akan merespons berita ini dengan sangat baik.
"Kak Vano merespons dengan sangat positif, bahkan dia juga kasih aku wejangan supaya aku rawat kamu dengan baik. Tapi kalau Nenek ..." Zafran menghentikan kalimatnya sejenak, ia menarik napas dan mengusap bahu istrinya pelan. "Kamu bisa tahulah, gimana respons yang akan dia tunjukkan."
"Nenek gak terima kabar ini dengan baik?" tebak Vania, keningnya berkerut yang membuat ujung alisnya bersatu.
Zafran pun langsung menganggukkan kepalnya singkat. Bahu Vania langsung meluruh mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya. Ternyata, berita baik ini sama sekali tak direspons baik oleh Atina.
Jika Atina tak bisa menerima berita kehamilan Vania, maka itu artinya Vania tak akan bisa pulang ke rumahnya selama Atina masih ada di sana.
Padahal, Vania sangat berharap jika di kehamilan pertamanya ini, ia akan mendapatkan banyak wejangan dan juga perhatian dari sosok Atina yang ia anggap telah menggantikan sosok ibunya selama ini.
Namun, sepertinya Vania harus mengubur keinginannya itu dalam-dalam.
"Jadi nenek Vania gak terima kalau cucunya hamil? Nenek macam apa itu?" sahut Sulis, ia tak habis pikir dengan wanita tua yang menunjukkan sikap kekanak-kanakan itu.
"Dia bilang apa?" lanjut Sulis, ia mengeluarkan tanya sembari menatap serius ke arah Zafran yang tak henti memberikan usapan lembut di bahu istrinya yang tampak lesu. Mungkin, Vania merasa tak puas dengan berita yang disampaikan oleh Zafran. Pasti Vania berharap jika ia akan mendapatkan berita yang sangat positif dari keluarganya.
Zafran tak langsung menjawab, ia menarik napas dan kemudian memeluk tubuh Vania. "Nenek bilang, anak yang ada di antara kami tak akan menjadi penghalang buat dia pisahin aku dan Vania."
"APA?! pekik Vania dan Sulis secara bersamaan, bahkan Kamal yang ada di pangkuan Sulis sempat merasa kaget dibuatnya. Untungnya, bocah kecil itu kembali fokus pada ponsel yang ada di tangannya.
Vania kini menunjukkan mimik wajah sedih, tangannya pun tak diam, bergerak mengelus perutnya sendiri. Tatapannya yang redup membuat Zafran tak tega, langsung saja ia menggerakkan tangannya untuk mengusap lembut pipi istrinya dengan penuh kasih sayang. “Kamu tenang aja, aku yakin, lambat laun, nenek kamu akan luluh.”
Apa yang dilontarkan oleh Zafran tak begitu berpengaruh pada suasana hati istrinya. Namun, untuk menghargai suaminya, Vania pun menyunggingkan sebuah senyum yang teramat manis.
Sedangkan Sulis, wanita itu kini benar-benar merasa tak habis pikir dengan tingkah laku yang diberikan oleh nenek dari menantunya. Mengapa Atina masih saja berpikir untuk memisahkan Zafran dan Vania di saat Vania yang tengah mengandung? Tidakkah wanita tua itu memikirkan bagaimana nasib cucunya kelak?
Atau rasa tak suka Atina terhadap Zafran sudah sangat besar hingga ia tak mau lagi memikirkan nasib cucunya ke depan?
“Sudahlah, sekarang kalian sudah tinggal di sini, jadi kalian tidak perlu terlalu repot memikirkan bagaimana respons yang diberikan oleh nenek Vania. Sekarang, sebaiknya kalian istirahat di kamar. Vania, kamu jangan lupa segera bawa pakaian-pakaian kamu ke rumah ini!” Sulis mencoba untuk mengambil sikap.
“A—aku kayaknya gak berani buat pulang ke rumah,” cicit Vania, ia tak akan sanggup untuk menghadapi Atina yang pasti sangat marah padanya. Vania tak mau jika ia datang ke rumahnya, Atina pasti akan mengucapkan banyak hal yang tak akan baik untuk didengar oleh Vania.
Sulis langsung mengerti bagaimana kondisi perasan menantunya. Ia pun langsung menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah Zafran. “Kalau begitu, kamu pergi ke rumah Vania lagi dan bawa barang-barang istri kamu. Kamu masih punya keberanian untuk bertemu sama mereka kan?”’ kepala Zafran langsung mengangguk, tentu saja ia sangat berani. Hanya saja, Zafran merasa malas untuk bertemu dengan Atina. Namun, jika hal itu diperlukan agar ia bisa membawa barang-barang milik istrinya, maka Zafran tak akan keberatan sama sekali.
“Biar aku yang datang ke rumah kamu lagi, kamu tunggu di sini aja,” ujar Zafran, mencoba untuk menyunggingkan senyum tipis ke arah Vania.
“Gak usah sekarang, besok lagi aja. Sekarang kamu ‘kan baru pulang dari sana, lebih baik sekarang kita istirahat aja.”
“Benar apa yang dikatakan oleh istri kamu, sebaiknya sekarang kalian istirahat aja, Zafran!” setuju Sulis.
Zafran pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan langsung mengajak Vania untuk pergi menuju kamar mereka.
0o0o0o0o0
Ketika malam sudah menjelang, Vania tak bisa lelap dengan cepat karena terus saja memikirkan neneknya. Tangannya pun tak henti mengelus perutnya sendiri yang mana sudah ia tahu jika di dalamnya ada janin yang akan tumbuh dan berkembang.
“Eungh...” Zafran melenguh, ia meregangkan tubuhnya dan berusaha untuk memeluk tubuh istrinya. Namun, karena tubuh Vania yang berada di ujung ranjang sebelah kanan, Zafran tak bisa mencapai tubuh istrinya itu karena ia sendiri terbaring di bibir ranjang bagian kiri. Matanya terbuka secara perlahan, Zafran langsung bergerak ke tengah saat ia melihat Vania yang memunggunginya.
Menyadari ada kemungkinan jika istrinya itu bisa saja terjatuh dari ranjang, Zafran langsung bergerak ke tengah dan menarik tubuh Vania mendekat ke arahnya.
“Ehh—“ kaget Vania, ia langsung memutar tubuh dan tersenyum ke arah Zafran yang kembali memejamkan matanya erat.
“Tidur!” Zafran memerintah sambil bergumam, ia pun mempererat pelukannya hingga tubuhnya mereka merapat. Vania yang memang belum bisa terlelap pun hanya diam, ia menyandarkan pipi di d**a bidang suaminya.
Menyadari jika istrinya masih saja membuka mata, Zafran pun memaksakan matanya agar terbuka, ia mengusap wajahnya kasar untuk mengusir kantuk yang hadir tanpa bisa dicegah. Zafran menghembuskan napas kasar dan kini benar-benar membuka matanya, ada senyum manis yang tersungging di bibirnya.
“Kenapa belum tidur?” tanyanya dengan suara yang sangat parau.
“Aku gak bisa tidur, keinget sama Nenek terus.”
Jawaban yang diberikan oleh Vania membuat Zafran langsung membuka matanya lebar-lebar. Tak berhenti sampai di situ, Zafran bahkan langsung duudk, membawa tubuh istrinya agar Vania duduk bersamanya. Tangannya secara otomatis merapikan rambut Vania yang menjuntai ke bagian wajah istri cantiknya tersebut. “Kenapa sama Nenek?”
Walau sudah tahu apa yang membuat Vania tak bisa lelap karena memikirkan neneknya, tetapi Zafran tetap saja bertanya. Sebagai wanita yang kini tengah mengandung, Vania sangat berharap jika istrinya itu tak akan banyak menanggung beban pikir yang bisa mengganggu kesehatannya.
“Aku kepikiran aja sama Nenek, dia gak suka ya kalau aku hamil?” lirih Vania, bertanya sambil menunjukkan wajahnya yang sangat muram.
Zafran menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Enggak, Nenek bukannya gak suka, dia cuman masih marah aja sama aku. Mana ada orang tua yang gak senang kalau anaknya hamil? Nenek kamu pasti akan merasa bahagia, tapi karena dia marah sama aku, maka dari itu dia coba untuk menutupi kebahagiaan dia.”
Mencoba untuk menjejalkan pemikiran yang baik, Zafran menunjukkan senyum terbaik yang ia miliki. Terdengar helaan napas dari Vania, wanita muda itu mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami.
“Tapi, aku tetap aja gak enak kalau Nenek belum bisa menunjukkan reaksi yang baik. Besok, pas kamu datang ke sana buat bawa baju aku, kamu coba bicara baik-baik ya sama Nenek?”
Yang bisa dilakukan oleh Zafran adalah menganggukkan kepalanya. Lalu tangannya bergerak untuk mengusap wajah Vania secara berulang dengan tujuan untuk membuat istrinya itu segera terpejam dan terlelap. Dan apa yang dilakukannya tak sia-sia, Vania secara perlahan memejamkan mata dan tak membukanya lagi. Lama-lama, terdengar dengkuran halus yang membuat Zafran merasa senang dan tenang.
“Selamat malam, istriku,” bisik Zafran pelan, sebelum membaringkan tubuh Vania secara perahan agar istrinya itu bisa terlelap dalam keadaan yang nyaman.
0o0o0o0o0
Sejak pagi, Zafran sudah sengaja pergi ke rumah Vania. Hal itu dilakukan sesuai rencana yang telah dibicarakan kemarin bahwa ia akan pergi ke rumah Vania untuk mengambil barang-barang milik istrinya. Untuk memudahkannya, Zafran sampai rela menyewa sebuah mobil bak yang ia kendarai sendiri.
Sedangkan Vania, ia masih bergelung di balik selimut, tertidur lelap padahal sarapan telah ia lewatkan. Mungkin karena semalam ia yang kesulitan untuk tidur, Vania jadi terbangun tidak padak waktunya hari ini.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan pintu yang sangat nyaring, membuat Vania langsung membuka matanya secara paksa. Ia menarik napas, mengucek mata, dan akhirnya bangkit untuk melihat ke arah jam. Ada sedikit rasa kaget ketika melihat jam, tetapi lebih kaget lagi ketika Vania mendengar teriakan seseorang dari luar.
“Vania, bangun udah siang. Jangan karena kamu lagi hamil, kamu jadi malas-malasan, itu gak akan baik buat kesehatan kamu!”
Itu adalah suara Sulis, Vania langsung bangkit dan berlari menuju pintu untuk membukanya. Mimik wajahnya langsung menunjukkan mimik wajah yang tak enak, Vania takut jika Sulis akan marah padanya.
“Kamu ini, suami kamu udah bangun sejak pagi dan udah berangkat ke rumah kamu sejak adi. Tapi, kamu sebagai istrinya malah masih enak-enakan tidur!” tegur Sulis, nadanya tidak begitu tajam, tetapi Vania tetap merasa takut mendengarnya.
Wanita yang tengah hamil uda itu langsung menundukkan wajahnya. “Vania minta maaf, Bunda. Semalam Vania gak bisa tidur, jadi Vania kesiangan.”
Sulis mendengus. “Ya sudah, sekarang kamu mandi dan langsung sarapan. Setelah itu kamu langsung cuci piring ya!”
Tubuh Sulis langsung berbalik dan pergi meninggalkan Vania setelah kalimatnya selesai ia lontarkan. Kalimat yang tadi dilontarkan olehnya membuat Vania langsung mengela napas lelah, padahal ia sama sekali belum melakukan perintah yang diberikan oleh ibu mertuanya tersebut.
“Baru aja bangun, udah dihadapkan sama tugas!” gerutu Vania, ia langsung masuk kembali ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Tak mau dicap buruk oleh mertuanya, Vania pun langsung bergegas mandi. Tak sampai lima belas menit kemudian, Vania sudah siap dan langsung pergi menuju ruang makan. Ia harus makan untuk memberi gizi pada diri dan juga calon buah hatinya.
Baru saja sampai di ruang makan, Vania bertemu dengan Kamal yang berlarian sendirian. Langsung saja Vania berjongkok dan langsung memangku adik iparnya yang menggemaskan tersebut.
“Kamal udah siap dan wangi gini, mau ke mana?” Dengan gemasnya Vania bertanya.
“Kamal mau jalan-jalan sama Bunda,” balas Kamal dengan pipi gembulnya yang bergerak. Ingin rasanya Vania menggigit pipi kemerahan itu dengan sangat keras, tetapi ia takut jika hal tersebut akan membuat adik iparnya menangis.
Tak lama kemudian Sulis datang, wanita paruh baya itu langsung mengambil alih Kamal dari pangkuan Vania.
“Van, Bunda sama Kamal mau ke pasar dulu, kamu jangan lupa cuci piring, dan tolong kamu pel kamar Bunda ya, tadi Kamal gak sengaja tumpahin kopi di dalam.”
“I—iya, Bun,” balas Vania, dalam hati ia mengeluhkan perintah yang diberikan oleh ibu mertuanya. Tidakkah Sulis ingat jika kini Vania tengah mengandung? Seharusnya Sulis tidak memberikan banyak pekerjaan padanya, bagaimana jika nantinya Vania akan kelelahan?